Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 175 - Terbangun dari Maut


__ADS_3

Sengatan rantai petir muncul di mana-mana, titik cahaya yang menyebar di ruangan perlahan memudar lalu menghilang. Menyisakan satu-satunya penerangan hanyalah api biru di atas meja.


Alis Shui terangkat, dia menunjuk ke belakang di mana sebuah jasad baru saja dibangunkan. Tapi ada hal ganjil yang keluar dari tubuh itu, Xin Chen mendelik ke belakang. Kakinya dengan refleks mundur.


Rubah Petir telah terbangun dari mautnya, tapi Xin Chen seakan-akan tak mengenali siapa sosok itu. Terasa asing dan juga sangat dingin.


Mata perak milik sang rubah terbuka, sesaat setelahnya guntur dahsyat jatuh menghantam salah satu pepohonan di markas Empat Unit Pengintai. Sontak kegaduhan menjalar seketika, salah seorang anggota tewas seketika terkena petir tersebut.


Lalu dalam beberapa menit setelahnya di luar markas, para anggota lainnya melihat keanehan yang begitu janggal di langit Lembah Para Dewa. Langit mendung total, membuat suasana saat itu sangat mengerikan tapi tak terasa angin badai datang bersama mendung itu.


"Guru Rubah, kau-"


Rubah mencakarnya dari jarak yang terbilang jauh, tapi serangan itu langsung mengenainya. Xin Chen sempat mengelak dan menghilang menggunakan tubuh roh. Dia muncul di pojok ruangan lainnya. Mengamati tubuh Rubah Petir lebih teliti lagi.


Garis abstrak berupa corak hitam menyebar di tubuh Rubah Petir, Xin Chen mengingat bentuk garis itu adalah corak tubuh yang sama ketika Rubah Petir mengubah tubuhnya ke wujud asli yang ukurannya jauh lebih besar. Kekuatan petir yang telah berkumpul di atas langit mulai turun, Rubah Petir menyerapnya dalam hitungan jumlah yang luar biasa.


Xin Chen melihat aliran kekuatan yang sungguh besar itu masuk ke satu titik di kepala Rubah di mana permatanya berada.


"Kau harus menghentikannya, Chen. Aku rasa sifat binatangnya sedang tidak terkendali."


Shui mundur ketika Xin Chen menyuruhnya, dia berlari secepat mungkin berniat mengabarkan kepada para manusia yang kebetulan berada di sekitar tempat itu segera menjauh.


Namun ledakan besar melonjak, membuat dirinya terpental untuk kedua kalinya. Shui sampai mencium tanah dengan wajah dongkol setengah mati.


"Bagus. Dua kali sudah, tadi mencium dinding sekarang tanah. Lihat kau, Rubah."


Terlambat sudah. Sesuatu yang di luar kendali telah terjadi. Rubah Petir berubah ke bentuk aslinya, menghancurkan bangunan sampai ke atap-atapnya hingga jatuh berkeping. Xin Chen mengeluarkan seruling, menyenandungkan Senandung Air untuk membantu Rubah itu tenang.


Rubah itu menderam kuat, suaranya menggema di seluruh penjuru bersama petir yang menyahut-nyahut, membuat suasana kian kelam kabut di dalam markas. Mata itu bercahaya terang, menyapu pandangan ke bawah di mana para manusia tampak kecil di matanya. Tangannya terangkat ke atas, menghantamkan ke bumi seketika. Tiga garis cakaran yang raksasa jatuh membelah bangunan dan jembatan hingga sampai ke gerbang utama. Kekuatan yang begitu dahsyat itu membuat para Empat Unit Pengintai panik.


Xin Chen tidak tinggal diam. Setelah melihat Rubah Petir mengamuk, dia langsung menggunakan Garis Hitam untuk menahan kedua tangan Rubah. Tali hitam itu mengikat pergelangan sang rubah, lalu yang lain mulai memutari tubuhnya. Xin Chen berniat mengunci pergerakannya.


Namun Rubah Petir melawan, menghancurkan Garis Hitam miliknya dan mulai merusak lagi.


Xin Chen tak ingin menyakiti rubah itu. Tapi tampaknya satu-satunya pilihan yang dia miliki adalah membuat Rubah Petir pingsan. Dia mengeluarkan kekuatan roh, puluhan ribu dari mereka terbang ke atas langit. Menyatu bersama petir dan awan yang menyertai amukan sang rubah. Kekuatan roh menggila, telah lama tak mendapatkan tumbal roh itu bergerak liar dan sulit dikendalikan.


Xin Chen menciptakan siluman elang raksasa dari roh itu, ukurannya memang hanya seperempat dari tubuh Rubah Petir. Tapi kecepatan terbangnya tak akan mampu diikuti oleh musuh mana pun. Elang hitam itu mulai mengepakkan sayap, ketika cakar Rubah Petir hendak mengoyak dia menghilang di antara kabut awan.

__ADS_1


Rubah kian mengganas, kekuatan miliknya terlepas tanpa kendali dan mulai menyengat orang-orang di bawah sana. Xin Chen melakukan hal lain, dia mengacaukan aliran kekuatan petir yang terus mengarah pada tubuh sang rubah. Sementara Elang Roh diam-diam terbang di balik punggung Rubah Petir, menghantamkan tubuhnya keras-keras hingga rubah itu nyaris kehilangan keseimbangan.


