
Seram.
Satu kata yang menggambarkan pemandangan di depan Xin Chen kali ini.
Dia mulai gelisah tak karuan sebab ketika sedang menyelesaikan sisa pekerjaannya, sosok itu kembali terbangun dengan wajah yang membuatnya merinding. Dia telah berdiri di depan pintu. Beserta aura hitam mengerikan di sekitar tubuhnya.
Baru sehari tak sadarkan diri, Rubah Petir kelihatan ingin mengamuk untuk yang kedua kalinya. Rantai petir di tangan Rubah Petir sesekali terlihat, kekuatan di dalam dirinya terbilang sangat berbahaya. Apalagi jika untuk kedua kalinya rubah itu ingin mengamuk, bisa-bisa seperti yang Huo Rong katakan. Hancur satu markas ini dibuatnya.
Xin Chen terpaku di tempatnya, hawa mematikan dari Rubah Petir membuat tubuhnya tak dapat bergerak.
Huo Rong yang sebelumnya menjaga Rubah Petir baru kembali dari mengambil air. Kaget, melihat rubah itu terbangun dan panik saat menyadari kekuatan petir kembali terasa dari tubuh rubah itu.
"Gawat, kita harus menghentikannya!"
Dia sampai tak mempedulikan air yang diambilnya tumpah, Huo Rong mendekati Rubah hati-hati.
"Guru, sadarlah-"
Rubah Petir menapakkan kaki perlahan-lahan, matanya bersinar terang. Gejolak amarah di matanya membara buta. Lan Zhuxian di belakang Xin Chen segera memberi instruksi agar para anggota lainnya bersiaga dan mengambil jarak paling aman. Untuk mengantisipasi amukan Rubah Petir.
Sesaat Rubah Petir menghilang. Huo Rong kebingungan. Lalu tiba-tiba sudah berada di hadapan Xin Chen. Tangannya terangkat, Xin Chen bersiap menahan serangan yang akan datang.
Shui dan Huo Rong tak sempat menghentikan Rubah Petir.
Tebasan menyakitkan menghentak pipi, paha, dan lengan Xin Chen bertubi-tubi. Dia mengaduh kesakitan, mencoba menahan ranting tipis yang entah mengapa terasa seperti jarum tajam jika digunakan Rubah Petir.
Terdengar bentakan tanpa jeda yang menyayat batin Xin Chen.
"Sudah aku bilang tidak usah mencari permata ku lagi! Kau ini buta huruf atau apa?! Sekarang aku harus repot-repot bangun dari kubur untuk memarahimu, murid dungu!"
"A-ampun, Guru. Hei, ini sakit sungguhan-"
Rubah Petir malah makin menambah kekuatan pukulannya, Xin Chen tak bisa mengelak lagi.
"Makan ini sakit!" marahnya semakin meningkat.
Mata Xin Chen sampai memelas, tak ada belas kasihan untuknya. Rubah Petir memasang wajah yang lebih mengerikan. Tatapannya seperti ingin menelan muridnya hidup-hidup.
"Ini sudah tahun berapa, kau bukan bocah lagi! Seharusnya kau pakai otakmu yang seluas daun padi itu untuk berpikir! Aku sengaja meninggalkan surat agar kau baca, tapi memang murid pembangkang. Yang dilarang itu yang dilakukannya!"
Benar, Xin Chen tahu permintaan terakhir yang ditinggalkan Rubah Petir di goa di mana dia menghembuskan napas terakhirnya. Pesan agar Xin Chen tidak usah mencari permatanya lagi. Mungkin dia ingin beristirahat.
Tapi Rubah itu tidak bisa beristirahat dengan dendam dan kemarahan yang masih menyala dalam permata miliknya. Benda itu terus memakan korban jiwa sebelum dikembalikan pada pemiliknya.
Mau menjelaskan panjang lebar pun Rubah Petir tak peduli, dia masih terus merepet-repet hingga membuat kepala Xin Chen pengang. Matanya mulai berkunang-kunang melihat jalan.
Sepertinya Xin Chen ingin menarik kata-katanya dulu. Dia tak merindukan omelan guru cerewetnya ini, belum-belum saja dia sudah tersiksa.
Tangan Rubah Petir berhenti menyiksa Xin Chen, dia mulai bertanya. Masih terasa jelas kemarahannya.
"Beri aku satu alasan kenapa kau menghidupkanku lagi."
"Karena aku dan semua orang termasuk para Siluman Penguasa Bumi membutuhkanmu."
Alasan Xin Chen tak membuatnya puas. Tapi Rubah Petir memilih berhenti mempermasalahkan hal itu, tubuhnya masih terasa sakit. Dia memang butuh istirahat.
"Membutuhkanku? Ck. Bilang saja kau kesepian tak ada gurumu."
"Aih, tentu saja aku merindukanmu. Adik kecilku yang manis."
Mata Rubah Petir berkilat menyorotnya, Xin Chen tertawa-tawa. Panggilan lucu itu memang sudah lama diberikannya, ketika mereka tak sengaja hampir ketahuan oleh musuh dan Rubah Petir menyamar menggunakan tudung jubah.
