
"Aku akan ke Kekaisaran Wei dalam waktu dekat ini."
Xin Zhan terkesiap beberapa detik, baru menarik napas ingin menolak keinginan adiknya, Xin Chen sudah lebih dulu melanjutkan. "Aku sudah berjanji pada seorang tabib dari Kekaisaran Wei, dia memiliki cara menemukan obat penawar untuk ibu. Dengan syarat aku harus mengambil jamur api di Kota Renwu."
"Ini tidak masuk akal!"
"Kecilkan suaramu, kak." Xin Chen memperingati, takut-takut ibu mereka mendengar perbincangan ini.
Xin Zhan sudah tahu akar permasalahan ini pasti berujung ke sana, ke Kekaisaran Wei, sumber dari penyakit yang diidap Ren Yuan. Tapi pergi ke sana dengan resiko yang amat besar membuat Xin Zhan tak berani mengambil opsi itu walau dia tahu. Orang yang notabenenya adalah penduduk asli sana saja kesulitan untuk keluar dari Kekaisaran mereka sendiri. Apalagi orang asing seperti mereka. Bisa dibunuh dengan senjata mematikan.
"Kau belum tahu marabahaya yang hendak kau tantang, Chen?"
Xin Chen membalasnya dengan penekanan, "Aku lebih takut kehilangan ibu."
"Kau ini. Aku sedang mengusahakan cara lain. Berhenti mencari-cari urusanmu sendiri dan duduk tenang. Temani ibu. Hiduplah seperti orang normal."
Shui berbicara untuk mencairkan suasana yang agak menegangkan. "Si Chen ini, biasanya masalah yang datang padanya. Sekarang hidupnya damai. Mungkin dia bosan, dia mencari masalah sendiri. Betul tidak?"
"Ini bukan tentang cari masalah, Shiu."
"Shiu siapa oi," protes Shui. Xin Chen melanjutkan penjelasan pada Xin Zhan. "Aku mengajak kalian ke sini untuk mengatakan bahwa aku mungkin tak akan tinggal di sini. Aku yakin Kakak Zhan bisa menjaga Kekaisaran ini bersama ayah, bukan hanya dari musuh, termasuk dari para elit busuk itu." Kali ini Xin Chen beralih menatap Shui dan Huo Rong
"Banyak anggota Unit Satu telah tiada. Malam ini, aku menunjuk kalian sebagai pengganti kursi Unit Satu yang telah kosong kursi Bai Huang dan posisi ku."
Shui dan Huo Rong sama-sama tercengang. Mereka masih belum menangkap situasi.
"Tu-tunggu," potong Shui. Xin Chen mengeluarkan sebuah jubah hitam dengan bentuk bulan darah di belakangnya. Simbol bahwa mereka adalah anggota Empat Unit Pengintai, hanya saja si bagian depannya terdapat lambang istimewa serta nomor satu. Pertanda mereka adalah anggota inti.
"Shui menggantikan Bai Huang, kursi kedua. Dan Huo Rong, menggantikan ku sebagai Ketua sementara."
__ADS_1
"Kenapa aku?" Huo Rong jelas ingin menolak.
"Aku mendengar kau pernah menjadi seorang Sepuluh Terkuat di Kekaisaran Qing. Kau lebih paham cara menghadapi permasalahan dan menetapkan kebijakan-kebijakan yang menguntungkan kelompok."
Huo Rong menerima jubah pemberian Xin Chen. Sedikit ragu. Begitu pun dengan Shui, sebenarnya dia sudah lama menjadi bagian Unit Satu, tapi posisinya sebagai nomor dua sangat tidak tepat. Masih ada Lan Zhuxian yang jauh lebih baik darinya. Tapi ini adalah kehormatan besar bagi mereka. Terlebih untuk Huo Rong. Dipercayakan oleh Xin Chen untuk menjadi armada kelompok Empat Unit Pengintai. "Aku membutuhkan sedikit arahan tentang visi misi Empat Unit Pengintai, agar aku bisa memimpin ke arah yang benar."
Xin Chen mengangguk. Xin Zhan menyerobot agak kesal karena dicueki, "Lain kali kita berbicara. aku belum selesai denganmu adik kepala batu."
"Apa lagi yang ingin kau ributkan?"
"Kau tidak tahu apa-apa soal Kekaisaran Wei!"
"Pelankan suaramu-" peringat Xin Chen, dia membeku ketika melihat pintu kamar dibuka oleh Xin Fai yang baru saja pulang.
"Kekaisaran Wei? Hei, anak-anak, kalian belum tidur? Si Ye Long saja mimpinya sudah sampai ke surga, kalian mau begadang sampai kapan?"
