
Kaisar Qin mengangkat tinggi-tinggi kertas di tangannya, membacakan dengan lantang di hadapan semua orang.
Pengangkatan Pilar Kekaisaran dimulai dari kursi paling bawah, yaitu Pilar Kesepuluh.
"Pilar Kesepuluh, Jiang Cho. Mantan Dewan Satu dan juga seorang petarung yang pernah mengabdi kepada Kekaisaran ini!"
Xin Chen lah yang paling terkejut mendengar nama itu. Nama bangsawan Jiang adalah nama keluarga yang telah menggeser Bai Huang dari Pilar Kekaisaran. Dia tak berkutik, melihat Jiang Cho maju dengan langkah anggun. Setiap helai pakaiannya dirajut dengan bahan emas, menggambarkan seberapa elit dirinya ketika menaiki panggung.
Jiang Cho melemparkan senyuman ke segala arah di mana semua orang memuji-muji namanya. Lalu tatapannya berhenti ke arah Xin Chen yang tengah melihatnya. Dia menarik senyuman sekilas, Xin Chen tak tahu apa arti senyuman itu tapi menurut instingnya itu adalah salah satu pertanda bahaya.
"Selanjutnya, Pilar Kesembilan. Pahlawan muda yang hebat dan juga cantik, telah menumbangkan ribuan musuh dan menyelamatkan ribuan orang dari perang. Dia telah melewati seleksi pemilihan langsung oleh pusat dan mendapatkan rekomendasi dari para Pilar Kekaisaran terdahulu. Pilar Kesembilan, Xiu Qiaofeng!"
Nama selanjutnya yang disebutkan Kaisar Qin jauh lebih membuat Xin Chen terkejut, siapa lagi kalau bukan Xiu Qiaofeng, Gorila Betina yang sejak dulu senang sekali berbaku hantam dengannya. Dan sekarang gadis itu menaiki panggung dengan kebanggaan dan kehormatan. Tangannya menyapa semua orang, tertunduk seanggun mungkin. Tak heran mengapa banyak laki-laki jatuh hati padanya. Selain memiliki paras yang cantik, kemampuan bertarungnya tidak bisa diragukan lagi.
Xiu Qiaofeng berdiri di sebelah Jiang Cho, menegakkan kepalanya agar semua orang dapat melihat dirinya-termasuk seorang pemuda yang masih terheran-heran tak percaya di panggung lain.
"Pilar berikutnya, Pilar Kedelapan, sebuah penghormatan untuk pahlawan baru yang telah diseleksi dalam pemilihan kandidat Pilar Kekaisaran secara ketat oleh orang-orang terbaik, Zian Ning. Pemanah dari Utara."
Semua orang bertepuk tangan tak kalah meriah dari Xiu Qiaofeng. Baik Xin Chen maupun Xin Fai sama sekali tak mengetahui wajah baru itu. Benar, Zian Ning baru terlihat di mata mereka, dia bukanlah elit ataupun pahlawan senior. Tapi menjadikannya Pilar Kedelapan pasti merupakan keputusan yang tidak sembarangan.
Gadis dengan mata setajam elang, lengan tangan berlapis besi duri dan langkah begitu cepat itu memasuki panggung. Tak peduli akan kehebohan semua orang.
__ADS_1
Siapa yang tak mengenal Zian Ning dan satu saudaranya lagi yang menempati 3 besar seleksi pahlawan terbaik tahun ini. Sebelum perang di Lembah Para Dewa dimulai. Kaisar Qin telah mengeluarkan sebuah pengumuman berupa pencarian calon Pilar Kekaisaran baru. Hanya saja, tak seperti pemilihan yang telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu. Sistemnya telah berubah banyak karena beberapa pertimbangan.
Dikarenakan Kekaisaran Shang tengah berada di Era Kritis, Kaisar Qin tak bisa mengalokasikan dana terlalu banyak untuk menyelenggarakan acara. Dan untuk keamanan calon Pilar Kekaisaran, seleksi dilakukan amat rahasia.
Para peserta diterima berdasarkan rekomendasi dari sekte dan perguruan. Hanya diperbolehkan dua saja. Zian Ning berasal dari sekte Taring Singa. Terletak di Utara Kekaisaran Shang, di dalam hutan rimba yang dikelilingi maut. Dia dan Kakaknya berhasil menduduki peringkat kedua dan ketiga.
Semua penduduk yang mendengar kisah dua kakak adik ini tentu takjub akan sepak terjang keduanya. Tak bisa dipungkiri, dua kakak beradik itu bukanlah orang bangsawan ataupun klan elit yang memiliki sumber daya banyak dan kekuatan berlimpah. Mereka berlatih dari nol semenjak belum bisa berbicara dengan benar. Dua anak yang ditelantarkan orangtuanya sejak umur 6 tahun itu bertahan hidup. Hanya berdua.
Kisah mereka berdua menginspirasi banyak orang. Itulah alasan mengapa ketika Zian Ning tak menyapa pun, semua orang masih menyerukan namanya keras-keras.
Kharisma yang tinggi. Itulah yang dimiliki Zian Ning.
