
Aroma sejuk dari pegunungan di pagi hari, hangatnya sinar matahari dan hiruk pikuk di Kota. Hal sesederhana itu telah Xin Chen rindukan sejak lama. Hari yang tenang, walau hanya sejenak.
Tapi ketenangan itu tak akan bertahan lama.
Katakan saja, seekor kadal gosong berisik sedang mengacak-acak seisi kamarnya dan memakan kayu dinding sampai keropos. Benar, Ye Long. Naga perut karet itu mendadak menjelma menjadi pasien pengidap busung lapar. Dia naik ke atas ranjang, menginjak majikannya yang sudah menarik napas ribuan kali. Kesabarannya mulai habis.
"Makan! Makan! Makan!"
"Kau baru makan setengah jam dua puluh satu detik yang lalu, Ye Long," protes Xin Chen menjabarkan sedetailnya. Naga itu menulikan telinganya dan makin bertingkah. Kali ini lemari tinggi di kamar Xin Chen jadi korban, benda itu ambruk ke samping. Menyebabkan kaca-kaca di dalamnya hancur bersama bunyi berisik. Bukannya terkejut, Ye Long makin menambah-nambah kehancuran.
Xin Chen mengepalkan tangan. Geram sekali sampai ingin sekali menggaruk dinding.
Ketika Xin Fai datang untuk membangunkannya, dia dibuat heran sekaligus kaget.
"Oh, ada kapal tenggelam. Hancur sekali. Bajak lautnya selamat?" tanya Xin Chen sembari memperhatikan si 'Bajak Laut' yang sedang diterkam Ye Long.
"Tiba-tiba diserang monster gurita! Arrrghhh, lepas Ye Long!"
"Hahahaha, kapal miring, kapal miring!" ledek Xin Fai tertawa ngakak. "Turunlah segera, kita makan."
"Makan?!" Ye Long berhenti merecoki Xin Chen dan langsung mengejar Xin Fai yang sedang berjalan di lorong rumah, Xin Fai menggandeng kepala naga itu, tawanya masih tak mereda.
Bukan hal mengagetkan lagi untuk Ren Yuan saat melihat peliharaan tinggal bersama mereka di rumah. Sama seperti halnya ketika Lang masih di Kekaisaran Shang. Keberadaan serigala berbulu emas itu masih belum terlacak. Xin Fai sendiri tak tahu misi terakhir apa yang diambil serigala itu hingga dia tak pernah kembali. Ada kekhawatiran di dalam hatinya ketika mengingat Lang.
Xin Chen menarik kursi dan duduk dengan muka kesal. Rambutnya berantakan.
"Pagi-pagi sudah banyak tekanan?" ejek Xin Zhan, atau lebih tepatnya menyindir. Salah adiknya sendiri membawa naga itu ke rumah.
"Namanya juga peliharaan." Tambah Xin Fai, melihat ke kursi sebelahnya. Belum-belum makan, lauk pauk di piring Xin Chen sudah ditelan bulat-bulat oleh Ye Long.
__ADS_1
Xin Chen menoleh ke ayahnya. "Tak apa aku makan nasinya saja."
Lagi-lagi Xin Fai ingin tertawa dibuat putra keduanya. Seperti melihat dirinya di masa lalu. Menghadapi perut siluman yang porsi makannya jauh lebih besar dari manusia memang bukan perkara mudah. bedanya, jika Lang kelaparan dia akan berburu sendiri dan kembali setelah perutnya kenyang.
Ye Long ini, berburu sendiri pun pulang-pulang dia yang diburu manusia. Karena itu Xin Chen tak bisa membiarkan naga itu pergi sendirian.
"Ah, sayurnya dingin. Tunggu sebentar ibu panaskan." Ren Yuan hendak membawa semangkuk sayuran, memang dia sudah memasak pagi-pagi buta. Keadaan tubuhnya sedikit lebih baik dari kemarin, sebab tadi malam beberapa obat telah diantarkan ke rumahnya, dari para tabib yang sebelumnya menjaganya. Setidaknya itu dapat mengurangi rasa sakit yang Ren Yuan alami.
"Tak apa, kita punya pemantik api di sini. Ha, Ye Long. Panaskan sayurannya," suruh Xin Chen iseng. Langsung saja Ye Long mendumel.
"Orang-orang di luar sana memperebutkan ku dan menganggapku mahkluk langka. Dan di sini kau buat aku jadi pemantik api?"
"Itu keistimewaanmu, Ye Long! Cepat, tunjukkan. Ibu pasti terkesan." Xin Chen memuji sekaligus meledek, Ye Long malah termakan kata-katanya barusan. Entah naga itu mengira menjadi pemantik api begitu keren sampai-sampai ibunya takjub. Dengan senang hati Ye Long mengeluarkan api dari mulutnya, tak begitu lama mengenai permukaan air dalam mangkuk.
