Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 35 - Membalas Kebaikan Tuan


__ADS_3

Dari atas dataran tinggi, tepatnya sebuah bukit tandus yang kering tanpa satupun pohon tumbuh di atasnya. Angin dari bawah bertiup kencang menerbangkan jubah hitam seseorang yang tengah memantau dari atas. Segaris kulit pun tak terlihat dari tubuh orang tersebut, wajahnya ditutupi oleh topeng gagak dengan paruh menjulur ke depan. Dari balik lubang mata di topeng tersebut terlihat kilatan cahaya tajam, lalu bola mata sosok tersebut bergulir ke bawah. Menatap gulungan kertas di tangannya yang ditutupi sarung hitam. Lalu mencengkram gulungan tersebut erat-erat.


"Dia bertarung hingga sejauh ini ... Sebenarnya apa yang ada di dalam pikirannya?"


Saat itu, tujuh tahun telah berjalan hingga perang kembali terulang. Kehancuran yang diperbuat oleh mereka mungkin tak begitu terasa dibanding apa yang dirasakan Xin Chen.


Dari mata-mata yang mengawasi Kekaisaran Shang sempat terdengar kabar bahwa putra kedua dari Pedang Iblis menghilang. Dia yakin seratus persen, Xin Chen atau yang lebih akrab disebut Tuan Muda Xin Kedua tak akan mati, dia masih hidup meski kabar burung mengatakan bahwa sosoknya telah tewas dilalap kobaran Api Keabadian.


Dan dalam waktu yang amat lama itu tak ada manusia yang berani menapakkan kaki di Kota Renwu yang telah berubah menjadi daratan abu berapi. Bahkan burung imigran tak ada yang selamat setelah melewati tempat itu.


Beberapa nelayan atau kapal pembawa muatan lintas Kekaisaran karam ketika mendekati wilayah laut dekat Kota Renwu. Sebagian besar menghilang, yang kembali ke pesisir pantai laut mereka hanya bekas kayu terapung dan tong-tong minyak yang terapung selama berhari-hari.


Seseorang yang amat berarti bagi wanita itu, dari dirinya dia tahu semua berita tentang Xin Chen. Kehancuran Kota Renwu menjadi luka yang amat besar. Meski dia sendiri tak memahami apa yang benar-benar terjadi di sana.


Dari kejauhan matanya bisa melihat sosok pemuda itu. Bahunya tetap tegak, jauh berbeda saat dirinya masih begitu muda dulu.


Seseorang di balik tubuh sosok tersebut muncul tiba-tiba, bertekuk lutut sambil berucap pelan. Dia telah menerima berita dari bawahannya yang lain yang mengatakan bahwa Li Baixuan telah dikalahkan. Laki-laki itu sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda dirinya masih hidup. Begitu pun dengan apa yang wanita itu lihat saat ini. Matanya bisa melihat jelas meskipun dari jarak jauh. Dalam gumpalan debu dan pasir di tempat terakhir dia melihat Li Baixuan, tidak ada aliran darah yang mengalir dalam tubuh sosok tersebut. Dan juga, inti kehidupan yang biasanya terletak di tubuh Li Baixuan telah padam. Itu menandakan bahwa Satu Terkuat sudah takluk di hadapan Putra kedua dari Pedang Iblis.

__ADS_1


Kabar yang sangat mengejutkan itu tentu akan menjadi kabar paling menggemparkan seusai perang ini. Terutama bagi Kaisar Yin, laki-laki itu tak akan terima dan pasti akan membalas kan dendamnya. Pasalnya sosok Li Baixuan adalah salah satu pendekar dari wilayahnya yang begitu dihormatinya. Kehilangannya akan berdampak besar pada hubungan dua Kekaisaran nanti. Tak menutup kemungkinan bahwa Kekaisaran Wei akan bersekutu dan mengibarkan bendera perang kepada Kekaisaran Shang kelak.


