Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 58 - Jatuh dan Hancur


__ADS_3

Huo Rong dan Shui tengah berdiskusi, mereka sama sekali tak menemukan titik temu. Berdebat dan terus berdebat, mencoba mencari jalan entah bagaimana cara mereka menghadapi Naga Kegelapan. Sumpah Serapah terus dikeluarkan dari mulut Huo Rong karena Shui tampaknya tak begitu serius menanggapi musuh di depan mata. Lalu karena dia sudah terlalu muak untuk menyalah-nyalahi kebodohan naga air itu, Huo berucap ketus sembari berjalan meninggalkannya.


Sebenarnya usai mengantarkan ribuan prajurit itu ke tempat di mana kabut kegelapan beredar, keduanya tak langsung pergi menyerang Naga Kegelapan. Di satu sisi keduanya dikejutkan oleh energi kekuatan lain yang jauh lebih besar dari sebelum mereka meninggalkan medan perang. Mereka sempat tahu bahwa Xin Chen memiliki Roh Dewa Perang di sisinya tapi tak menyangka bahwa roh yang berasal dari tingkat kedua Kitab Pengendali Roh memiliki level kekuatan yang amat tinggi.


"Aku tidak akan yakin pertarungan ini akan kita menangkan. Kau begitu tak peduli pada apa yang ada di sekitarmu, Naga Jelek. Ingin sekali ku cabik mukamu itu sekarang."


Huo Rong mendengus ke sekian kalinya. Melihat Shui hanya menatap langit-langit di mana Naga Kegelapan bergerak seperti ular raksasa di sana.


"Tenanglah. Kita punya Xin Chen di sisi kita. Asalkan jangan membiarkan pusaka dan kekuatan spesial kita direbut olehnya. Aman. Masalah menang atau tidak berpikir lah positif saja."


"Berpikir positif memang perlu. Tapi waspada jauh lebih perlu. Kau butuh sedikit rasa takut agar membuat dirimu lebih waspada. Lihat, jika Naga Kegelapan berhasil mendapatkan kekuatan spesial mu juga. Maka aku yakin, dia akan merebut semua naga yang berada di dimensi mu itu dan menjadikan mereka semua komplotannya. Ini jauh lebih berbahaya asal kau tahu."


Dengan kasar Shui membuang napas, dia benar-benar lelah menghadapi kekhawatiran Huo Rong. Pikirnya, mau bagaimana lagi? Mereka sudah di sini. Mau tak mau pasti harus menghadapi Naga Kegelapan. Tak akan mungkin membiarkan Xin Chen bertarung sendirian melawan siluman ganas tersebut.


"Kita hanya perlu mengambil langkah pertama untuk membunuh rasa takut ini. Ayo!"


Shui berlari, wujud manusianya seketika berubah menjadi sesosok naga raksasa berwarna biru muda. Seindah aliran air di tepi laut yang jernih. Mata naga itu bergerak cepat, melihat Huo Rong mendecak di bawah sana sebelum berganti wujud menjadi Salamander Api. Kedua elemen yang sama sekali berkebalikan. Bahkan sejak dulu Shui tak pernah menyangka akan tiba saatnya dirinya bertarung bersama Huo Rong.


Mengingat sepanjang hidupnya, Huo Rong hanya dekat dengan satu siluman lain yaitu Rubah Petir. Ketenangan dan kepintaran akal rubah itu mampu menyaingi emosi Salamander Api yang meletup-letup. Keduanya serasi dalam beberapa hal dan menjadikan pertemanan keduanya begitu erat. Sementara Shui, dia hanya tahu beberapa hal tentang Huo Rong.


Tapi, memang pada dasarnya mereka berdua saling berlawanan. Entah dalam segi kekuatan atau pemikiran.


Naga Air memusatkan kekuatannya pada bagian mulut, bersiap mengeluarkan serangan air. Menciptakan naga-naga kecil dari kekuatannya yang langsung mengejar tubuh Naga Kegelapan. Sementara Huo Rong bersama apinya yang terus berkobar terang. Tubuh Salamander Api yang keras mampu menghancurkan lawannya dalam satu kali hantaman. Dia meningkatkan suhu tubuhnya, mengeraskan kulit luarnya yang serupa perisai.


