Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 204 - Kincir Angin Raksasa


__ADS_3

Malam menjelang dengan pekat yang tak lagi bersahabat, ketika api unggun memakan ranting-ranting kayu sepasang langkah kaki mengendap-endap perlahan. Sebuah kamp kecil berdiri di tepian kota yang tampak hancur sebagian, seolah-olah ratusan ledakan terjadi di sana sebelumnya. Nasib kamp itu tak ada beda dengan tempat sekitarnya, hancur dan beberapa manusia tergeletak tak bernyawa. Antara dibunuh oleh manusia atau terbunuh oleh terinfeksi.


Tengkuknya dingin ketika melihat mayat-mayat itu, sebagian wajah hilang. Bagian dalam perut berhamburan di atas terpal serta makanan yang mereka masak telah jatuh berserakan. Malang sudah nasib manusia itu, Fu Hua menutup mata dan fokus ke depannya karena tak ingin bernasib sama seperti mereka.


Dari seberang Fu Hua dapat melihat sebuah kota yang lebih maju dan megah, dilindungi oleh gerbang dan pagar kokoh dan besar. Tak sembarang orang dapat masuk ke sana-setidaknya itu dulu, karena sekarang tempat itu tak ada beda dengan kota lain.


Ceceran darah, potongan daging manusia dan terinfeksi yang berlalu lalang. Hampir seluruh dari mereka adalah orang kaya memiliki jabatan tinggi dalam instansi pemerintahan. Namun apa boleh dibuat, uang saja tak akan menyelamatkan mereka dari wabah. Pagar kokoh dan tinggi yang melindungi Sentral Pusat telah hancur, seperti didobrak oleh ribuan manusia dalam sekali waktu. Berserakan di tanah. Fu Hua melaluinya hati-hati, perlahan memasuki sebuah rumah dan menutup pintunya.


Hanya satu terinfeksi berada di dalam, Fu Hua mengendap-endap, menusuk lehernya dari belakang hingga terputus. Darah membasahi wajah, gadis itu mengelapnya dengan cepat dan menaiki lantai teratas. Di mana di sana dia mendapatkan satu pemandangan yang begitu menakutkan dan tidak masuk akal.


"Binatang mana yang membuat wahana mengerikan seperti ini ..." Bibirnya bergetar tak karuan. Pikirannya tertuju pada Kaisar Shi baru, menebak apa sebenarnya yang dia rencanakan hingga tega melakukan hal sekeji ini. Bahkan binatang pun masih memiliki kasih sayang kepada sesamanya.


Di malam yang gelap itu, Sentral Pusat hanya terlihat seperti bayang-bayang hitam. Di tengah Sentral Pusat berdiri sebuah kincir angin raksasa, tingginya menyambangi tinggi menara di Kekaisaran Wei. Kipas yang berputar pelan di segala sisinya menggantungkan ribuan manusia hidup dengan seutas tali, dan tepat di bawah kincir angin tersebut puluhan ribu terinfeksi mengais-ngais. Menunggu manusia itu dijatuhkan satu per satu untuk makan malam mereka. Ada dua orang yang berada di ruangan kecil tengah kincir angin, bertugas memotong tali itu setiap menitnya.


"Mereka sudah gila ...!" teriak Fu Hua tak sanggup lagi, matanya memanas. Dia tak bisa melihat perlakuan sekeji itu dan nyaris tak percaya ini benar-benar terjadi.


Namun tampaknya kabar yang beredar selama ini tentang Kekaisaran Wei benar. Sedari dulu lagi Kekaisaran Wei terkenal akan kejeniusan para alkemisnya, mereka melakukan banyak terobosan baru dan menciptakan hal-hal yang diluar nalar.


Untuk mendapatkan hal itu tentu dibutuhkan harga yang tidak murah. Lalu mereka menggunakan para masyarakatnya untuk dijadikan objek percobaan.


