Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 63 - Pohon Roh


__ADS_3

Xin Chen terdiam. Menatapi lelaki itu, hanya dari raut wajahnya saja. Entah mengapa Xin Chen melihat lelaki bergelar Pedang Iblis itu sedang menangis. Meski tak dilihatnya laki-laki itu bergerak walau hanya beberapa senti.


Apa yang terjadi pada Xin Fai, Xin Chen sendiri tak mengerti. Dia terlalu kacau untuk sekedar berpikir segala hal di tengah situasi yang sedang menimpanya. Xin Chen membuang pandangannya ke arah Xin Zhan.


"Maaf. Tapi aku tak bisa kehilangan mu, Kakak."


Xin Chen beralih menatap Xin Fai kembali. Lalu dia memejamkan matanya, membuat sebuah perisai roh berukuran raksasa yang melindunginya dari apa pun. Xin Chen tak ingin tiba-tiba Xin Fai menyerang keduanya. Dia tak kehilangan kepercayaan pada laki-laki itu, hanya saja situasi tak memungkinkan seperti ini membuatnya harus memiliki rasa 'takut' agar kakinya lebih hati-hati melangkah.


"Hanya ada satu cara agar kau bisa selamat. Berhasil atau tidak. Setidaknya aku harus mencobanya." Xin Chen mengeluarkan senyum pahit, dia yakin Xin Zhan masih bisa terbangun. Lagipula, kematian Xin Zhan tak bisa diterimanya. Oleh otak mau pun hatinya.


Xin Chen pernah mendnrgar dari ayahnya bahwa ketika kecil, Xin Fai pernah terkena anak panah. Tepat saat desa tempat tinggalnya terbakar oleh sekelompok pendekar aliran hitam. Saat itu, Xin Fai dapat selamat akan sesuatu yang terasa ganjil. Esok paginya setelah tewas karena tertusuk anak panah, Xin Fai kembali hidup. Tapi pohon di mana dia ditemukan tergeletak berguguran kering, dedaunannya rontok seperti habis dilanda kemarau selama lima tahun.


Xin Chen selalu mengingat semua kisah ayahnya, lebih dari dia mengingat masa kecilnya sendiri. Karena kisah-kisah itu membuatnya selalu bersemangat. Dan kini, Xin Chen berharap kisah yang dulu pernah terjadi pada ayahnya juga akan terulang untuk Xin Zhan kakaknya.


Di dalam perisai roh yang begitu besar, api biru menyala dan mengambang di atas udara. Membuat terang sekitar yang begitu indah menyerupai lampion berwarna biru. Beberapa bahkan tercipta menjadi kupu-kupu biru yang nyala terangnya sama dengan api yang lain. Berterbangan ke segala tempat, beberapa bahkan berhenti di atas tubuh Xin Zhan.


Xin Chen menyingkirkan rambut di dahi Xin Zhan, membiarkan tanda bunga api yang sama sekali tak bersinar itu dihinggapi salah satu kupu-kupu nya.


"Aku tidak tahu apakah ini benar-benar akan menyelamatkan mu. Tapi jika kau masih ada di sini, berusahalah. Aku akan membantumu untuk kembali. Perang belum selesai ..."


Suara Xin Chen bergetar. "Kau tidak takut kalau aku terpeleset nanti? Pasti kau akan berlari mengejar ku hahahah."


Lagi dan lagi tawa yang dikeluarkannya terasa menyakitkan. Serasa seperti sebuah pisau masuk ke dalam tubuhnya dan mengirisnya dari dalam.


Xin Chen mengeluarkan kekuatan rohnya dengan jumlah yang tak kira-kira. Lalu tepat di mana mereka berada, tumbuh sebuah pohon berwarna hitam, bahkan daun-daun yang tumbuh di batangnya turut berwarna hitam gelap. Xin Chen menggunakan kekuatan rohnya, membentuk sebuah pohon berisi kekuatan roh.


Lalu dalam pohon itu mengalir kekuatan murni Api Keabadian yang sebelumnya dapat Xin Zhan tukar menjadi energi kekuatannya.


Xin Chen meningkatkan jumlah energi murni dalam api tersebut, tak membiarkan mereka padam. Kupu-kupu kian banyak berterbangan bersama nyala api bersinar makin terang di dalam perisai roh. Pohon roh raksasa telah menyentuh ujung perisai roh dan ukurannya sendiri bahkan mengalahi tinggi sebuah menara perbatasan.


