Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 251 - Kekuatan yang Membakar Matahari


__ADS_3

Gempuran habis-habisan dilakukan oleh lima prajurit yang tersisa di salah satu kota. Simbol pada seragam yang melambangkan diri mereka seorang prajurit telah tertutup oleh noda darah. Dua di antara mereka sebentar lagi akan berubah selayaknya terinfeksi.


Pertempuran hingga titik penghabisan itu mulai menemui akhir, yang semula hanya puluhan terinfeksi berubah menjadi ratusan dan akan terus bertambah. Tiga teman mereka mulai menunjukkan perilaku aneh dan akhirnya berbalik menyerang keduanya.


Malang, nasib salah satu dari mereka tergigit dan seketika mati menjadi santapan. Satu-satunya yang bertahan mundur, tak akan sanggup lagi menghadapi ratusan terinfeksi itu. Memang dari awal mereka berjumlah 75 orang, tapi tak butuh waktu seminggu jumlah mereka berkurang drastis dan bukannya menghabisi terinfeksi itu malah menambah jumlah mereka.


Dia berlari luntang-lantung, hingga kakinya tersandung tangan mayat. Wajahnya pucat pasi, ketika melihat ke belakang tangan-tangan penuh darah itu sebentar lagi akan mengoyak dagingnya.


Sebuah panah melesat cepat dari balik punggungnya, sang prajurit buru-buru menoleh dan melihat dua ratus lebih prajurit datang dengan seragam yang tak pernah dilihatnya di Kekaisaran Shang. Dia mengedipkan mata berulang kali, tidak percaya apakah ini benar-benar nyata atau justru prajurit itu adalah prajurit hantu yang datang entah dari mana. Saat mengingatnya, lelaki itu menyadari bahwa mereka berasal dari Kekaisaran Qing.


Senjata diangkat, prajurit dengan pertahanan penuh dan senjata lengkap itu maju menyerbu. Tak butuh waktu lama mereka memenggal habis-habisan mayat tersebut bahkan tanpa satu pun korban jiwa.


"Mana mungkin.. kekaisaran Qing mau menolong Kekaisaran Shang dan sebaliknya.. apakah perang sudah membuat sesama musuh saling bahu-membahu?" gumamnya merinding, saat kembali tersadar seseorang dari pasukan itu mengulurkan tangan kepadanya.


"Bangunlah, kami memiliki satu kamp untuk menampungmu sementara."


"Tapi bagaimana bisa-?" Prajurit tersebut masih tidak percaya dengan apa yang didapatinya.


"Selama ini Kekaisaran kami telah dipersiapkan untuk berperang. Tapi sepertinya semua ini bukan hanya untuk berperang, melainkan membantu sesama untuk memerangi musibah ini."


**

__ADS_1


Tak ada yang bisa menjelaskan mengapa matahari seolah-olah terbakar di atas sana, fenomena yang tak biasa itu membuat seluruh manusia di penjuru dunia kebingungan. Hanya dengan mata telanjang saja matahari telah berubah warna menjadi merah darah, sesuatu seperti terkelupas di atas sana.


'Kekuatan yang Membakar Matahari'


Jawabannya adalah Air Mata Iblis. Kekuatan itu dapat menciptakan kiamat yang mengakhiri kehidupan seluruh manusia. Ketika Sang Dosa membangkitkannya dengan wadah baru, maka prajurit berupa mayat hidup akan berkumpul padanya dan ritual akan terjadi.


Bahkan awan-awan ikut berwarna merah karena terkena cahaya merah dari sang matahari. Membuat situasi di semua tempat tampak mengerikan, hanya dalam hitungan jam orang-orang dibuat ketakutan setengah mati. Pemimpin Kekaisaran yang mendapatkan informasi tentang keadaan matahari dari para ahli pun juga sama terancamnya.


Dikatakan Matahari mungkin akan terbakar. Dugaan itu juga diperkuat oleh ramalan leluhur tertua. Kali ini manusia tak akan selamat lagi jika Sang Dosa tidak segera dihentikan.


