
Shui dan Huo Rong menatap ke kejauhan di mana sebuah cahaya merah kembali bersinar menembus awan. Matahari telah berubah, seluruh tempat terlihat seperti neraka.
"Sudah terlambat. Ini semua tak akan bisa dihentikan lagi," ucap Shui, wajah bodohnya kini berubah sangat serius.
"Puluhan juta tahun hidup dan kau masih takut dengan kematian?" Huo Rong tergelak. Tapi sebenarnya dia juga tidak dalam suasana hati ingin bercanda.
"Aku yakin dia mampu menghadapinya."
Baru Huo Rong ingin berkata demikian, sesosok rubah telah datang dari belakang mereka dan menimbrung tiba-tiba.
"Oh, lama tidak jumpa, Rubah. Terakhir kali kau ikat aku sampai dua hari aku terkunci," geram Shui masih menyimpan dendam. Rubah memasang tampang kesal sebelum melanjutkan. "Xin Chen bukanlah orang yang mudah menyerah bahkan sampai titik darah penghabisannya..."
"Dia akan bertarung sampai malaikat pun kesulitan menyeretnya ke neraka."
Ketiganya menatap langit. Berharap semua yang dikatakan Rubah Petir adalah kenyataan.
*
"Bagaimana ini?"
Tao Gui Xiang menggenggam makin erat pada jimat di tangan, napasnya berderu tidak tenang. Berkali-kali lelaki sepuh itu mondar-mandir, bukannya dia tidak melihat bagaimana keadaan di luar, tetapi Tao Gui Xiang juga harus memikirkan apa yang bisa dilakukannya di saat-saat genting seperti ini.
Evakuasi sepertinya tak akan menyelamatkan siapa pun kalau serpihan panas dari matahari jatuh menghantam bumi. Bahkan bumi saja tak akan mampu bertahan, mereka semua akan binasa. Jari-jarinya sampai gemetar hebat, sama seperti yang semua orang rasakan saat ini; ketakutan tiada henti.
"Kuil Teratai ..." Lelaki itu mengepalkan tangan, mengingat bahwa dulu si pewaris darah iblis juga sempat disegel dan dimurnikan di tempat itu. Tempat yang telah dibangun lebih dari seribu tahun lalu. Dia segera mengambil barang-barang dan pergi meninggalkan tugasnya sebagai Pilar Kekaisaran yang seharusnya saat itu bertugas melindungi Kekaisaran dan masyarakatnya.
__ADS_1
Di tempat lain Lian Ning mengeluarkan seluruh kekuatannya, mata pemuda itu bercahaya sampai tidak terlihat lagi bola matanya. Dia terbang melesat ke atas, mengepalkan tinjunya.
Sebuah benda asing yang ukurannya sangat besar terbakar hingga meleleh sebentar lagi akan jatuh menghantam bumi. Keduanya sebentar lagi akan bertubrukan kencang.
Tangan Lian Ning yang dilindungi oleh kekuatan cahaya menghentam hingga hancur permukaan meteorit, mengubahnya menjadi serpihan yang lebih kecil dan jatuh begitu saja di atas hutan. Tak ada korban jiwa, tapi tak menjamin apakah di tempat lain juga selamat.
Karena dari jarak Lian Ning sekarang, dia bisa melihat dua meteorit lain akan jatuh. Yang satu mengarah ke pemukiman penduduk dan satu lagi ke jalanan pasar rakyat. Tempat itu masing-masing dipenuhi oleh masyarakat.
Lian Ning tak sempat bergerak. Dia menggunakan kekuatan terlalu banyak. Dia jatuh begitu saja menerjang ranting pohon dan bebatuan. Tergeletak kehilangan daya.
Di sisi lain Xin Zhan dengan pedangnya berhasil bergerak cepat dan menebaskan pedang tiga ratus enam puluh derajat. Sebuah teknik legendaris yang mampu menghancurkan sesuatu dengan mudah. Saat meteorit terpecah menjadi dua dia menggunakan kekuatannya untuk menghancurkan sisanya.
Seorang mantan Pilar Kekaisaran, Xiu Juan maju untuk menghabisi batu raksasa yang hendak menimpa orang-orang di pasar. Rambut dan pakaiannya berkibar kencang, dalam satu gerakan mematikan wanita itu menggunakan sebelah kakinya dan benda itu terpecah berkeping-keping.
