Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 249 - Kebangkitan Air Mata Iblis


__ADS_3

"Aku akan kembali untuk menghancurkanmu dan semua orang yang kau sayangi. Hingga hanya tersisa aku dan Fu Hua di dunia ini, Era Baru akan dimulai sebentar lagi."


Kristal merah bercahaya terang dari tempat Air Mata Iblis ditemukan. Saat itu suara raungan menggema di seluruh penjuru, hawa-hawa mengerikan menyebar layaknya api yang menjalar. Guncangan besar terjadi di mana-mana, kekuatan dari inti benda berbentuk kristal berwarna merah itu mengundang pergerakan luar biasa.


Manusia yang telah mati bangkit dengan kekuatan yang lebih dahsyat.


Di sebuah pegunungan yang bagian atasnya ditutupi oleh awan-awan putih, tiupan angin kencang datang dari celah-celah gunung. Satu dari tiga gunung itu memiliki bentuk yang sangat ganjil. Di bagian atasnya bentuk mahluk serupa wanita iblis dengan dua tanduk di sisi kanan dan kiri. Gunung tersebut bergetar oleh kekuatan Air Mata Iblis yang mulai aktif. Mata ketiga terbuka di dahi wujud wanita iblis yang seolah dipahat di pegunungan tersebut. Bersinar terang.


Lalu sebuah tembakan cahaya keluar begitu cepat. Menghancurkan bagian atas pegunungan.


Lalu seseorang berdiri di atas puncak gunung yang telah hancur.


Dia adalah Qin Yujin.


Laki-laki itu tidak sendiri, dari dalam reruntuhan gunung cahaya merah keluar dan mulai menciptakan sebuah wujud. Puluhan ribu iblis tercipta dan akan terus bertambah sepanjang waktunya.


"Air Mata Iblis.. kekuatan yang bisa membakar matahari.. Xin Chen, dengan kekuatan ini kau tak akan bisa menyelamatkan siapa pun!" Qin Yujin tertawa terbahak-bahak, Air Mata Iblis telah masuk ke dalam tubuhnya. Tak ada yang bisa menandingi kekuatan laki-laki itu lagi, bahkan ketika dia mengangkat sebelah tangan dan mengeluarkan kekuatan merah. Qin Yujin mampu membelah satu gunung dalam satu tarikan napas.


Seringai melebar kian bengis, Qin Yujin kehilangan kewarasannya dan mulai tertawa terbahak-bahak. Dia melihat ke samping, "Kau lihat itu, Hua'er?! Aku lebih hebat darinya, aku tak akan membiarkannya mengambil mu dariku lagi! Tidak perlu menangis, aku akan selalu ada untukmu. Bahkan ketika semua orang membuangmu!"


Dengan kekuatan Air Mata Iblis yang dikatakan mampu menyaingi kekuatan para dewa, Qin Yujin dapat membunuh Xin Chen dengan mudah. Jutaan terinfeksi bergerak menuju tempat tersebut, berduyun-duyun, menemui 'Raja' mereka yang telah bangkit.


Air Mata Iblis telah memanggil kekuatan yang amat dahsyat, gejolak tiada henti mengubah tempat itu menjadi tempat yang sangat-sangat menyeramkan. Ratusan ribu terinfeksi berkumpul, puluhan ribu iblis berkeliling di tepian gunung dan di atas puncak Qin Yujin bersama Fu Hua berada.


Gadis itu tertidur dengan tubuh membeku di dalam Kristal Merah. Masih tak sadarkan diri. Namun jika melihatnya jelas, gadis itu tampak seperti sedang menangis.


"Aku akan menjadi Penguasa Terakhir untuk mengakhiri Era Kemusnahan dan menciptakan Era Baru! Kau dengar aku, Xin Chen?! Aku akan membunuhmu, di tempat ini dan menyelesaikan semua dendam. Padamu dan Ayahmu! Aku tak pernah takut!"


Kegelapan menguasai hati Qin Yujin, dia semakin berang berteriak. Amukannya itu mengundang kekacauan di seluruh Kekaisaran, para terinfeksi berubah berkali-kali lebih agresif. Seperti saat dirasuki oleh roh, mereka mampu menghancurkan atau memanjati dinding dengan mudah.


"Sekarang adalah akhir dari semua ini! Tunjukkan wajahmu dan hadapi aku di sini!"

__ADS_1


Lelaki itu menggeram, matanya melotot tetapi senyum iblis.


"Kau bilang malaikat pencabut nyawa sangat membencimu, bukan? Kali ini akan kubuat mereka mengincarmu dan melemparmu ke dalam api neraka!"


**


Getaran hebat di Kekaisaran Qing memaksa Xin Chen berhenti, menyadari ada sesuatu yang aneh.


Perasaannya mengatakan hal buruk.


"Semua ini ... Sudah dimulai."


Xin Chen mengepalkan tangan, pikirannya langsung tertuju pada satu orang; Qin Yujin. Dan saat ini Fu Hua bersama laki-laki itu, kekesalan di hatinya membuat Xin Chen ingin langsung membunuh Qin Yujin. Dia bisa saja pergi ke sumber kekuatan yang begitu kuat ini.


