
"Mimpi yang indah ..." Suara serak itu tak disadari oleh tiga orang yang sibuk bercengkrama di samping ranjang. Satu pemuda yang masih menenteng sepanci besar masakan berbau aneh. Dua orang lainnya sedang menikmati teh hangat. Tapi yang satu sibuk mengomel tak jelas, membuat lawan bicaranya ikutan mengomel sama kesalnya.
Nostalgia masa lalu di mana sebuah keluarga utuh penuh akan kebahagiaan datang. Ingatan itu membuat kedua bola mata Ren Yuan menghangat. Dadanya sesak dan terasa sakit sekali, tapi pemandangan di depannya membuatnya lupa akan sakit itu. Dan ketika sosok yang sangat dicintainya bertingkah seperti yang biasanya dia lakukan ketika menghadapi dua putra kecilnya, Ren Yuan tanpa sadar tertawa.
Tawaan di sekitarnya mendadak hening. Ren Yuan takut. Takut dia akan terbangun dari mimpi dan tak bisa bersama mereka lagi. Air mata kembali jatuh dengan tubuhnya yang tak bisa bergerak sama sekali. Begitu ingin wanita itu bangkit dan memeluk ketiganya satu per satu. Tapi apa yang bisa dilakukannya hanyalah menatap dalam sedih yang tak terperikan.
Melihat Ren Yuan telah sadar Xin Chen yang pertama kali datang mendekati wanita itu. Ren Yuan seperti menghindarinya.
"Jangan pergi dulu ..." ucapan Ren Yuan nyaris tak bersuara, hanya mulutnya yang bergerak. Tapi dia tak melihat sosok Xin Chen menghilang dari pandangannya. Seolah-olah tak terjadi apa-apa, anak keduanya itu tersenyum lebar dan berbicara hal bodoh seperti biasanya.
"Mau mencicipi sup buatanku?"
"Hoi, hoi, ini anak lepas kandang. Bawa sini ramuan ajaibmu itu! Aish, merana orang kau buat, Xin Chen g*blok!" Xin Zhan sampai tak peduli lagi dengan ucapannya. dia menarik dagu Xin Chen dari belakang, membuat sup dalam panci yang penuh hampir tumpah.
Ren Yuan masih tak bersuara. Xin Fai datang ke sebelahnya, mencium kening wanita itu dengan lembut sambil berbicara, "Kami pulang."
Sampai di situ Ren Yuan kembali menangis. Antara kenyataan atau mimpi yang terasa begitu nyata. Dia tak bisa membedakannya. Xin Fai membantunya agar bisa duduk di atas ranjang.
"Benarkah kalian ...?"
"Ibu tidak sedang bermimpi. Kalau ini mimpi mungkin perangai kakakku akan lebih baik daripada sekarang. Macam ibu-ibu perumahan gayanya." Xin Chen tak peduli dengan muka kesal Xin Zhan di belakangnya. Wanita itu langsung memeluk Xin Chen dan Xin Zhan bersamaan. Rindunya terobati. Cukup lama dia memeluk, seperti takut akan kehilangan untuk yang kedua kali
Xin Fai memeluk ketiganya, merasa bersalah. Seharusnya dia selalu ada untuk mereka. Sebagai pelindung yang bukan hanya menjadi Pilar Kekaisaran ini. Melainkan Pilar untuk rumahnya sendiri. Saat rumahnya hancur. Hanya Ren Yuan yang bertahan mati-matian agar mereka tetap utuh. Tak bisa dia katakan lagi, seberapa besar dia mencintai istrinya itu.
__ADS_1
Xin Zhan dan Xin Chen melepaskan pelukan mereka, membiarkan kedua orang tua mereka melepas rindu.
"Siapa tadi yang berani menantangku duel?" sindir Xin Chen. Urusannya dengan Xin Zhan masih belum selesai.
"Kau masih dendam padaku, ya, Chen?"
"Memang."
Keduanya pergi ke halaman belakang, tempat di mana Xin Zhan selalu berlatih di waktu luangnya. Dan tempat itu juga pernah menjadi arena duel mereka sebelumnya. Xin Fai mendecak tak habis pikir melihat dua anaknya itu.
"Orang masih suasana haru biru mereka malah sibuk cek-cok. Anak-anak ku itu," gumamnya sambil menunjuk ke luar jendela.
Sebenarnya ada begitu banyak pertanyaan yang ingin Ren Yuan utarakan, tapi tenggorokannya masih terasa sakit. Dan bukan waktu yang tepat untuk membahas apa yang terjadi di Lembah Para Dewa. Ren Yuan tak ingin menghancurkan kebahagiaan di wajah suami dan anak-anaknya. Mereka kembali saja Ren Yuan sudah begitu bahagia. Dan detik ini pun dia masih tak percaya dengan apa yang dialaminya.
