
Pengobatan yang dilakukan untuk Xin Chen berlangsung lebih dari tujuh hari, bukan perkara mudah menangani penyakitnya. Xin Chen tak sadarkan diri sampai detik di mana dia telah berhasil diselamatkan. Namun Luo Mei memberikan beberapa nasihat padanya, jika suatu saat penyakit itu kembali lagi maka sebaiknya Xin Chen kembali ke Kuil Hujan.
Melihat bahan-bahan yang tergeletak di atas meja, Lang dapat mengira harga yang dikeluarkan Luo Mei bukan sedikit. Dia berterima kasih sebanyak-banyaknya, setidaknya tidak pulang dengan membawa anak sahabatnya dalam keadaan buruk. Serigala itu kini hanya duduk di dekat air mancur, melihat kesibukan di Kuil Hujan.
Tempat itu selalu mendung, jika hujan turun bisa sampai berhari-hari. Kedamaian di tempat itu membuatnya bisa menarik napas walau hanya sejenak. Xin Chen sudah dibolehkan keluar untuk bertemu dengan Lang.
Lang berbalik badan, melihat Xin Chen memakai pakaian serba putih seperti saudara laki-lakinya, Xin Zhan. Sangat berbeda sampai dia terdiam beberapa lama. Biasanya bocah besar itu terobsesi dengan pakaian hitamnya, sampai orang tak bisa membedakannya antara pendekar atau dukun. Xin Chen mengernyit.
"Nah, kenapa melihatku begitu? Jatuh cinta?"
Lang membuang muka dengan jijik. "Baju putih, muka pucat seperti ayam mengeram. Setan saja meloncat kaget kalau melihatmu."
Sepertinya Xin Chen tak bisa berharap sedikit kata-kata menyejukkan dari mulut silet itu, sekurangnya serigala itu mengatakan sesuatu soal kesembuhannya. Xin Chen duduk di salah satu kursi kayu yang berhadapan langsung dengan kolam serta air mancur.
"Ini mungkin sudah hampir dua bulan semenjak kepergian kita. Entah mengapa ... Aku merasa-" Xin Chen terdiam, tak bisa menggambarkan apa yang dirasakannya sendiri.
"Seperti sesuatu yang buruk sedang mengintai jauh di rumahku sana."
Lang hanya diam. Tak menjawab sepatah kata pun selain menikmati angin dingin dari badai hujan di Kuil tersebut. Xin Chen melihat tangannya, mungkin sekarang dia memang lebih baik dari sebelumnya. Kalau di Kekaisaran Shang dia tak perlu mencemaskan penyakit ini. Tapi sekarang dia harus memastikan bisa kembali dengan selamat ke Kota Fanlu. Membawa penawar Kristal Merah kepada Ibunya.
Dia tak bisa membiarkan wanita yang telah menyayangi dan menjaganya dari lahir itu menderita.
"Kau sering merasakannya?" Lang akhirnya mengeluarkan suara, meski tak melirik padanya sedikitpun.
"Terkadang," jawabnya.
"Terkadang Kakak Zhan bilang ketika dia merasakan keresahan tak wajar, di saat itu juga aku berada dalam masalah. Begitu juga sebaliknya."
"Mengkhawatirkan banyak hal hanya membuatmu tak bisa berpikir jernih," sela Lang sembari melanjutkan, "Anggap saja dia sedang merindukanmu."
__ADS_1
"Mungkin ..."
"Perjalanan pulang ini, biar aku yang membawamu. Aku tahu jalur paling aman untuk pulang-"
Omongan Lang terpotong tatkala keributan menjamur dari gerbang Kuil Hujan hingga ke bagian dalam, gedoran di gerbang Kuil yang amat nyaring seolah menjadi peringatan. Awalnya mereka mengira itu hanyalah perbuatan sekelompok terinfeksi, tapi pada nyatanya kedatangan prajurit dengan zirah merah mendatangkan kecemasan.
Terlebih Xin Chen, dia tak bisa berbuat banyak. Luo Mei mungkin tak tahu bahwa dirinya adalah buronan yang sedang panas-panasnya dijadikan incaran. Dia akan membawa bencana ke tempat yang damai ini-atau bahkan menciptakan pertumpahan darah.
Kemungkinan terburuknya, Kuil Hujan yang suci menjadi tempat pembantaian.
Membaca kerumitan di wajah Xin Chen, Lang menenangkan. "Kita mundur sejenak, jika memungkinkan keluar dari Kuil ini sampai mereka pergi?"
"Tanpa memberi tahu Guru Besar Luo Mei?"
Lang hendak mencekal, pandangannya terkunci pada sesosok lelaki tua dengan kharisma tinggi berjalan di jembatan penghubung antara sungai, baru kembali dari beberapa kepentingan di Kuil Keenam.
