Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 111 - Jembatan Perbatasan Kota


__ADS_3

Harapan yang ditawarkan Luo Li adalah kabar baik yang dapat Xin Chen dengarkan. Tak satu pun orang Kekaisaran Shang memiliki penawar untuk penyakit yang diidap Ren Yuan. Jika Guru Luo Li adalah satu-satunya kunci kesembuhan Ren Yuan, maka pergi ke Kekaisaran Wei adalah keharusan.


Kekaisaran Wei mengalami kehancuran dari dalam. 'Senjata' yang selama ini mereka kembangkan untuk musuh telah berubah menjadi senjata yang menghancurkan diri mereka sendiri.


Luo Li berhenti sejenak sebelum melanjutkan semua penjelasannya. Sampai tak terasa sudah dua jam mereka duduk bercerita.


"Semua ini berkenaan dengan ilmu bumi. Ilmu yang sulit ditemukan di sini. Namun, jika di Kekaisaran Wei aku yakin kau akan menemukan apa yang kau cari. Peradaban mereka sepuluh kali lebih maju dari Kekaisaran mana pun."


"Hanya saja ..." Luo Li menjeda, mengatakan dengan sesal dalam setiap kalimatnya, "Ilmu itu pula yang menghancurkan kami."


Luo Li ingin sekali mengutarakan satu hal. Dia mendengar bahwa Xin Chen dapat menaklukkan Naga Kegelapan. Berita itu sudah tersebar bahkan sampai ke Kekaisaran Wei. Seandainya Xin Chen memiliki cara untuk menghentikan para alkemis gila dalam penelitian berbahaya mereka. Dan menemukan cara untuk menyatukan beberapa kota Kekaisaran Wei yang telah berpisah atas alasan reformasi.


Tabib muda itu tak bisa menjelaskan langsung pada Xin Chen situasi lapangan yang akan mereka hadapi. Untuk bertemu Gurunya di Kekaisaran Wei adalah jalan yang sulit. Tiap kota di Kekaisaran Wei telah dikuasai tiga kubu yang saling bertubrukan. Pembelot, militer Kekaisaran Wei dan kelompok masyarakat.


Sebenarnya masih banyak hal yang ingin diceritakannya, tapi Luo Li tak memiliki waktu banyak untuk berbincang-bincang. Mereka sudah menghabiskan waktu berjam-jam di kedai teh bunga. Di sisi lain Luo Li takut beberapa orang menyadari Identitasnya yang membuat dia harus tertangkap dan menjelaskan alasannya kepada penjaga kota. Seperti sebelum-sebelumnya. Langsung pada poin intinya, Luo Li kembali membuka suara.


"Anda akan pergi?" Luo Li memastikan, tangannya turun meletakkan minuman dengan sopan.


"Harus. Lalu, kapan kau akan kembali ke Kekaisaran Wei?"


"Dalam waktu cepat. Paling lama dua pekan lagi. Ku dengar Kekaisaran Shang akan merayakan acara di Kota ini. Mungkin waktu Anda di sini hanya sedikit jika ingin ikut bersamaku."


Xin Chen menyangkal, "Tak apa," ucapnya. "Aku tak memiliki banyak waktu untuk bersenang-senang."


Sesaat Luo Li menatap wajah lawan bicaranya, lamat-lamat, mencoba memahami mengapa raut wajah itu begitu sulit untuk dipahami. Pada akhirnya dia hanya dapat menyimpulkan, bahwa terlalu banyak hal memenuhi isi kepala pemuda bermata biru itu. Dia mengangguk sekali, "Aku paham. Temui aku seminggu lagi di jembatan perbatasan kota. Secepatnya kita akan pergi ke sana sebelum akses masuk ditutup."

__ADS_1


Xin Chen ikut berdiri. Luo Li agaknya sedikit buru-buru, Xin Chen menjelaskan satu hal lagi sebelum tabib muda itu pergi. "Aku akan membawa jamur api itu sekalian."


"Baik. Dan terima kasih atas minumannya, Tuan Muda. Lain kali aku akan mentraktir mu di Kekaisaran ku."


Anggukan pelan dari Luo Li diiringi izin pamit darinya sambil membungkukkan badan, membawa barang bawaannya dan lekas menuju ke pintu.


Punggung Luo Li telah menghilang dari daun pintu, tapi pembicaraan mereka tadi masih melekat kuat dalam ingatan Xin Chen. Dia masih duduk di sana sampai setengah jam.


