
Huo Rong terbangkit dari jatuhnya, kepalanya penuh oleh lumuran darah. Dilihatnya pertarungan di depan mata, pertarungan Xin Chen melawan Li Baixuan yang seolah tak ada habisnya. Tak bisa dipungkiri lelaki itu begitu kuat hingga sangat sulit dikalahkan. Hanya ada sedikit kemungkinan bahwa Xin Chen dapat memenangi pertarungan tersebut.
Huo Rong yakin betul, Xin Chen dapat mengalahkan laki-laki itu apa pun yang terjadi. Maka dia mengambil sebuah tombak yang tergeletak di sampingnya. Lantas mengangkat benda itu setinggi-tingginya meneriakkan gema peperangan.
Gejolak memuncak kian tinggi, tak satu pun detik terlewat tanpa nyawa yang berjatuhan. Melewati pertarungan sengit yang nyaris mengambil nyawanya, Huo Rong berhasil menumbangkan lelaki misterius yang sempat menjadi lawan pertamanya.
Huo Rong tak pernah mengetahui lagi siapa-siapa saja yang saat ini menduduki bangku Sepuluh Terkuat. Dia telah lama mengurung diri di bawah laut dan tak mengetahui apa pun tentang dunia manusia. Tak disangkanya, lelaki tadi memiliki satu lambang di dadanya yang menandakan bahwa dia adalah bagian dari Sepuluh Terkuat. Ghou Fu Xi, menduduki peringkat sembilan. Laki-laki itu, mati akibat kelalaiannya sendiri.
Huo Rong jauh lebih mengerikan jiwa dia bertarung mengikuti instingnya sebagai mahkluk buas. Tubuh Ghou Fu Xi tercabik-cabik hingga berserakan di atas tanah. Setengah dari bagian tubuh Huo Rong telah bertukar memasuki tubuh siluman. Dari kepala hingga ke perut dengan wujud Siluman, sedangkan kakinya tetap sama seperti semula.
Dia mengamuk tak kira-kira, bertarung dari kematiannya sendiri. Dilihatnya Shui terkapar di tengah-tengah peperangan, saat merasakan kekuatan yang keluar dari tubuh Shui begitu lemah, langsung saja Huo Rong mendekat. Shui dalam keadaan kritis.
Huo Rong menopang kepala Shui di atas pahanya, tak membiarkan darah yang bocor dari kepala Shui terus merembes keluar. Tak lama terlihat pergerakan dari Shui, begitu pelan. Dia sedang menahan sakit yang amat sangat. Huo Rong tahu itu.
"Kadal air ini, orang sedang berperang kau berlomba-lomba tiduran di sini. Bangun cepat."
"Biawak bangsat ini, uhuk! Aku sedang sekarat. Tahu situasi sedikit." Shui mengoceh tidak jelas yang membuat darah dari dalam mulutnya keluar begitu saja. Huo Rong sampai tak tahu ingin mengatakan apa, dia panik tapi tetap ingin marah.
"Ck, cepat berdiri. Ayolah, maksudku tanah di sini begitu dingin. Kau bisa mati."
"Memang mau mati." Shui menanggapi ketus. Sementara Huo Rong makin kalang kabut. Situasi apa yang sedang dihadapinya sekarang. Shui sekarat, permata silumannya tak lagi mengeluarkan energi kekuatan untuk memulihkan tubuh naga air itu.
Huo Rong sempat mengetahui sebuah irama yang diajarkan teman manusianya dulu. Dia bersiul pelan, berharap suara itu mampu menyembuhkan Shui. Tapi justru Shui berontak.
"Hoi, mau menyanyikan lagu kematian untukku. Setidaknya biarkan aku mati dengan tenang, bodoh."
"Jangan bercanda soal mati-matian, cepat berdiri."
"Lagipula memang ada yang mampu menyelamatkan ku?"
