Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 180 - Dendam yang Tak Akan Tuntas


__ADS_3

Sedikit nasehat dari Xin Fai membuat pikiran Xin Chen mulai terbuka, sama seperti Xin Zhan, Ayahnya mengatakan akan melindunginya jika terjadi hal buruk. Meski belum tahu apakah tindakan yang dilakukan Xin Chen murni sebuah perbuatan kejahatan atau memang memiliki alasan kuat. Mengingat mereka sendiri tak memiliki gambaran yang cukup jelas atas keadaan di Kekaisaran Wei.


Keduanya kembali ke rumah saat hujan sudah reda.


Xin Zhan sudah menunggu kepulangan mereka, dia tidak bisa mengikuti rapat karena beberapa alasan dan sebenarnya baru pulang. Ren Yuan keluar dari dapur, menyediakan makanan kecil dan minuman. Xin Zhan ingin menolak, karena dia tak mau ibunya ikut mendengar apa yang ingin diperbincangkannya.


Dia mengajak Xin Chen ke ruangan lainnya. Ruang dengan patung berzirah merah dan pedang senada, baru sampai kakaknya itu langsung mengatakan, "Tidak salah lagi, Bibi Ren Su terlibat dalam insiden yang hampir mencelakai ibu."


"Kau sudah dapat buktinya?"


"Tidak, tapi aku memiliki saksi dan petunjuk. Dia sudah membunuh satu orang, sudah sepantasnya ditangkap dan dipenjarakan. Aku tak akan membiarkan dia berkeliaran dengan tenang setelah apa yang diperbuatnya." Xin Zhan menjelaskan dari ujung ke ujung titik permasalahan yang dikuak oleh orang suruhannya untuk menyelidiki Ren Su.


Ditambah lagi informasi dari Xiu Qiaofeng mengatakan bahwa Ren Su sempat terlibat dalam transaksi dengan orang Kekaisaran Wei. Di mana awal mula penyakit Kristal Merah ditemukan.


Lalu tepatnya di hari di mana Ren Yuan diserang, Ren Su tidak hadir dalam acara minum teh yang diselenggarakan di klan Qiu. Salah satu kerabat dekat klan Ren. Seharusnya wanita itu ada di sana. Dan di kediamannya para pelayan mengatakan Ren Su pergi acara tersebut.


"Kita hanya punya dugaan. Itu tak akan cukup, Kak Zhan."


"Tenanglah, hanya perlu menunggu kabar dari Xiu Qiaofeng. Maka orang itu tak akan mampu mengelak, meski dia meminta ampun kepada Ibu sekalipun."


Xin Zhan tak akan memberi ampun pada wanita yang telah merenggut nyawa pelayan rumah mereka dan mencelakai Ren Yuan. Banyak hal mencurigakan yang dilakukan Ren Su, Xin Zhan yakin ada hal yang disembunyikannya.


"Jika memungkinkan, aku berharap kau juga membantu penyelidikan Xiu Qiaofeng. Orang itu sudah pernah membakar semua bukti yang dikumpulkan Nona Xiu. Jika terjadi dua kali, kemungkinan untuk memasukkannya dalam penjara semakin kecil."


Xin Chen menggumam, "Padahal kalau dibunuh saja lebih cepat selesai masalah ini. Lagipula ibu sudah sembuh. Kalau ada yang curiga bilang saja dia mati terpeleset."


"Kau kira semudah itu?" Xin Zhan ingin menjitaknya, "Dia itu salah satu keluarga Ren. Punya pengawal setia dan pelayan, tak mungkin mereka diam saja ketika wanita itu mati tanpa alasan."


*


Beberapa hari berlalu semenjak kedatangannya ke Kota Fanlu, dengan kehadiran Rubah Petir setidaknya rumah mereka terjaga. Rubah itu sudah mengatakan langsung, dia harus memulihkan diri dan mungkin akan tinggal bersama mereka selama beberapa bulan. Dan itu adalah kabar baik untuk Xin Chen yang memang tidak bisa duduk diam di rumah. Dia bisa pergi tanpa mengkhawatirkan Ren Yuan. Sebab Ayah dan saudaranya Xin Zhan memiliki pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.


