Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 245 - Badai di Pulau Seizu


__ADS_3

Xin Zhan membuang pandangan pada sekelompok wanita yang terus berbisik sambil menoleh padanya malu-malu. Seluruh pikiran penuh oleh misi dan tugas yang diembannya sebagai Pilar Kedua. Ada banyak masalah yang harus diselesaikannya di Pulau Seizu, saat ini hanya dia yang ada di sana dan semua tugas Pilar lain harus dialihkan pada pemuda itu.


Sore hari dia baru bisa kembali walau sebentar, paling-paling untuk memastikan keadaan Ren Yuan. Alangkah terkejut saat melihat Xin Fai telah kembali.


Tapi itu bukanlah pertanda baik. Xin Zhan tidak menemukan Ren Yuan di dapur dan ruang depan, saat mengecek kamar ibunya, ternyata Ren Yuan tak sadarkan diri dengan kepala terluka. Xin Fai sudah menyembuhkannya sebisa mungkin, walau begitu Ren Yuan tetap membutuhkan perawatan dengan obat herbal.


Xin Zhan segera merapat, saat itu ayahnya menjelaskan apa yang terjadi.


Penyusup berhasil lepas dari kawalan Xin Zhan, seharusnya satu-satunya jalan masuk hanya pelabuhan. Untuk harus memiliki identitas jelas, lebih dari itu musuh tahu di mana rumah mereka. Xin Zhan beranjak ke dapur dan meracik sesuatu, di kamar lain Feng Yong masih pingsan tak sadarkan diri.


"Xin Chen bodoh itu ke mana dia?"


"Masih dalam misi." Xin Fai menjawab, sejenak Xin Zhan terdiam. Gerak-gerik ayahnya sangat mencurigakan. Hidungnya masih dapat mencium sisa bau racun yang menyengat, tak bisa berbohong lagi Xin Fai menjelaskan apa yang terjadi. Menatap tangannya. Selama ini dia sudah bertarung begitu banyak, Gajah Abu-abu adalah musuh yang kuat.


Dia terpaksa tumbang di akhir, Xin Fai sempat merenungkan hal itu dengan penyesalan. Nama besarnya sebagai Pedang Iblis tampaknya telah terkikis. Dia tak ingin mengandalkan Xin Chen seperti sebelumnya dan yakin masih ada yang bisa dia lakukan selain duduk di sana.


Xin Chen kembali dari kediaman Kaisar Qin, langsung mencari ke dalam dan menemukan keluarganya sudah berkumpul.


"Ibu-?!"


Kaget, Xin Chen memastikan. Benar ada luka di kepalanya.


Xin Zhan menghembuskan napas, "Fu Hua diculik. Boneka manusia datang kemari dan menyerang Ibu beserta Feng Yong."


Sampai terdiam begitu, Xin Fai tahu putranya masih terkejut.


"Baj*ngan kau Qin Yujin.."


"Pikirkan dengan kepala dingin, Chen. Kita tak tahu di mana dia bersembunyi dan mungkin ada jebakan yang disiapkan."


Xin Fai melanjutkan sarannya, dia bisa lebih berpikir dewasa dibandingkan putranya. "Qin Yujin tak akan menyakiti Fu Hua, aku bisa menjamin hal itu."


"Tapi tetap saja-" Xin Chen menghentikan kalimat, sadar dia mulai memprotes tak ada arti.


"Aku tahu," dia mengalah. "Aku akan mencarinya, tapi besok aku harus pergi ke Kekaisaran Qing."


Tanpa keraguan Xin Fai berbicara, "Aku akan mengirimkan beberapa utusan untuk mencari keberadaan Fu Hua, jika kau lebih menemukannya jangan bertindak gegabah. Qin Yujin adalah sumber masalah ini, kita harus berhati-hati."


Xin Chen memastikan Ren Yuan baik-baik saja, "Biar aku yang menjaga ibu."


"Tidak usah, aku juga bisa." Xin Zhan malah memulai ajang rebut-rebutan. Alis Xin Chen menukik.

__ADS_1


"Aku."


"Aku lebih dulu sampai di sini monyet."


"Kau bilang aku apa-?" Xin Chen tertohok.


"Monyet."


"Kau unggas." Xin Chen membalas kesal.


Giliran Xin Zhan kebakaran jenggot. "APA?!"


Xin Fai menggaruk keningnya, baru ketemu saja dua anaknya sudah mulai bertengkar.


"Sudah, sudah. Mau ku gedik kepala kalian satu-satu? Ibu kalian sedang sakit, tenanglah sebentar." Xin Fai kewalahan, biasanya kalau Ren Yuan bangun tak perlu repot-repot bicara, dengan tatapan saja dua putranya itu langsung akur.


Xin Chen melihat Ren Yuan, mengurung niat untuk membalas. Dia bangun segera.


"Biar aku yang memasak," ucapnya.


Xin Zhan dan Xin Fai merinding di tempat.