Huo Rong semakin kehabisan kata-kata. Wajah pucat Shui semakin putih-nyaris tidak ada darah yang mengalir di sana. Dia juga merasakan kekuatan dari dalam tubuh siluman itu mulai menipis, kini tangan Huo Rong telah basah oleh darah. Sementara tak ada yang dapat diperbuatnya selain menatapi Shui lamat-lamat.
Teman. Itu adalah hal yang berharga bagi Huo Rong. Kehilangannya adalah sebuah petaka menyakitkan yang tak ingin diulangnya. Tanpa sadar mata Huo Rong basah, tapi tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
Terlihat sebuah senyum mengembang di wajah Shui. Tampaknya siluman itu telah merelakan jika seandainya dia benar-benar mengembuskan napas terakhirnya di sana.
"Hei ..."
Suara serak itu, Huo Rong terdiam beribu bahasa. Mungkin ini akan menjadi yang terakhir kalinya dia berbicara dengan Shui. Meski menyebalkan, siluman itu adalah salah satu temannya. Cukup kehilangan teman manusianya dan juga Rubah Petir, Huo Rong merasa rasa sakit itu cukup membuatnya kehilangan sampai berabad-abad.
"Apa wajahku begitu bengkak?"
Huo Rong tak mau membohongi Shui di detik-detik terakhir hidupnya. Benar, wajah Shui memar di berbagai sisi, bahkan beberapa mulai benjol. Nyaris tak membentuk wajah lagi.
"Sangat. Kau bertarung sangat berani, kawanku. Luka itu kehormatan bagimu sebagai seorang Siluman Penguasa Bumi."
Terdengar kekehan kecil yang membuat Huo Rong semakin meringis. Shui tampaknya enteng saja dengan kematiannya sendiri.
"Berarti kutukan ku selama ini telah musnah."
"Kutukan?" Huo Rong baru tahu Shui memiliki kutukan.
"Kutukan karena terlalu tampan."
Huo Rong terdiam. "Bagusnya kutampar kau sekarang agar cepat akhirat."
Shui mendengkus, berusaha bangun dan duduk sambil memejamkan mata.
"Kau ingin mati sambil duduk?" tanya Huo Rong bingung. Shui jauh lebih bingung dengan pertanyaan aneh itu.
__ADS_1
"Hoi hoi siapa yang mau mati? Aku cuma bercanda."
Wajah Huo Rong nampak pelik sekali, mulutnya terbuka tapi tak terdengar suara apa pun dari sana. Lalu tak lama kemudian dia benar-benar menggeplak kepala Shui. "Ku kira kau mau mati. Sudah kupikirkan mau ku kubur di mana juga."
Shui balas menggeplak. Jauh lebih keras dari Huo Rong. "Aku hanya mengumpulkan sisa-sisa kekuatan ku ke permata siluman, kau tahu kepalaku saja retak tadi. Untuk sekarang mungkin aku lebih baik menjadi mayat di sini. Kau pergi sana jangan menggangguku."
Huo Rong menyesal sempat sedih. Dia menampar ubun-ubun kepala Shui sekali dan pergi sebelum menerima balasan. Shui mengepalkan tangannya tinggi-tinggi sebelum merentangkan tubuh di atas tanah.
"Nah peran seperti ini kan enak. Untuk apa bertarung, tidak dikasih makan."
Rombongan kavaleri datang membuat tanah bergetar, Shui membuka mata lebar-lebar. Tak mau bergerak satu jari pun dari tempatnya berbaring karena dia tahu itu adalah musuh. Bergerak sedikit saja pasti panah akan menancap di tubuh.
Langkah kaki kuda-kuda semakin mendekat dan mendekat. Shui tahu suara itu mendekat ke arahnya.
'Bau-bau akan terinjak-injak.'
Sambil memejamkan mata pasrah, Shui berusaha sabar tubuhnya diinjak-injak kuda yang berlari seperti dikejar setan. Wajahnya lebih bengkak dari sebelumnya saat tapak kaki kuda melintas dan mengenai ujung hidung.