"Ye Long memang naga yang baik," puji Ren Yuan mengelus-elus kepala naga itu. Sontak saja dia tambah kegirangan.
"Iya!"
"Bagus juga kalau kujual ke pasar gelap," gumamnya sedikit keras. Ye Long menatap Xin Chen dengan ekor mata. Seolah-olah ingin menggigitnya sampai keluar air mata.
Berbincang cukup lama, Xin Chen akhirnya meminta izin untuk keluar dan melihat-lihat kota. Xin Fai sebenarnya ingin sekali menahan anaknya itu, setidaknya berbagi sedikit waktu agar bisa bersama keluarganya lebih lama.
Tapi wajah Xin Chen sendiri mengisyaratkan sesuatu yang tak dapat Xin Fai pahami. Xin Chen pamit.
Sepanjang jalan, keadaan masih tak kalah ramai dari hari-hari kemarin. Semua orang sibuk mempersiapkan acara yang akan digelar dalam beberapa hari ke depan. Lampion merah, jalinan tali dan bunga-bunga menghiasi di atas jalan.
Xin Chen berhenti menapak pada sebuah dagangan di pinggir jalan. Puluhan topeng dan kincir angin dipajang di sana, motif dan ukurannya berbeda. Benda yang bagi anak kecil amatlah menarik. Xin Chen yang sekarang rasanya sudah begitu terbiasa dengan topeng seperti ini. Bukanlah mainan orang seumurannya lagi.
Si pedagang menyadari kedatangan Putra Kedua klan Xin ke lapaknya. Orangnya masih cukup muda, tampaknya baru saja menikah beberapa bulan, pembawaannya sendiri bersahabat.
__ADS_1
"Adakah yang ingin Tuan Muda beli?"
Xin Chen memang sudah menyadari gerak di sampingnya, dia menoleh cepat dengan tangannya yang menggenggam sebuah topeng unik. Topeng Rubah dengan warna perak berkilat. Entah mengapa dia teringat akan guru cerewet tukang ngatur dan maha benar itu.
"Aku dulu sering datang ke tempat penjual topeng seperti ini untuk mengganggu seorang pedagang tua. Dia begitu marah saat aku mencuri salah satu barang jualannya," terangnya.
Pemuda itu sedikit terkejut dan hendak menjelaskan sesuatu dengan terbata-bata, "Apakah yang Tuan Muda maksud Ayah saya? Beliau sudah lama tiada, sejak terbakarnya Kota Renwu. Dan aku di sini meneruskan pekerjaannya sebagai penjual topeng."
"Benar dugaanku." Xin Chen memakai topeng rubah itu ke wajahnya, hanya di bagian atas samping agar wajahnya tetap terlihat. Sesaat, pemuda itu terpana melihat warna bola mata yang begitu langka itu. Menatapnya sambil berbicara. "Aku beli yang ini. Aku tidak akan kabur sebelum membayarnya."
"Tentu saja, Tuanku! Sebuah kehormatan Anda datang kemari!"
"Sampaikan maafku ketika kau mengunjungi makamnya."
"Dengan senang hati, Tuanku."
Usai membayar topeng terjadi keributan di tengah ramainya lalu lalang. Xin Chen lantas menoleh, melihat seorang wanita berumur sekitar 45 tahun dengan penampilan nyentrik membentak seorang pemuda berjubah serba putih. Pemuda itu tersungkur di atas tanah, matanya ditutup kain putih. Dia seorang tunanetra.
Wanita itu menuduh pemuda tersebut mencuri dompetnya. Di tengah keramaian itu siapa lagi yang patut disalahkan selain orang yang paling dekat.
Massa nyaris menghajar habis-habisan pemuda tersebut, Xin Chen menghentikan segera.
"Silakan periksa dulu orangnya. Jika dia benar-benar mencuri baru kita pikir langkah selanjutnya."
Xin Chen menatap lama pemuda tersebut. Merasa asing terhadap garis mukanya. Caranya berpakaian dan tinggi badan lelaki itu. Dia seperti bukan bagian dari Kekaisaran Shang.
Seorang prajurit yang kebetulan berjaga di sana memeriksa tubuh pemuda tersebut, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Nihil. Tak ada dompet wanita itu bersamanya. Lalu penduduk lain mengatakan bahwa mereka melihat seorang laki-laki lain yang mencurigakan. Dia lari terbirit-birit memecah kerumunan dan masuk ke lorong perumahan. Sontak semua penjaga beralih mengejar pencuri tersebut.
Pemuda tadi bangun, menepak beberapa bagian baju putihnya yang kotor oleh tanah. Berbicara dengan sopan sambil menundukkan wajahnya sedikit. "Terima kasih sudah menolongku."
__ADS_1