Kaisar Qin mengibaskan kertas di tangannya, membaca orang selanjutnya yang cukup membuatnya bangga atas pencapaiannya. Orang tersebut bahkan tak membutuhkan kursi pertama atau ketujuh untuk menyelamatkan orang. Dia baru saja menginjak usia delapan belas tahun, usia yang begitu belia untuk dijadikan seorang Pilar. Memang mereka yang lolos seleksi rahasia tak langsung ditunjuk untuk berdiri di urutan pertama, atas beberapa sebab pastinya. Karena saat ini Kaisar Qin lebih membutuhkan mereka yang betul-betul dapat membawa keamanan dan kedamaian di Kekaisaran Shang.
"Lian Ning! Lian Ning!"
Samar-samar di antara suara ribuan orang tersebut, terdengar nama Lian Ning. Sosok yang disegani oleh banyak orang. Tak perlu diucapkan dengan kata-kata, semua jasa Lian Ning telah diketahui banyak orang. Ketika pahlawan lain sibuk bertarung di tempatnya masing-masing, Lian Ning bertarung di jalannya sendiri. Mempertaruhkan nyawanya desa-desa yang hendak dihanguskan, melepaskan budak-budak dan menghalau jalannya penjarah. Bisa dikatakan, Lian Ning mengikuti jalan yang pernah ditempuh Pedang Iblis. Calon bintang baru muncul, sinarnya begitu terang di mata para penduduk Kekaisaran Shang.
Xin Chen memerhatikan lamat-lamat Lian Ning, takjub melihat sosoknya. Hanya dengan melihat wajahnya, dia dapat menebak sikap pemuda itu. Bodoh dan konyol. Tapi dia mampu berdiri di atas kakinya sendiri, membantu semua orang tanpa memikirkan balasan. Orang seperti itulah yang dibutuhkan Kekaisaran ini. Mengetahuinya Xin Chen cukup bangga. Tak menyangka masih ada harapan untuk Pilar Kekaisaran kelak.
Lian Ning sedari tadi juga menatap Xin Chen, mata biru yang pernah digosipkan itu benar adanya. Dia nyaris tak percaya dapat bertemu sosok yang selama ini hanya didengarnya dari mulut orang.
__ADS_1
Zian Ning lekas menarik Lian Ning ke sebelah, takut-takut kakak laki-lakinya itu berlari ke arah Tuan Muda Xin kedua dan melakukan hal bodoh.
Xin Chen mengerutkan alis ketika Lian Ning menyengir ke arahnya, dia melambaikan tangan antusias. Sedangkan adiknya menepuk jidat.
"Salam kenaaal!"
Sayangnya Xin Chen sudah tak menatapnya dan justru menatap ke sosok lain yang hendak menaiki panggung. Lian Ning sedikit kecewa, tapi rasa senangnya tak berkurang sama sekali.
"Tidak sopan! Jangan seperti orang udik, Kakak. Kita sedang dilihat banyak orang." Zian Ning memprotes setengah berbisik. Menyenggol pinggang kakaknya agar dia diam. Lalu Lian Ning melambaikan tangan heboh ke semua orang. Yang langsung disambut hangat. Bisa berdiri di panggung ini adalah salah satu bukti bahwa dirinya pantas untuk menjadi seorang pelindung.
"Yosh, ini baru permulaan. Aku akan memastikan kalian semua aman. Dan menyingkirkan orang-orang busuk dari Kekaisaran ini ..." ucap Lian Ning kecil, lebih tepatnya dia berbicara ada dirinya sendiri.
"Seperti yang selalu kau lakukan." Zian Ning senang karena kakaknya tak pernah berubah, "Dan aku akan mendukungmu dari belakang, sepertinya biasanya juga."
Lian Ning tahu adiknya sedang bahagia sekarang, tapi ekspresi datar itu merusak suasana hatinya. "Ayolah, tersenyum sedikit adik kecilku. Pedang Iblis dan satu orang yang kita idolakan sedang melihat kita."
Lian Ning dan Zian Ning tersenyum lebar-lebar.
"Kandidat nomor satu calon Pilar Kekaisaran yang telah mengalahkan ribuan pemuda-pemudi terbaik Kekaisaran ini. Terkenal sebagai ahli pedang terbaik di umurnya yang masih 21 tahun. Dialah Pilar Keenam kita, Yue Huanran!"
Seragam putih dengan ukiran bunga emas di tepiannya, jubah itu sering dikenakan perguruan Lembah Kabut Putih yang semenjak perang beberapa tahun lalu telah berpindah ke salah satu bebukitan di pinggiran Kota Fanlu. Yue Huanran bahkan lebih terlihat seperti orang yang baru berumur 18 tahun. Tangan kanannya menggenggam pedang di pinggang, berjalan tegap. Fokusnya tak pernah terpecah oleh tepuk tangan di sekitar. Dia memejamkan mata ketika tiba di barisan Pilar Kekaisaran. Menatap ke depan tanpa banyak basa-basi.
__ADS_1
Aura mencekam yang dimiliki Yue Huanran selalu membuat Lian Ning merinding sendiri. Namun pemuda itu tak pernah bermain-main soal bertarung. Hal itu membuatnya pantas menduduki peringkat pertama.
***