Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 203 - Jenderal Xe Chang


__ADS_3

Dalam perang, tak ada yang menang atau kalah. Kedua pihak sama-sama kehilangan. Prajurit, keluarga, harta dan benda. Hanya untuk satu tujuan yang diinginkan. Fu Hua telah lama merasakannya, kehilangan banyak hal dari perang. Merenggut semua kebahagiaan yang tersisa. Seakan-akan tak memberikannya kesempatan untuk bahagia, lalu sekarang dia akan kehilangan seseorang yang telah menyelamatkannya dari banyak hal.


Jemari lentiknya menyentuh kain yang diikatkannya di kepala, berbicara pelan. "Aku akan menyelamatkanmu. Bertahanlah."


Pedang di tangannya berkilau terang membiaskan pantulan sinar matahari, dia telah sampai di kota yang berseberangan. Berdiri di puncak menara dan melihat dari kejauhan kota di mana kini Xin Chen berada. Luluh lantak, hanya itu yang terlintas di pikirannya. Tak menyangka pemuda itu dapat melakukan hal yang di luar nalar.


Fu Hua berasal dari Kekaisaran Qing, dia tahu sedikit banyak tentang kekuatan roh. Semua orang begitu ketakutan dengan kekuatan itu dan menyebutnya sebagai malapetaka. Fu Qinshan berkali-kali berhadapan dengan mereka dan sekarat. Sekarang dia baru tahu betapa berbahayanya kekuatan tersebut. Tak semua orang dapat mencapai tahap ketiga, karena itu mungkin Kitab Pengendali Roh tak terlalu dianggap berbahaya.


Karena kekuatan aslinya belum terungkap. Dan bisa saja kekuatannya akan melampaui Kitab Legendaris seperti Kitab Terlarang. Angin kencang menerbangkan rambutnya yang panjang, Fu Hua memerhatikan situasi di bawahnya. Deretan terinfeksi tak kunjung menghilang dari sana. Dia tak bisa bergerak ke mana pun.


Namun Fu Hua cukup pintar untuk mengalihkan para terinfeksi itu, dia menemukan beberapa barang saat melalui sebuah toko senjata yang ditinggalkan. Melemparkan bom yang meledakkan dalam skala besar ke satu tempat.


Ledakan yang cukup besar menggema, serentak para terinfeksi bergerak ke arah sumber suara.


"Ini dia."


Fu Hua melompat ke bangunan yang lebih rendah, memanjat turun hingga dia sampai ke jalan besar. Berlari sekencang-kencangnya sampai dia menyadari bahwa beberapa terinfeksi membaui aroma tubuhnya. Larinya semakin tak terkendali ketika di arah samping terinfeksi dengan kepala yang telah berganti dengan kepala monster mengejarnya lebih cepat dari larinya sendiri.


Dia berlari sambil memanah ke belakang, mengenai kepala terinfeksi itu. Kepalanya pecah berhamburan, terinfeksi itu mati. Namun dari belakangnya muncul dua puluh terinfeksi yang sama seperti sebelumnya. Fu Hua tak bisa menghadapi mereka, anak panah yang dibawanya tak sampai dua puluh. Daripada menghadapi mereka yang tak ada habisnya, Fu Hua memilih berlari sekencang yang dia bisa. Mencari jalan paling aman, memanjati tembok. Menghindari kerumunan terinfeksi sampai kedua tungkai kakinya seperti akan lepas.


Gadis itu menabrak dinding tembok, tak bisa menghentikan kakinya yang terus berlari karena mati rasa. Kepalanya berdarah, tapi setidaknya tak ada yang bisa mengejarnya di tempat tersebut. Gadis itu menarik napas sangat dalam, bahunya naik turun tak karuan.


"Beranikan dirimu, Fu Hua. Mereka akan datang selagi kau menarik napas-" gadis itu memperingati dirinya sendiri. Rasa takut untuk menghadapi ribuan terinfeksi di balik tembok mulai membuat tubuhnya rasanya tak mau bergerak. Kakinya enggan melangkah setelah mendengar raungan jeritan yang begitu banyak.


Jika mereka melihatnya, bisa dipastikan Fu Hua akan langsung dikejar habis-habisan. Gadis itu mencari celah, mendapati satu retakan di tembok, dia langsung mengintip dari sana.


Benar saja, di seberang sana dia akan bertemu dengan pelabuhan. Suara ombak terdengar sayup-sayup bersama bunyi burung pelikan. Matanya menangkap satu perahu kayu yang terbengkalai di pinggir laut, bisa digunakannya untuk menyeberangi laut. Namun di sana begitu ramai, padat oleh terinfeksi yang dulunya adalah para nelayan dan masyarakat biasa. Beberapa prajurit bahkan telah menjadi terinfeksi.


