Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 164 - Angan dalam Semu


__ADS_3

Dua orang yang telah tiada dikuburkan dengan layak, pagi berikutnya Luo Mei telah menunggu kedatangan Xin Chen saja di ruang membaca yang dipenuhi buku di rak. Dia meminum tehnya sambil merenung sampai Xin Chen masuk ke dalam.


"Silakan duduk."


"Sebelumnya perkenalkan namaku Luo Mei."


"Aku Chen. Panggil saja begitu."


"Luo Li itu, dia adalah anak dari adikku. Begitu keras kepalanya ketika hendak mencari satu obat yang mungkin bisa menjadi jawaban untuk penyakit yang melanda Kekaisaran ini ..."


Dia menyodorkan kue-kue dan makanan lainnya kepada Xin Chen, pemuda itu menolak halus dan memilih mendengar tentang Luo Li lebih jelas.


"Kami seperti sedang berada di ambang keputusasaan," tegarnya seraya menggoyangkan air di dalam cangkir. Menatap pantulan wajahnya yang telah menua, dia telah menghabiskan begitu banyak waktu untuk menemukan penawar dan mungkin sampai ajal menjemput semua itu hanya angan belaka.


"Ada penyakit tapi tak ada penawar. Aku sampai merindukan sebuah situasi di mana orang-orang berjalan dengan damai di desa, makanan yang banyak serta hiruk-pikuk di pasar. Hal sesederhana itu, sekarang menjadi surga yang sangat dirindukan."


Tatapannya seakan-akan mengatakan bahwa di Kekaisaran Shang, surga yang dimaksudnya dapat ditemukan di mana pun. Di sana berbeda dengan Kekaisaran Wei. Andai dia ingin ke Kekaisaran Shang, prosedur dan persyaratan yang ditempuh sangat panjang dan belum tentu pula dia diberikan izin.


"Luo Li pergi keluar hanya modal nekat saja. Karena berita dari seorang imigran dari luar yang mengatakan terdapat sebuah obat mujarab yang tumbuh di sebuah kota terbakar oleh api yang tak pernah padam. Aku sempat mengira berita itu tak lebih dari bualan pendongeng. Tapi hari di mana Luo Li menunjukkan Jamur Api yang dibelinya dengan seluruh uangnya. Dan aku berhasil menciptakan satu obat, dan mampu menyembuhkan satu terinfeksi secara total ..."


Luo Mei menjeda sejenak. "Kami terbatas di bahannya, untuk mendapatkan satunya saja harus mengeluarkan uang dalam jumlah tak main-main. Dan Luo Li nekat pergi ke tempat di mana Jamur Api itu berada. Dia tak mengatakan apa pun dan langsung kabur dari kuil. Sejak kepergiannya aku selalu mendoakan keselamatannya."


Luo Mei menangis pelan, matanya yang telah sebagian memutih kini berair. Dia sampai berhenti berbicara beberapa saat.


"Luo Li pastinya menginginkan sebuah penawar untuk menyelamatkan jutaan orang di Kekaisaran ini. Dia gugur sebagai seorang pahlawan."


Xin Chen mengeluarkan Jamur Api dan meletakkannya di sisi meja, jumlahnya terbilang cukup banyak. Luo Mei semakin membatu, setengah tak percaya ketika mendapati tanaman itu tergeletak di depannya. Jika diuangkan sudah pasti dia tak mampu membayarnya.


"Bagaimana bisa Luo Li mendapatkan barang seberharga ini ...?"


"Aku dan dia membuat kesepakatan."


Luo Mei mendengarkan dengan serius.


"Aku mengambil Jamur Api ini dari Kota Renwu dan sebagai imbalannya dia akan membawaku bertemu denganmu. Agar menciptakan sebuah penawar untuk penyakit Kristal Merah untuk ibuku."


Xin Chen menambahkan, "Dan Luo Li juga telah menyelamatkan ibuku dari kritis."


Sebenarnya Luo Mei tak mempermasalahkan apa pun tapi nama penyakit yang disebutkan Xin Chen garis-garis di wajahnya berkerut pelik.


"Aku bisa saja menyanggupi ini, karena kau telah memberikan Jamur Api yang begitu berharga ini secara cuma-cuma. Hanya saja ..."

__ADS_1


"Hanya saja apa?"


Mulut lelaki tua itu terkatup rapat, menimbang-nimbang kalimat yang hendak dikeluarkannya dan khawatir jika dia mengatakan yang sebenarnya Xin Chen akan membatalkan kesepakatan ini. Baginya Jamur Api ini sangat penting.