"Ayah sudah pulang hahaha. Sebentar lagi, kami hampir selesai." Xin Chen bersikap biasa saja. Namun Xin Zhan langsung membocorkan rencananya kepada lelaki bergelar Pedang Iblis itu.
Tak perlu dijelaskan lagi. Wajah Xin Fai sudah menjelaskan semua kata-kata yang akan dia ucapkan.
"Ayah tak bisa membiarkanmu pergi."
Pemuda bermata biru itu menutup matanya, mendengar penolakan itu meruntuhkan keinginannya untuk pergi ke Kekaisaran Wei.
"Kau belum tahu situasi di sana seperti apa. Manusia-manusia tak normal berkeluaran. Mereka menularkan virus mematikan. Orang-orang di sana bisa saja menghukummu dan menjadikan dirimu kelinci percobaan." Tak selesai sampai di sana, Xin Fai kembali menjabarkan bahaya. Meski tidak semua bisa dikatakannya, tapi dia ingin Xin Chen memahami apa yang dirinya dan Xin Zhan takutkan.
"Kau bisa terlibat dalam berbagai hal berbahaya. Xin Zhan sedang mengusahakan cara untuk menciptakan obat tersebut. Kau baru sampai dua hari di sini, jangan berpikir untuk pergi seperti yang sudah-sudah."
"Aku sudah berjanji pada seseorang, Ayah. Ayah sendiri yang bilang laki-laki tak boleh mengingkari janjinya."
__ADS_1
"Tapi kau berjanji untuk menjaga ibu di sini, Chen," sangkal Xin Zhan.
"Menjaga ibu dengan dua Pedang Legendaris di tanganku?" ungkapnya tertawa getir, "Bahaya akan selalu ikut bersamaku. Aku tak ingin ibu terkena dampaknya. Jika ada yang harus pergi, orangnya bukan Ayah. Tapi aku sendiri."
Xin Fai tetap menolak. "Kau tidak bisa mengubah keputusan ku, Chen. Berikan waktu dua bulan, setidaknya. Duduk di sini dan jaga ibumu."
Pernyataan Xin Fai ditangkap lain oleh putra keduanya, "Maksud ayah, aku harus menunggu dua bulan sambil menunggu detik-detik terakhir usia ibu?"
"Apa yang kau bicarakan, Chen?"
Dirinya sendiri tak tahu mengapa kalimat itu keluar, pikirannya mengatakan bahwa penyakit di tubuh Ren Yuan akan semakin parah. Waktu Ren Yuan mungkin tak lama lagi. Dan yang membuatnya kesal adalah dua orang ini hendak menghentikannya yang ingin menyelamatkan wanita itu. Bukan hanya Ren Yuan saja, melainkan korban-korban lain yang tertular penyakit tersebut.
Sampai detik ini pun, ketiganya masih belum mengetahui bagaimana cara penyakit itu ditularkan. Sementara mereka tak terkena penyakit yang sama seperti Ren Yuan. Xin Fai yakin ada unsur kesengajaan yang terlepas dari pemantauannya.
Sebelum itu dia ingin menghentikan Xin Chen dari mengambil keputusan bodoh seperti mengantarkan jiwa raganya untuk menjadi bahan percobaan orang-orang gila di Kekaisaran Wei. Bukan sekali dua kali terdengar kabar bahwa orang Kekaisaran Shang yang nekat memasuki kawasan mereka langsung terpotong-potong dengan beberapa organ menghilang.
"Apa yang ingin aku katakan hanyalah aku ingin melakukan tugasku sebagai anak. Aku ingin menolong ibuku sendiri, haruskah kalian cegat seperti aku ingin merampok?"
"Tak ada yang menyuruhmu merampok. Apalagi pergi ke Kekaisaran Wei. Lupakan itu. Tidurlah dan makan dengan teratur. Ayah akan memastikan semuanya baik-baik saja."
"Tapi ayah lupa sesuatu." Xin Chen menggumam kecil, tapi Xin Fai dapat mendengarnya.
"Apa?"
"Lupakan."
Detik itu Xin Fai menutup pintu ketika Xin Zhan, Shui dan Huo Rong telah keluar dari kamar. Lelaki itu tahu apa yang ada di dalam kepala anaknya itu.
Sehebat apa pun dia melarang putra keduanya itu, seperti yang sudah-sudah, Xin Chen akan pergi mengikuti kemauannya.
__ADS_1
Xin Fai membuang napas gusar. Bisa-bisanya otak yang dia miliki diturunkan ke anaknya Xin Chen itu. Betul-betul kepala batu.