Dari tempatnya Fu Hua dapat melihat mereka yang digantung di kincir angin raksasa itu terdiri dari masyarakat biasa, bangsawan hingga mereka yang bekerja langsung di Kekaisaran.


"Orang itu tak menginginkan Kekaisaran Wei ..." Fu Hua berpikir lebih jauh tentang Shi Long Xu, "Dia menginginkan seluruh dunia ini, dengan mengorbankan tanahnya sendiri."


Perhatiannya terpecah tatkala terdengar bunyi berisik dari bawah, Fu Hua langsung mencari tempat bersembunyi. Melihat sekelompok prajurit dengan senjata peledak dan perlengkapan lainnya datang memeriksa rumah itu. Dia yang hanya berlindung di balik dinding mulai keringat dingin, karena langkah kaki itu perlahan-lahan kian mendekat.


'Tidak bisa di sini, mereka akan menemukan ku dan menggantungku di kincir angin itu ...' batinnya, berusaha mencari cara tapi pikirannya terlanjur kacau.


'Apa yang akan Xin Chen lakukan kalau berada di situasi ini, ayo berpikirlah!' Fu Hua terus berpikir hingga akhirnya langkah itu hanya berkisar beberapa meter darinya.

__ADS_1


Fu Hua meledakkan bom asap, satu-satunya barang yang tersisa di sakunya. Keempat prajurit itu terkejut beberapa detik. Lima detik yang menjadi kesempatan untuk Fu Hua kabur.


"Berpikir seperti dia!" Fu Hua sampai merampas lima bom peledak dan satu benda unik lain dari mereka. Sepertinya cara melarikan diri seperti itu memang cara yang dilakukan Xin Chen jika terjebak di situasi yang sama. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.


Salah satu barang yang dicurinya bercahaya biru, serupa jamur. Ketika Fu Hua membawa lari Jamur Api dari mereka, puluhan terinfeksi mengejar laki-laki itu dan mengeroyok tanpa ampun.


Jantung Fu Hua berdebar kencang. Dia masuk ke bawah meja, menyadari penjagaan ketat tengah berlangsung di Sentral Pusat. Mereka semua berseragam sama dan di belakang pakaian mereka terdapat tulisan Serikat Sentral Pusat. Kelompok yang dibicarakan Xe Chang, pastinya mereka berbahaya dan bersenjata lengkap. Bisa dikatakan para peneliti Kekaisaran bekerja sama secara tidak langsung dengan mereka.


Dan senjata yang diciptakan akan salurkan kepada Serikat Sentral Pusat. Mereka tak bisa diremehkan, Fu Hua akan mengatakan hal itu kepada Yu dan yang lainnya. Musuh berat mereka Serikat Sentral Pusat dan itu baru salah satunya saja.


Dia mengeluarkan sebuah tanaman bercahaya yang dirampasnya tadi. Cahaya biru tersebut begitu indah, membuatnya teringat akan seseorang. Fu Hua kaget begitu satu terinfeksi merangkak ke dekatnya. Dia mundur, Jamur Api itu jatuh menggelinding ke arah terinfeksi yang justru mundur ketika tanaman itu.


"Bagaimana bisa ...?" gumamnya keheranan. Fu Hua mengambil kembali Jamur Api itu, sadar salah seorang prajurit mendekat dan menggulung tanaman itu ke dalam kain. Memastikan cahayanya tertutup sempurna.


"Hei, tadi aku mendengar suara. Empat orang prajurit kita mati."


"Jamur Api?"


Fu Hua berusaha mengingat-ingat, dia pernah mendengar soal itu. Karena sering melakukan transaksi di pasar gelap dia banyak mengetahui informasi. Salah satunya jamur api yang hidup di dalam lautan api yang diendapkan bertahun-tahun. Ada dua jenis Jamur Api ini, Jamur Api Merah dan Biru. Sayangnya yang berguna untuk mengatasi terinfeksi di Kekaisaran Wei hanya yang berwarna biru.