"Sekali lagi kau sebut itu, jangan pernah panggil aku sebagai gurumu."
Xin Chen berhenti tertawa. Tak berapa lama Huo Rong datang setengah berlari, terlihat lega saat tahu ternyata Rubah Petir tidak jadi mengamuk-atau memang baru saja mengamuk untuk memukul muridnya. Dia merangkul temannya yang lebih pendek itu sambil menyengir lebar.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan neraka, kawan?"
"Aku tidak mati sungguhan, lagipula kalau ada yang harus ke neraka itu adalah kau." Rubah Petir menyahut kembali, "Katanya tidak akan keluar dari persemayamannya sekarang malah menjadi babu murid dungu ini. Percuma hidup jutaan tahun otaknya tidak berguna."
Huo Rong merengut kesal, dia menarik napas dalam-dalam menepikan emosinya. Urusan berhadapan dengan Rubah Petir pasti dia yang sering mengalah. Jika diibaratkan dia hanyalah anak nakal dan Rubah Petir adalah ibu-ibu yang kerjanya merepet sepanjang hari. Jelaslah dia kalah.
"Banyak hal terjadi saat kau tidak ada. Tapi kau butuh istirahat sekarang, masuk kembali ke dalam."
"Sejak kapan kau boleh mengaturku." Rubah Petir hanya menggumam kesal, sepintas mendelik ke tempat Xin Chen.
"Ikut kau denganku. Jangan mejeng saja di situ. Entahlah kalau laku."
Shui menepuk pundaknya.
"Sabar, Chen. Sabar ... Orang sabar disayang-"
"Kau juga, Shui. Ikut sini."
"Oh, kebetulan aku punya banyak hal menyebalkan yang ingin kusampaikan padamu."
Shui, Xin Chen dan Rubah Petir duduk di salah satu kamar yang di dekat jendelanya diletakkan satu buah meja kecil.
Xin Chen tak pernah menyangka hal ini benar-benar terjadi. Rubah Petir kembali. Dia masih terlihat tak berubah seperti terakhir kali mereka bertemu.
Kepalanya menunduk, tangannya menyatu dengan meja.
"Maafkan aku."
"Aku membiarkanmu sekarat sendirian, aku meninggalkan semua hal seperti pengecut dan mendatangkan banyak masalah. Aku tak bermaksud untuk itu, Guru. Ini adalah kesalahan terbesarku. Maafkan aku ..."
"Tidak usah merasa bersalah. Aku tak membutuhkanmu untuk bisa berdiri. Aku sudah terbiasa bertarung untuk diriku sendiri."
Bohong. Xin Chen pernah mendengar dari Shui bahwa sebelum kematiannya Rubah Petir sempat mencari-cari keberadaannya. Kenyataan itu membuatnya kian terpukul.
"Berhenti meratap, untuk apa menyesali apa yang telah berlalu. Perhatikan jalan di depanmu, masih banyak batu yang harus kau lalui." Rubah itu melihat penyesalan terdalam dari pemuda itu. Sosok yang dulunya tak lebih dari bocah lemah yang dikungkung oleh hinaan dan cacian bahkan di lingkungan rumahnya sendiri.
Dia telah tumbuh dewasa, seperti dulu saat Rubah Petir melihat Xin Fai. Kekuatan di dalam dirinya berkembang makin besar.
Namun beribu maut yang dihadapinya di medan pertempuran, di mata Rubah Xin Chen masih seorang anak kecil labil yang membutuhkan arahan. Dia sering salah langkah. Sering kali ceroboh. Dan bahkan detik ini, pemuda itu sampai menunduk di hadapannya. Seperti menahan tangisnya.
Kemarahan yang tadi bergejolak perlahan surut. Rubah Petir tahu, pasti selama dirinya tidak ada pemuda itu menahan penyesalan bertubi-tubi dan menyalahkan diri sendiri atas kematiannya.
"Angkat kepalamu."
Xin Chen bergeming.
"Satu."
Rubah mulai menghitung.
"Tidak mau."
"Dua."
"Maafkan aku dulu, baru aku menurut."
"Aku tak akan memaafkanmu kalau kau tak menurut. Makin besar makin melawan kau ya."
Xin Chen akhirnya menurut.
"Kau menemukan pencuri Permata ini?"
"Kemungkinan orangnya sudah mati. Permata mu terkutuk, membawa musibah hingga ke Kekaisaran Wei."
Tertegun, Rubah Petir mengulang perkataannya. "Kekaisaran Wei?"
__ADS_1
"Kau tidak salah dengar." Xin Chen menambahkan, "Tempat itu adalah tempat paling mengerikan. Dan aku menemukannya di sebuah acara lelang."
"Kau pasti mengeluarkan banyak uang untuk membelinya. Mengingat kau orang yang kikir."
