
Xin Chen mendecih, dorongan angin badai menghamburkan debu-debu dari tanah. Gelap. Nyaris tak ada sesuatu pun yang terlihat dengan mata. Roh Dewa Perang bertempur habis-habisan, dia berhasil menghancurkan sirip Api Keabadian di tubuh Naga Kegelapan. Meski tidak seratus persennya. Sejauh itu pertarungan mereka, Xin Chen baru teringat akan Pedang Iblis yang saat itu sedang tersegel dalam Garis Hitam milik Roh Dewa Perang. Juga dilengkapi dengan perisai roh terkuat miliknya.
Mustahil laki-laki itu bisa keluar dari sana tanpa sepengetahuan mereka. Xin Chen baru sadar pertarungannya dengan Naga Kegelapan telah membawa mereka sangat jauh dari tempat di mana Xin Fai berada.
Melihat Roh Dewa Perang sedang sibuk menghadapi Naga Kegelapan, Xin Chen berinisiatif kembali sendiri untuk melihat keadaan. Sejauh ini, perisai yang mereka buat tak hancur karena Xin Chen bisa merasakan sendiri jika perisai tersebut dirusak.
Xin Chen melayang cepat ke sebuah bola hitam besar yang dari bawah diikat oleh garis hitam berukuran raksasa. Sejenak dia terdiam. Dari dalam bola hitam itu, nyaris tak ada pergerakan apa pun. Dan dia tak bisa merasakan kekuatan dari dalam sana. Padahal untuk pendekar kuat seperti Xin Fai setidaknya memiliki hawa kehadiran kuat yang bisa dirasakannya, dengan jarak sedekat ini.
Tanpa pikir panjang Xin Chen menghancurkan perisai roh tersebut. Lantas kabut gelap berpencar ke segala arah, bercampur bersama udara lalu menghilang meninggalkan kekosongan hampa di dalamnya. Tidak ada siapa pun di dalam sana. Xin Chen membeku beberapa detik, tak menduga hal ini akan terjadi.
Apakah mereka melakukan kesalahan? Seharusnya mereka sudah mengunci Xin Fai di sini, jelas-jelas laki-laki itu masuk ke dalam perangkap mereka, tanpa sedikitpun kesalahan. Lantas apa yang sebenarnya terjadi ketika keduanya lengah?
Puluhan dugaan berputar di kepalanya, membuat Xin Chen kacau. Satu kekhawatirannya adalah ke mana perginya ayahnya sekarang. Dan sebenarnya dalam jarak beberapa ratus meter ke depan sana dia bisa merasakan sebuah kekuatan.
Rasa takut itu semakin membesar ketika Xin Chen memfokuskan inderanya, dia mengetahui itu adalah kekuatan Xin Fai. Artinya laki-laki itu sedang menyerang entah sesiapa yang pastinya tengah berada dalam situasi gawat di tempat itu. Tanpa berpikir panjang lagi Xin Chen segera mendekat, mewanti-wanti segala hal yang kemungkinan akan terjadi di depan sana.
Langkah Xin Chen terhenti, dia menapak di tanah. Hatinya hancur. Matanya membeliak nyaris tak percaya-di depan sana, Xin Zhan bertekuk lutut, mematung tanpa berkedip. Jiwa kesadarannya sedang berada di dimensi yang dimiliki Xin Fai, dan di depan kakaknya itu Xin Fai bertekuk lutut.
__ADS_1
Dengan tangan baru saja menusuk dada Xin Zhan dengan pedang.
Ke berapa kalinya, Xin Zhan sekarat. Mungkin jika sebelumnya dia masih bisa selamat karena keberuntungan, kesempatan keberuntungan itu datang kembali begitu kecil.
"Ayah?!" Teriak Xin Chen, suaranya meninggi dan langsung menghampiri Xin Zhan.
Xin Fai mundur begitu cepat sebelum Xin Chen mendekatinya. Putra Kedua Pedang Iblis itu berlutut sejajar dengan Xin Zhan, memperhatikan dalam-dalam bola mata Xin Zhan yang hitam kini berubah menjadi kelabu seolah-olah sisa kehidupan telah menghilang dari sana. Saat Xin Chen berusaha menggoyangkan pundak kakaknya, justru tubuh Xin Zhan yang tadinya beku seperti balok es rubuh dan jatuh di pangkuannya.
