Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 198 - Sisa yang Tumbang


__ADS_3

Dentuman keras membuat tanah ikut bergetar, debu-debu dari atas berjatuhan ke bawah ketika mereka bertiga berhasil menutup jalan masuk ke terowongan bawah tanah.


Masih tak percaya, Lian sampai tak melepaskan pandangannya dari atas. Dia berhasil lari dari maut. Itu adalah satu hal yang mengejutkan, meski dalam beberapa hari terakhir dirinya semakin sering berhadapan dengan terinfeksi ini.


"Kukira kita akan mati ..."


Lian menarik napas panjang setelahnya, tapi dadanya masih tetap sesak.


"Sial, salah satu senjataku jatuh saat berlari," umpat Shuo sekaligus mencebik kesal. Xin Chen segera berjalan di depan, mengamati tempat yang akan mereka lalui. Sepertinya tidak begitu aman. Sepanjang jalan becek penuh oleh cairan aneh yang berbau pekat. Mereka terus berjalan lurus sampai tiba di satu jalan buntu. Yang mengantarkan mereka pada pintu keluar.


Setelah jauh berjalan sampai hampir satu jam, akhirnya Lian dapat menghirup udara yang lebih segar dibandingkan udara terowongan bawah tanah. Mereka sampai di sebuah jalan besar yang sepi karena terlindungi oleh pagar kawat tinggi di sisi kanan dan kiri. Melihat ke sekitar pun hanya beberapa terinfeksi berlalu lalang dan tak begitu menyadari keberadaan mereka.


Xin Chen mengulurkan tangan agar Shuo bisa naik ke atas. Shuo sama penasarannya dengan keduanya, entah hanya kebetulan tapi memang tempat ini jauh lebih tenang dari tempat lain yang kacau balau. Xin Chen menengadah ketika suara rintihan terdengar.


Begitu pun dengan Shuo dan Lian, mereka berdua melotot setengah kaget. Xin Chen diam terpaku nyaris tak percaya. Melihat di atas sana manusia hidup digantung, bukan hanya satu tapi di sepanjang jalan besar itu setiap jarak tiga puluh meter terdapat tiang tinggi dengan manusia hidup digantung di atasnya.


Lalu bumi terasa seperti diguncang sesuatu yang begitu dahsyat, Xin Chen menoleh ke ujung jalan dengan tatapan seram. Bunyi tembakan berderu-deru setelahnya bersamaan dengan jatuhnya manusia yang digantung itu, satu per satu dan semakin mendekat.


Wanita yang digantung di dekat mereka memohon dengan amat sangat, "To-tolong ... Selamatkan ... Aku-" Darah tumpah dari mulutnya, "Aku punya tiga anak, mereka sudah tak memiliki ayah ..."


"Chen, lari!!!" teriak Lian sekencang-kencangnya, dia berusaha menarik Xin Chen yang hendak menyelamatkan wanita itu. Tapi sayangnya sebelum dapat melakukannya tali yang menggantungkan kedua tangan wanita tersebut terputus.


Gelombang manusia yang serupa tsunami mayat mengejar mereka dari belakang, Shuo berlari paling depan membuka kan jalan dengan senjata seadanya. Sementara Lian terus berlari sambil menarik Xin Chen. "Tidak ada yang bisa kau selamatkan di sana! Yang sekarang harus diselamatkan adalah dirimu sendiri!"


Shuo menjerit frustrasi, di depannya terlalu banyak terinfeksi yang tak bisa diatasinya

__ADS_1


"Demi apa pun, pelankan gelombang manusia mengerikan itu! Aku tidak bisa mengatasinya-"


Xin Chen mengeluarkan Pedang Baja Phoenix yang dialiri oleh kekuatan Api Keabadian, mengangkatnya ke atas membuat penjara api yang tinggi. Pergerakan melambat, Lian bergidik ngeri ketika melihat makhluk-makhluk itu merangkak meski tubuh mereka sedang terbakar.


Xin Chen melemparkan pandangan jauh ke atas bangunan tinggi di mana beberapa orang menyadari bahwa mereka bertiga masih hidup. Mulai menyerang mereka dengan senjata api.


Shuo yang sedang memberantas di baris terdepan terus menyerang kawanan terinfeksi. Dia berteriak sejadi-jadinya, "Tidak akan kubiarkan kalian menyentuhku!"


"Shuo, awas!" teriakan Xin Chen diredam oleh bunyi tembakan. Dia berusaha menyelamatkan Shuo dan hal itu membuat penjara apinya melemah. Shuo berhenti melibaskan tongkat kayu bergeriginya, bahunya bocor oleh peluru. Dia bergerak tak karuan, keseimbangan tubuhnya melemah seketika.