Benturan pun tak terelakkan. Tiga Siluman Penguasa Bumi saling bertempur di Lembah Para Dewa. Setelah berjuta-juta tahun hidup saling terpisah tanpa terjadi kegaduhan di antara mereka. Meski demikian, sebenarnya perselisihan telah terjadi jauh sebelum pertarungan ini dimulai.


Semuanya dimulai dari Naga Kegelapan yang terus mengincar kekuatan dari Siluman Penguasa Bumi lainnya. Dan kini, mereka telah bertemu untuk saling membunuh. Bunuh sebelum dibunuh. Adalah hukum rimba yang berlaku selamanya terhadap mereka.


Suara benturan itu menggema, membuat awan-awan berpencar dan berpecah serupa kapas-kapas tipis. Tubuh Naga Kegelapan terpental jauh hingga ke tempat di mana Xin Zhan tengah berduel dengan Pedang Iblis.


Xin Chen sendiri telah mengetahui kedatangan kedua siluman itu, tapi bukannya terbantu dia justru dibuat panik gara-gara kedua siluman utu langsung mendatangkan masalah. Dari kejauhan mata Xin Chen dapat melihat Xin Zhan tengah berusaha menyingkirkan Ayahnya sebelum tubuh Naga Kegelapan mengenai mereka. Dan sayangnya, setelah menyelamatkan Xin Fai, Xin Zhan tak bisa menolong dirinya sendiri.

__ADS_1


Guncangan terasa begitu keras menghantam bumi, retakan dalam semakin membesar. Naga Kegelapan tak bersuara apa pun. Sementara debu-debu di seluruh tempat yang dihantamnya berkepul hebat, nyaris tak menghilang selama dua menit.


Hantaman tadi sangat-sangat keras. Guncangannya saja mungkin bisa terasa sampai ke pusat Kekaisaran Shang. Kekuatan dua siluman sekaligus, menubruk tubuh raksasa Naga Kegelapan yang sebelumnya terikat oleh kekuatan roh milik Xin Chen. Dia tidak bisa bergerak karena roh-roh itu menyelimuti seluruh tubuhnya. Membeku membuat pergerakannya seolah-olah terkunci akan hal yang terasa ganjil.


Dan di sana Roh Dewa Perang berperan untuk menghancurkan Naga Kegelapan secara langsung. Dengan kekuatannya yang hampir seimbang dengan Naga Kegelapan. Sumber kekuatan mereka jauh melebihi manusia yang memiliki batas tertentu dalam menggunakan kekuatannya. Sementara mereka, seperti Roh Dewa Perang sendiri. Ratusan ribu roh dalam Kitab Pengendali Roh adalah sumber kekuatannya. Kekuatan itu akan terus meningkat oleh energi negatif dari tanah bekas perang di mana terdapat banyak manusia tewas di tempat tersebut.


Tak terbayangkan seberapa banyak kekuatan yang dimilikinya sekarang. Dan dengan keunggulan itulah, jurus yang dilepaskan Roh Dewa Perang meninggalkan luka yang cukup serius di tubuh Naga Kegelapan.


Roh Dewa Perang tercengang saat melihat dua siluman tadi justru bergaduh satu sama lain. Mereka menyadari Xin Chen bergerak ke tempat di mana Naga Kegelapan terhempas karena serangan mereka tadi membuat naga itu terlempar ke arah Xin Zhan. Bukannya menengok masalah yabg mereka timbulkan, keduanya sibuk beradu mulut.


"Aku menyerangnya duluan, kau dari jauh saja! Tonton sampai puas pertarungan ku dengan naga sialan itu!"


"Padahal sudah aku bilang biar aku yang melakukan serangan kejutan! Salamander lembek ini ... Benar-benar minta cari perkara."


Kedua mata mereka saling beradu. Sementara melihat pertarungan mereka yang malah membuang-buang waktu Roh Dewa Perang, dia lebih memilih melihat keadaan Xin Zhan. Dirinya tak dapat menemukan Xin Chen di mana pun. Lantas dia menajamkan matanya, pandangannya berubah menjadi hitam putih sehingga dapat melihat aliran darah manusia yang masih hidup di sekitarnya.


Matanya terkunci di satu titik, dia melihat sumber kehidupan hanya beberapa meter dari tubuh Naga Kegelapan berada. Selamat. Tanpa luka sedikitpun.