Lubang hidung berdarah, pipi bengkak, kelopak mata membiru hingga Shui terlihat semakin sipit. Naga itu babak belur. Betul-betul babak belur.
Saat dirinya merasa aman, Shui menengok ke arah rombongan kuda yang akan bertubrukan dengan salah seorang pemuda dengan jubah serba putih, meneteng satu pedang di tangan kanan.
Ketika melewati barisan pasukan berkuda pemuda itu berhasil menumbangkan lima di antaranya. Sisa-sisa lawan mengepung Xin Zhan hingga dia terperangkap di tengah-tengah pusaran musuh, tanpa ampun pemuda itu menerima serangan dari berbagai sisi.
Shui kenal siapa sosok tersebut. Dia melebarkan mata di menit berikutnya, total 12 prajurit berkuda tumbang. Dengan kuda hitam yang gagah berani, pemuda itu memacunya menuju arah lain.
Sejenak Shui bingung dengan apa yang ingin dia lakukan. Menoleh ke samping, jantungnya nyaris keluar dari rongganya saat melihat Ye Long berada di sampingnya sambil mengenakan perhiasan di kuku-kuku dan lehernya.
"Heh, kau ini habis bertarung apa merampok?"
"Manusia jelek itu menggangguku, ku ganggu balik langsung pindah alam."
"Kau mengalahkannya sebegitu mudah?"
Ye Long tiba-tiba menyemburkan Api biru yang langsung membakar habis mayat manusia. Shui terkejut sampai merinding.
"Tubuh manusianya sama sekali tidak kebal dengan panas api ini. Kau mau coba?"
"Oh, tawaran yang bagus. Tapi tidak. Terima kasih."
"Rraaaagh. Aku mau mencari perhiasan lagi."
Kepakan sayap Ye Long terdengar semakin menjauh.
Sejenak Shui teralihkan saat melihat ke arah lain, di sana Shui baru menyadari satu pertempuran lainnya yang tampaknya akan tiba pada penentuan.
Di sana, Xin Chen telah terkunci dalam genggaman musuh. Dan sebuah kekuatan besar muncul sangat hebat, menyerap kekuatan roh terbesar dari tubuh Xin Chen saat itu.
"Ti-tidak mungkin ...."
Shui tak bisa percaya apa yang dilihatnya saat itu adalah kenyataan.
*
"Ini salahmu! Kau membiarkannya menangkapmu dan sekarang lihatlah apa yang terjadi!"
Roh Dewa Perang mengamuk hebat. Bukan tanpa alasan, kini musuh yang amat dibencinya berhasil merenggut kekuatan Xin Chen.
Mantra Pembunuh Roh. Diciptakan dua ratus tahun yang lalu oleh seorang wanita yang disebut sebagai penyihir ilmu hitam. Dengan mengambil darah dari seorang pengguna roh terhebat di masanya-yang mana mendapatkan darah dari seorang pengguna roh adalah hal yang mustahil. Kebanyakan dari mereka jarang menggunakan tubuh manusia karena itu akan menyedot kekuatan yang begitu banyak.
__ADS_1
Mantra itu hanya dibuat tak lebih dari lima lembar. Satu-satunya yang tersisa adalah yang berada di tangan Li Baixuan. Jika bagi manusia biasa, benda itu bukanlah benda berbahaya. Namun bagi seseorang seperti Xin Chen, mantra itu adalah kemalangan yang sulit dihindarinya.
Seperti saat ini, Li Baixuan mencengkram kepala Xin Chen dan menempelkan mantra itu di keningnya.
Tulisan-tulisan kuno yang tercipta dari cahaya keluar mengelilingi mereka. Cambuk Li Baixuan merenggang membentuk sebuah penjara besar. Li Baixuan mundur beberapa saat, melihat reaksi dari Xin Chen sama sekali membingungkan.