Xin Chen bergerak ketika malam turun, menyusuri jalan Kota Fanlu yang serba bercahaya. Sesekali pertunjukan menyita perhatian para pendatang dan masyarakat, keramaian tak habis-habisnya di kota itu. Dia mengedarkan pandangan. Berniat mencari beberapa hal, termasuk penjual informasi.


Dari seorang pedagang dia mengetahui salah satu penjual informasi tinggal di sebuah toko senjata. Dia menyamar dan tak sembarangan mengatakan identitasnya.


Xin Chen baru sampai dan hendak mengajaknya berbicara, tapi sosok lain datang lebih dulu. Dia mengatup mulut, membiarkan sosok yang lebih dulu itu berbicara.


Tapi telinganya familiar dengan suara gadis itu.


"Fu Hua?"


Gadis itu menoleh kaget. Hanya sedikit yang mengetahui nama aslinya, ditambah lagi tak perlu satu detik dia langsung mengetahui siapa gerangan yang memanggil.


"Kau .. "


"Syukurlah kau baik-baik saja, aku sedikit mencemaskanmu." Xin Chen bertutur sapa, memang kadang dia kepikiran dengan nasib Fu Hua. Saudarinya telah tewas di tangannya sendiri dan ada kemungkinan dirinya menjadi incaran Qin Yujin.


Gadis itu menangkap lain perkataannya, sepintas wajahnya memerah. Dia menjawab singkat.


"Tidak perlu mencemaskanku."


Penjual informasi tadi kedatangan pembeli, otomatis harus melayani mereka dulu sebelum menutup toko dan mulai membicarakan soal informasi yang ingin Fu Hua gali.


"Tapi kau jarang sekali terlihat."


"Aku baru kembali lagi ke sini, setelah mencari keberadaan orang itu dari beberapa orang yang hanya membawaku ke informasi buntu. "

__ADS_1


Fu Hua pasrah. "Aku ingin sekali membunuhnya dengan tanganku."


Xin Chen mengecilkan suara, "Maksudmu Qin Yujin?"


Fu Hua segera menoleh, kobaran api penuh dendam menyala di mata safirnya. "Mendengar namanya saja sudah membuatku kesal."


"Jika kau mencarinya. Dia sedang tidak di sini."


Gadis itu membuka mata lebar-lebar, Xin Chen seolah-olah tahu di mana keberadaan orang yang telah dicarinya selama sebulan lebih ini. Jelas saja dia mengharapkan informasi dari Xin Chen.


"Kalau kau tahu di mana dia, aku tak perlu menyewa jasa penjual informasi ini."


Xin Chen menambahi, "dan kalau kau mengetahui informasi apa pun tentang pilar keempat dan kesepuluh aku akan memberi informasi ini gratis."


Sejenak Fu Hua terdiam. Mengangguk yakin. "Kau tak perlu meragukan itu."


Si pemilik toko sedang menutup tirai tokonya ketika melihat dua pelanggannya keluar begitu saja.


"Eh, hoi! Tidak jadi?" sahutnya.


"Tidak jadi, maafkan kami." Fu Hua menangkupkan tangan sebagai permintaan maaf. Laki-laki itu kembali membuka tirai sambil membanting.


"Cih, membuat orang berharap saja."


Ada satu tempat yang jauh dari keramaian kota, terletak di sebuah perbukitan yang tak begitu tinggi. Satu kuil terbengkalai dibiarkan berdiri di sana, Xin Chen dan Fu Hua duduk di salah satu kursi. Sambil melihat pemandangan kota dan bulan purnama di atas mereka.


Untuk membahas informasi yang terbilang sangat rahasia ini, Xin Chen tak mau mengambil resiko dengan membahasnya di tempat yang ramai. Mata-mata dari pihak Pilar keempat atau pilar Kesepuluh bisa saja menguntitnya atau bahkan menyamar menjadi penduduk Kota Fanlu. Tapi di tempat yang sepi seperti ini, mana mungkin mereka menyamar menjadi batu.


"Orang yang kau cari itu sedang tidak ada di sini. Dan jika kau meminta saranku, lebih baik untuk tidak mengejarnya sampai ke sana. Tempat itu bisa membunuhmu kapan saja."


Fu Hua mengerutkan alisnya, "Dia di Kekaisaran Qing? Jika hanya di sana aku bisa mengejarnya."