Lang masih dalam misi yang memakan waktu lama. Sementara Ye Long girang gembira karena malam ini dia pesta daging. Malam turun dengan cepat, Xin Chen masih duduk di halaman depan. Seperti biasa, merenungi banyak hal yang terjadi.


Dunia sedang kacau. Walaupun yang dilihatnya hanyalah ketenangan saat ini. Di luar sana orang-orang menjerit mengemis pertolongan. Satu per satu nyawa menjadi korban. Anak-anak kehilangan ayah ibu mereka dan orang tua kehilangan anak mereka. Itu hal yang sering terjadi entah dalam perang, wabah atau krisis.


Semua itu tak dapat dihindarkan.


"Era Baru, ya."


Teringat akan ucapan Qin Yujin. Era Baru akan lahir usai Era Kemusnahan. Kedengaran mengerikan. Ada hal yang mengganggu pikiran pemuda itu, terutama tentang satu pemimpin yang mengendalikan tiga Kekaisaran.


Sejak awal tujuan Xin Chen adalah menyatukan Tiga Kekaisaran, agar perang berhenti terjadi demi perdamaian. Walaupun di telinga beberapa terdengar mustahil, tapi Xin Chen sangat yakin bahwa suatu saat nanti perang akan reda.


Pertanyaannya adalah, kapan?


Angin malam menyapanya. Kekhawatiran terus membuat Xin Chen gelisah. Matanya tertuju cepat saat suara berisik terdengar. Xin Chen memeriksa ke jalan, begitu kosong. Kebanyakan rumah saling berdempetan karena memang penduduk di dalamnya sangat banyak. Semua orang sudah tertidur, harusnya tidak ada siapa-siapa di sana.


Xin Chen menggelengkan kepala. Mungkin dia terlalu kepikiran.


Pagi hari Xin Chen telah berangkat untuk misi selanjutnya. Xin Zhan masih harus melakukan tugas patroli di seluruh Pulau Seizu. Ren Yuan sudah sadarkan diri malam tadi, hanya saja Feng Yong belum bangun-bangun.

__ADS_1


Matahari naik ke atas kepala. Xin Fai yang saat itu berada di luar merasakan hawa yang begitu aneh di Pulau Seizu.


Tidak seperti biasa. Seperti ada suara berisik dan jumlahnya pun sangat banyak. Mengarah ke Pulau Seizu secara bersamaan.


Ren Yuan tenyata sudah bangun dan menyadari hal yang sama.


"Perasaanku tak enak." Dia berdiri di sisi Xin Fai, melihat jauh ke depan. Angin pengap berembus, menambah gelisah tak bertuan itu.


Tiba-tiba saja Xin Zhan kembali dengan terburu-buru, dia berteriak ke seluruh penjuru agar penduduk segera melarikan diri. Xin Fai mencari tahu apa yang terjadi.


Ren Yuan terkejut saat mendengar kabar dari Xin Zhan. Serangan tak diduga datang, sekitar lima belas ribu boneka yang hampir sama seperti yang menculik Fu Hua datang. Mereka datang dari pinggiran pulau, bisa berenang dalam air. Memiliki dua tangan yang dapat berubah menjadi senjata dan juga kekuatan elemen seperti manusia.


Kabar tersebar begitu cepat. Xin Fai berjalan ke depan, dia harus melindungi semua orang di Pulau Seizu.


"Xin Zhan, evakuasi semua penduduk dan selamatkan sisanya sebisamu. Aku akan bertarung melawan mereka,"


ucapnya. Ren Yuan maju, berbicara tegas.


"Aku akan membantumu."


"Tuan Putri sebaiknya beristirahat, lukamu belum sembuh."


Ren Yuan tak mau mendengarkan penyangkalan, walaupun suaminya sedang berusaha membujuk.


"Aku tidak bisa diam saja saat kalian semua berjuang. Aku harus ikut." Dia mengepalkan tangan. Menatap Xin Fai dengan tegas, suaminya itu menghembuskan napas kasar.


"Kau mengkhawatirkan ku?" Xin Fai tepat sasaran.


Ini belum tiga hari sejak Xin Fai terkena racun, tubuhnya belum pulih benar. Satu-satunya yang bisa Ren Yuan lakukan adalah membantu dan memastikan Pedang Iblis berhasil menyingkirkan musuh.


"Baiklah, tetap bersamaku."


Xin Zhan tersenyum tipis saat melihat ayahnya menggenggam tangan ibunya. Di depan mereka ribuan boneka petarung datang. Keduanya bersiap.


Di mata Xin Zhan, mereka berdua adalah orang yang sama-sama hebat.


Gejolak besar terjadi, kekuatan Sang Pedang Iblis keluar. Cahaya terang mengitari sekitar tubuhnya. Begitu pun dengan tubuh Ren Yuan.


"Kau siap?" tanya Xin Fai, Ren Yuan mengangguk.


"Aku siap."

__ADS_1


__ADS_2