*
Kaisar Qin belum mengeluarkan sepatah kata pun dari sana. Firasatnya mengatakan bahwa ini adalah akibat ulah adiknya sendiri, Qin Yujin. Murka tiada tara melalap wajahnya yang selalu dihiasi oleh kesabaran dan ketenangan. Kesabarannya sudah melampaui batas. Kaisar Qin tak akan memaafkan laki-laki itu sama sekali.
Tapi yang dia lakukan sendiri tak ada yang membuahkan hasil. Pasukan pengintai terbaik di kerahkannya, pulang-pulang kembali sudah tak bernyawa. Atau prajurit dan petarung handal, lebih parah lagi. Mereka bahkan tak mengirimkan kabar.
Dia menarik napas dalam, terdengar sangat gusar. Jari-jarinya yang bertaut bergerak tak karuan. Sama seperti pikirannya saat ini. Gagal memenangkan pikirannya, Kaisar Qin tak sengaja menepis kasar mangkuk teh hingga pecah berhamburan di lantai.
"Yang Mulia! Yang Mulia!"
Sudah beberapa orang berdiri di belakangnya untuk berbicara, akhirnya Kaisar Qin menghadap mereka. Mau tak mau semua ini harus dia hadapi.
__ADS_1
**
"Akhirnya kau datang, baj*ngan kecil. Sudah lama aku menanti saat ini."
Dia memalingkan muka ke samping, di mana seorang gadis dibekukan dalam Kristal Merah. Sebuah penjara dari bawah kakinya muncul dan mengunci gadis itu menggunakan segel tingkat tinggi.
"Duduk manis di sana, Hua'er. Biar aku buktikan bahwa orang itu tak pantas untuk menjagamu."
Dia menadahkan sebelah tangan, menatap satu mata lagi yang berada di telapak tangannya. Terbuka lebar, dia sendiri bisa melihat kekuatan yang begitu dahsyat di dalamnya. Saat angin kencang datang jubah merah lelaki itu berkibar kencang, dia menciptakan sebuah tongkat hitam yang dikelilingi sepuluh bola hitam. Penampilannya menjadi lebih mengerikan dengan tanduk dan muka penuh kebencian.
"Matilah kau, sialan."
Mata di tangan kirinya melotot, Qin Yujin mengarahkan tangan tersebut langsung ke arah Xin Chen.
Sebuah sinar merah terang keluar, melesat sangat jauh sampai ke tempat Xin Chen. Bahkan kekuatannya tak berkurang meski dalam jarak jauh.
Musuhnya melompat sejauh mungkin, tapi tempatnya berpijak mulai berbunyi.
Gunung tempat Xin Chen berada tadi tiba-tiba mengeluarkan suara yang amat besar hingga retakan muncul dari bawah kaki gunung dan membelahnya di tengah. Reruntuhan kayu dan batu berguling. Qin Yujin melepaskan serangan yang sama ke mana pun Xin Chen berpindah. Dalam jarak tersebut matanya bisa melihat dengan jelas pergerakan musuh.
Di sisi lain Xin Chen harus berhadapan dengan para terinfeksi yang memiliki cukup banyak perbedaan dengan yang biasa dia temui. Mereka memiliki tanduk kecil dan kekuatan selayaknya pendekar. Mampu bergerak seperti memiliki akal manusia hidup.
Salah mengambil langkah, Xin Chen dikepung di berbagai sisi. Dia menggunakan kekuatan roh untuk melindungi diri. Antisipasi makhluk-makhluk itu mampu mengenainya seperti halnya yang dilakukan Serigala Merah.
Xin Chen terkejut saat salah satu terinfeksi itu berhasil mengoyak perisai roh dan menampakkan wajahnya dari lubang yang dia ciptakan. Langsung saja tangan-tangan tersebut berusaha menjangkaunya.
__ADS_1
Qin Yujin melihatnya dengan puas. Xin Chen terkepung oleh ribuan, dia akan tertimbun makin berat jika tidak segera melepaskan diri. Dan dari dalam sana Qin Yujin juga tahu keroco-keroconya sedang berusaha untuk mengoyak pemuda itu menjadi beberapa bagian. Pemandangan indah baginya.
"Segitu saja kemampuanmu?"