"Aku pernah meneliti tentang penyakit itu dan menggunakan beberapa tubuh penderita untuk dijadikan percobaan, bertahun-tahun yang lalu ... Tapi, semuanya berakhir dengan jalan buntu."


Jawaban yang tak pernah diharapkan Xin Chen akhirnya keluar. Dia menelan ludah, sudah sejauh ini langkahnya berjalan dan mengantarkannya pada satu-satunya harapan yang tersisa.


Hatinya sakit ketika melihat lelaki itu sama sekali tak menunjukkan harapan atas penyakit ibunya.


"Tapi, yang kuherankan. Bagaimana bisa ibumu terkena penyakit itu? Apalagi kau pasti bukan dari sini. Kau dari Kekaisaran Shang, bukan? Kemungkinan dia tertular hanya nol koma sekian persen. Kecuali ada unsur kesengajaan di dalamnya."


Dugaan Luo Mei dibarengi dengan penjelasan lain soal Kristal Merah, Xin Chen tak bisa menangkap seluruhnya karena pikirannya tertuju ke Kekaisaran Shang dan siapa-siapa saja orang yang patut dicurigai.


Ucapan Luo Mei kiranya menghadirkan kekhawatiran berlebihan di kepalanya. Dan Xin Chen mengkhawatirkan Xin Xia, terakhir kali bibinya itu diberikan obat mencurigakan oleh Ren Su. Dan selama ini dia sering mendengar sebelum ibunya sakit Ren Su yang serig datang ke rumah dan memberikan banyak minuman herbal kepadanya.


Xin Chen memejamkan mata pusing.


"Hei, kau mendengarkanku, Chen?" Lelaki itu tersadar lawan bicaranya tak lagi mendengar apa katanya.


"Ah iya. Aku hanya sedikit kepikiran."


"Tapi masih bisa dicari?"


Luo Mei berdiri tak langsung menjawab, mengotak-atik isi rak dan tak menemukan apa yang dicari.


Lelaki itu mengambil tangga yang cukup tinggi di pojokan, Xin Chen sampai menahan napas melihat orang seumurnya memanjati tangga itu seperti anak muda. Tapi saat turun Xin Chen sempat mendengar bunyi tulang, Luo Mei menahannya sambil meringis kecil.


Dia membawa sebuah buku tebal berwarna merah, banyak kertas di dalamnya. Dan diikat dengan tali khusus agar tak mudah dibuka. Luo Mei membukanya perlahan, bibirnya yang berkeriput mulai mengeluarkan suara.


"Hanya satu bahan terakhir yang dibutuhkan untuk menyempurnakan penelitian ini. Tapi ini bukan perkara mudah ... Aku telah mengirimkan belasan orang terbaik untuk mendapatkannya, tapi nihil."


Dia menggeleng-gelengkan kepala, menunjukkan ketidakmungkinan sambil bercakap, "Taring Rusa Keledai."


Baru mendengar namanya saja sudah aneh, Xin Chen menyimak Luo Mei yang tengah membuka lembar demi lembar buku tersebut. Dia menunjuk salah satu halaman, di mana terdapat lukisan seekor makhluk setengah rusa dan bermuka keledai. Corak tubuhnya berbeda dari rusa kebanyakan. Terdapat tanduk dan gigi hewan itu runcing seperti harimau.


"Tak ada yang tahu apakah hewan percobaan itu masih hidup atau tidak. Mungkin sudah mati terbunuh atau kalah dengan siluman terinfeksi lain. Rusa keledai memiliki sebuah keunikan dalam cairan tubuhnya. Tubuhnya bersinar di malam hari, tapi dia berlari jauh lebih kencang daripada hewan tercepat mana pun."


Luo Mei menjelaskan sisanya setelah menghabiskan minuman. "Dia hanya ada di Laboratorium A-3. Tempat itu adalah mimpi buruk untuk orang Kekaisaran Wei. Hanya orang tidak waras yang mau kembali melihat keadaan di sana."


"Mengapa?"

__ADS_1


Luo Mei meringis, ngilu hatinya mengungkit peristiwa berdarah yang sempat menjadi berita paling tragis di Kekaisaran ini. Bagaimana tidak, tujuh tahun yang lalu sebelum semua ini dimulai, Laboratorium A-3 yang terletak di sebuah pedesaan kumuh padat penduduk tiba-tiba kelepasan satu manusia percobaan yang membawa penyakit menular.


Setelah itu, seperti bom yang meledak, wabah mengerikan dimulai. Semuanya berawal dari Laboratorium A-3. Dan ketika ditelusuri, di dalam laboratorium itu ratusan bahkan ribuan manusia dibunuh dan dijadikan kelinci percobaan.


