Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 235 - Enam Tuan Rumah VII


__ADS_3

Kapak Tulang menghantam keras ke bawah, sesaat bunyi yang begitu besar terdengar dari tempat mereka bertarung diiringi debu tebal. Dari balik debu tebal itu seseorang muncul, Gajah Abu-abu bergerak dua langkah dengan tangan di belakang menarik Kapak Tulang.


Sambaran berikutnya terjadi dan masih terus berlangsung, Xin Fai hanya memiliki satu pilihan, bertahan. Jika dia menangkis atau bahkan kabur Gajah Abu-abu tahu cara untuk langsung menjatuhkannya.


"Aku sudah mempelajari semua pergerakanmu, pola seranganmu dan jurus-jurusmu!"


Sebuah serangan tak terduga masuk mengincar lengan kirinya, Xin Fai mengelak dan benar saja sekali dia berusaha keluar dari pertarungan Gajah langsung menangkap tangannya dengan cengkraman kuat.


"Dapat," kata Gajah tersebut. Tubuhnya yang tebal dan tulangnya yang kuat mengeluarkan aliran kekuatan besar. Dia memundurkan kepala dan memajukan sekuat tenaga, mengenai kening Xin Fai yang saat itu langsung berdarah.


"Rasakan ini!"


Xin Fai mundur, telinganya berdenging dan pandangannya buram. Di tengah ketidakseimbangannya Xin Fai masih dapat melihat lawan yang begitu bernafsu untuk menghabisinya.


Satu celah dibuka oleh Gajah Abu-abu, Xin Fai langsung bertindak cepat sebelum dia melewatkan kesempatan tersebut.


"Kitab Terlarang - Rantai Api Neraka."


Gajah Abu-abu berhenti berlari, langkahnya terseret ke depan karena larinya begitu cepat. Rantai-rantai merah darah datang kepadanya, menusuk tubuhnya. Tangan, kaki dan pinggang nya terkena sempurna.


'Harusnya hantaman itu memberikan aku waktu lima detik untuk menghabisinya. Dia bahkan tak berkedip dan langsung melakukan perlawanan balik. Nama Pedang Iblis sepertinya sesuai dengan kekuatan yang dia miliki, sial.' batin Gajah Abu-abu, Rantai tersebut masih mengejarnya dan melayangkan serangan mematikan.


Sedang disibukkan dengan Rantai Api Neraka Gajah Abu-abu sampai tak menyadari bahwa satu tendangan tengah mengincarnya. Sebuah gerakan bagai roda yang berputar penuh menghantam pundak Gajah Abu-abu, dia terpental dengan kapaknya yang berguling di sampingnya.


"Jurus Tendangan Bulan Sabit, ya? Heh. Ku dengar kau mewariskan Kitab Tujuh Kunci kepada anakmu yang pertama." Dia memungut kembali senjata itu sembari membersihkan bekas tendangan Xin Fai. Merasa tulang lengannya sedikit bergeser.


"Tentu saja. Dia memiliki potensi besar untuk menguasai Kitab Tujuh Kunci."

__ADS_1


"Berarti kau pilih kasih," ucapnya memprovokasi. "Adilkah hanya memberikannya kepada satu putramu? Kau hanya mengakui satu anakmu yang jenius sementara satunya yang bodoh kau biarkan mencari kekuatannya sendirian."


Xin Fai mengepalkan tangannya.


"Saat aku menawarkannya, Xin Chen menolak tanpa berpikir dua kali."


Mengingat bagaimana anak keduanya itu berusaha sendiri untuk kekuatannya, dia tak menginginkan seorang guru yang memaksanya mempelajari etika seorang pendekar, materi dan segala hal rumit lain.


"Kekuatan yang dia miliki sekarang adalah kekuatan yang dia dapatkan dengan jerih payahnya. Bukan hanya kekuatan yang diwariskan apalagi kekuatan dari garis Ayahnya yang merupakan seorang Pilar."


Xin Fai ingat saat dia melihat kekuatan yang telah ditempa Xin Chen saat umurnya masih 14 tahun. Peperangan 7 tahun lalu itu menjadi awal dia melihat kekuatan Xin Chen sebenarnya. Saat keluar dari rumah dan mencari tahu sendiri, Xin Chen mampu membuktikan bahwa dirinya bisa bertambah kuat meski tidak diajari oleh guru terkenal.


"Diberikan kekuatan cuma-cuma tanpa usaha yang dia lakukan adalah penghinaan baginya."


"Tetap saja Kitab Tujuh Kunci membutuhkan kemahiran untuk menguasainya."