"Oh, mana ada. Aku membelinya seharga satu juta keping emas. Cukup murah daripada barang lain yang menyentuh angka triliunan-"
Bunga hias yang semula dipajang di atas meja kini berpindah ke tangan Rubah Petir, dia menghantam kepala Xin Chen dengan itu.
"Kau membelinya tidak ada harga begitu?"
"Mata uang di sana lebih besar daripada di sini. Satu juta keping emas di sana sudah setara dengan seratus juta keping emas di sini."
Tamparan bunga di pipinya hanya bisa diterimanya dengan lapang dada. Emosi gurunya itu kadang tidak stabil, Xin Chen harus melatih kesabarannya lagi jika sudah berhadapan dengan rubah itu.
"Sama saja murahan!"
"Omong-omong," potong Shui yang menyelamatkan Xin Chen dari penganiayaan. "Ada banyak kabar baik dan kabar buruk yang harus kau tahu."
"Katakan."
Rubah itu mulai serius mendengarkan Shui. Dimulai dari penyerangan yang dilakukan Xin Chen langsung ke Kekaisaran Qing, perang antara Kekaisaran Qing dan Kekaisaran Shang yang terjadi secara besar-besaran yang menewaskan ratusan ribu manusia. Lebih penting lagi, tumbangnya Naga Kegelapan yang menjadi akhir dari pertumpahan darah. Disertai kepulangan sang Pedang Iblis yang telah ditahan bertahun-tahun oleh Qin Yujin.
Rubah Petir mendengarkan bagaimana Xin Chen mendapatkan permatanya dan mencari penawar yang dibutuhkan Ren Yuan untuk penyakitnya.
Rubah Petir dapat membayangkan kengerian yang membayang setiap langkah Xin Chen selama berada di Kekaisaran Wei. Mahluk seperti mayat hidup yang berjumlah ratusan bahkan jutaan di Kekaisaran Wei telah menjamur menjadi momok mengerikan bagi para manusia yang bertahan. Mereka setiap harinya harus menghadapi kematian, kelaparan dan wabah.
"Aku merasa ganjil."
Tanggapan yang diberikan Rubah Petir disertai kecurigaan.
"Kau bilang, saat masuk kalian sampai tertangkap dan dibawa ke dalam labirin. Berarti akses masuk di sana tidaklah mudah. Mengapa saat pulang kalian bisa kembali dengan selamat?"
Satu pertanyaan yang membuat raut wajahnya sedikit berubah, Rubah Petir menangkapnya. "Kau menyembunyikan sesuatu."
Rubah itu sudah hafal betul perangai muridnya itu. Jika masalah tidak mendatanginya maka dia sendiri yang akan mencari masalah.
"Jangan sembunyikan apa pun dariku, kau tahu aku tak suka itu."
Ketegasan dalam kalimatnya membuat Xin Chen ragu. Shui menyimak, sama penasarannya dengan apa yang dilalui pemuda itu di sana.
"Aku ..." kalimatnya tertahan dalam kebimbangan, dia berusaha menerima segala konsekuensi dan melanjutkan. "Aku membunuh Kaisar Kekaisaran Wei, Kaisar Shi."
Ibarat petir di siang hari, pernyataan itu membuat keduanya diam beberapa detik sebelum memprotes tak habis-habis.
"Kalau cuma masalah biasa aku tak mempermasalahkan, tapi ini-!? Kau membunuh orang yang menjadi pemimpin di sana, kujamin suatu saat ini akan terbongkar. Dan kau tahu apa? Perang selanjutnya akan terjadi!"
Rubah Petir meninggikan suaranya. Dia memejamkan mata pelik, tak habis pikir dengan isi otak Xin Chen.
"Andai kau melihat kemalangan di sana ... Kau pasti juga ingin membantu mereka untuk kembali mendapatkan kehidupan yang layak."
"Tapi tidak dengan mengorbankan kehidupanmu!"
Setiap pilihan memiliki konsekuensinya sendiri. Xin Chen tahu benar apa yang dilakukannya, dan untuk sekali lagi, dia tak pernah menyesal telah melakukan itu semua.
"Jika aku jadi dirimu, aku akan langsung berpikir bagaimana caranya menyiapkan pasukan prajurit untuk perang selanjutnya."
"Anak Kaisar Shi tak akan melakukan itu. Jika aku tertangkap, maka rencana pembunuhan yang dia rencanakan akan ikut terbongkar."
"Maksudmu, anak Kaisar Shi yang merencanakan pembunuh Ayahnya sendiri."
"Benar. Tapi tetap ada gejolak besar jika orang tahu aku pembunuhnya. Aku sudah memikirkan soal itu, Guru tidak perlu khawatir."
Setidaknya Rubah Petir sedikit lebih tenang. Perlahan mencerna kembali semua yang telah diceritakan Xin Chen dan Shui.
Semuanya membaik. Xin Chen memperbaiki itu semua. Dia menatap muridnya itu, membuang napas lega. "Walaupun kau ceroboh, tapi untuk beberapa hal aku bangga memiliki murid sepertimu."
__ADS_1