Luka Ren Yuan terlalu berat. Bahkan ahli medis terkenal di Kekaisaran Wei membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menemukan obatnya. Xin Chen tak tahu menahu dari mana asal muasal penyakit tersebut, bagaimana Ren Yuan bisa terkena dan dari siapa penular yang membawanya. Isi kepalanya penuh dengan dugaan-dugaan. Tapi tak satupun darinya dapat menjawab pertanyaan di kepala Xin Chen.


**


Baru keluar dari kedai, seekor burung merpati berwarna putih terbang ke arahnya. Xin Chen mengangkat lengan tangan, membiarkan burung itu singgah. Dia melepaskan ikatan tali di kaki burung tersebut, membaca surat yang diantarkan kepadanya.


Surat itu dari Xin Zhan. Nanti malam akan ada jamuan makan malam di istana Kekaisaran, acaranya cukup besar dan tamu-tamu yang diundang sangat banyak. Bahkan Shui pun datang ke sana. Dia dan Huo Rong sendiri memutuskan tinggal di penginapan selama beberapa hari sebelum memikirkan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.


Pihak pemerintah kota yang bertugas menjaga Huo Rong dan Shui memberikan sejumlah uang untuk kedua siluman itu atas beberapa alasan. Banyak orang telah tahu identitas mereka sebagai siluman. Akan tetapi, yang mengejutkannya, di Kekaisaran Shang ini mereka diperlakukan layaknya manusia biasa. Sesekali orang-orang melirik mereka. Hanya karena warna mata rambut yang mencolok. Selebihnya membiarkan dua siluman itu lewat sesukanya.


Sejak berjalan-jalan di kota Fanlu, Shui menemukan banyak hal menarik. Aksesoris, perhiasan, dan benda-benda kerajinan. Matanya berbinar-binar dan langsung membeli semuanya sampai uang yang mereka miliki habis.


"Hahahha mataku seperti dicolok, apaan naga dan kadal ini. Pengangguran banyak kerja memang."


"Hah?!" Huo Rong langsung tersinggung.


Xin Chen menutup mulut sejadi-jadinya. Takut orang melihatnya ketawa sampai keluar air mata.

__ADS_1


"Oi, jelaskan kenapa kau tertawa-tawa begitu?" Shui mulai kesal. Tapi jujur saja, sejak tadi orang-orang masih menatap mereka. Walau kadang terlihat tak peduli.


"Kalian berdua kenapa pakai baju pengantin? Mau kawin?"


Xin Chen masih tertawa sambil menepuk-nepuk pundak Shui.


"Memangnya kenapa?"


"Ya ampun dua curut ini." Xin Fai yang entah dari mana datangnya menyeloteh, menggeleng-gelengkan kepala tak percaya. Dia baru saja keluar rumah dan membeli beberapa sayuran yang dipesan istrinya. Orang-orang yang mengerubungi Pedang Iblis ikut tercengang melihat pakaian Shui dan Huo Rong.


"Hah?!" Hanya kalimat itu yang Huo Rong ulang. Dia tak mengerti apa maksud orang-orang di sekitarnya yang terus memperhatikan mereka berdua.


Xin Fai kali ini tertawa, tak habis pikir. Dia menjelaskan, "Aku tak tahu kalian mampir di toko mana sampai dipakaikan baju seperti itu. Kalian tahu, kan. Manusia hidup berpasang-pasangan. Mereka menikah dan punya anak."


Lalu dia melanjutkan sambil mengatur napas agar tak tertawa, "Baju yang kalian kenakan itu baju pengantin yang akan menikah."


Tawa Xin Chen yang telah mereda kembali meledak saat melihat dandanan Shui. Baju pengantin berwarna biru nan indah dengan bagian sedikit atas terbuka, rambut digulung, perhiasan di tangan dan lehernya ditambah lagi riasan tebal di mukanya. Huo Rong tak terlalu parah karena pakaiannya terkesan formal. Tapi tetap saja itu pakaian pengantin. Tampaknya dua siluman itu tak bisa membedakan cara berpakaian manusia.


"Kata penjaga kota kami disuruh membeli pakaian untuk acara nanti malam. Di toko seberang aku disuruh pakai ini."


"Kau bilang kau ikut acara apa?" Xin Chen bertanya.


"Ha, acara apa? Hoi Huo Rong, kau jawab apa tadi sama mereka?"


"Mana kutahu," kesal Huo Rong memalingkan muka. "Mereka bilang acara pernikahan sepertinya. Kau jawab iya."

__ADS_1


Xin Chen menggeleng tak percaya. Sepertinya dia harus mengembalikan baju itu ke toko. Membantu Shui dan Huo Rong memilih baju untuk acara nanti malam.


__ADS_2