Sunyi dan hening. Hanya dua itu yang mampu menggambarkan situasi yang dialami Li Baixuan. Hingga dua detik setelahnya, layaknya sebuah bom yang meledak angin kencang kembali timbul bersama suara dan kekuatan hitam yang membuncah.
kekuatan roh keluar dan tersedot ke dalam mantra tersebut. Li Baixuan mengembangkan senyuman penuh arti. Jumlah kekuatan yang dimiliki mantra itu adalah semua yang dimiliki Xin Chen. Tanpa itu Xin Chen bukan apa-apa baginya.
Senyuman berubah menjadi tawa lebar saat melihat tubuh Xin Chen mengambang di udara. Kekuatan darinya semakin melemah karena terus disedot oleh Mantra Pembunuh Roh.
Tak ada yang mampu menyelamatkan Xin Chen dari penjara cahaya itu. Kekuatan milik Li Baixuan sangat mengerikan. Berani menyentuh penjara tersebut, mereka akan mati oleh sengatan yang mengerikan. Bunyi tapak kaki kuda tiba-tiba terdengar dari belakang Li Baixuan.
Li Baixuan telat menoleh dan mendapati sosok Xin Zhan telah datang, wajahnya yang biasanya terlihat tenang kali ini benar-benar marah.
"Siapa yang berani menyakiti adikku?" geramannya tertahan hingga gigi-gigi Xin Zhan merapat kencang. Dadanya bergemuruh, ingin rasanya dia habisi Li Baixuan di tempat. Perasaan ingin melindungi itu tetap sama seperti dulu, tak pernah berubah. Xin Chen masih tak menghilang sikap cerobohnya, sama seperti ayahnya. Dari kecil lagi, setiap kali Xin Chen melakukan sebuah kesalahan fatal, Xin Zhan datang memperbaikinya.
Satu sayatan miring menggores hampir mengenai mata Li Baixuan, laki-laki mundur sambil mengacungkan pedang.
"Kakak yang baik sudah datang, hm?"
Xin Zhan mengangkat wajahnya, melihat sebuah penjara besar yang mengalahkan tingginya istana. Angin berpusar mengangkat tubuh Xin Chen yang tengah diserap kekuatannya oleh sebuah kertas. Gejolak kekuatan hitam menguar dari penjara tersebut, begitu hebat dan akan membuat siapapun tercengang tak percaya.
"Adikmu itu terlihat seperti bukan manusia." Li Baixuan menambahkan. "Manusia mana yang menyimpan kekuatan roh sampai setingkat ini. Pastinya hanya manusia yang serakah akan kekuatan. Itulah dia, sang malapetaka. Pembawa musibah dan bencana yang seharusnya dibinasakan. Bukankah kau juga berpikir demikian, Tuan Muda Xin Pertama?"
"Jaga omonganmu." Nyalang di mata Xin Zhan laksana kilat mata seekor singa yang ganas. Dia tahu betul apa yang dilakukan Xin Chen, dan tak merasa ada yang salah dengan jalan yang dipilih adiknya.
"Lepaskan dia dan hadapi aku sekarang juga."
"Cih. Kau kira dengan melawanku akan menyelamatkan adikmu itu?"
Xin Chen bergeming. Saat ini, di balik punggungnya penjara cahaya itu berada. Xin Zhan masih tak memikirkan cara untuk menyelamatkan Xin Chen, tapi dia harus menyingkirkan Li Baixuan lebih dulu sebelum laki-laki itu mengambil kesempatan untuk membunuh Xin Chen.
"Baiklah jika kau memaksa ..." ucapan Li Baixuan menggantung begitu saja, terlihat laki-laki itu mengeluarkan cambuk cahaya lainnya.
"Sepertinya Kitab Tujuh Kunci di tanganmu cukup menarik untuk didapatkan."
Satu terjangan lurus menghampiri Xin Zhan, bahkan angin tipis dari pedang Li Baixuan dapat merobek lengan jubah Xin Zhan begitu mudahnya.