Sekarang Xin Chen merasakan apa yang dulu Xin Zhan dan ayahnya rasakan ketika dirinya bersikeras ingin ke Kekaisaran Wei. Tapi benar adanya, Fu Hua tak akan mampu menghadapi bengisnya kehidupan di tanahnya para alkemis itu. Dirinya hanya akan berakhir menjadi salah satu dari jutaan terinfeksi di sana.


."Kekaisaran Wei, ya ..." Fu Hua mengepalkan tangannya, membuang napas berat.


"Lalu apa lagi yang kau ketahui tentangnya?"


"Orang gila itu sedang merencanakan kiamat."


Kontan gadis itu kaget sekaligus bertanya-tanya, "Kiamat?"


"Satu kalimat yang menggambarkan keadaan di Kekaisaran Wei."


"Separah itu? Aku pernah mendengar soal wabah besar di Kekaisaran itu."


"Aku yakin kau tak mau melihatnya. Di sana sangat kacau. Karena itu lebih baik kau tidak ke sana."


Fu Hua merenung, dendam di dalamnya tak akan hilang jika tak dituntaskan. Satu-satunya jalan untuk itu hanyalah membunuh Qin Yujin.


Xin Chen berujar dengan sedikit kemarahan di wajahnya, "Aku juga sedang mengincar kepalanya untuk kupajang di kamarku. Dia bekerja sama dengan sekelompok peneliti untuk menciptakan wabah yang mungkin akan merusak satu Kekaisaran ini. Tanpa ampun. Jika itu terjadi, bahkan Pedang Iblis pun tak akan mampu menangani bencana besar ini."


Jika sudah berurusan dengan penyakit mematikan, tentu saja mereka memiliki ahli obat. Tapi ilmu mereka tidak sedalam pengetahuan yang ada di Kekaisaran Wei. Bahkan Xin Chen sempat membaca sekilas sebuah buku di ruang bawah tanah Perkemahan Tenggara. Dan dari ribuan penjelasan di dalamnya, yang dapat dia pahami hanya satu dua saja.


"Sejak kecil lagi, Kakak sudah begitu tergila-gila dengan ambisi yang tuannya miliki. Dia melakukan apa pun untuk mewujudkan keinginan tuan. Bahkan sampai mengorbankan segala hal demi bisa mencapainya ..."


Fu Hua menengadah ke langit, pantulan bulan pertama di matanya memudar. Matanya menghangat ketika mengingat sosok kakaknya.

__ADS_1


"Apa pun yang direncanakan manusia busuk itu, aku bersumpah akan selalu menghancurkannya. Seperti dia menghancurkan hidupku."


Ucapan Fu Hua sama seperti apa yang ingin dia lakukan. Dia menyahut, "Kalau begitu kau dan aku sekarang punya tujuan yang sama. Mau bekerja sama?"


Wajah cantik itu menolah dalam keterkejutan. "Kau tidak bisa berharap banyak, dibandingkanmu aku lebih lemah."


"Tidak apa, kalau kau kenapa-kenapa aku akan menolongmu." Dia mengatakannya disertai tawa.


"Sampai ratusan kali, kau sanggup?" tanyanya memastikan.


"Biar aku ingat. Aku baru menyelamatkan nyawamu tiga kali. Masih ada sembilan puluh tujuh kali lagi kalau kau mau."


Fu Hua ikut tertawa. "Kau lupa aku juga pernah menyelamatkanmu sekali."


"Mana mungkin aku lupa."


Gadis itu menunduk sambil menyembunyikan tawanya, menyelipkan anak rambut yang tiba-tiba menganggu pandangan.


Dan dia baru menyadari di tempat ini mereka hanya berdua, membuatnya tiba-tiba canggung.


Sekarang dia tambah salah tingkah ketika menyadari Xin Chen terus menatapnya dari samping. Gadis itu menahan napas, berusaha menoleh ke samping dan benar saja Xin Chen menatapnya.


"A-apa?" Dia terbata-bata.


"Eh, kau lupa soal pertukaran informasi. Aku menunggumu menjelaskan soal Pilar Kekaisaran Keempat dan Kesepuluh."


Wajah Fu Hua tak bisa Xin Chen artikan. Tapi tampaknya memang salahnya memilih tempat. Di pikirannya mungkin Fu Hua sama sepertinya, takut mahluk serupa hantu keluar dari balik bukit dan mengejar mereka.


