Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 22 - Titik Penghabisan


__ADS_3

Lan Zhuxian bertarung melawan lima orang sekaligus. Tak beda dengan anggota Empat Unit Pengintai. Mereka bagaikan diterjang banjir manusia yang tidak ada habisnya. Satu per satu rekan mereka tewas, tak terhitung jumlah dari prajurit yang telah terbunuh. Saat salah satu serangan masuk hendak menusuk mata Jun Xiang, Yun Shan segera menepisnya dan membalikkan serangan.


Beberapa Anggota inti Empat Unit Pengintai terkumpul di tengah-tengah pusaran musuh. Lan Zhuxian, Yun Shan dan Jun Xiang.


"Apa kalian melihat Senior Bai?"


Yun Shan berteriak sambil melirik kanan kiri cepat, darah yang merembes deras dari bahunya sama sekali tidak dia pedulikan. Jun Xiang dan Lan Zhuxian sama-sama menoleh.


"Saya sempat melihatnya di Utara. Tapi ..."


"Ini benar-benar perang yang mematikan ..." Jun Xiang tak mampu berkata-kata lagi. Jika disuruh menggambarkan seberapa mengerikan perang di depan mata mereka, ibaratnya neraka berisi manusia yang saling kelaparan. Membunuh demi bisa menang dan pulang untuk mengisi perut.


"Kita harus menarik pasukan ... Jika tidak salah satu pihak akan mati." Yun Shan mundur beberapa langkah ragu.


"Tidak bisa!" Lan Zhuxian segera menepis mentah-mentah. "Jika kita mundur, orang-orang itu akan maju memasuki Kekaisaran Shang dan menggempurkan perang di kota-kota. Bukankah sudah dikatakan sebelum perang ini dimulai, perang ini adalah perang sampai titik penghabisan. Tidak ada kata mundur sebelum salah satunya jatuh."

__ADS_1


Lan Zhuxian tak mengingat lagi seberapa lapar perutnya saat ini, atau seberapa lelah tubuhnya menghadapi musuh-musuh. Mereka yang dapat bertahan di detik itu adalah sisa-sisa dari manusia penuh darah yang memiliki keinginan bertahan hidup kuat.


"Benar. Ayahku tak menyarankan mundur sebagai pilihan. Bukannya selamat, yang ada kita mati semua dibuat mereka. Kita mundur, maka jalan masuk akan terbuka."


Situasi menyedihkan kembali membuat hati mereka teriris. Seumur hidup tak satu pun dari mereka pernah melihat perang yang sesungguhnya. Tangisan laki-laki tua yang lelah bertempur, bunyi riak air yang penuh dengan darah, atau denting pedang yang tidak ada habis-habisnya mengisi lubang telinga mereka.


"Kita tidak sedang bertarung sia-sia." Ucapan Lan Zhuxian membuat kedua temannya tertegun sejenak. "Saya berada di sini untuk Tuan Muda. Mati atau hidup bukan permasalahan bagi saya. Tapi membantunya dari belakang adalah kewajiban yang harus saya lakukan."


Perlahan cengkramannya di pedang mengerat. Lan Zhuxian mengokohkan pijakannya kembali.


"Benar-benar titik penghabisan."


Tanpa diduga-duga, di atas bukit yang tak jauh dari medan perang bagian Utara telah dipenuhi oleh ribuan pemanah. Mereka mengendap-endap di tengah gelap yang sunyi, mengambil nyawa dalam diam lalu membidik nyawa lainnya tanpa keraguan.


Pasukan dari Kekaisaran Qing yang melihat hujan panah segera berlindung. Paling mengerikannya salah satu anak panah melesat dari jarak yang amat jauh, menembus perisai tebal seorang prajurit hingga menembus jantung.

__ADS_1


Kejadian itu membuat laki-laki lainnya terbelalak tak percaya dan nyaris menjatuhkan perisai mereka.


"Ini gila! Orang-orang Kekaisaran Shang sudah gila!"


Bersamaan di tempat lain, kekacauan kembali menguasai medan tempur. Empat puluh siluman burung beterbangan memutar, berkoak menyanyikan lagu kematian. Di atas mereka terdapat manusia-manusia dengan pakaian khas pemburu yang membawa busur panah serta muatan berat yang ditutup dengan jerami. Tak ada yang mengerti apa tujuan dari empat puluh siluman burung dan pemburu tersebut.


Para pemburu mulai membidik satu per satu anak panahnya. Beberapa yang terkena hanya bisa terdiam, menjerit kesakitan lalu tewas dengan mulut penuh darah hitam. Mereka keracunan.


Satu per satu tong besar di jatuhkan dari atas, para pemburu membidik tong itu saat hampir menyentuh tanah kemudian terjadi ledakan yang seketika membuat prajurit di bawah mereka kacau.


"Ini lebih kepada pembunuhan massal. Taktik kotor macam apa ini?!"


Salah satu pendeta di belakang Zhaohuo memprotes keras tapu tak ada yang bisa diperbuatnya selain melihat tak percaya.


"Ahli strategi mereka pasti orang sinting yang berani melucuti pakaiannya di depan banyak orang." Yang lainnya menanggapi sambil menggeleng-gelengkan kepala, sampai menahan napas saat ledakan demi ledakan berhasil menghancurkan formasi.

__ADS_1


Zhaohuo akhirnya menanggapi dengan dingin. "Nama Agung Sang Ahli Strategi akan binasa setelah melihat strategi perang sekotor ini."


__ADS_2