
Upacara pengangkatan Pilar Kekaisaran dilakukan dengan meriah. Dimulai dari sumpah dari Kesepuluh Pilar hingga pemberian jubah kebesaran mereka yang melambangkan kehormatan.
Xin Chen masih terus memperhatikan dua orang di depan sana, sampai perhatiannya tertuju pada Xin Xia yang saat itu sedang menggendong putrinya, menyaksikan detik-detik di mana Xin Fai menyampaikan pesannya kepada seluruh masyarakat.
"Kemenangan ini bukan hanya perjuangan milik rekan-rekan yang masih berdiri bersama kita. Kemenangan ini adalah perjuangan dan pengorbanan rekan kita yang telah tiada."
Dari semua hal yang ingin Xin Fai katakan kepada orang banyak, dia justru membicarakan tentang sahabatnya yang telah gugur di medan perang. Lan An.
"Sahabatku, Lan An. Dia telah melakukan yang terbaik selama aku tidak ada. Dia memastikan semua orang aman dengan nyawanya sebagai taruhan. Dia berulang kali menantang maut demi mendamaikan Kekaisaran ini." Pandangannya mengitari seisi penjuru Kota Fanlu, dan mendapati adiknya tengah menangis menutup mulut. Ada luka yang menyakitkan ketika melihat adiknya itu menangis.
Xin Fai juga manusia. Dia menangis, di hadapan semua orang yang selalu menganggapnya sebagai pendekar terkuat. Tapi sahabatnya Lan An itu meninggalkannya dengan cara yang menyakitkan; terbunuh oleh tangannya sendiri. Lelaki itu menatap tangannya, berpikir untuk meneruskan ucapannya tapi dia kehilangan kata-kata.
"Mantan Pilar Kedua kita layak untuk dikenang atas jasanya. Dan seperti yang anakku yang kedua katakan, aku juga berharap Yang Mulia membuat pemakaman yang layak untuknya."
Kaisar Qin mengangguk pelan. Dengan berakhirnya pesan yang disampaikan Xin Fai, acara telah berakhir. Penutupan terus berlangsung dengan berbagai hiburan dan pertunjukan. Setelah semuanya selesai Xin Fai mengajak dua putranya pulang sambil merangkul mereka.
"Mau mampir makan dulu?"
"Aku mau cepat pulang, ingin melihat ibu." Xin Zhan menjawab cepat-cepat. Xin Fai beralih ke anak satunya.
"Mau melihat ibu juga."
"Aish!" Xin Fai mungkin sedikit cemburu, kedua anaknya lebih nyaman bersama Ren Yuan dibandingkan dirinya. Istrinya itu tentu sedang dirawat di rumah, seharusnya tak ada yang perlu dikhawatirkan. Meski saat itu dirinya juga ingin segera bertemu dengan wanita itu, tapi tak ada salahnya juga menghabiskan waktu hanya bertiga.
"Aku sudah menduga kau akan menolak menjadi Pilar Kekaisaran, tapi tak habis pikir kau benar-benar melakukannya."
Topik sensitif itu membuat Xin Chen memejamkan mata, pasti kakaknya itu kembali ingat dan langsung menghajarnya dengan kata-kata menyakitkan.
"Adik bodoh!"
"Nah, bagian pembukaan ceramah dimulai." Xin Fai menyengir, menunggu pertarungan silat lidah dimulai. Memang seru melihat dua anaknya adu mulut, apalagi dulu saat mereka masih kecil dan bicaranya masih belepotan. Belum bisa berjalan saja mereka berdua sudah lihai berdebat.
"Kenapa kau menolaknya? Kau tahu tak semua orang bisa mendapatkannya? Aku heran jangan-jangan saat ibu melahirkanmu otakmu masih tertinggal di perutnya."
Xin Chen menutup telinga kesal. Sebenarnya bisa saja dia membalas tapi saat ini mereka sedang di tempat yang ramai, perkelahian hanya membuat mereka jadi pusat perhatian.
"Aku sampai tak habis pikir, bukankah Kaisar Qin sudah mengatakan saat ini posisi Pilar Kekaisaran dalam keadaan genting? Dengan keberadaan mu, mungkin saja para elit itu mundur. Tapi yang kau lakukan selalu di luar kenyataan, kau menolaknya? Yang benar saja. Padahal aku ingin sekali menceritakan ini pada ibu, tapi kau merusaknya. Kau tak menjadi Pilar Kekaisaran."
__ADS_1
"Bagian isi, mungkin." Xin Fai menimbrungi.
"Sepertinya mimpi yang pernah kukatakan benar terjadi," ungkap Xin Zhan. Xin Chen sempat terdiam, mengingat ketika dia bertemu dengan Xin Zhan di Kekaisaran Qing. Setelah sekian lama menutup identitasnya. Saudaranya itu terang-terangan mengatakan mimpinya di mana saat keadaan Kekaisaran Shang telah membaik, Xin Chen tak ada bersama mereka menghabiskan hari-hari yang damai. Anak itu selalu mengejar marabahaya. Hal itu membuat Xin Zhan kesal, walau dia tahu itu sepenuhnya bukan salah Xin Chen.
Mungkin itu penutup ceramah Xin Zhan, tak ada perlawanan dari Xin Chen. Membuat ayahnya sedikit kecewa. Xin Fai mengeratkan rangkulannya.
"Kalian harus saling mendukung, meski jalan yang kalian berdua tempuh berbeda. Tak perlu saling menyalahkan, mengerti?"