Tak percaya. Xin Chen tak bisa mempercayai matanya sendiri. Jika benar apa yang terjadi sekarang adalah mimpi, pasti mimpinya kali ini begitu panjang. Mimpi berperang dan kehilangan kakaknya. Tak mungkin, otak Xin Chen berulang kali memastikan bahwa apa yang dialaminya sekarang adalah kenyataan.
Tapi hatinya menolak bahwa detik itu dia kehilangan saudara kembarnya.
Tangan Xin Chen perlahan menggenggam tangan Xin Zhan yang mulai terasa dingin, sama seperti tangannya sendiri. Mata Xin Zhan masih terbuka, tanpa berkedip. Begitu kelabu, berbeda dengan mata hitam yang selama ini dikenalnya. Jari-jarinya Xin Chen bergetar, dia bahkan tak melihat segores pun luka lain du tubuh Xin Zhan selain bekas tusukan di dadanya.
Tapi mengapa kakaknya itu seperti baru saja digerogoti hingga mati mengenaskan?
"Kumohon ... Berhenti bercanda. Tidak lucu sama sekali, hahaha ... Kau selalu garing dalam hal bercanda ..." Xin Chen berusaha tertawa di sela-sela isak tangis yang mulai mendesak. Dia masih cengeng, Xin Chen mengakui itu meski Xin Zhan akan menertawakan nya.
__ADS_1
"Oi, oi ... Jangan menatapku seperti itu. Berkedip lah, atau genggam balik tanganku."
Pintanya mungkin terdengar aneh. Tapi Xin Chen benar-benar ingin kakaknya itu melakukan apa yang dia minta. Agar hatinya bisa tenang, kakaknya masih ada di sana menyelamatkannya. Tapi nihil. Bahkan satu menit telah berlangsung Xin Chen tak bisa merasakan bahwa Xin Zhan masih mendengarnya. Bibir Xin Chen bergetar.
Tetesan air jatuh membasahi pipi Xin Zhan. Tapi air itu bukanlah air hujan, atau air mata dari pemuda yang kini tak bersuara lagi itu.
Tangisan Xin Chen terdengar samar. Dia menunduk dalam-dalam, menyesali kelalaiannya sendiri, mengutuk diri mengapa dia tak datang melihat di saat kakaknya bertarung dengan nyawa di ujung tanduk. Dia marah akan keadaan. Sampai tak tahu bagaimana perasaannya sendiri yang begitu hancur. Untuk yang kedua kalinya dalam hidupnya, kehilangan seseorang dan jatuh terpuruk.
Luka itu adalah satu-satunya luka yang dapat membunuh kewarasannya. Xin Chen berteriak sebisanya, meluapkan emosi yang terus menggerogoti hatinya hingga berlubang-lubang. Tapi teriakan itu sama sekali tak menyembuhkan apa pun.
Luka permanen itu tak akan memiliki penawar selain ia mendapatkan kembali sumber dari luka itu.
Xin Chen tak mengakui bahwa dia kehilangan Xin Zhan, bahkan ketika dia tahu jantung pemuda itu sudah tak berdetak lagi. Xin Chen kalut, genggamannya pada tangan Xin Zhan semakin keras. Dia bisa menyentuh tubuh Xin Zhan meski dengan tubuh rohnya, namun kini, meskipun dia mampu menyentuh tubuh Xin Zhan, sosok kakaknya itu mungkin telah tiada. Pergi dari sisinya yang harus bertahan sendirian menghadapi perang ini.
Tak ada kata lagi yang mampu keluar dari mulutnya, Xin Chen kehabisan kata-kata nya ketika melihat mata Xin Zhan. Tangannya bergetar hebat, hatinya semakin perih, lalu perlahan di tutupnya mata Xin Zhan yang masih terbuka seraya berucap.
"Seharusnya aku menarik kata-kata ku kemarin. Aku tidak ingin menertawai jasadmu, ini menyakitkan sekali kau tahu. Kau justru membuatku menangis daripada tertawa."
__ADS_1
Xin Chen terdiam. Tak peduli lagi apakah Xin Fai masih akan menyerangnya dari belakang. Bisa saja laki-laki itu melakukannya, Xin Chen sedang berada di titik terlemahnya sekarang. Bahkan jika seorangpun pembunuh kelas teri sedang mengendap-endap menusuknya dari belakang, Seratus persen dirinya akan kena serangan tersebut.
Xin Chen membuang napas. Menatap ke tempat di mana dia bsia melihat Xin Fai berdiri. Kedua mata cokelat keemasan itu, juga meneteskan air mata yang sama sakitnya dengan Xin Chen.