Tempo pertarungan berjalan begitu cepat, tiga menit bagaikan di neraka bagi Xin Zhan. Pertarungan yang liar ini tak pernah dipelajari Xin Zhan di perguruan mana pun. Xin Zhan merinding beberapa saat membayangkan adiknya berhari-hari bertarung melawan manusia monster ini, sedangkan dirinya baru tiga menit saja rasanya seperti akan jatuh.
Pedang Xin Zhan nyaris terlempar, dia mundur beberapa langkah menstabilkan napasnya yang mulai kacau. Tenang adalah kunci kemenangan. Itulah yang dipelajari Xin Zhan selama dibimbing oleh pendekar senior di Lembah Kabut Putih.
Tapi yang masih terus menghantui pikirannya ialah Xin Chen bahkan tak lulus dalam seleksi pertama di perguruan Lembah Kabut Putih. Mulai dari kuda-kuda dan teknik bertarung, Xin Chen selalu gagal mempelajarinya. Namun hari ini Xin Zhan sadar, guru Xin Chen yang sebenarnya adalah alam. Buas, penuh tantangan dan liar. Tak heran Xin Chen bisa bertahan melawan Li Baixuan karena mereka memiliki tipe serangan yang hampir sama. Tak mudah ditebak dan mematikan.
Xin Zhan maju sambil terus mengacungkan pedangnya ke arah Li Baixuan yang melakukan hal serupa. Terdengar teriakan dari Li Baixuan yang menandakan pertarungan kembali dimulai. Apa pun yang terjadi Xin Zhan harus mengokohkan kuda-kudanya agar dia tidak terjatuh. Sekali saja dia lengah, pedang di tangan Li Baixuan akan langsung menghabisinya.
Terpojokkan sudah. Xin Zhan yakin menit berikutnya dia akan ambruk. Satu demi satu hantaman di pedang yang Xin Zhan gunakan untuk menyelamatkannya dari serangan Li Baixuan mulai tak bisa diatasinya. Laki-laki itu seolah tak mengenal batas kemampuan. Kekuatannya tak mengurang apalagi mengendur. Sementara di atas sana, Xin Chen berada dalam situasi berbahaya. Kertas mantra itu nyaris mengambil setengah kekuatannya. Jika sampai mantra itu menyerap sampai habis, itu artinya Xin Chen akan mati.
"Usaha yang sia-sia." Celotehan Li Baixuan disertai tikaman yang hampir menembus jantung Xin Zhan. Beruntung dia membelokkan mata pedang tersebut ke arah lain, tapi Xin Zhan tetap mendapatkan luka yang menggores bahunya. Darah mengucur membasahi pakaiannya yang seputih gading gajah.
"Selama ini aku tak pernah gagal melindunginya. Sia-sia, katamu? Adikku itu bukan hanya jagoan ayahku, dia adalah jagoanku juga." Xin Zhan tak pernah mengatakan itu langsung kepada Xin Chen karena memalukan. Tapi jika di hadapan orang lain, dia selalu memujinya. Mungkin, setelah kehilangan Xin Chen selama tujuh tahun membuat Xin Zhan tersadar bahwa kecemburuannya adalah bentuk keegoisannya.
Xin Chen mendapatkan perhatian dari ayahnya, Lan An dan ibunya karena dia lemah. Mereka tahu Xin Chen tertekan, tapi Xin Zhan kecil tak mau memahaminya. Saat saudara kembarnya menghilang, Xin Zhan menyadari bahwa perhatian dan kasih sayang itu bukanlah hal penting. Menjaga Xin Chen seperti ayah dan ibunya menjaganya merupakan hal terpenting yang baru Xin Zhan sadari selama ini.
"Jangan salah, jagoan kami bisa membuatmu kocar-kacir beberapa hari ini. Benar begitu?"
Li Baixuan tertawa, wajahnya kentara sekali menampilkan ekspresi tersinggung.
__ADS_1
"Kau benar-benar ingin bermain api, bocah?"