Xin Zhan tak menjawab.
Xin Chen membuka suara, berpikir setidaknya Xin Zhan mengerti keadaannya.
"Aku membawa dua pedang legendaris di tanganku dan juga aku akan pergi jauh ke Kekaisaran Wei. Jika aku menerima menjadi Pilar Kekaisaran, aku hanya akan membawa marabahaya di pusat dan takkan menemukan obat untuk ibu. Aku tak bisa menerima keduanya. Aku tak butuh kedudukan sebagai Pilar Kekaisaran lagi."
Xin Chen tersenyum tipis. "Senyuman orang-orang ketika aku berhasil menyelamatkan mereka ... Atau sekedar kata terima kasih, itu sudah cukup untuk membuatku merasa bangga pada diriku sendiri."
Xin Zhan tak tahu harus menjawab seperti apa. Dia menarik napas pelan.
"Setidaknya ada kau dan Ayah dalam Pilar Kekaisaran, itu sudah cukup untuk kestabilan Kekaisaran ini."
"Lalu, kau benar-benar akan pergi?" Xin Zhan menarik pandangan ke samping ayahnya, di mana Xin Chen hanya menatap lurus. Tak langsung menjawab.
Tak ada yang bisa Xin Zhan protes lagi. Keduanya terdiam sementara Xin Fai mengalihkan topik pembicaraan.
"Patung kita akan selesai lusa sore. Datanglah kalau kalian sempat."
Xin Chen dan Xin Zhan mengiyakan. Hingga mereka mulai melihat sebuah rumah. Dari kejauhan ketiganya menyadari ada sesuatu yang berubah.
Ketiganya segera berlari cepat, mendapati rumah tersebut begitu terang dibandingkan rumah-rumah lainnya.
Ketika ketiganya sampai di halaman, seseorang telah berdiri di depan teras bersama senyuman. Lilin di seluruh halaman diletakkan dengan indah, bahkan di bawah pohon terdapat puluhan lilin yang disusun membentuk huruf Xin. Terdapat lampion yang digantung berbagai tempat. Wanita itu menyambut dengan hangat.
"Kalian sudah pulang."
Beberapa hari sudah berlalu semenjak Ren Yuan berhasil mendapatkan obat yang menahan penyakitnya untuk sementara. Wanita itu telah terbangun sejak siang tadi dan mendengar dari pembantunya bahwa suami dan anaknya tengah mengikuti acara pengangkatan Pilar Kekaisaran.
Xin Zhan lah yang paling depan berlari, langsung merepet-repet tidak jelas.
__ADS_1
"Ibu sudah ku bilang jangan keluar sembarangan. Apaan lilin-lilin ini, jangan memaksakan diri, Ibu."
"Kau terlalu khawatir, Zhan'er. Ibu tidak apa-apa."
Suaminya datang, mencium kening Ren Yuan.
"Selamat datang," ucapnya. Sambutan yang selalu Xin Fai rindukan dari istrinya.
"Aku pulang."
Xin Chen baru hendak mendekati ibunya, tapi si kampret Ye Long menghancurkan suasana dan langsung memotong jalan. Naga hitam itu menindih Xin Chen sampai dia tak bisa bergerak.
"Makan! Makan! Makaaan!"
"Nanti dulu, dasar perut karet."
"Masuk dulu, ibu sudah memasak sup."
"Makaaan!" Ye Long berlari terbirit-birit mengejar Ren Yuan, ketiganya telah masuk ke rumah terkecuali Xin Chen.
"Ah, naga itu menyebalkan minta ampun." Xin Chen tak sengaja melihat ke samping di mana dirinya menangkap sekelebat cahaya emas berlari. Sangat cepat. Dia tak pikir dua kali dan langsung mengejar. Instingnya menyuruhnya untuk mengejar meski dari dalam rumah terdengar Ren Yuan memanggil namanya.
Dengan kecepatan kekuatan roh, langkah kilat pun dapat dikejarnya demikian mudah. Xin Chen kembali ke wujud manusia dan mengejar kian cepat cahaya emas yang berlari begitu lincah tersebut. Terdapat sebuah kekuatan yang terasa familiar dengan ayahnya. Xin Chen berusaha menyentuh cahaya itu.
"Rrrhhh ...."
"Lang?!" Xin Chen berteriak kencang. Tapi sinar emas itu menghilang tepat ketika cahaya bulan purnama muncul. Jantungnya berdetak hebat, kejar-kejaran berakhir sia-sia. Siluman yang begitu terang oleh cahaya emas tadi telah pergi tanpa meninggalkan jejak.
"Ada apa?"
Tiba-tiba saja sudah ada orang di belakangnya, Xin Chen segera menoleh melihat ayahnya ternyata mengikuti dirinya. Napasnya masih berantakan, Xin Chen menjawab sekadarnya.
"Tidak ada apa-apa, hanya iseng mengejar seekor siluman."
"Ada-ada saja kerjaanmu. Balik, atau minta dipaksa pulang dengan pukulan ranting?" Xin Fai mengancamnya sambil bercanda. Anaknya itu bergidik ngeri. "Tidak, terima kasih. Aku bukan bocah lagi, asal ayah tahu."
"Sekarang saja sudah besar kepalamu."
__ADS_1
Xin Fai mengusap kepala anaknya. Tapi pandangannya sempat menoleh ke belakang tanpa berkata-kata.