"Jika aku memberinya Kitab Tujuh Kunci dulu, aku tak yakin dia bisa bertarung seimbang dengan Ketua yang kau katakan begitu hebat itu."


Sindiran Xin Fai memancing Gajah Abu-abu menoleh ke arah di mana pertarungan antara Xin Chen dan Wan Xuiyang bertarung. Terjadi kehancuran besar-besaran di sana, tapi bagaimana pun melihatnya mereka dapat memastikan Xin Chen lebih unggul. Dua dari empat kekuatan besar milik Serigala Merah sebelumnya telah menghilang dan suara ledakan terdengar keras. Sudah jelas, Serigala Merah terpojokkan.


"Kau lengah!"


Xin Fai menendang kepala Gajah Abu-abu, menghantam telak di tulang pipi. Kemudian bergerak ingin meninju dengan tangan kosong, Gajah Abu-abu menangkap tangannya dan memutarnya. Dari samping Kapak Tulang bergeser cepat dan seketika sudah berada di atas kepala.


Xin Fai tak tinggal diam, dia menangkis kapak itu dengan pedang di tangan kanan. Sampai tak menyadari bahwa Gajah Abu-abu mulai mengambil celah dan berniat menghantam kepalanya dengan kepala Xin Fai seperti sebelumnya.


Melepaskan diri dan mundur cepat, Xin Fai berhasil menghindarinya. Dia menarik napas, kebas di tangannya mulai terasa. Cengkraman Gajah Abu-abu tadi, salah-salah bisa membuat tulangnya tak berfungsi lagi.

__ADS_1


"Dia lumayan kuat." Katanya sangat kecil, menatap Gajah Abu-abu yang di sisi lain juga sama sepertinya.


Gajah Abu-abu menggerakkan kepala kanan lalu kiri, bunyi tulang leher terdengar.


Xin Fai tak mau mengulur waktu sama sekali, dia mulai mengeluarkan jurus lainnya. "Kitab Terlarang - Perpindahan Ruang Dimensi."


Sebuah ruang hitam muncul di udara hampa sampai sebuah pedang keluar dari sana dan melesat tajam, mengincar ke satu titik di mana Gajah Abu-abu berdiri.


Samar sekali, Xin Fai hanya muncul sesaat di depannya dan hilang. Gajah Abu-abu mencari waspada, sampai dia menemukan serangan telah datang di sisi kirinya.


Dia segera menghadang dengan kapak, tapi tak lama Xin Fai muncul dari ruang dimensi kosong. Nyaris mengenainya, tapi laki-laki itu sudah membaca gerakan Xin Fai lebih dulu sehingga tak sulit untuk menghindarinya.


Namun keinginan untuk mundur terpaksa diurungkan sebab tanpa dia sadari Rantai Api Neraka telah mengikat kakinya sehingga betul-betul tertancap ke tanah tanpa bisa bergerak. Gajah Abu-abu tak siap menerima hantaman berikutnya, dia menahan dengan kedua lengan.


Membuat pelindung tangan yang juga terbuat dari tulang dengan duri-duri tajam di lengannya hancur berkeping-keping. Gajah Abu-abu termundur, menahan kekesalannya. Bukan perkara mudah menghadapi Pedang Iblis, mungkin hal itu baru disadarinya sekarang. Saat Gajah Abu-abu bangun, Xin Fai telah bersiap untuk pertarungan selanjutnya.


"Sepertinya aku tak memiliki pilihan lain selain melawanmu dengan jurus andalanku."


Dia mengayunkan kapaknya di atas kepala, sebelum menenggerkan di atas bahu, memasang tampang congkak.


"Kau tahu kenapa aku dinamakan Gajah Abu-abu?"


Kekuatan dari dalam musuh telah naik beberapa level, Xin Fai tak bisa meremehkan hal itu. Sedikit salah langkah saja dia akan berakhir dengan kekalahan mengenaskan.


Hebatnya kekuatan di dalam tubuh Gajah Abu-abu mampu menciptakan sebuah pelindung berat dan kuat di seluruh tubuhnya. Berwarna putih gading dengan duri-duri tajam dan bentuk yang menyerupai bentuk gajah disertai belalai dan ekornya.


Apa pun kekuatannya Xin Fai merasakan hawa membunuh yang menyeramkan. Akan semakin sulit untuk mengalahkan Gajah Abu-abu dikarenakan perisai yang melindunginya itu. Keras dan tebal. Di sisi lain juga memberi musuhnya keuntungan berupa tambahan kekuatan saat satu saja tinju atau tendangan mengenai Xin Fai.

__ADS_1


"Ini menjadi semakin menarik," kata Gajah Abu-abu.


__ADS_2