Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 101 - Bakti dan Kesetiaan yang Hancur


__ADS_3

Ada begitu banyak hal yang harus diurus. Xin Fai sendiri tahu Xin Chen bukan menghilang, dia mungkin akan kembali jika dirinya telah siap. Walau begitu lelaki berjulukan Pedang Iblis itu tetap mengirimkan pasukan pencari, hingga anak keduanya ditemukan dia akan mengurus lebih dulu urusan yang lebih penting; menemui Kaisar Qin atas permintaan lelaki itu.


Rombongan Empat Unit Pengintai, Xin Zhan, Xin Fai, Shui, Huo Rong dan yang lain melewati sepanjang jalan kota, hiruk-pikuk tak henti-hentinya mengisi Kota Fanlu. Bunga-bunga yang ditabur dari rumah tinggi berhamburan di atas mereka.


Tapak kaki kuda memelan ketika mereka tiba di istana Kaisar. Kemegahan istana itu jauh lebih indah dari terakhir kali Xin Fai melihatnya. Mereka sudah berada di halaman istana yang amat luas, di kelilingi oleh barisan prajurit sepanjang jalan. Di ujung jalan, Kaisar Qin dan istrinya telah menunggu Xin Fai dan putranya.


Keheningan menyelimuti tempat itu dengan atmosfir menegangkan. Antara Kaisar Qin dengan kuasa penuh atas Kekaisaran Shang dan keputusannya untuk mengambil kepala Pedang Iblis saat perang.


Setibanya di hadapan Kaisar Qin, baik Xin Fai dan Xin Zhan sama-sama berlutut sebelah kaki. Seperti yang biasanya para pilar lain lakukan ketika menghadapi Yang Mulia. Namun kemuliaan yang selama ini Xin Zhan lihat dalam diri Kaisar Qin telah lama hilang. Kebaktiannya serta kepercayaannya pada lelaki itu telah hancur berkeping-keping.


"Syukurlah kalian kembali dengan selamat."


Ucapnya begitu singkat tapi di waktu yang bersamaan Xin Zhan tersinggung berat. Masih dalam posisi menunduk, Xin Zhan berniat membuka suara. Namun Xin Fai segera menahannya.


"Senang dapat bertemu kembali dengan Yang Mulia."


"Angkatlah kepala kalian. Pahlawan Kekaisaran ini memiliki kemuliaan yang sama denganku. Jika kalian tidak keberatan, aku ingin mengajak kalian dalam perjamuan makan malam nanti."


Mata Kaisar Qin seperti mencari-cari sesuatu di balik punggung Xin Fai dan Xin Zhan. Melihat kebingungan itu Xin Fai segera menjelaskan, "Putra keduaku akan datang malam besok. Dia sepertinya sedang tidak enak badan."

__ADS_1


"Begitu, aku sangat mengharapkan kedatangannya malam besok," ucapan lelaki itu tertahan sebentar. Dia mengalihkan tatapan menatap Xin Zhan yang terus berpaling muka sejak detik di mana Kaisar Qin berusaha menatapnya.


Ini tidak seperti Xin Zhan yang biasanya, pikir lelaki itu. Karena selama tujuh tahun ke belakang hanya Xin Zhan yang benar-benar berbakti untuknya, membantu Kekaisaran ini meski dia tak memiliki waktu istirahat untuk dirinya sendiri. Pengabdiannya tak pernah luntur.


Hanya dengan melihat mata hitam itu, Kaisar Qin dapat membaca isi pikirannya.


"Aku benar-benar meminta maaf atas keputusanku hari itu, untuk melenyapkan Pedang Iblis. Aku ingin menjelaskan semuanya besok malam dan meluruskan kesalahpahaman ini."


"Kalau sudah begini baru bicara soal salah paham."


Kali ini tampaknya Xin Zhan akan menggunakan mulut tajamnya itu untuk menyerang orang sekelas Kaisar Qin. Xin Fai tak bisa memperingati anaknya lagi, Xin Zhan sama sekali tak menengok ke arahnya.


"Apa maksudmu?"


"Saat kau butuh, kau memujinya setinggi langit. Sampai tak tidak butuh, kau memperlakukannya tak ubahnya monster. Meski kau tahu kami mengabdikan seluruh hidup hanya untuk Kekaisaran ini? Kepada kami saja kau tidak adil, lalu bagaimana kepada rakyatmu?"


"Hei, jaga omonganmu!" seru petinggi di sebelah Kaisar Qin dengan nada tinggi. Sontak suaranya memicu keributan, prajurit siaga dengan tangan memegang pedang.