Lelaki itu berjalan ke arah mereka setelah mengetahui apa yang terjadi di depan sana. Pintu belum dibuka, prajurit itu masih belum dibenarkan masuk karena tak membawa undangan. Hanya saja mereka ngotot dan mulai membobol gerbang sambil menunjukkan kertas berisi perintah.
Luo Mei berhenti tepat di depan Xin Chen.
"Ikut aku."
Keduanya bingung, tapi tetap mengekori langkah Luo Mei ke perpustakaan. Luo Mei membuka sebuah ruangan rahasia yang letaknya berada di balik rak buku tinggi, sebelum keduanya masuk dia berpesan, "Jangan keluar sampai aku kembali."
"Anda tahu-"
Luo Mei menyuruhnya diam, menutup kembali tempat tersebut sampai yang dapat Xin Chen dengar hanyalah bunyi derap kaki yang kian menjauh.
Lang mengambil tempat untuk beristirahat selagi Luo Mei mengatasi keributan di luar. Sementara Xin Chen tak bisa tenang. Dia teringat akan kejadian di Perkemahan Tenggara, orang-orang yang ingin melindunginya mungkin akan menjadi korban kekejian budak pemerintah itu. Dia menajamkan pendengaran, memastikan tak ada pertumpahan darah di luar sana.
__ADS_1
Sampai sore menjelang, Xin Chen tak bisa mengetahui apa yang terjadi di luar. Tapi sesekali dia mendengar suara tapak kaki yang begitu kasar, menyusuri seisi perpustakaan dan menyerakkan barang-barang.
Malam harinya barulah Luo Mei kembali membukakan pintu masuk, yang pertama kalinya dilihatnya adalah wajah penuh cemas. Dia langsung diserbu pertanyaan.
"Semuanya baik-baik saja? Tidak ada yang terluka? Dan bagaimana bisa Anda tahu kalau aku diincar oleh mereka?"
"Tenanglah, anak muda. Tarik napasmu. Wajahmu seperti tidak bernapas selama empat jam."
Xin Chen mengurungkan pertanyaan yang ingin dilontarkannya lagi. Luo Mei menjawab dengan ketenangan, "Semuanya baik-baik saja. Orang itu takkan berani melakukan tindakan kekerasan di sini. Mereka sudah memastikan tidak ada apa-apa di Kuil kita."
"Tapi ... Tidakkah Anda membenci seseorang yang telah membunuh pemimpin kalian?"
Selagi berjalan di lorong kuil, Luo Mei menjawab. "Kaisar adalah sosok yang menjamin kehidupan rakyatnya, bukan menjadikan rakyatnya sebagai jaminan untuk kehidupannya. Bagiku dan semua orang yang menjadi korban, dia bukanlah seorang pemimpin."
Luo Mei tersenyum sejenak, "Aku berharap anaknya Shi Long Xu tetap pada ideologinya untuk mengubah Kekaisaran ini lebih baik. Dia pernah belajar selama beberapa tahun di sini. Beberapa hari sebelum kedatanganmu aku mendapatkan surat darinya, tentang dirimu. Dia bilang kau sedang mencari obat, sudah pasti kau akan mencariku."
Xin Chen akhirnya mengerti dari mana Luo Mei bisa tahu akan hal ini.
Bagi Shi Long Xu, orang-orang di luar sentral tak peduli orang kecil, kaya, pembelot atau organisasi militer adalah saudaranya. Sakit yang mereka rasakan adalah penyakit yang menggerogoti nuraninya. Xin Chen tak pernah menyesal membantu lelaki itu, meski sekarang dia harus menjadi buronan satu Kekaisaran.
"Percayalah, meski kau mengatakan hal serahasia ini kepada seluruh orang di luar sentral, tak akan ada satu pun dari kami yang membiarkan kau ditangkap." Luo Mei mengatakannya sambil menatap mata Xin Chen, seperti telah lama dibungkus oleh keputusasaan dan ketidakberdayaan. Hingga kini setitik pengharapan kembali muncul di Kekaisaran Wei.
"Imbalan miliaran itu tak akan sanggup membayar kedamaian di tanah ini. Uang itu tak membuat kami bahagia. Kami butuh tempat yang aman dan nyaman. Seperti beberapa tahun sebelum ini terjadi ..."
Xin Chen menarik napas lega.
"Tuan Shi menitipkan beberapa hal kepadaku. Aku telah menyiapkan kepulangan kalian, ini lebih aman daripada melewati jalan rahasia. Tapi kalian harus berangkat esok pagi."
"Bagaimana dengan penawar Kristal Merah?" Lang langsung bertanya ke intinya.
__ADS_1
"Tidak perlu khawatir soal itu. Karena pernah menelitinya semua ini tak memakan waktu yang banyak, aku akan menyiapkannya besok. Tidurlah. Bersiap untuk besok. Mungkin beberapa tamu akan datang ke sini."