Mata safirnya masih terus memantau, dia mencari tempat lain agar bisa melihat lebih jelas. Tapi yang tak disadarinya, lorong itu memiliki belokan lain yang berisi terinfeksi lain. Beberapa dari mereka berteriak dan langsung mengejar Fu Hua yang kaget setengah mati. Suara mereka seperti berada persis di samping telinganya.


Suara itu menarik perhatian terinfeksi di pinggir laut, Fu Hua langsung memanjati tembok tanpa memikirkan apa pun lagi, sama ketika Xin Chen dan Rubah memaksanya memanjati pagar kawat. Dia berlari sekencang mungkin tanpa melihat ke belakang, di mana para terinfeksi mulai memanjati tembok untuk mengejarnya satu per satu dari terinfeksi di pelabuhan menangkap suara ribut dan ikut-ikutan mengejar Fu Hua.


Fu Hua tiba di dekat perahu, tapi karena terlalu panik dia tak bisa mendorong perahu itu ke atas air. Jantungnya berdebar kencang, melihat ribuan terinfeksi mengelilinginya serentak. Menimbulkan desir menakutkan yang mengalir di dalam dadanya, darah Fu Hua membeku. Dia tak bisa bergerak.


Saat itu Fu Hua berpikir dia akan mati. Benar-benar tak memiliki sedikit pun kesempatan untuk hidup. Namun sebuah suara berteriak kepadanya, Fu Hua tersentak.


"Cari tempat berlindung!"


Fu Hua bersembunyi di balik perahu, lalu sebuah ledakan terjadi. Pasir berterbangan, menutupi pandangan. Di tengah kekacauan yang terjadi seorang laki-laki dengan seragam hitam lengkap dengan senjata datang berlari, mendorong perahu menuju pantai sambil berteriak.

__ADS_1


"Cepat naik!"


Fu Hua yang masih terkejut refleks mengikuti perintah tersebut, hingga mereka berdua mulai menjauh dari bibir pantai masih ada terinfeksi yang berusaha mengejar. Fu Hua menarik napas yang sejak tadi ditahannya hingga sesak. Tak menyangka akan ada seseorang datang menolongnya, meski itu bukan Xin Chen.


Matanya menilik ke belakang di mana laki-laki itu sedang mengayuh sampan. Penuh luka dan bekas perban, namun melihat dari pakaian serta pangkatnya Fu Hua bisa memastikan laki-laki itu bukanlah orang biasa.


"Kau siapa?" Kata pertamanya ketika mereka mulai sedikit lebih aman di tengah laut. Laki-laki itu membersihkan giginya dan meludah mengeluarkan darah. Dia tampak gusar, keringat tak kunjung mengering di wajahnya.


"Anj*ng Kekaisaran yang dibuang."


Jawaban tersebut ditambah dengan wajah yang benar-benar kesal, garis wajahnya berkerut menatap ke depan.


"Maksudmu?"


Mata lelaki yang usianya hampir menyentuh 30 tahun itu menatap Fu Hua, terusik di tengah kekesalannya. "Kau sepertinya orang baru, ya di sini?"


Tentu saja karena dia baru mengenal Fu Hua, ketika gadis itu mengusik tentang hal yang membuatnya marah dia tersinggung berat. Fu Hua menyadari kesalahannya dan meralat.


"Aku tak bermaksud, tapi dari pakaianmu kau pasti seorang jenderal."


"Itu dulu." Laki-laki itu mempercepat kayuhannya.


Cukup rumit laki-laki itu menjelaskan, Fu Hua padahal tak memintanya untuk bercerita panjang lebar. Tapi karena menyeberangi ke kota seberang cukup lama dia memilih mendengarkan baik-baik.


Laki-laki itu mengatakan bahwa dalam beberapa minggu terakhir Kaisar Shi memusnahkan fraksi dan partai yang bertentangan dengannya. Gerakan gencar-gencaran itu telah menyapu seluruh Kekaisaran Wei.


Hanya dalam kurun waktu cepat, Kaisar baru mengubah Kekaisaran Wei menjadi lebih buruk. Tak bisa dibohongi lagi, lelaki itu memiliki otak yang teramat cerdik. Banyak orang merasa tertipu tapi mereka seolah-olah diikat hingga tak bisa melakukan apa-apa.


"Berarti Fraksi Militer Pusat yang kau maksud hancur?"


"Markas kami diledakkan, persediaan senjata dirampas dan seluruh anggota ditahan, ada yang dibunuh dan sisanya melarikan diri." Senyum pahit diukirnya, "salah satunya aku," tandas laki-laki itu menutup ceritanya. Merasa lebih lega setelah menemukan satu manusia hidup untuk bercerita.