"Apa yang perlu ku jaga dari omonganku? Bukankah semua benar adanya?"

__ADS_1


Kaisar Qin mengangguk singkat. Tak ingin masalah berlarut-larut kian memanas, dia mengakhiri pertemuan mereka dengan salam singkat. "Kehormatan besar untukku jika kalian datang di perjamuan malam lusa. Aku akan menceritakan kronologinya padamu, Pedang Iblis," ucapnya terpotong. Kaisar Qin beralih pada Xin Zhan. "Terkhususnya pada anakmu, Xin Zhan."


Sebelum Kaisar Qin menutup salam singkatnya, Xin Zhan telah berbalik badan dan pergi begitu saja dari sana.


Xin Fai menatap punggung anaknya, sedikit terkejut akan sikap tidak sopan yang baru saja dilihatnya. Namun di sisi lain Xin Fai sadar, anak pertamanya itu telah melalui banyak hal menyakitkan yang membuatnya belajar. Dia berubah bukan karena maunya. Akan tetapi akan keadaan yang memaksanya berbuat kejam. Untuk bisa bertahan hidup, kadang manusia harus egois.


Keterkejutan masih tampak kentara di wajah para petinggi dan pengawal Kaisar. Lelaki yang begitu disegani itu berusaha memahami keadaan Xin Zhan dan tidak memikirkan terlalu jauh. Dalam sekilas, mata lelaki itu sempat terkunci di tempat di mana patung Pilar-pilar Kekaisaran dipajang. Seperti ada yang aneh. Namun atensinya ditarik ke hal lain. Mereka harus segera kembali ke istana untuk menghadiri rapat tertutup.


Kepulangan Xin Fai mungkin adalah kabar baik bagi penduduk Kekaisaran Shang. Tapi berubah jadi berita buruk bagi bangsawan dan para elit kekaisaran. Ini semua tentang posisi mereka yang bisa saja tergeser. Kaisar Qin tak menginginkan adanya bentrok di dua kubu. Maka yang menjadi penentuan nasib Kekaisaran Shang ke depannya adalah ketika perjamuan malam yang akan datang. Sampai saat itu tiba, mungkin para bangsawan elit itu akan terus menggigit jari, ketakutan.


'Kembalinya kalian akan menegakkan kembali pilar yang telah roboh, tapi ...' batin Kaisar Qin, dia terhenyak akan bayangan hitam yang melintas cepat di atas istana. Tak mungkin matanya salah melihat, tapi ketika dirinya melihat sekeliling tampaknya tak ada yang menyadari fenomena yang baru saja dia lihat.


Kaisar Qin berjalan menuju istana diikuti yang lain dengan hati tak tenang.


Di sisi lain, ada seseorang yang sangat ingin Xin Zhan temui saat ini. Yaitu ibunya, pikirannya tak pernah lepas akan sosok wanita tersebut. Kekhawatiran akan kesehatannya selalu membayangi wjaah Xin Zhan sepanjang jalan.


Sebelum berperang, Xin Zhan berpesan pada bibinya dan para pelayan untuk menjaga ibunya. Serta memberikan obat secara rutin untuk wanita itu. Dia hanya berharap semua berjalan dengan baik selama dirinya tidak ada di Kota Fanlu.


Diikuti oleh Xin Fai yang mengejarnya terburu-buru dari belakang, akhirnya mereka tiba di depan sebuah rumah yang di depan pekarangannya ditumbuhi bunga-bunga serta obat. Terlihat sunyi sepi dari luar. Keindahan rumah itu masih sama seperti terakhir kali Xin Zhan pergi pamit pada ibunya.

__ADS_1


Bertahun-tahun hidup di rumah yang hangat itu, Xin Zhan menyadari bahwa tempat itu jauh lebih dingin daripada biasanya. Beberapa tanaman layu. Tanda tak pernah disiram sejak seminggu lebih, sisa tanaman bertahan hidup dengan mengandalkan hujan yang sering turun akhir-akhir ini.


Baru saja Xin Zhan menapakkan kaki pada jalan setapak yang ditumbuhi bunga hias, seseorang keluar dari muka pintu, wajahnya pucat pasi. Mulutnya segera terbuka saat melihat Xin Zhan. "Tuan Muda-! Akhirnya Anda kembali, Nyonya Ren tidak bernapas! Ku mohon Tuan Muda, lakukan sesuatu!!" Air mata bercucuran sudah di wajah pembantu itu. Suaranya bergetar hebat.


__ADS_2