Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 98 - Kecamuk yang Tak Pernah Surut


__ADS_3

Qin Yujin kembali bersujud. Kali ini cara bicaranya jauh lebih tunduk, tak ada ketakutan di wajahnya akan Kaisar Yin seperti sebelumnya.


"Jika menurut Yang Mulia saya tidak berguna, maka melenyapkan saya pun tidak ada gunanya. Meski begitu saya akan terus mengabdi hingga titik darah penghabisan, untuk membalas semua pengorbanan Yang Mulia hari ini, saya bersumpah akan menghancurkan Kekaisaran Shang dan mengambil ketujuh Pusaka Langit mereka. Itulah sumpah saya, potong tangan ini jika saya membelakangi sumpah saya sendiri."


Dibandingkan sumpah Qin Yujin, Kaisar Yin justru tertarik akan satu hal yang baru saja diucapkan Qin Yujin.


"Ketujuh Pusaka Langit? Kau sudah mengetahui semua letak pusaka itu?"


"Benar sekali, Yang Mulia. Semua informasi itu ada di kepala saya. Melenyapkan saya memang tak akan mengubah apa-apa, tapi ada informasi berguna dan rencana lainnya yang sedang aku persiapkan-"


"Hentikan omong kosong mu itu! Kami tidak membutuhkan orang seperti dirimu!" Salah seorang panglima menginterupsi celotehan Qin Yujin, mereka tahu si licik itu tengah merayu Yang Mulia agar mengampuni nyawanya.


"Tahan sampai di sana. Aku ingin mendengar lebih jauh lagi tentang ketujuh Pusaka Langit ini."


Qin Yujin dipersilakan untuk duduk di lantai, tangan dan lehernya masih dirantai seperti semula. Tapi matanya penuh harapan kala menerangkan semua rencana barunya.


"Lima dari Tujuh Pusaka Langit sekarang ada di tangan Anak Kedua Pedang Iblis. Sisanya berada di antara tangan Ayah atau Kakaknya. Anak buahku sudah mengonfirmasi hal ini dan benar adanya."


Senjata paling ampuh untuk melemahkan Kaisar Yin hanya satu.


Pusaka Langit.


Laki-laki itu berani mendendangkan perang hanya demi Pusaka Langit. Membayangkan dirinya memiliki ketujuh benda itu, menjadikannya kuat tak tertandingi. Dan menguasai seluruh daratan Kekaisaran agar tunduk di bawah kakinya. Kaisar Yin begitu gila akan kekuasaan.

__ADS_1


"Bagaimana kau bisa berpikir dapat mengalahkan seseorang yang telah membunuh Naga Kegelapan dan bahkan Pedang Iblis? Sebelum kau dapat menurunkan anak-anak buahmu, orang itu akan datang ke markasmu dan memenggal kepalamu. Itu jaminanku."


"Karena itulah kita membutuhkan penyokong yang tangguh." Senyum licik di wajah Qin Yujin memang sangatlah menarik di detik-detik kehancuran Kekaisaran Qing saat ini. Kaisar Yin harus mengembalikan keadaan secepat mungkin sebelum agresi dimulai. Kekaisaran Shang pastinya akan pemulihan dan menunggu keadaan stabil jika memang mereka ingin menggencarkan perang pembalasan terhadap Kekaisaran Qing.


"Penyokong yang kokoh?"


"Kita bisa bekerjasama dengan Kekaisaran Wei dalam hal ini. Aku tak bisa menerangkan keseluruhan rencanaku di sini, tapi bisa kupastikan mereka akan mengulurkan tangan untuk kita. Dengan ganjaran, pihak kita harus menyediakan beberapa alat dan bahan sebagai sumber penelitian mereka." Qin Yujin menambahkan sedikit, "Dan juga beberapa manusia sebagai bahan percobaan. Tampaknya mereka mulai kekurangan sumber daya manusia akhir-akhir ini."


Kaisar Yin berbicara, "Tawaran yang menarik. Kau pastikan keuntungan yang besar untuk pihak kita. Dengan begitu, aku akan membiarkan kau hidup." Lelaki itu berjalan ke arah pintu, tapi sebelum dia pergi dari sana sempat terdengar ancaman yang tersirat dalam kalimatnya. "Tentu saja, kau hanya boleh hidup jika kau berguna untukku."


Qin Yujin menundukkan kepala.


Sekilas, dia terlihat biasa saja. Tapi di balik itu tampang laki-laki tersebut menyeringai iblis, pembalasan akan dimulai. Dia akan hidup pada dua hal; Kaisar Yin dan pembalasan.