"Aku tahu sesuatu soal Pilar Kekaisaran Kesepuluh. Tapi jika kau mengungkap informasi ini, tolong jangan bawa namaku ke dalamnya. Orang klan Jiang akan membunuhku jika itu terjadi."


"Kau bekerja sama dengan mereka?"


Fu Hua menggelengkan kepala, Xin Chen salah tangkap. "Aku pernah menjadi pelayan Klan Jiang walau hanya beberapa bulan. Itu pun untuk menjalani misi menjadi mata-mata di dalam politik Kekaisaran Shang. "


"Sudah berapa lama?"


"Belum setahun terakhir." Fu Hua melanjutkan, "Dan aku berhenti bekerja setelah mendapatkan perlakuan yang tidak pantas dari ketua klan mereka."


Xin Chen mendengarnya ketika Fu Hua menceritakan betapa kerasnya menjadi pelayan Klan Jiang. Mereka suka bermain tangan dan bahkan menyuruh para gadis melayani mereka. Hal itulah yang menjadi penyebab Fu Hua kabur dari sana.


"Mereka memiliki satu hubungan timbal balik dengan salah satu penasihat Kekaisaran. Salah seorang paling berpengaruh di sini dan suaranya yang paling banyak diambil dalam Kekaisaran."


"Dari bicaramu sepertinya kau tahu tujuanku menanyakan soal mereka." Xin Chen menebak saja, dugaannya benar.


"Aku mendengar kau menolak menjadi Pilar Kekaisaran hari itu. Walau tak menyaksikan acara pengangkatan Pilar. Dan kabar kau menjadi Pilar Bayangan hanya segelintir orang yang tahu. Kurasa pekerjaanmu hampir sama seperti mata-mata."


Xin Chen mengiyakan meski tak sepenuhnya benar. "Begitulah. karena aku tidak bisa berada di pusat selamanya, maka dari itu aku tidak bisa menjadi seorang pilar." Dia melemparkan pandangan jauh ke atas langit, burung-burung beterbangan hanya menyisakan siluet hitam di atas langit untuk mencari tempat tinggal baru. Pikirannya tertuju pada sosok Hong Tian dan laki-laki bernama Jiang Cho. Orang itu tak bisa dibiarkan menjadi pilar sampai lima tahun ke depan.


"Aku mengerti." Fu Hua berubah serius. "Soal Pilar Kekaisaran Kesepuluh, dia bekerja sama dengan orang bernama Zing Yongxe. Laki-laki uzur itu memang kelihatan lemah dan suci di luar. Tapi dia menggunakan kuasanya di Kekaisaran untuk bisnis. Hanya itu yang aku tahu, jika kau berurusan dengannya berhati-hatilah. Dia punya banyak anak buah dan mata-mata. Kau mematai dia, ada kemungkinan juga dia sedang memataimu."


Fu Hua bangun dari duduknya, menunduk. "Ini sudah malam. Aku harus kembali. Kau pulanglah juga. Aku mendengar kabar soal Pembunuh berantai yang keluar dari Kekaisaran Wei. Ada kemungkinan dia juga berkeliaran di kota ini."


Xin Chen mengangguk kecil, "Tidak perlu cemas. Kau sendiri, berani pulang sendiri?"


Fu Hua membalikkan badan, melihat jalan setapak yang gelap dan sunyi. Mengerikan kalau tiba-tiba pembunuh keluar dari hutan dan membunuhnya. Dia tampak ragu melangkah, memberanikan diri pun yang ada tubuhnya menggigil karena angin malam tiba-tiba berhembus.


"Aku temani sampai di jalan besar. Ikut aku." Fu Hua mengejar langkahnya yang begitu cepat tanpa banyak bicara. Antara malu dan takut bercampur aduk.

__ADS_1


Xin Chen sampai tak habis pikir bagaimana gadis itu takut dengan pembunuh berantai dari Kekaisaran Wei dan di antarkan oleh pembunuh itu sendiri. Sampai di persimpangan jalan mereka Xin Chen memutar arah. Dia juga harus kembali ke rumah.


"Terima kasih ..." Fu Hua berucap kecil sambil menatap punggung Xin Chen yang makin menjauh. "Dan sampai jumpa."


__ADS_2