Hanya saja puluhan orang di sini masih membutuhkannya. Xin Chen harus menyelesaikan distrik ke enam atau jika tidak jumlah terinfeksi yang sudah meledak di dalamnya akan tumpah ruah membanjiri distrik lain. Jika itu terjadi, Kekaisaran Qing akan berada dalam bahaya besar.


Dia melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, kali ini menggunakan kekuatan Api Keabadian dan sampai enam jam mengeluarkan kekuatan habis-habisan, para terinfeksi itu baru berhenti berontak dari lubang raksasa. Mereka jauh lebih ganas, Xin Chen sampai terduduk. Tubuhnya kesakitan, dia menggunakan kekuatan terlalu banyak.


"Terima kasih, Tuan Muda. Anda telah menyelamatkan distrik kami dari ancaman terinfeksi. Untuk saat ini saya diperintahkan untuk membawa Anda kembali ke Istana Kaisar."


Wajah pucat pasinya terlihat kentara. Xin Chen mencoba membaca situasi macam apa yang membuat orang suruhan itu gelisah.


Namun dia mengurungkan niat bertanya dan mengikuti orang itu kembali, setibanya di istana Xin Chen dibuat kaget saat seseorang hampir menabraknya. Orang itu jatuh terjerembab, dia menembus Xin Chen begitu saja. Beberapa orang yang melihatnya memperlihatkan tatapan ganjil.


"Ma-maaf Tuan, saya terburu-buru!"


Dia membereskan wadah berisi air obat itu dan pergi setelah menunduk meminta maaf. Xin Chen didatangi oleh Tangan Kanan yang sebelumnya mengantarkannya ke distrik 1.


"Ada apa? Kenapa istana jadi sangat ramai begini?"


Dan saat itu Xin Chen melihat kebanyakan orang-orang itu adalah tabib dan ahli obat yang tiba-tiba dikumpulkan.

__ADS_1


"Ini adalah berita buruk..." Laki-laki itu kehilangan ketenangannya semenjak Kaisar Yin dikatakan terjangkit. Matanya menatap lantai istana, tentu kabar ini akan terdengar sampai ke Kekaisaran lain. Dia merasa tak perlu menyembunyikannya dari Xin Chen.


Saat lelaki itu menjelaskan Xin Chen ikut terkejut, seharusnya laki-laki itu dikawal dengan sangat ketat. Mana mungkin kejadian buruk itu bisa menimpanya, apalagi dia seorang kaisar. Tapi apa boleh dibuat semua terjadi begitu saja, sekarang orang-orang tengah sibuk mengumpulkan ahli obat terbaik untuk menyembuhkan Sang Kaisar sebelum berita menyebar luas.


Berbondong-bondong ahli obat dan mereka yang mengaku-ngaku berkumpul, dengan tawaran harga yang cukup tinggi jika berhasil menyelamatkan Kaisar Yin semua orang itu saling bersaing satu sama lain. Obat dan mantra diunjuk satu per satu.


Hari kedua berlalu tapi tak ada satu pun dari ratusan orang itu mampu menyelamatkan Sang Kaisar yang terkenal dengan sebutan Raja Perang. Dia telah berada di ambang sekarat. Wajah gelisah, pucat pasi dan putus asa terlihat di seluruh istana.


Sementara Kaisar Yin tak lama lagi akan kehilangan kesadarannya.


Xin Chen sudah merenungkan itu. Dia menghela napas perlahan. Melihat ahli obat yang hadir hanya tinggal satu atau dua, dan sampai orang terakhir pun tak ada satu pun obat yang manjur untuk menyembuhkan Kaisar Yin.


Tangan Kanan Kaisar berbicara frustrasi, "Bagaimana ini? Tidak ada lagi yang memiliki penawarnya, ini sudah begitu gawat. Tidak bisa seperti ini, kerahkan semua prajurit untuk-"


"Sudah terlambat, Kaisar Yin tak akan bisa diselamatkan. Andai pun ada orang yang mampu menyelamatkannya, waktunya tak akan sempat lagi. Orang di dalam mengatakan virus itu menyebar jauh lebih cepat, kemungkinan sebentar lagi.. kita akan kehilangan seorang pemimpin." Leluhur itu menghentakkan tongkatnya pelan, duka sudah pasti dia rasakan.


Namun Tangan Kanan Kaisar masih setia menunggu di aula, berharap masih ada yang datang membawa penawar untuknya.


"Hanya satu penawarnya,"


Suara seseorang membuyarkan konsentrasinya.


Xin Chen berdiri di depannya, Tangan Kanan Kaisar sempat berpikir dia adalah tabib yang ingin menyembuhkan Kaisar Yin.


"Kau tahu di mana kami bisa mendapatkannya?"


Sejenak Xin Chen terdiam, dia tak yakin ini adalah keputusan benar tapi dirinya sendiri tak bisa membiarkan Kekaisaran Qing hancur oleh perbuatan Qin Yujin. Xin Chen sendiri belum mendengarkan penjelasan Kaisar Yin tentang kerjasamanya dengan Qin Yujin saat ini.


Dia menepikan egonya, mengatakan dengan tegas.


"Aku memiliki satu penawar yang tersisa."

__ADS_1


__ADS_2