Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 265 - Makam Lan An


__ADS_3

Di sebuah pemakaman besar yang dikhususkan untuk makam para pahlawan Kekaisaran Shang, Xin Chen berdiri di depan salah satu batu bertuliskan nama Lan An dengan Gelarnya sebagai Pilar Kedua. Tempat itu terlindungi oleh pagar batu yang melebihi tinggi orang dewasa, tidak ada sesiapa pun di sana selain dirinya sendiri.


"Aku datang, Paman Lan. Sudah begitu lama tidak berkunjung. Kau tidak sedang mengganggu para bidadari di surga, kan?" tawanya.


Sebelum perang berkecamuk, lelaki itu telah menggantikan peran Xin Fai semenjak kepergiannya dan merenggut nyawa dalam misi terakhir.


Bagi Xin Chen, Lan An bukan sekedar paman atau seorang Pilar Kekaisaran Kedua. Lan An lebih dari seorang teman, Guru, dan bahkan seperti ayahnya sendiri. Di saat Xin Fai sibuk dengan pekerjaannya, Lan An datang untuk mengajarinya atau bahkan hanya untuk bertukar canda dengannya. Hanya untuk menghibur dirinya agar tidak sedih di saat murid lain mengoloknya.


Di saat semua orang membencinya, Lan An adalah salah satu orang pertama yang berada di sisinya. Jika bukan karena laki-laki itu Xin Chen tidak akan percaya diri pada kekuatannya sendiri, dia pasti akan mengurung diri dan mengutuk dunia yang meremehkannya.


Jika bukan karena laki-laki itu ...


Setetes air mata jatuh di telapak tangannya, Xin Chen tertunduk dengan duduk berlutut di depan makam Lan An, tidak bisa membendung kesedihan lagi.


Kilas balik ingatan saat dia tenggelam dalam lautan, bagaimana Lan An begitu percaya padanya, hal itu saja telah membuatnya sadar.


Semenjak awal hanya segelintir orang yang mengakuinya. Kini dia kehilangan salah satu yang begitu berharga, penyesalan di dalam dadanya tidak akan pernah menghilang. Lan An tewas di depan matanya sendiri, Xin Chen bahkan tidak bisa berbuat apa-apa di detik terakhirnya.


Anak Lan An telah kehilangan Ayahnya, dan Lan An tidak sempat melihat putri kesayangannya yang begitu cantik seperti ibunya.


"Aku sudah berjanji aku akan menyayangi anakmu seperti kau menjagaku, tapi ..." Dia mengepalkan tangan erat.


Pias mengisi wajahnya yang putih bersih, Xin Chen menggeleng pelan seolah-olah Lan An sedang mendengarkan di depannya.


"Kakak Zhan akan menjaganya untukmu, dia akan tumbuh menjadi gadis yang kuat. Sama seperti ayahnya."


"Kau tahu, dunia sedang tidak baik-baik saja. Berulang kali masalah datang. Aku bahkan sempat menyerah dengan keadaan... Tapi tiba-tiba kau datang dalam ingatanku dan mengatakan aku tidak akan kalah secepat itu. Lagi-lagi kata-katamu menyelamatkanku," tuturnya.


"Aku berterima kasih untuk semua hal yang kau berikan padaku. Sekecil apa pun, itu sangat berharga untukku." Dia menundukkan kepala dengan hormat di depan makamnya, selang sepuluh detik lamanya. Setelah Ayahnya, Lan An adalah pria kedua yang paling dia hormati.


"Aku ingin mengatakan banyak hal lagi, tapi sekarang aku harus kembali. Istirahatlah yang tenang, lain kali Ayah dan Ibu akan bergantian mengunjungimu."


Ye Long yang sejak tadi mendengarkan dalam diam juga sedih. Manusia memiliki umur yang pendek, terasa sangat singkat namun kehadiran seseorang bisa menjadi begitu berarti. Saat kepergian orang tersebut akan ada begitu banyak orang yang bersedih, termasuk Xin Chen saat ini.

__ADS_1


Naga itu sempat membayangkan dirinya tanpa majikannya, mata hitamnya berkaca-kaca. Telinganya turun, murung saat Xin Chen berjalan mendekatinya.


"Kita ke penjual daging, hari ini kau makan yang banyak seperti janjiku."


"Makan!?"


Telinga Ye Long naik serentak, dia berputar dan hampir menjilati wajah majikannya. Xin Chen tertawa tipis, naga itu tidak pernah berubah seperti dulu.


Saat mereka terbang di udara dan melihat ke bawah, masih ada kesengsaraan yang dirasakan orang-orang. Mereka yang masih terjebak atau tidak bisa ditampung oleh Perlindungan Awan terpaksa bertahan hidup di alam rimba yang buas. Semua ini harus segera dihentikan, Xin Chen tidak ingin semakin banyak nyawa tergerus. Saat mereka turun di toko penjual daging, Ye Long langsung melahapnya tanpa banyak tanya.