Lamat-lamat hanya terdengar sayup-sayup suara kepakan sayap di sekitarnya. Keadaan begitu tenang dan sunyi. Tak ada suara lainnya lagi di sekitarnya, meski Xin Chen sangat berharap dia dapat mendengar kembali suara hembusan napas Xin Zhan.


Setahunya keadaan di mana kekuatan Bunga Api Xin Fai keluar adalah ketika tubuhnya berada dalam situasi sekarat dan nyaris tak bernyawa. Entah itu berlaku untuk keadaan Xin Zhan sekarang, Xin Chen menatap penuh harapan pada Xin Zhan. Jika bunga api itu merespon pada kekuatan besar yang telah dia sediakan dalam perisai roh ini, maka kemungkinan bahwa kejadian yang pernah Xin Fai alami akan terjadi pada Xin Zhan semakin meningkat.


Apa yang Xin Chen lakukan hanya berharap sambil terus mengeluarkan kekuatan yang dia miliki. Sebanyak apa pun itu, hingga redup cahaya dari kupu-kupu ciptaannya membuat sekitar yang tadinya amat terang mulai temaram.


Xin Chen masih menaruh harapan besar tiap detiknya, walau kadang di salah satu detik itu dia merasa harapannya begitu semu. Kilau api menyala di telapak tangan Xin Chen yang kini masih menggenggam erat tangan kanan kakaknya. Tubuh itu telah membeku, tak merespon pada kekuatan di sekitarnya.


Mata Xin Chen memburam, mulai kehilangan harapannya yang sedari tadi berusaha dikokohkan nya. Ribuan kali dia menolak kenyataan bahwa saudaranya itu telah tiada. Lalu air matanya kembali menetes. Tubuh Xin Zhan saat ini mulai menunjukkan tanda-tanda akan mengeras. Layaknya jasad yang telah ditinggalkan oleh ruhnya. Memaksanya menerima takdir.


"Bangunlah, Kak. Sebentar saja, ya?"


Tak ada respon pun Xin Chen tetap berbicara seperti kakaknya itu sedang mendengarkannya. "Kau tahu aku membuat masalah lagi di gang depan. Penjualnya marah-marah hahaha, jadi kalau nanti mereka datang dan menyuruh mu untuk memarahiku, cukup kau hiraukan saja, ya?"

__ADS_1


Di saat-saat seperti itu tiba-tiba Xin Chen merindukan masa kecil mereka. Ketika Xin Zhan berpura-pura memarahinya di depan semua orang sampai mengatainya dengan sangat menyakitkan. Xin Chen tahu dia salah, hanya saja dia tipe manusia yang suka dengan kehancuran. Membuat orang lain kesal adalah satu-satunya hiburannya di Lembah Kabut Putih. Tempat di mana dirinya serba diatur dan merasa tak bebas.


Sekarang sifatnya itu sudah menghilang. Kebebasan yang selalu diimpikannya sudah didapatnya.


Berulang kali Xin Chen berbicara. Bercerita tentang segala hal yang membuat hatinya lebih baik. Setengah jam berlalu dan dirinya berada di titik putus asa terbawah. Tidak ada reaksi.


Kalau dipikir-pikir pun, saat Xin Zhan dibawa di tempat seperti ini dia tidak berada dalam situasi sekarat. Harapan hidupnya mungkin di bawah 0.001 persen. Tubuhnya sudah dingin. Dan jiwanya dihancurkan oleh dimensi Hujan Darah milik sang Pedang Iblis yang mematikan.


Lalu apa yang diharapkannya selama tiga puluh menit itu?


"Kak ..."


Jeda yang cukup panjang. Kali ini Xin Chen memegang kedua tangan kakaknya.


"Jika harus kehilangan mu, maka aku akan berusaha sebaik mungkin untuk melepaskanmu. Kau sudah seharusnya beristirahat dengan tenang. Begitu banyak hal berat bertumpuk di pundakmu. Untuk terakhir kali, aku mengulurkan tangan untuk mu. Sambut, ya? Kalau kau merasa sanggup untuk menyelesaikan semua yang terjadi di tempat ini ...."


Xin Chen berhenti, menunduk tak bisa menahan emosi yang mulai membuatnya kembali hancur.


