
Ketika itu Xin Chen menyatukan kedua jarinya, seperti sebelumnya memfokuskan aliran kekuatan pada pikiran. Sensasi itu kembali datang, denyut di kepalanya yang terasa ganjil. Xin Chen tak bisa mengatakan sakit itu seperti luka fisik, lebih ke gangguan dalam pikirannya.
Saat dirinya memfokuskan perhatian pada kekuatan roh, sesuatu terbuka. Penglihatannya gelap total, sampai tak mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri.
Rubah Petir yang baru saja membereskan musuh dibuat tertegun, mata perak itu melihat empat titik di tubuh muridnya yang semuanya terhubung oleh garis yang berpusat pada jantung Xin Chen. Terdapat bentuk aneh yang tak dapat dijelaskan oleh kata-kata, tapi jika mengukur kekuatan tersebut Rubah Petir merasakan bahaya yang sangat besar. Potensi yang tak pernah dilihatnya sebelumnya.
Aliran kekuatan di tubuh Xin Chen memang kelihatan stabil, tapi aura mengerikan darinya tak bisa dibohongi lagi, para binatang yang kebetulan berada di dekat hutan berlari ketakutan.
"Demi apa ... Kau-" Rubah Petir bertambah kaget ketika melihat satu-satunya mayat yang tersisa bangkit. Tanpa bertumpu dan seolah-olah tak memiliki tulang. Dia diam tak bergerak, kepalanya tertunduk seperti akan patah. Xin Chen juga sama terkejutnya.
Pandangannya yang tadi gelap sempat berpindah ke pandangan lain. Di mana Xin Chen seolah-olah sedang melesat cepat masuk ke dalam tubuh prajurit itu. Dan saat tersadar dirinya masih berada di tempat yang sama.
Namun, yang berbeda adalah kini mayat itu telah bangkit.
"Apa yang kau lakukan, Chen?"
Xin Chen mundur.
"Aku tidak tahu-"
Mulut mayat itu menggeram ganas, dia mulai mengerang keras dan mengamuk sejadi-jadinya. Tingkah lakunya seperti binatang kelaparan, tapi dia tak menyerang Xin Chen sama sekali dan mulai memburu Rubah Petir. Xin Chen tak tahu cara menghentikannya. Tapi beruntung Rubah itu memiliki perisai sendiri yang membuatnya aman dari serangan mayat tersebut.
"Mata hitam itu, seperti dirasuki oleh kekuatan rohmu."
Dugaan Rubah Petir disambut langsung oleh Xin Chen yang menjelaskan apa yang dilihatnya barusan, Rubah Petir berusaha memahami apa yang dijelaskan dan mulai mencari dugaan yang paling masuk akal.
"Kekuatan rohmu mengambil tubuh yang telah kosong sebagai inangnya. Jika kau bisa mengendalikannya, maka kekuatan ini akan sangat berguna di masa depan."
__ADS_1
Xin Chen terfokus pada hal lain. "Tidak, ini hampir seperti yang terjadi di Kekaisaran Wei. Begitu mirip. Tapi yang kali ini, aku bisa melihat apa yang rohku lihat sebelum mereka masuk ke dalam tubuh mayat itu."
"Kau bisa mempelajarinya perlahan-lahan." Rubah itu memerhatikan manusia yang hanya bergerak tak karuan itu, berusaha menghancurkan perisainya dengan kekuatan lemah.
"Cari cara untuk menghentikannya."
Xin Chen menarik kembali kekuatan roh dalam tubuh mayat tersebut, hanya sekali coba dan tubuh itu langsung jatuh telentang di atas tanah. Tak bernyawa seperti sebelumnya.
"Mungkin aku mulai sedikit paham," gumamnya walau terdengar keraguan.
"Konsep yang menarik." Rubah itu memberi tanggapan sambil memutari tubuh mayat tersebut. "Kenapa tubuh terinfeksi lebih mudah dimasuki oleh kekuatan roh daripada tubuh mayat biasa?"
Satu pertanyaan yang mewakilkan seluruh pertanyaan di kepala Xin Chen. Dia menunggu asumsi rubah itu yang kini berhenti memutari sang mayat.
"Pada dasarnya roh-roh ini mencari tumbal untuk terus hidup. Ketika mereka merasakan banyak mayat di sekitar, mereka akan langsung agresif untuk mendapatkan makanan tersebut. Hal itu yang membuat kekuatan roh berubah tak terkendali ketika kau berada di Kekaisaran Wei. Ketika kekuatan roh tidak stabil maka mereka akan masuk ke dalam tubuh terinfeksi itu."