Tak memakan waktu seminggu, satu desa itu hancur oleh wabah mengerikan. Puluhan mayat berjatuhan dan dibiarkan membusuk dengan bertumpuk-tumpuk hingga dikerumuni lalat serta ulat. Penyakit baru mulai berdatangan dan menyebar sampai ke pelosok terjauh.


Sempat dikabarkan masih ada yang bertahan di desa itu, tapi kabar lain mengatakan bahwa desa itu kini menjadi tempat pembuangan.


Siapa pun yang terkena penyakit atau tergigit akan dibuang dan tak dibiarkan pergi dari sana sampai mati. Dalam artian lain, desa tersebut tak lebih dari pemakaman massal mayat yang sama sekali tidak dikuburkan.


Kini Laboratorium A-3 dibiarkan telantar, bahkan sisa percobaan lainnya tak sempat dimusnahkan dan mungkin masih hidup di dalamnya.


Luo Mei menyatakan jika Rusa Keledai itu kemungkinan ada di dalam Laboratorium A-3 atau mungkin sudah berkeliaran di sepanjang desa. Mengingatkan Xin Chen ketika dia masuk ke Laboratorium B-1. Pengalaman terburuknya tentang sebuah ruangan sempit dipenuhi terinfeksi mematikan. Dia akan menghadapi hal semacam itu lagi.


"Aku akan ke sana."


Ketakutannya sirna ketika mengingat ibunya, Xin Chen menguatkan dirinya sendiri. Dia tak bisa mundur dan inilah pilihan satu-satunya jika ingin menyelamatkan Ren Yuan.


"Kau sungguh anak yang berbakti pada ibumu." Luo Mei hampir tak mempercayai bagaimana Xin Chen bisa yakin untuk pergi ke sana setelah dia menjelaskan semua hal terburuk yang akan ditemuinya di sana. Sudah jelas desa itu adalah titik awal wabah dimulai, keadaannya jauh lebih parah dari apa yng Xin Chen pernah temukan.


Tapi Luo Mei tak bisa melarang. Dia menyetujui sambil berpesan beberapa hal.


"Berhati-hatilah, mungkin masih ada beberapa penjaga atau orang-orang jahat yang berkeliaran di sana. Mereka bisa saja berbahaya."


"Kau akan membawa Serigala itu bersamamu?"


Xin Chen mengiyakan, disambut oleh kecemasan yang begitu terang-terangan ditunjukkan Luo Mei.


"Aku tak menyarankan itu. Dia tak akan selamat menghadapi banyak hal mengerikan di sana. Para peneliti gila berserakan seperti sampah, mereka haus darah siluman sepertinya. Jika tak ingin hal buruk terjadi, pilihan terbaik adalah tidak membawanya ke sana."


"Tapi sepertinya aku tak akan bisa menghentikannya dari mengikutiku. Serigala itu adalah peliharaan ayahku, dia pernah hidup di sini beberapa tahun dan hafal betul akan marabahaya. Aku akan bertanya padanya, jika dia bilang ikut maka aku tak akan melarangnya."


Mendengar jawaban Xin Chen, Luo Mei mengangguk paham. Dia mengakhiri pembicaraan dengan sedikit informasi lainnya. Dan Xin Chen sendiri sudah mengatakan bahwa dia akan pergi secepatnya.


Xin Chen kembali ke kamar di mana Lang telah menunggu untuk mendengar hasil diskusi dengan Luo Mei. Mengingat tabib tua itu tak mengajaknya ikut bersama Xin Chen. Wajah kesalnya membuat Xin Chen nyaris tertawa.


Xin Chen memegang kepalanya, matanya buram seketika dan dalam beberapa detik setelahnya dia mulai kehilangan kendali seperti sebelumnya. Urat biru serta merah muncul di wajahnya, Lang berdiri dan segera menenangkan sebisanya.


Xin Chen menarik napas kesusahan, bola matanya menatap panik ke pergelangan tangannya yang makin parah. Dia akan kehilangan kendali sebentar lagi. Xin Chen berusaha melawan tapi sakit yang dideranya sudah jauh lebih mengerikan dari yang terakhir kali. Tubuhnya ambruk.


Penyakit itu kembali. Lang mulai bertanya-tanya, seharusnya Xin Chen sembuh ketika dibawa ke rumah Dai Cho. Tapi nyatanya, Xin Chen hanya sembuh sementara. Biru di matanya perlahan memudar, Lang makin khawatir. Tapi beruntung Luo Mei mendengar kegaduhan tersebut dan langsung memberikan pertolongan untuknya.

__ADS_1


__ADS_2