Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 24 - Bukan Tandinganku


__ADS_3

Sementara barisan depan yang dipimpin oleh jenderal dari Kekaisaran Shang mulai menampakkan tanda-tanda menyerang. Hampir seratus ribu prajurit bersorak serentak mengikuti pemimpin mereka. Jenderal yang berada di barisan terdepan mengacungkan pedang setinggi-tingginya, pertanda gelombang pertempuran selanjutnya telah dimulai.


Hari keempat, perang tetap tak menemukan titik temu. Pasukan dari Kekaisaran Qing mulai surut. Berbanding terbalik dengan Pasukan Kekaisaran Shang yang tetap berdiri kokoh, hanya delapan puluh ribu dari prajurit Kekaisaran Shang yang bertahan. Sementara dari pihak Kekaisaran Qing sendiri, mereka telah kehilangan sebanyak dua ratus ribu prajurit.


Surutnya semangat prajurit Kekaisaran Qing terletak pada hilangnya pemimpin-pemimpin mereka. Bai Huang yang berada di salah satu gundukan tanah tinggi menyengir puas, darah yang mengalir di dalam bola matanya sama sekali tidak dia pedulikan. Laki-laki itu terlihat amat bahagia, bahkan jika dia mati sekalipun di detik yang sama, tak akan ada penyesalan di wajahnya.


"Hahahah! Tidak salah aku mengikuti jejakmu, Tuan Muda Xin Kedua!" Bai Huang yang biasanya terlihat tenang mulai tak bisa menenangkan diri. Baginya ini adalah sebuah keajaiban.


Bisa dikatakan, sedari awal perang ini adalah perang yang gila. Tiga ratus ribu pasukan Kekaisaran Qing melawan seratus ribu pasukan Kekaisaran Shang. Perbandingan yang tak masuk akal mau dipikir berapa kali pun. Tapi Xin Chen membuatnya mungkin. Rencana-rencananya, strategi sintingnya, dan tugas yang sebelumnya tak mereka pikirkan.


Bai Huang sempat mendengar dari anggota inti Unit Satu, bahwa Tian Xi berangkat dari markas ke Kekaisaran Qing diam-diam. Berdiskusi dengan Jun Xiaorong dan Xin Chen, lalu membawa semua rencana yang telah disusun untuk diberitahukannya kepada sekutunya. Tentu saja keahlian Tian Xi dalam menjelaskan dan membagikan tugas-tugas mereka berjalan dengan baik. Dia telah mendapatkan kepercayaan lebih dari semua orang Empat Unit Pengintai.


Tak bisa dielakkan lagi, Bai Huang merasakan kemenangan sudah berada di depan mata mereka. Orang-orang Kekaisaran Qing ketakutan karena pemimpin-pemimpin mereka telah dibunuh, ide gila itu adalah milik Xin Chen dan Tian Xi.


"Ini sungguh bukan diri kita sebagai pendekar dari Kekaisaran Shang ...."


Senyuman lebar Bai Huang menghilang saat dia mendengar suara sosok yang amat diseganinya berada tepat di samping laki-laki itu. Dia membalikkan badan segera dan langsung terkejut, "Tu-tuan Muda Xin Pertama?"


Napasnya tercekat. Pemuda itu, meski dia telah menumbangkan ratusan nyawa dan mendapatkan ratusan luka pula akibat pertarungan, tapi dia dapat berjalan tegak. Keteguhan hatinya tak pernah surut. Sebelumnya Xin Zhan memang sempat bertarung melawan Li Baixuan, tapi dia beruntung tak mendapatkan luka parah. Ada sedikit rasa sesal di dalam hatinya, tapi bagaimana pun Xin Zhan tak ingin mengacaukan rencana yang Xin Chen buat.


Li Baixuan memang bukan jangkauannya. Itu sudah terlihat jelas di matanya. Tapi, Xin Zhan ragu apakah adiknya itu sudah kehilangan akal sehatnya dengan mengatakan akan menghabisi Li Baixuan sendirian?


Sedari kecil Xin Zhan telah memegang prinsip teguh sebagai seorang petarung aliran suci yang menjunjung tinggi kehormatan. Bertarung adil adalah hal yang dijunjungnya tinggi-tinggi.


"Perang ini di luar kendali kita, Tuan Muda."