Untung saja penjual daging sempat berbicara dengan Xin Chen sebelum memukul naga itu dengan wajan. Ye Long bergembira sepuasnya, dia memakan daging sapi berukuran sepantaran badannya sendiri. Melahap daging-daging mentah tanpa ampun sampai perutnya kembung bukan main.


"Tidak bisa kubayangkan Anda memberi makan naga ini setiap hari. Keuangan aman?" Xin Chen mengangkat bahunya.


"Peternakan tetangga yang tidak aman."


Sepulangnya dari sana Xin Chen langsung sesak napas. Sekali makan saja naga itu menghabiskan hitungan ratusan keping emas. Jumlah yang bisa digunakannya makan sampai berbulan-bulan, Xin Chen sudah terbiasa hidup hemat-yang lebih mendekati pelit. Menggunakan uang sebanyak itu hanya untuk makan langsung membuatnya pusing berkunang-kunang.


Ye Long sangat puas, baru kali ini dia begitu kenyang.


"Sekali-kali atau tidak sama sekali."


Saat itu Ye Long kesal, majikannya memang sangat pelit dan kikir sampai ke darah daging. Pemuda itu menepuk-nepuk kepalanya, semakin membuatnya dongkol dengan perubahan sikap Xin Chen.


Setibanya di rumah seperti biasa Ren Yuan sibuk dengan tanaman obatnya. Akhir-akhir ini ada begitu banyak orang datang untuk membeli obat tradisionalnya. Xin Chen pulang, melihat wanita itu kewalahan dia membantu mengambil beberapa tanaman. Meski tidak tahu semuanya namun Xin Chen tahu beberapa tanaman obat dan cara meraciknya.


"Bagaimana perjalananmu?"


"Aku hanya ke makam Paman Lan, tidak begitu lama. Apalagi dengan Ye Long yang sangat cepat terbangnya."


Ye Long yang sedang memasukkan kepala ke dalam kendi terhenyak. Bunyi retak menyambut setelahnya.


"Ah, iya, Pamanmu. Ayah dan Ibu juga ingin mengunjunginya lagi, sudah beberapa lama sejak kunjungan terakhir kali," ujarnya sembari menuangkan obat dalam gelas.

__ADS_1


Ren Yuan menahan tangan Xin Chen sebelum dia mencampurkan bunga herbal. Tanaman itu memiliki racun dengan tingkat netralisir yang tinggi. Ren Yuan mulai mengajarkan Xin Chen hal-hal dasar tentang medis dan berbagai tanaman yang tidak diketahuinya, bahkan sampai langsung membuatnya.


Xin Chen tahu, Ren Yuan adalah Ahli Obat terhebat baginya. Tidak pernah berganti.


"Obat ini, untuk siapa?" tanyanya menunjuk satu-satunya obat yang diasingkan. "Untuk Fu Hua, keadaannya perlahan stabil dan jantungnya mulai bisa memompa dengan baik, walaupun begitu akan butuh waktu beberapa lama agar dia sembuh."


Tak mendengar jawaban apa-apa, Ren Yuan menatap balik putranya yang sedang tersenyum ke arahnya.


"Ibu menjaganya dengan baik."


"Dia gadis yang baik, Chen'er. Bukankah begitu?"


"Tentu saja."


Pagi hingga sore berlalu, hingga Xin Zhan pulang dari tugasnya dan langsung ke bagian belakang. Menemui Xin Chen sedang sibuk bersama Ren Yuan dan Feng Yong yang juga barusan bergabung.


"Oh, habis jadi Pilar Bayangan kau juga berganti profesi jadi ahli obat?"


"Daripada aku, Kakak Zhan jauh lebih hebat dalam obat-obatan."


"Tentu. Kau bikin obat bukan sembuh malah meninggal orang," ledek Xin Zhan, tapi kelihatannya adiknya itu tidak mengambil hati. Dia beranjak ke ruang depan dan mengambil sesuatu dari bungkusan yang dililit kain putih.


Xin Zhan menerimanya dengan heran.


"Aku sempat mampir ke toko senjata dan menemukan satu pedang yang cocok untukmu," terangnya.


Detik itu Xin Zhan terpukau ketika melihat pantulan cahaya mengkilap dari sebilah pedang bercorak putih dan hitam, terdapat gantungan di gagangnya dan ukiran yang begitu elegan.


Xin Zhan yang tidak percaya bertanya sekali lagi, "Untukku?"


"Siapa lagi."


Kakaknya tersenyum, merangkul Xin Chen begitu erat. "Adik yang baik, lain kali aku akan membelikan untukmu."

__ADS_1


"Hahaha, tidak perlu. Jaga baik-baik pedang itu. Uangku habis banyak untuk itu."


"Baik, baik, Adik Cerewet."


__ADS_2