Xin Chen diam beberapa saat hingga dia merasa paham dengan poin yang dibicarakan Rubah Petir. "Semakin banyak mayat maka mereka semakin agresif?"
"Benar. Pelajarilah, karena hanya kau yang bisa memahami kekuatanmu sendiri. Sekarang kita bergerak, sebelum musuh datang dan memperlambat gerakan kita."
Rubah itu berjalan lebih dulu dibandingkannya, Xin Chen terus berpikir. Meskipun saat sedang bertarung atau dikejar-kejar ratusan prajurit, mencapai wilayah perbatasan jauh lebih sulit dari yang sebelumnya dengan keadaan dirinya diincar. Beruntung dia bersama Rubah Petir, rubah itu mampu bertarung bahkan tanpa menyentuh musuhnya.
"Kekuatanmu sudah pulih lagi?" tanya Xin Chen pada malam ketiga ketika mereka sudah begitu dekat dengan tembok tinggi besar yang menjadi perbatasan antara Kekaisaran Wei dan Kekaisaran Shang.
"Belum sampai dua persennya, tapi kalau untuk menghabisi keroco-keroco itu takkan berkurang banyak."
Xin Chen tersenyum pahit, dua persen itu itu tak akan berkurang meski rubah itu menghadapi seribu prajurit. Memang tak bisa dipungkiri, kekuatan spesialnya adalah kekuatan tanpa batas-dalam artian dia bisa menyimpan kekuatan yang sangat banyak.
__ADS_1
Tidak terdengar lagi Xin Chen bersuara, Rubah Petir menjadi sedikit penasaran dan menoleh ke arahnya.
Memang wajah itu terlihat datar, tapi mata biru itu menyimpan kesedihan yang berusaha dikubur sedalamnya.
"Perpisahan memang menyakitkan, tapi setidaknya kau masih memiliki kesempatan untuk kembali pada mereka saat semuanya telah selesai."
Wajah itu terangkat, "apakah kata selesai itu ada?"
"Percayalah, semuanya memiliki akhir ..." Lalu Rubah Petir melirik kepadanya, serasa diinterupsi oleh sesuatu. Muridnya adalah wujud dari Keabadian. Dia tak akan mati. Dan bisa saja, ketika umur Rubah Petir telah habis, pemuda itu masih menyusuri jalan di generasi yang berbeda.
Rubah Petir merasa, Xin Chen telah menyadari semua yang akan terjadi padanya.
"Kau kesepian?"
"Tidak." Xin Chen membalas singkat. "Hanya saja terkadang aku merasa bersalah. Aku ingin kehidupan yang normal ... Di mana aku bekerja di Kekaisaran dan kembali ke rumah, menjaga ibu dan ikut makan malam bersama keluargaku."
"Dan yang kau lihat di luar sini tak lebih dari hutan penuh marabahaya, bangkai manusia serta pertumpahan darah yang tiada habisnya." Kali ini Rubah Petir paham benar apa yang dirasakan muridnya, membuang pandangan ke atas langit di mana dia hanya melihat langit kosong tanpa bulan dan bintang. Sangat hampa. Seperti Xin Chen sekarang.
"Tapi jika aku tidak melakukannya, aku takut mereka harus melihat apa yang aku lihat sekarang. Itu lebih buruk. Karena itu aku memilih untuk mengikat marabahaya itu bersamaku, agar tak menyentuh mereka. Hanya saja aku lupa bahwa saat aku bersama mereka, itu artinya aku menyeret mereka ke dalam bahaya tersebut."
"Bagi mereka, kau adalah pahlawan."
"Tapi orang-orang Kekaisaran Shang mulai membenciku," sela Xin Chen. Terbayang akan tatapan penduduk Kota Fanlu terhadapnya.
"Chen," panggil rubah. "Pelaut yang ulung tidak terlahir dari air yang tenang, tapi terlahir dari ombak dan badai."
Gurunya itu kembali memberikan nasihat. "Tempaan itu bukan hanya dari musuhmu, tapi juga dari orang sekitarmu. Jangan sampai itu melemahkanmu. Tajamlah seperti pedang. Keras seperti perisai. Kau tidak butuh pengakuan agar bisa melindungi orang-orang. Mereka akan mengakuimu setelah kau melindungi mereka semua."
__ADS_1
Rubah itu berdiri ketika tengah malam telah menyusul, sesuai yang direncanakan mereka bergerak ketika tengah malam di mana kebanyakan dari prajurit telah beristirahat. Melihat muridnya masih duduk, tapi air mukanya jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Aku benar-benar bersyukur kau kembali, Guru Rubah."