"Kalau tidak beristirahatlah. Aku akan mengabarkan banyak hal gembira pada ibu agar dia tak bersedih untuk mu. Tenang saja. Ayah akan aku bawa pulang. Hilang ingatan atau tidak. Biarkan aku menyelesaikan tugasmu yang belum selesai dan nikmati waktumu untuk beristirahat."


"Selamat tidur." Satu kata itu, kata yang selalu diucapkan Ren Yuan menjelang tidur mereka berdua. Xin Chen memaksakan kekuatannya keluar. Kali ini tiga kali lipat amat besar hingga perisai roh yang dibuatnya mulai melebar mengambil hampir setengah dari bagian Lembah Para Dewa. Pohon hitam ciptaannya membesar dan semakin membesar, menjulang tinggi hingga menembus perisai roh.


Tumbuh pohon itu semakin tak wajar hingga ujungnya menyentuh awan-awan di langit. Deru angin berhembus kian kencang menerbangkan ribuan kupu-kupu bhibgga membentuk pusaran menyilaukan berwarna biru terang.


Api Keabadian menjalar ke setiap bagian pohon, dedaunan menyala biru. Hingga tercipta pohon yang memiliki gabungan dua kekuatan besar. Tak berlangsung lama, hingga ujung pohon mulai mempengaruhi kekuatan petir di atasnya. Badai bergejolak hebat. Aliran kekuatan meningkat drastis.


Xin Chen terlalu fokus pada kekuatan yang dialirkannya hingga dirinya sama sekali tak memperhatikan sesuatu sedang terjadi di depannya.


Cahaya lemah memancar dari kening Xin Zhan, begitu lemah hingga mata biasa pun tak akan menyadari bahwa tanda itu sedang memunculkan reaksi kecil.


Xin Chen mulai merasakan sakit akibat mengeluarkan kekuatan terlalu banyak. Dia harus segera berhenti sebelum kekuatan roh di tangannya kembali tak terkendali dan kesalahannya sebelumnya terulang. Saat tubuhnya mati rasa dan Roh Dewa Perang yang menyelamatkannya.


Dia mulai menekan kekuatan roh. Merasakan bahwa masalah sebentar lagi datang akibat kekuatan negatif yang mulai tumbuh. Pikiran Xin Chen bisa seketika rusak dibuat ratusan ribu jiwa roh yang kini dalam kendaliannya. Di waktu yang sama pula.


"Baiklah ... Tidur yang nyenyak, Kakak Zhan."


Xin Chen memberhentikan kekuatan roh. Membuat pohon roh raksasa yang telah diciptakannya mulai menghilang dari ujungnya yang menyentuh awan.


Namun sesuatu yang amat besar terjadi. Cahaya api merah keluar dari keningnya, membesar menyerupai sebuah tangan monster yang kini mencengkram pohon raksasa. Xin Chen tertegun, tak menyangka wujud tangan itu bahkan dapat menyaingi ukuran pohon roh buatannya sendiri. Kekuatan Api Keabadian dari pohon tersebut mulai tersedot ke dalam tubuh Xin Zhan.


Sementara kekuatan roh milik Xin Chen kembali ke tubuhnya sendiri sebab roh-roh yang dikendalikannya mulai menampakkan ketidakwajaran. Semuanya berlangsung begitu cepat. Tangan berwarna terang seperti api itu bergerak cepat. Membentuk cabang-cabang kecil serupa tali dan mengincar ribuan kupu-kupu yang berterbangan.


Kurang dari lima menit. Semua hal itu terjadi dengan Xin Chen yang hanya bisa terpaku di tempat. Tak mengetahui apa sebenarnya Bunga Api itu. Dan mengapa dia merasa seolah bunga api ini memiliki kesadaran untuk mengambil semua kekuatan yang berada di sekitarnya.

__ADS_1


Dalam situasi yang mengejutkan Xin Chen dibuat panik ketika lawan meraka yang sedari tadi hanya diam tanpa menyerang mulai melakukan pergerakan.


Xin Chen tak bisa banyak bergerak karena dia sedang memangku Xin Zhan. Kekuatan roh tak bisa dikeluarkannya sementara waktu. Sementara itu, dia hanya bisa bertahan dengan menggunakan perisai petir.