Terdengar helaan napas pelan, Xin Zhan tahu ini sama sekali tidak dibenarkan tapi apa yang bisa diperbuatnya hanya diam dan bertarung dengan caranya sendiri. Adiknya itu, jika disamakan dengan orang gila pasti punya banyak kesamaan, hanya saja dia memiliki sedikit akal yang cerdik dan juga sifat yang kelewat nekat.


"Tapi, Tuan Muda Xin Pertama ... Lihatlah sudah sejauh mana kita bertarung, sepertinya akan terlihat siapa yang akan kalah."


Xin Zhan mengamati sekitarnya. Empat hari yang lalu tempat ini begitu mengerikan oleh lautan manusia. Dan sekarang, di sekitar mereka hanya terdapat belasan orang yang sedang bertarung. Sisanya berkejaran membunuh musuh yang mulai menghindar ketakutan.


"Ibuku sangat menyayangi anak tengil itu." Xin Zhan berucap tiba-tiba, senyum tipis terlihat sekilas. "Dia memang tidak mudah di atur, cara berpikirnya sama dengan ayah. Saat mendengar cerita-cerita ayah saat dia masih muda ... Rasanya aku sedang melihat kisah itu di depan mataku. Xin Chen. Aku yakin jika aku jadi dia, aku tak akan seberani itu. Justru sekarang akulah yang penakut."


Bai Huang menggeleng sambil menepuk pundaknya. "Tuan Muda begitu rendah hati. Anda memiliki ketenangan layaknya air, tentu berbeda dengan adik Anda sendiri. Tapi kalian berdua sosok yang hebat, di masa sekarang atau di masa depan." Pandangan Bai Huang teralihkan ke depannya, di mana dia melihat segerombolan pendeta dengan baju jubah putih yang menyapu tanah berdebu. Mereka menggunakan tongkat. Pandangan lurus ke arah mereka berdua.


"Aku yakin semua saudara kita yang sedang berperang di sini ingin mengatakan hal yang sama denganku."


Xin Zhan menoleh kepada Bai Huang sejenak.


"Tetap berdiri di depan kami walaupun jalan yang kalian tempuh sangatlah sulit. Karena saat ini, kalian bukan hanya pilar yang menopang Kekaisaran ini. Kalian adalah keseluruhan dari istana yang melindungi kami."


Usai mengatakan itu Bai Huang hanya bisa melihat Xin Zhan mengangguk. Dibandingkan siapa pun, Xin Zhan yang paling tahu tentang keadaan Kekaisaran Shang saat ini. Bahkan di saat perang seperti ini, kesembilan Pilar Kekaisaran tak ada yang mengulurkan tangan untuk menolong. Karena yang mereka tahu, kemungkinan besar pasukan mereka akan kalah dari musuh. Datang hanya akan mengantarkan nyawa mereka kepada kematian.


Xin Zhan berhenti sepuluh meter di hadapan para pendeta. Asap tebal tampak di balik-balik punggung para musuh yang siap sedia mengangkat tombak mereka untuk melepas kepalanya. Xin Zhan tak merasakan takut sama sekali. Meski harus bertarung satu melawan tiga puluh orang, dia akan menghadapinya sendirian.

__ADS_1


Sepasang kaki berdiri sejajar di sebelah Xin Zhan, saat menengok ke sampingnya dia dapat melihat lelaki yang terlihat mengenaskan tengah tersenyum bersemangat padanya.


"Maaf saja, Tuan Muda. Si tua ini tak sampai hati melewatkan pertarungan yang seru ini. Menonton itu membosankan, jika Anda mengizinkan aku ingin bertarung bersamamu."


Terdengar tawa kecil Xin Zhan, "Mohon bantuannya."


Detik-detik pertama Xin Zhan langsung dihadapkan oleh seorang laki-laki dengan energi kekuatan yang tidak biasa. Selayaknya seorang pendekar yang telah melewati tahap meditasi tertentu, orang tersebut bahkan dapat mengendalikan udara di sekitarnya. Sebegitu mengerikan. Mata hitam pekat Xin Zhan bertemu dengan laki-laki itu, Zhaohuo.


"Aku kira kau adalah orang yang sama dengan sebelumnya."


Xin Zhan diam tak menjawab. Berarti orang itu sudah menghadapi Xin Chen sebelumnya. Wajahnya terlihat enggan. Tapi matanya tetap tajam menatap Xin Zhan.


"Namaku Zhaohuo."