Pertarungan di Pulau Seizu berakhir dengan jatuhnya beberapa korban jiwa. Boneka yang tiba-tiba saja menyerang itu berserakan di pinggir pantai, seorang laki-laki baru saja berjongkok dan melesat sambil mengayunkan pedangnya. Angin tebasannya mampu memutuskan sepuluh kepala boneka yang terbang ke arahnya. Di sisi lain seorang wanita mundur setelah menghancurkan tiga boneka sekaligus dalam satu gerakan. Mereka saling memunggungi, menjaga satu sama lain.


Hingga boneka-boneka itu berhenti dan lenyap menjadi debu. Matahari merah telah datang. Bahkan dikatakan beberapa meteorit dan benda-benda asing dari luar angkasa mulai berjatuhan.


Saat ini yang di pikirannya hanya satu; Xin Chen. Dia yakin putranya itu akan mencari ke mana pun Qin Yujin berada. Membayangkan pertarungan yang akan terjadi di antara keduanya saja sudah membuatnya resah gelisah. Qin Yujin yang sekarang sudah bukan lagi tandingan Xin Chen. Dan terlebih lagi terakhir kali Fu Hua kembali diculik. Semakin kuat pula dugaannya bahwa Xin Chen memang sedang mengincar Qin Yujin.


"Aku khawatir dia tak akan mampu mengalahkan orang itu."


Xin Fai berpikir untuk datang ke sana, memastikan putranya baik-baik saja. Ren Yuan ingin menahan tapi dia pun juga sangat mengkhawatirkan anaknya itu.


"Tapi...." Ren Yuan berpikir satu hal, "Aku selalu takut saat melihatnya mengambil keputusan sendiri, takut dia tidak mampu dan gagal. Aku tidak pernah mempercayainya dan mendukung keputusannya. Aku merasa telah gagal menjadi seorang ibu."

__ADS_1


Xin Fai menoleh ke Ren Yuan, "Kau adalah ibu yang baik, sayang. Hanya saja anak bodoh itu..." Xin Fai sampai tak tahu apa yang ingin disampaikannya. Ren Yuan benar. Ketika dia memalingkan wajah ke arah laut lepas, tatapannya terkunci pada sebuah perahu kayu yang berlayar tanpa awak. Jelas dia memasang wajah bingung.


Ren Yuan melebarkan matanya, tahu apa arti dari kapal itu. Dia segera mengejar ke tepian sungai dan mengambil sebuah kayu yang dituliskan sesuatu menggunakan mata pedang. Perahu kayu itu membawa pesan.


"Jaga Ibu dan Kakak, aku akan pulang."


Xin Fai memejamkan matanya setelah membaca isi tulisan di kayu, pasti itu adalah pesan Xin Chen. Sebuah meteor yang terbakar jatuh ke dalam laut, membuat gelombang naik dan menghantam tepian pemukiman.


Segera Xin Fai membawa Ren Yuan ke tempat aman, menatap perahu yang kembali dibawa ombak ke tengah lautan dengan tatapan sedih.


Saat ini Xin Chen bertarung bukan hanya untuk mereka melainkan semua orang. Xin Fai sendiri tak tahu di mana sekarang Xin Zhan berada. Dia harus menjaga Ren Yuan atau jika Xin Chen kembali tanpa melihat ibunya, dia pasti akan mengamuk.


Sembari menatap matahari merah, Xin Fai berucap. "Aku akan menjaga mereka, tapi aku tidak berjanji pada satu hal, anak keras kepala."


Ren Yuan tersenyum kecil menatap lelaki itu.


"Karena Xin Chen adalah manusia keras kepala nomor dua, maka yang pertamanya sudah pasti-"


Langkah seseorang terhenti sejenak di atas salah satu pegunungan, pegunungan cukup jauh di depannya telah rata dengan tanah. Sejauh mata memandang ratusan ribu terinfeksi berkumpul dan akan terus bertambah setiap detiknya.


Ribuan mahkluk dengan tubuh merah bertanduk berkumpul membentuk lingkaran di sekitar inti. Sebuah Kristal Merah memerangkap seorang gadis di dalam, lalu seseorang dengan tiga mata dan jubah merah bertanduk serupa iblis tengah menatapnya dari kejauhan. Tahu musuh utamanya sudah datang.

__ADS_1


"Di sini, aku akan menyelesaikan tugas Sang Pedang Iblis yang belum tuntas."


__ADS_2