Perkiraan-perkiraan dalam pikirannya bukan tanpa alasan. Namun mau bagaimana pun, laki-laki itu sendirilah yang mengatakan ingin turun tangan dalam perang. Dia amat yakin dapat memenangkan perang ini, tanpa satu pun kecacatan. Dan apa yang terjadi di hadapan mereka saat ini, Li Baixuan telah kalah. Ratusan tahun hidupnya telah berakhir di tanah Lembah Para Dewa. Tanah yang juga diperebutkan oleh dua Kekaisaran. Dan misi ini adalah misi terakhirnya dalam pengabdiannya menjadi Satu Terkuat yang begitu dihormati Di Kekaisaran Qing. Wanita itu menghela napas panjang.


Informasi itu diterimanya tanpa rasa kaget lagi. Melihat pertarungan intens selama waktu yang lama tersebut, tak menyangka laki-laki itu akan tumbang melawan musuh mereka. Ini adalah kabar yang mengguncangkan. Xin Chen telah melumpuhkan Satu Terkuat dari Kekaisaran Qing, orang yang membawa kehormatan dan merupakan lambang dari kekuasaan di tanah mereka. Li Baixuan lenyap di atas retakan tanah, tak ada lagi yang bisa menjangkau tubuh laki-laki itu.


Karena, di tempat pertarungan, yang tersisa dari Li Baixuan hanya abu dari jasadnya.


"Nona ... Tuan telah memberikan perintah kepada-"


Tatapan wanita itu beredar ke segala penjuru, menangkap sesosok pemuda berjalan mendekat ke tempat di mana Li Baixuan tewas. Langkahnya ragu. Wanita itu juga sangat yakin, Xin Chen telah menghabiskan lebih dari separuh kekuatannya untuk menghabisi Li Baixuan. Dan dia berhasil. Tapi apa yang menunggu pemuda itu di depan jauh lebih besar dari pada musuhnya Li Baixuan.


"Aku merasa kasihan padanya."


Langkah gontai pemuda itu. Wanita tersebut membayangkan anak kecil yang sama saat mereka menyeret ayahnya pergi, tatapan kosong. Ketakutan, marah, tak berdaya.


"Tapi, Nona. Tugas kita adalah untuk membantu Tuan mendapatkan apa yang dia inginkan. Orang itu ... Dia adalah kunci untuk mendapatkan benda tersebut."

__ADS_1


Tanpa sadar tangan wanita tersebut yang semula renggang mengepal, meski tak begitu erat. Dia tak mengerti jenis emosi apa yang tiba-tiba menyelinap di dalam hatinya.


Sekilas, bayangan seseorang penuh luka dan darah tengah memohon padanya membuat wanita itu tak sadar. Sosok di belakangnya beberapa kali memanggil hingga nada bicaranya meninggi.


"Ku harap Nona mengingat ucapanku. Tuan menaruh harapan yang amat besar pada anda. Kita harus menghancurkan semuanya dan fokus dengan tujuan yang Tuan inginkan. Maaf atas kelancangan saya, saya pamit."


Bisingnya suara angin di atas perbukitan seolah-olah ikut melenyapkan sosok yang berbicara pada wanita itu.


'Ku mohon, lakukan sesuatu. Kau ingat janjimu saat ulang tahunku yang ke sepuluh? Kau berjanji akan mengabulkan apa pun permintaan ku. Dan selama ini aku tak pernah meminta apa pun darimu ... Jadi, untuk pertama dan terakhir kalinya, aku meminta padamu-'


Tangannya menempel di topeng gagak, kepalanya berdenyut perih. Wanita itu menggeram tak tahan. Adiknya. Dia sangat menyayangi adiknya, tapi tak ada yang bisa diperbuatnya pada keadaan yang begitu kejam.


"Maafkan aku, Yu'er."


Bersamaan dengan itu angin lainnya datang, membuat ikatan rambut wanita itu terlepas. Rambutnya berterbangan ke segala arah, lalu di bawah topengnya setitik air jatuh.


"Jika diperintahkan untuk membunuh orang itu, aku akan melakukannya tanpa ragu-ragu. Apapun akan aku lakukan untuk membalas kebaikan Tuan yang telah menyelamatkan nyawamu dulu."

__ADS_1


__ADS_2