Saat dirinya melihat ke arah lain. Dia dapat melihat Xin Zhan, aliran darahnya melemah. Inti kehidupan di dadanya terlihat seperti orang sekarat. Lalu, di kaki pemuda itu Terdapat nyala api membara. Api Keabadian milik Naga Kegelapan berhasil menyentuh tubuhnya.


Itu benar-benar petaka. Dia mendekat tanpa pikir panjang dan langsung melihat Xin Chen di sana. Berusaha menyelamatkan kakaknya Xin Zhan sebelum api itu benar-benar menyelamatkan kakaknya.


"Sialan ... Kecerobohan dua siluman itu bisa separah ini ..." Roh Dewa Perang nyaris tak percaya. Kaki Xin Zhan terlihat menghitam, nyaris terbakar jika Xin Chen tak segera merawatnya dengan kekuatan api yang dia punya. Saat ini yang Xin Chen lakukan adalah menyembuhkan luka Xin Zhan secara terus-menerus. Dan di saat bersamaan, dia menggunakan kekuatan Api Keabadian miliknya untuk menghancurkan Api Keabadian milik Naga Kegelapan di tempurung kaki Xin Zhan.


"Tahanlah."


Suara Xin Zhan terputus-putus menjawab adiknya, tapi tak jelas apa yang dia omongkan. Karena sakit di kakinya menjalar hingga ke seluruh tubuh. Rasa sakit yang dideranya jauh berbeda dari sekedar terkena racun atau kutukan.


Lebih terasa seperti organ tubuhnya dibakar hidup-hidup, meleleh di dalam sana bersama rasa perih, sakit, tercabik-cabik, dan remuk. Padahal api yang mengenai tubuhnya tak lebih dari telapak tangannya sendiri.


Erangan Xin Zhan begitu menyayat terdengar. Sementara itu Naga Kegelapan telah menunjukkan tanda-tanda akan bangkit. Suara bebatuan yang berjatuhan dari tubuh naga itu mulai mengisi sekitar. Tampaknya Naga Kegelapan tak begitu menyadari kehadiran di sekitarnya, di mana Xin Chen dan Xin Zhan berada.

__ADS_1


Sementara itu, Roh Dewa Perang menarik atensi Naga Kegelapan dan Xin Fai sekaligus. Memberikan waktu kepada dua kakak beradik itu untuk melakukan penyembuhan secara cepat. Jika tidak, Xin Zhan tak akan tertolong . Api Keabadian di tubuhnya bisa memakan seluruh bagian tubuh pemuda itu hingga tak tersisa satu titik debu pun dari nya.


Api Keabadian milik Naga Kegelapan bersinar redup, Xin Chen melakukan pemurnian sementara. Menurun kan suhu api tersebut hingga ke titik terendah menggunakan kekuatannya. Lalu, saat api tersebut mulai mendingin dia menggantikan Api Keabadian miliknya, api tersebut tak akan membunuh Xin Zhan. Kecuali jika dirinya benar-benar berniat membunuh kakaknya.


Api Keabadian memiliki keistimewaan yang membuatnya berbeda dari jenis elemen lain. Karena Api Keabadian bisa dikatakan memiliki 'kesadaran' yang mana dia dapat mengikuti perintah tuannya. Jika diperintahkan untuk membakar maka api itu akan terus membakar, bahkan ketika sang pemilik berada jauh darinya.


Dalam beberapa kasus bahkan Api Keabadian bisa tak akan padam bahkan setelah sang pemilik tewas atau tiada. Hal itu dikarenakan sang pemilik sengaja membuat api tersebut abadi. Dengan perintah yang membuat api itu akan terus berkobar dan menghabisi apa pun di sekitarnya. Kesadaran yang membuat api tersebut akan terus mengikuti perintah yang diberikan.


Dan kini perlahan-lahan lutut Xin Zhan terasa lebih baik meski rasa terbakar itu tak kunjung hilang. Dia melihat jelas bagaimana Xin Chen menyingkirkan api naga Kegelapan dari tubuhnya, tanpa terburu-buru. Andai Xin Chen tak berhasil menyingkirkan api tersebut, Xin Zhan yakin dia hanya akan berakhir menjadi abu. Yang mayatnya saja bahkan tak akaan bisa dipeluk oleh ibunya. Dan satu hal lain, Xin Chen datang di saat dia nyaris terbakar sepenuhnya.