Tapi apa yang terjadi justru membuatnya bingung. Bahkan tangan api itu kini melawan ketika tubuh Xin Zhan sedang berada dalam ancaman. Sekilas, begitu cepat sampai-sampai Xin Chen tak bisa melihat jelas sebuah wujud manusia dengan jubah besar yang serupa cahaya keluar dan langsung terbang ke arah Xin Fai.


Dan satu kali serangan tersebut membuat Xin Fai terpental amat jauh. Mendapatkan luka serius yang mampu membuatnya kehilangan kekuatan selama beberapa detik.


Bunga Api di kening Xin Zhan mulai meredup, tangan api menyusut dan akhirnya padam bersama angin yang berhembus. Tak ada nyala lagi yang bersinar terang seperti sebelumnya. Kekuatan apib Keabadian telah Xin Chen keluarkan lenyap tak bersisa. Ancaman dari Xin Fai bisa sejenak dihiraukan Xin Chen selagi menunggu tanda-tanda Xin Zhan akan bangun.


Tapi tampaknya sesuatu berjalan salah. Tak terlihat Xin Zhan bernapas. Xin Chen mulai berpikir apakah kekuatan yang dikeluarkannya kurang? Tapi bahkan sebatang pohon biasa mampu menghidupkan ayahnya ketika sekarat.


Atau, justru kekuatan api keabadian bukanlah kekuatan yang bisa diserap oleh Bunga Api itu?


Namun Xin Chen melihat sendiri bagaimana kekuatan murni miliknya berhasil Xin Zhan ubah. Tak mungkin salah.


Dugaan lainnya, mungkin perubahan kekuatan murni ini begitu kompleks. Kemungkinan gagalnya bisa sampai 80 persen atau lebih. Dan saat penyerapan tadi, Bunga Api gagal melakukannya.


Xin Chen bertanya-tanya dalam hatinya, jika benar ini gagal mengapa Bunga Api bisa menyedot habis semua api biru itu? Bahkan tanpa menyisakan satu pun kupu-kupu yang berterbangan.


Lima puluh detik tanpa terjadi apa-apa. Xin Chen merasa seperti harapannya telah dilambungkan tinggi-tinggi, mengalahkan pohon roh raksasa tadi lalu tiba-tiba sesuatu menghantamnya dan membuat harapan tersebut jatuh berhancuran.


Xin Chen tanpa sadar menyentuh bunga api di kening kakaknya. Masih terasa hangat di sana, berbeda dengan tubuh Xin Zhan lain yang telah dingin. Lalu nyala api di kening Xin Zhan kembali menyala, menyerap kekuatan biru dari jari telunjuk Xin Chen yang berada tepat di atas tanda tersebut.


Xin Zhan terbatuk.


Xin Chen dibuat kaget setengah mati, seperti baru saja melihat mayat terbangun dari kuburan. Ditatapnya lekat-lekat Xin Zhan-dengan melotot.


"K-kau ... Hidup?"


"H-ha ..." Terdengar desah napasnya kesakitan luar biasa, Xin Zhan mengeluarkan darah dari mulutnya.


Xin Chen hanya bisa menyimpulkan memang kekuatan api keabadian miliknya memang sulit untuk diserap oleh Bunga Api. Penyembuhan di tubuh Xin Zhan tak berjalan lancar. Bekas luka tusukan di dada Xin Zhan sama sekali tak tertutup, tapi setidaknya pemuda itu masih bisa bernapas.


Xin Chen tanpa sadar tersenyum. Beruntung saat itu dia tidak sedang menangis ketika kakaknya sudah terbangun.


"Sial, kau membuatku seperti hampir menari."


"Maksudmu?" Xin Zhan menjawab susah payah, mengumpulkan keping-keping ingatan, mengingat apa yang terjadi sebelumnya.


"Kau hampir mati. Aku sudah siap menertawai jasadmu. Sayangnya kau bangun, hahaha."


Kali ini Xin Chen bisa tertawa lepas. Dia bahkan tertawa lebih keras dari biasanya. Lalu Xin Zhan mengerutkan dahinya, tak pernah melihat adiknya sesenang itu. Daripada menyebutnya senang, mungkin Xin Chen lebih terlihat lega seperti baru saja dikejar malaikat pencabut nyawa dan lolos darinya.

__ADS_1


__ADS_2