Mata Shuo memerah berair, "Bu-bukan permasalahan besar ... Kita harus mencari makan-an, uhkk, sialan bangs*t itu ..." Lian mendekat, Xin Chen berusaha menyingkirkan tubuh Lian secepatnya sebelum peluru lainnya membunuh kawannya itu.


Namun tak disangka Shuo lebih dulu menyelamatkannya dan menjadikan tubuhnya sebagai tameng.


"Mereka semakin dekat ... Lari!"


Xin Chen tak sanggup mengatakan apa-apa, dia memapah tubuh Shuo dan berlari sebisanya, Lian menemukan satu tempat yang terlihat terlindungi dari berbagai sisi. Terdapat satu kungkungan besi yang harus ditarik ke atas agar mereka bisa masuk. Selain itu tak ada tempat yang lebih aman.


Kejaran dari belakang semakin mendekat, bunyi raungan dan jeritan seakan-akan menjadi bel kematian untuk mereka bertiga.


"Itu yang aku bilang! Mereka menumpahkan mayat itu ke kota terbuang! Mereka sialan ...! Tapi kenapa harus ke tempat ini?!" Lian yang tubuhnya tak sekuat yang lain menarik besi itu ke atas sampai kedua kakinya bergeser. Dia hampir menangis, wajahnya memerah padam. Shuo yang saat itu sedang diambang mautnya berdiri, membantu Xin Chen dan Lian menarik besi yang beratnya tak akan sanggup bahkan jika diangkut oleh puluhan orang dewasa.


Xin Chen menambahkan kekuatannya, membuat pintu itu terdorong ke atas dengan cepat.


"Masuk! Tidak ada waktu lagi!!" Lian masuk duluan, melihat ke belakang di mana dia mendapati Shuo baru saja mendorong Xin Chen masuk dengan paksa. Sebelum pintu itu jatuh kembali ke tanah.

__ADS_1


"Aku sudah tergigit." Mata berkaca-kaca Shuo semakin membuat Xin Chen tak sanggup, mereka sudah bertarung sejauh ini dan sekarang Shuo ingin berhenti.


Dia jatuh ke tanah, mencengkram kuat besi penghalang. "Sampaikan pada Yu-"


Para terinfeksi tepat berada di balik punggungnya dan mulai menarik tubuh Shuo seketika itu juga.


"Shuo, tidak!!" Lian mencengkram besi-besi tersebut, darah Shuo terciprat membasahi wajahnya begitu juga dengan Xin Chen yang membatu. Tangan keduanya dingin.


"Tidak ... Tidak lagi!" Lian tak sanggup membendung tangisannya, Shuo adalah sahabatnya. Mereka telah berteman lama dan bertarung menghadapi banyak hal bersama-sama. Dari sekian banyaknya sahabat yang dimilikinya hanya Shuo yang tersisa, dan sekarang dia sudah tiada. Lian menyaksikan kematian sahabatnya di depan matanya sendiri.


"Shuo berkorban untuk kita." Ada duka di wajah Xin Chen saat itu, dia menyesal tak bisa melakukan banyak hal. Meski ada pilihan untuk menggunakan kekuatannya, tapi resiko yang amat besar bisa saja justru mereka bertiga dalam bahaya pula.


"Apa yang ingin kau katakan pada Yu?" Lian mencoba meraih sisa tubuh Shuo yang tercecer, menangis dalam lautan darah yang mulai membanjiri. Lalu tangan-tangan terinfeksi itu berusaha meraihnya. Lian mengeluarkan sebuah bom yang selama ini hanya di simpannya.


Dia melemparkan benda itu dengan kesal, "Kalian semua sampah!"


Di tengah murka yang melalap sisa kewarasannya, Lian sampai tak peduli ke arah mana dia melemparkan peledak yang berbahaya itu. Sekarang malang lain menjemput mereka berdua, benda itu menghantam sebuah dinding besi dan memantul kembali ke arah mereka berdua.


"Lian, lari!"


Xin Chen menarik kerah remaja itu sekuat tenaga, hanya dalam hitungan detik berikutnya ledakan yang cukup besar terjadi. Menghancurkan kungkungan yang melindungi mereka dari terinfeksi itu.


"Mimpi buruk lagi." Xin Chen menatap Lian serius, "Apa pun yang terjadi jangan sampai tergigit dan tetap di sebelahku. Shuo sudah mengorbankan nyawa untuk ini semua, agar kita menyelamatkan orang-orang Perkemahan Tenggara. Kau mengerti?"


Lian tak menjawab. Jika dia mengeluarkan suara pun hanya tangis yang terdengar darinya. Xin Chen sama berdukanya seperti Lian saat ini, tapi jika mereka tak segera bergerak menyelamatkan diri pengorbanan Shuo akan sia-sia.

__ADS_1


__ADS_2