Pergerakan Api Keabadian milik Xin Chen memiliki perbedaan dibandingkan Naga Kegelapan. Api miliknya, bergerak pelan mengikuti irama angin. Tenang. Sebaliknya, Api Keabadian Naga Kegelapan berkobar-kobar cemerlang, bergerak ke segala arah seperti sedang di tiup angin badai.


Saat Xin Chen telah berhasil menyembuhkan kakaknya sepenuhnya. Keduanya baru menyadari Roh Dewa Perang trnyata sedang menghadapi pertarungan mengerikan di atas sana. Roh itu bergerak bersama Dua Siluman Penguasa Bumi, benturan demi benturan terus terjadi tanpa jeda. Terkadang terdengar jeritan milik Shui atau Huo Rong. Keduanya bertarung mati-matian, tak ada ampun diberikan Naga Kegelapan kepada keduanya.


Sementara itu, Roh Dewa Perang tak bisa mengambil kendali atas Naga Kegelapan yang kini tengah membabak belurkan kedua siluman itu. Dia menghadapi Xin Fai yang juga memiliki teknik pengendalian roh. Bahkan kemampuannya bisa disaingkan dengan dirinya yang memang sepenuhnya roh.


Berkali-kali Roh Dewa Perang terkena serangan dari Xin Fai. Berbahaya. Xin Fai dapat melukai tubuhnya sepenuhnya tanpa celah. Dibandingkan menghadapi Naga Kegelapan yang nyaris tak bisa menyentuh tubuhnya-sehingga sejauh pertarungan tadi, Roh Dewa Perang tak mendapatkan luka berarti pada tubuh rohnya. Tapi kini Pedang Iblis bisa membuat dirinya panik bukan buatan.


Garis Hitam terputus, pedang di tangan Xin Fai dialiri kekuatan roh yang dahsyat. Lalu, dalam sepersekian detik Xin Fai menghilang. Hanya terlihat segaris cahaya di mata Roh Dewa Perang yang tak sempat mengikuti arah gerak laki-laki itu.


Hingga dia tersentak menyadari hawa kehadiran di belakangnya, Xin Fai langsung melepaskan ayunan pedang. Tepat mengenai tubuh Roh Dewa Perang, membuatnya terlempar jauh. Serangan itu terasa amat menyakitkan hingga Roh Dewa Perang tak sempat berpikir bahwa Pedang Iblis telah menyiapkan serangan beruntun selanjutnya yang mampu membuat tubuh rohnya terasa hancur.


Di sisi lain, pertarungan antara siluman berlangsung tak seimbang. Benar seperti dugaan Huo Rong tadi. Mereka berdua tak akan bisa bekerja sama menghadapi Naga Kegelapan. Tidak ada kekompakan di antara keduanya. Sama sekali tidak ada. Sama-sama keras kepala dan ingin didengarkan maunya. Huo Rong mengeluarkan geraman. Andai yang bertarung dengannya kini adalah Rubah Petir, mungkin kesempatan untuk menang jauh lebih besar.


Huo Rong mencoba memojokkan Naga Kegelapan, tapi Shui tak melakukan hal yang sama. Hal itu membuat usahanya sia-sia dan kini serangan berbalik mengenai Huo Rong yang lengah. Kibasan ekor Naga Kegelapan dua kali lipat lebih kuat daripada benturan pertama yang diberikan Shui dan Huo Rong di awal-awal.


Pembalasan di mulai, Huo Rong kehilangan keseimbangan. Dia jatuh dan langsung menjadi mangsa empuk Naga Kegelapan. Api Keabadian membakar langsung tubuhnya, Salamander Api melindungi tubuh dengan api terkuat yang dia punya. Tak membiarkan kekuatan lain membunuhnya begitu cepat.


Di sisi lain Shui mencoba menyelamatkan, tapi sialnya Naga Air itu begitu gegabah. Dia menjadi mangsa selanjutnya setelah Huo Rong dilepaskan. Lalu, dalam sekejap mata, semburan api panas mengenai seluruh tubuh Shui.


Huo Rong hendak membantu, tapi Naga Kegelapan menabrak tubuhnya begitu kuat hingga terjepit di antara tubuh Naga Kegelapan yang begitu panas dan permukaan tanah. Terdengar raungan dari Huo Rong, hingga suaranya melemah beberapa waktu setelahnya. Kedua siluman itu, jatuh. Dan akan dilenyapkan sebentar lagi oleh Naga Kegelapan.

__ADS_1


__ADS_2