"Xin Zhan." Dia berucap dengan tenang.


Zhaohuo membaca kepribadian yang berbanding terbalik dengan yang ditemukannya tadi. Seperti dua sisi koin. Setelah berdiam lama akhirnya laki-laki itu menyahut kembali. "Bertarung lah denganku, Saudara Xin."


Xin Zhan telah terpisah cukup jauh dari Bai Huang yang dialihkan oleh para pendeta lain. Di Kekaisaran Qing, memang terdapat beberapa pendeta yang dilatih untuk bertarung dan bela diri. Bukan hanya sampai di sana, bahkan teknik dan penguasaan mereka satu tingkat lebih hebat dibanding yang lain. Di sekte yang dinaungi Zhaohuo, terdapat begitu banyak pendeta hebat yang akhirnya dia bawa dalam peperangan. Terbukti dari banyaknya prajurit Kekaisaran Shang yang tumbang di bagian timur. Mereka sama sekali tak boleh diremehkan.


*


Li Baixuan tertawa bengis sejadi-jadinya, lagi-lagi dia merasa tertantang oleh panasnya hawa di sekitar yang semakin memuncak membakar kulitnya. Pedang di tangan Xin Chen berkobar biru, Li Baixuan telah merasakan seberapa tajam pedang itu. Jika udara memiliki wujud, Li Baixuan yakin Xin Chen dapat memotongnya dengan pedang itu.


Li Baixuan mengangkat pedang dari atas menyilang ke samping, nyaris tipis mengenai pakaian Xin Chen. Sementara itu, Li Baixuan tahu Xin Chen tengah mengincar bagian perutnya.


Namun, dia harus membayar mahal untuk itu. Lagi-lagi tangannya dipotong oleh Xin Chen. Nyaris saja Xin Chen membakar tangannya yang telah terlepas, beruntung Li Baixuan lebih cepat dan tubuhnya langsung menyatu dengan bagian tubuh yang telah terpotong.


Xin Chen mengejar Li Baixuan yang mulai menjauh dari medan tempur. Masuk ke dalam hutan yang memiliki bangunan-bangunan kuno. Bekas perbatasan yang telah ditinggalkan.


Li Baixuan tahu dari gerakan pedang Xin Chen, dia lemah dalam serangan jarak dekat. Terutama menyerang dengan menggunakan pedang. Bertarung di tempat sempit akan membuatnya lebih unggul. Melihat Xin Chen datang dari kejauhan Li Baixuan tersenyum penuh kemenangan.


'Pertarungan ini milikku.'


"Baiklah jika kau menginginkan pertarungan senjata. Tapi jika kau boleh menggunakan kekuatan Api Keabadian itu, maka aku boleh menggunakan kekuatan milikku juga."


Bisa dikatakan, sesuatu yang keluar dari tubuh Li Baixuan murni dari tenaga dalamnya sendiri. Meski demikian, kekuatan itu amatlah besar. Dia mengalirkan ke senjatanya.


Keduanya terdiam lama. Membaca gerakan masing-masing. Li Baixuan mulai menampakkan kakinya ke depan, menguji Xin Chen yang masih terdiam di tempat. Sama sekali tak terkecoh.


Li Baixuan mengangkat pedangnya setinggi-tingginya, Xin Chen menangkisnya tepat di atas kepalanya dengan pedang menyilang.


Tahu serangannya ditepis, Li Baixuan beralih menggunakan teknik serangan lain. Tubuhnya berputar cepat, membuat Xin Chen terpaksa mundur melihat pergerakan berbahaya. Benar saja, satu serangan fatal masuk menyerang. Xin Chen menahan cepat. Tekanan yang dirasakannya kali ini jauh lebih hebat.


Xin Chen bahkan tak bisa melepaskan tekanan tersebut, dia tetap di posisi yang sama. Menahan pedang Li Baixuan yang berada di atas kepalanya.

__ADS_1


"Kau tak ingin menggunakan kekuatan roh itu lagi karena kekuatan itu sudah berada di luar kendalimu?"


Li Baixuan tertawa mengejek, menghantam pedang lawannya berkali-kali hingga memunculkan percikan api. Dia sama sekali tak terpengaruh panas yang diberikan Api Keabadian. Karena saat ini cukup dengan melapisi tubuh menggunakan tenaga dalam, Li Baixuan mampu mengatasi panas tersebut. Meski tak semua.