***


Kabut hitam yang melingkupi seisi markas Empat Unit Pengintai yang sempat memudar kini kembali pekat. Beberapa orang yang ditinggalkan di sana untuk menjaganya dibuat jantungan setiap kali hantaman besar datang bersusulan kala perang dimulai di Lembah Para Dewa.


Letak markas Empat Unit Pengintai yang terletak di Lembah Para Dewa agak berjauhan dengan lokasi perang, meski dalam jarak yang terbilang aman itu, kerusakan besar hampir saja sampai bertandang ke kandang mereka. Gerbang markas telah berbakat Api Keabadian yang tak bisa mereka padamkan. Barulah ketika perang selesai api itu padam dan berhenti memakan kayu pembatas tersebut


Walau begitu dekat akan perang, tak bisa dipungkiri kekuatan roh yang melindungi markas Empat Unit Pengintai menyelamatkan para penjaga di dalamnya dari panasnya suhu di tempat peperangan. Sebelum perang terjadi, sebenarnya pihak Unit Satu telah membangun benteng tinggi, jaraknya cukup jauh. Dan sekarang benteng itu telah menghilang-seperti nasib gerbang utama mereka; habis dilalap sang Api Keabadian.


Para penjaga yang berjumlah hampir dua puluh lelaki dewasa dikagetkan akan suara terompet yang ditiup oleh salah satu rekan mereka yang berjaga di atas menara. Peringatan datangnya seseorang menuju markas.

__ADS_1


Kontan seluruh penjaga berkumpul di gerbang utama yang sedang dibangun ulang. Pandangan was-was disertai dengan wajah-wajah tegang, khawatir prajurit Kekaisaran Qing datang mencoba menghancurkan markas seperti yang sudah-sudah.


Tiap detik berjalan begitu lamban, semuanya mulai melihat bayang-bayangan kelompok yang bergerak ke arah mereka, bukan satu atau dua orang saja. Bahkan sangat ramai melebihi angka lima puluh. Hampir tiga kali lipat dari jumlah mereka sendiri.


Sejak awal tugas mereka adalah mempertahankan markas. Dua puluh satu orang itu sendiri hanya sisa-sisa dari mereka yang bertahan. Karena sebelumnya mereka berjumlah dua ratus orang lebih. Dan ditambah lagi, pimpinan penjaga telah mati di tengah-tengah krisis di lembah ini. Lama tak menerima tamu sesudah pertarungan terakhir yang menewaskan rekan mereka, akhirnya mereka kembali terancam akan hal lain yang jauh lebih menakutkan.


Markas ini berkemungkinan besar diambil alih jika mereka tumbang. Sedangkan permintaan pengiriman anggota baru ke markas belum digubris sampai sekarang.


Kekhawatiran kian memuncak ketika gerombolan itu sama sekali tak terpengaruh oleh kekuatan roh yang melindungi tempat tersebut. Kompak, seluruh penjaga itu mengangkat senjata bersiap siaga. Ini mungkin akan menjadi pertarungan terakhir mereka.


Pemanah yang bersembunyi di balik-balik bangunan mulai menyerang. Dalam hitungan detik lagi serangan jarak jauh itu akan menancap di kepala salah satu dari musuh.


Benar saja, ketika anak panah melesat cepat ke depan pergerakan mencurigakan terlihat di sana.


Di tengah gerombolan tersebut, seorang pria berkuda yang hampir saja terenggut nyawanya oleh bidikan mematikan membelalakkan mata lebar-lebar. Ujung runcing anak panah itu berhenti tepat di depan bola matanya. Sesaat dia mungkin sedang berkhayal waktu berhenti.


Namun sampai laki-laki itu sengaja menjatuhkan dirinya dari kuda, dia masih selamat. Baru dia menyadari sesosok dengan jubah hitam di sebelahnya menangkap anak panah itu dengan sebelah tangan. Mematahkan anak panah itu dan membuangnya ke tanah.


"Mereka menyangka kita adalah musuh? Beraninya para ikan asin itu. Biar aku habisi mereka dan kujemur seperti ikan asin sungguhan." Shui kalap, dia segera maju ke depan dengan gagah berani.


Tapi baru dia melangkah setapak lima anak panah langsung mengejar kakinya. Shui menjerit dan kembali bersembunyi dalam barisan.


"Ah, mungkin kapan-kapan. Hehe."

__ADS_1


__ADS_2