Mereka menemukan Jamur Api biru pertama kali di bawah gunung berapi yang dihinggapi banyak kelelawar. Bukan perkara mudah mendapatkan barang tersebut karena harus berurusan dengan siluman dari Kekaisaran Shang, sebab itu harga yang ditawarkan melambung tinggi.


Jamur Api itu akan banyak membantunya nanti, Fu Hua memastikannya aman. Memastikan di depannya tak ada terinfeksi yang lewat, dia mengambil botol kaca dan melemparkannya jauh.


Beberapa prajurit yang bertugas teralihkan ke sumber suara dan mengeceknya, Fu Hua bergerak secepat yang dia bisa. Naik ke atas atap sebelum yang lain tahu.


"Di atas lebih aman." Gadis itu mengintip ke bawah, menarik napas untuk yang ke sekian kalinya. Tapi kali ini dia lebih tenang, sepertinya mulai terbiasa menghadapi terinfeksi dan prajurit itu.


Ikat kepalanya bergerak pelan ketika angin kencang datang, beberapa penjaga di bawah mengobrol.

__ADS_1


"Sebentar lagi akan hujan," sergah salah satunya ketika temannya hendak menyalakan api unggun.


"Lalu kenapa? Kau takut kedinginan? Suruh terinfeksi itu memelukmu, kadang kau butuh kehangatan."


"Hei, mulut sampah. Kau tidak ingat ketua mengatakan apa?"


"Apa?" Prajurit lain menanggapi.


"Sebentar lagi terinfeksi itu akan pesta, kau tidak mau melihatnya? Ayolah," katanya antusias. Fu Hua menguping pembicaraan mereka diam-diam.


"Oh, orang-orang dikincir angin itu?"


"Apalagi? Memang kau yang akan diumpankan ke sana?"


"Ergh, amit-amit. Aku tetap berjaga ke sini, kau kembali ke sana. Lakukan tugasmu dengan baik dan gantungkan manusia itu dengan indah. Aku tak sabar mendengar jeritan kesakitan mereka, hahaha."


Detik di mana laki-laki itu pergi, Fu Hua mulai berpikir untuk mengikutinya. Di kincir angin itu mungkin memiliki petunjuk tentang Laboratorium Baru, karena semenjak tadi Fu Hua tak menemukan satu pun tempat yang menyerupai laboratorium. Dan juga, setelah melihat dari atas tampaknya di setiap bagian sentral ini dijaga ketat.


Dia mengikuti laki-laki itu dari atap, berjalan berjinjit memastikan derak kayu tak membuat orang itu curiga. Sekiranya mereka tiba di tempat yang tak diawasi, Fu Hua mencari posisi. Melompat dari atap dan menancapkan pedang ke leher laki-laki itu. Sempat terkejut, lawannya melawan di titik darah penghabisan.


Berusaha berteriak tapi Fu Hua membekap mulutnya duluan. Meski tubuhnya lebih kecil, Fu Hua mampu mengunci pergerakan laki-laki itu dengan teknik yang diajari kakaknya.


"Hei, ada apa di sana?"


Salah satu penjaga curiga, dia berada dari jalan sebelah. Mendengar bunyi pedang yang sempat bergesekan dengan armor besi. Langkahnya dipercepat dan kaget.


Dua terinfeksi berada di sana, laki-laki itu mundur teratur. Dua makhluk itu memang tak mendekatinya. Perlahan dia pergi, Fu Hua yang berhasil memanjati atap tepat waktu lega.


Dia hampir saja tergigit oleh terinfeksi yang datangnya entah dari mana itu. Dengan Jamur Api di tangannya, dua terinfeksi itu mundur sambil mendesis. Takut dengan cahaya biru yang tampaknya mengganggu mereka. Sekaligus membuat kulit mereka melepuh.

__ADS_1


__ADS_2