"Kau sendiri? Gadis gila mana yang menerjang ribuan terinfeksi sendirian sepertimu. Kukira mataku tercolok sehingga salah melihat atau aku yang sudah gila, ternyata benar-benar ada." Takjub sekali laki-laki itu pada Fu Hua, gadis itu juga hampir tak percaya dengan yang dilakukannya. Sangat nekat.


"Aku sedang mencari sesuatu untuk menyembuhkan temanku. Seseorang mengatakan kalau jika di Laboratorium Baru aku akan menemukannya." Fu Hua berhenti berucap, berpikir untuk mengenalkan diri karena tak sopan berbicara tanpa mengetahui nama.


"Omong-omong namaku Fu Hua," katanya.


Lelaki itu nyaris terdiam. "Aneh kalau kau memberitahu nama lengkapmu di sini. Tapi karena hanya kita berdua manusia yang tersisa di sini, aku beritahu namaku Xe Chang. Jenderal Fraksi Militer Pusat. Aku ingin mencari para anggota Fraksi Militer Pusat yang melarikan diri untuk berkumpul lagi."

__ADS_1


"Aku mengerti."


Xe Chang terdiam sejenak, "omong-omong soal temanmu itu ..."


Dia menahan suaranya, "Dia terkena gigitan?"


Fu Hua yang tadinya menatap lautan kembali menghadap Xe Chang, cemas. "Benar. Sudah memasuki tahap ketiga, nyawanya bisa terancam."


Xe Chang ragu tak ragu mengatakan, "Boleh kutahu namanya siapa?"


Fu Hua terdiam. Setelah Xe Chang mengatakan bukan hal wajar memberi tahu nama di Kekaisaran Wei dia mulai antisipasi. Xe Chang meluruskan, "Aku hanya merasa orang itu memiliki nama Chen. Dia bisa bertahan dari gigitan terinfeksi selama beberapa bulan."


"Kau tahu dia?"


Xe Chang juga sama terkejutnya sepertinya.


"Kau temannya?" tanya Xe Chang balik. Tentu saja dia mengenal Xin Chen, mereka bekerja sama untuk menghancurkan kotak dari Laboratorium B-1 demi menghentikan penelitian yang pastinya akan membawa malapetaka ke masyarakat Kekaisaran Wei. Tak menyangka setelah nama pemuda itu diumumkan oleh Kaisar Shi, Xin Chen justru datang langsung kemari.


"Iya, aku di sini untuk mencari penawar penyakitnya."


Xe Chang lagi-lagi terkesima, setelah mengingat bagaimana gadis itu menantang maut dan datang ke Laboratorium Baru sendirian, sudah menjelaskan bahwa bagi gadis itu Xin Chen sangat berarti.


"Cinta bisa membuat hal yang mustahil menjadi mungkin, ya?" gumamnya, Fu Hua hanya mendengar samar-samar.


"Apa?"


"Tidak, aku hanya bicara dengan perahu." Xe Chang melemparkan pandangan ke arah lain, dia juga sama seperti Fu Hua. Akan memperjuangkan apa pun jika itu tentang seseorang yang berarti baginya. Namun sekarang, antara kemungkinan kecil dan ketidakmungkinan tidak ada perbedaan lagi.


Butuh berjam-jam untuk sampai kota seberang, di sana Fu Hua melihat sebuah jembatan yang sengaja diangkat untuk menutup jalur penghubung kedua kota. Sebab itu orang-orang di kota sebelumnya tak bisa datang kemari.


"Aku akan mencari orang-orang ku dan bergabung dengan kalian, jika tidak keberatan." Xe Chang berkata sembari turun setelah memastikan perahu tersebut aman. Fu Hua turun, menghadap Xe Chang.


"Kalau begitu aku akan mencari obat di Laboratorium Baru. Kita akan bertemu lagi di sini dan kembali secepatnya."


"Kau yakin kau bisa sendiri?" ulang Xe Chang tak yakin. Fu Hua mengangguk sangat yakin.


"Aku bisa melakukannya. Jangan khawatirkan aku, cari temanmu dan bawa mereka ke persembunyian baru kita. Dalam tiga hari ke depan, kami berencana untuk melakukan penyerangan besar-besaran di pusat."


Xe Chang mengangguk, berusaha seyakin Fu Hua. "Teman-temanku mungkin ditahan di penjara pusat, aku akan membawa pasukan sebanyak mungkin dan mencari kapal yang lebih besar. Kita bertemu di sini dalam dua hari."

__ADS_1


Keduanya mulai berjalan menuju arah yang berbeda, untuk misi berbeda dan tujuan yang sama.


__ADS_2