"Justru aku sedang menyelamatkanmu, bodoh."


Li Baixuan terkejut. Pertama, kata-kata Xin Chen sama sekali tak masuk akal. Menyelamatkannya? Menyelamatkan dari apa? Dan kedua, dia baru saja dipanggil bodoh. Seorang Satu Terkuat yang dipandang begitu tinggi di Kekaisaran Qing. Ratusan tahun hidupnya semenjak menjadi Satu Terkuat, baru kali ini ada orang yang berani menghina dirinya tepat di depan mukanya sendiri.


Mulut Li Baixuan bergetar, dia benar-benar marah sampai kehilangan kata-kata.


"Sosok Roh di dalam Kitab Pengendali Roh sepertinya menyimpan dendam kesumat padamu. Daripada mati mengenaskan di tangannya, aku akan membantumu mati dengan lebih layak."


Li Baixuan telah berhenti menghantamkan pedang. Kesempatan itu, Xin Chen menyepak gagang pedang Li Baixuan hingga benda itu terlempar ke belakang. Li Baixuan tak mau kecolongan kedua kali, dia segera menangkap pedangnya ke yang terlempar dan kembali bertarung melawan Xin Chen.


Beberapa kali Li Baixuan mundur dan begitu pula sebaliknya. Li Baixuan mendecih. Untuk pertama kali dia bertarung pedang dengan Xin Chen dan langsung tahu lawannya sama sekali tidak pernah belajar ilmu berpedang dari perguruan mana pun.


Gaya bertarung ini sama seperti gaya bertarung pendekar kelana yang Li Baixuan kenal. Dia dilatih langsung oleh alam yang buas. Caranya mengayunkan pedang bukan hanya untuk melukai lawan, melainkan membunuh langsung tanpa keraguan.


Li Baixuan menemukan titik lemah Xin Chen, dia menyabetkan pedang ke bawah kakinya tapi Xin Chen segera melompat.


Yang tak diduga, di saat melompat Xin Chen menyerangnya dengan kaki.


Li Baixuan terpental menabrak dinding tembok batu tua. Dia langsung berdiri, air mukanya berubah serius sepersekian detik.


"Boleh juga." Laki-laki itu menepuk-nepuk pakaiannya dari debu tanah.


"Tapi belum cukup untuk mengalahkanku."


Li Baixuan memutar ujung gagang pedangnya, sebuah serangan melesat cepat. Xin Chen menghindar refleks, mata birunya terbuka bersamaan dengan angin tipis yang lewat membuat rambutnya bergerak-gerak.


Telinga Xin Chen meneteskan darah. Pedang Li Baixuan menancap di pohon. Benda itu kembali ke tuannya, dengan bantuan kekuatan yang tersalurkan dalam pedang tersebut.


Xin Chen kembali menutup matanya membuat Li Baixuan heran.


"Ku kira kau benar-benar buta sampai tak membutuhkan penglihatan untuk mewaspadai serangan yang masuk."


"Gerakanmu adalah mataku."


"Cih." Li Baixuan berlari begitu cepat, dia ingin menuntaskan pertarungan sengit ini secepat mungkin. Bunyi kedua pedang brgema di seluruh penjuru hutan. Bunyi jangkrik atau bahkan serangga-serangga yang biasanya terdengar di hutan sama sekali tak muncul. Binatang liar berlarian saat melihat Xin Chen dan Li Baixuan bertarung. Bukan hanya bunyi yang membuat mereka merasa terancam, melainkan dua kekuatan besar yang ikut mempengaruhi sekitar mereka.


Pertarungan kian sengit, tempo serangan semakin cepat. Siapa pun yang membuat kesalahan lebih dulu dipastikan akan jatuh dan terluka.


Mata Li Baixuan terbuka lebar saat melihat celah. Posisi tangannya juga menguntungkan karena berada tepat di samping Xin Chen. Dengan satu gerakan cepat, pedang di tangan Li Baixuan memotong senjata Xin Chen. Li Baixuan mengerahkan kekuatan besar di dalamnya sehingga membuat pedang besi di tangan Xin Chen benar-benar patah.


Logam besi itu terlempar di antara dedaunan yang gugur. Api Keabadian yang berada di sekitarnya padam.

__ADS_1


"Sudah kukatakan, kau bukanlah tandinganku."


__ADS_2