"Badanmu kurus kering, suamiku. Kalau duduk di pohon orang-orang pasti akan mengiramu ranting pohon."
Ledekan Ren Yuan membuat Xin Fai tertawa sejadi-jadinya. Dia mencubit pipi wanita itu, tidak tersinggung sama sekali.
"Aku akan memasakkan sup. Pergilah melihat anak-anak," katanya sembari berusaha bangun. Tapi Xin Fai menahannya. "Biar aku saja, kau yang lihat anak-anak. Takutnya salah satunya masuk ke dalam parit."
Xin Fai memapah Ren Yuan ke halaman belakang, memang kedua anaknya sungguh-sungguh bertarung di sana. Tapi berbeda, tak ada rasa marah atau kebencian di mata mereka, keduanya bertarung hanya untuk bersenang-senang. Anggap saja seperti perayaan kemenangan mereka setelah perang yang melelahkan.
"Kalian berdua sudah makan?"
__ADS_1
"Sebentar lagi Kakak Zhan makan besar, Ibu. Tunggu sebentar aku kalahkan dia," serobot Xin Chen dengan mata tak berpaling dari Xin Zhan, lawannya itu memberengut. Diam-diam memasang wajah dongkol setengah mati. Bisa-bisanya, beberapa hari tak makan langsung disuguhkan sup yang entah kuahnya di ambil dari kerak neraka sampai rasanya amat sadis.
Apa pun yang terjadi, Xin Zhan harus menang. Itu yang dia pikirkan sekarang.
"Tak apa. Kali ini biar ayah yang memasak. Kalian makan, ya?"
Pertarungan dua putra klan Xin berhenti seketika.
Terakhir kali mereka mencicipi makanan yang dibuat ayahnya. Ikan asing kering yang dibakar sampai menjadi arang. Itu adalah mimpi buruk yang mungkin akan terjadi beberapa saat lagi.
"Ahahaha, aku sudah kenyang. Xin Chen pasti kelaparan, Ayah. Ah sudahlah aku mengaku kalah. Ada beberapa urusan di luar," sanggah Xin Zhan menyelamatkan dirinya sendiri. Baik Xin Chen dan Xin Fai dulunya tahu cara memasak. Tapi karena separuh hidup mereka lebih banyak dihabiskan di hutan membuat masakan yang mereka buat tak lebih dari makanan ala kadar dengan rasa yang 'entah'.
Pada akhirnya Xin Zhan sendiri yang turun tangan ke dapur, memasak sup normal agar mereka bisa makan dengan layak. Xin Chen menceritakan semua yang dilaluinya selama perang, ditemani ayahnya. Ren Yuan mendengarkan antusias, seolah-olah perang itu benar-benar terjadi di depan matanya.
Apa yang dilalui kedua anaknya mungkin tak akan pernah ditemui anak di belahan bumi mana pun. Tak ada makanan, tak ada istirahat, tak ada pertolongan. Mereka melalui neraka itu dan selamat. Tak terasa air mata Ren Yuan jatuh, dia langsung memeluk putranya Xin Chen yang masih menjelaskan panjang lebar. Saat Ren Yuan menatap kedua mata yang telah membiru layaknya api yang membakar Kota Renwu, dia merasa bersalah akan banyak hal.
"Tidak ada yang sakit, kan?"
"Butuh waktu beberapa lama untuk memulihkan kekuatanku. Tapi aku baik-baik saja," jelas Xin Chen. "Tapi ..."
"Tapi apa?"
"Ada beberapa orang yang terluka, setelah perang ini," kalimatnya tertahan. "Mereka yang kehilangan orang-orang yang gugur di Medan perang. Paman Lan An, Bai Huang, Nan Yin, puluhan ribu anggota Empat Unit Pengintai, prajurit Kekaisaran ... Dan sebagian mantan Aliansi Pedang Suci. Masih banyak lagi. Aku tak tahu kenapa, kematian mereka membuatku merasa bersalah."
__ADS_1
Ren Yuan mencermati lamat-lamat wajah Xin Chen, mengelus pundaknya dari samping sambil berkata lembut. "Mereka yang gugur di medan perang mengorbankan nyawa mereka, untuk keselamatan keluarganya di rumah. Tidak peduli kembali atau tidak. Untuk itu mereka yang masih bertahan dari perang, hidup untuk selalu mengenang nama mereka."