Hantaman lainnya menyusul, elang itu memiliki kesempatan untuk membuatnya tumbang. Lima serangan dalam waktu yang cepat sebelum Rubah Petir menciptakan bola petir dan melepaskannya. Benda itu meluncur ke arah sang elang yang sudah lebih dulu menghilang, mendarat di salah satu perbukitan yang langsung terbakar hangus setengahnya.


Amukannya sesaat tertunda ketika mata perak itu menangkap sesuatu bergerak menyelimuti langit dan tanah di sekitarnya. Selubung hitam kembali melingkupi seisi markas Empat Unit Pengintai, lalu dua elang roh lainnya muncul.


Rubah Petir terkurung di dalamnya, tak bisa bergerak banyak dan di saat bersamaan burung-burung roh mulai menyerang.


Lengkingan bunyi yang menukik tajam mengacaukan indera pendengarannya. Rubah berusaha memusnahkan burung roh itu yang jumlahnya semakin bertambah. Dari yang tadinya hanya puluhan sekarang mungkin sudah menyentuh angka puluhan sampai ratusan ribu. Rubah masih tak menyerah menangkap elang yang sejak tadi terus mencakarnya. Dia mulai frustrasi dalam kungkungan roh.


Lan Zhuxian yang berada di luar selubung memperhatikan pertarungan antara Xin Chen dan siluman penguasa bumi itu dengan risau. Tempat yang sedang dibangun kebanyakan hancur disebabkan oleh rubah. Jika ini terus dilanjutkan dia khawatir satu markas harus direnovasi ulang.


Sementara itu dia melihat Xin Chen berusaha menghentikan rubah itu.


Sesaat, terdengar deraman yang jauh lebih keras dari dalam selubung. Pertanda buruk, karena setelahnya dari selubung hitam itu bergaris-garis cahaya petir keluar. Lalu sesuatu meledak dahsyat di dalamnya.


Para laki-laki melihat tanah bergetar selama beberapa detik. Rubah Petir mengamuk. Xin Chen tahu dia harus berbuat apa untuk menghentikan Rubah Petir.


Namun langkahnya tertahan. Sebuah kekuatan yang berada jauh beribu tingkat di atasnya datang, membuatnya sedikit merinding. Xin Chen tak bisa melepaskan pandangan pada sosok pria bercahaya dengan rambut diikat sepinggang. Pakaiannya ikut bercahaya, berterbangan ketika angin berhembus kencang dari atas. Dia memiliki pedang yang diukir oleh tulisan asing.


Mata putih mengerikan itu sejenak memandangnya, diiringi oleh dentuman kencang yang terus bertalu-talu. Tanah di sekitarnya retak dan mulai mengambang di udara bersama serpihan cahaya yang mengitari sosok tersebut.


Xin Chen masih terpana oleh kekuatan yang dimiliki Dewa Petir. Tangan raksasa yang biasanya muncul di atas langit untuk menjatuhkan Petir Kutukan kini dapat dilihatnya secara langsung. Tangan itu naik, mengumpulkan kekuatan petir yang sempat kacau ke atasnya.


Satu lingkaran cahaya tercipta, bersama kencangnya angin di Lembah Para Dewa. Tubuh raksasa Rubah Petir terangkat, siluman itu tak bisa melawan karena dalam beberapa detik sebelumnya seluruh tubuhnya mati rasa. Dia tak dapat mengeluarkan kekuatannya sendiri.


Dewa Petir menghantamkan tubuh itu ke tanah, getaran hebat membuat seisi lembah bergetar sampai lima menit lamanya. Kepulan asap mulai menghilang secara perlahan-lahan, menyisakan reruntuhan dan bekas kekacauan. Rubah Petir telah kembali ke tubuh biasanya. Huo Rong yang ketika itu berada tak jauh dari sana segera mendatangi Rubah Petir dan memastikan keadaannya.


Xin Chen hendak mengejar sosok yang telah menyelamatkan markas ini dari amukan sang rubah. Namun Dewa Petir menghilang tak berapa lama, tanpa mengucapkan apa pun. Awan mendung telah berpecah di atas langit, semuanya kembali normal seperti sebelumnya.


Xin Chen memutar balik, mencari keberadaan Rubah Petir sampai dia menemukan Huo Rong tengah menggendong gurunya itu ke satu tempat agar bisa berbaring.


Sepanjang jalan dia dan Shui dapat melihat sekitar sebelas bangunan hancur begitu saja, tak ada korban jiwa hanya saja kebanyakan dari mereka mengalami mulai dari cedera ringan hingga terluka parah. Lan Zhuxian yang telah tiba duluan lebih dulu mengatur kelompok untuk memberikan penanganan cepat untuk mereka yang terluka. Anggota Unit Satu yang lainnya segera turun tangan, bahu membahu memulihkan markas. Mereka kurang tahu apa yang baru menimpa markas Empat Unit Pengintai dan hanya melakukan perintah yang di berikan.


Rubah telah diamankan. Xin Chen dan Shui memperhatikan lekat-lekat keadaannya, dia sedang tak sadarkan diri tapi setidaknya Xin Chen begitu lega ketika mendengar bunyi detak jantungnya. Rubah Petir bernapas begitu lemah. Berpikir sebaiknya membiarkan rubah itu berisitirahat, Xin Chen meminta Huo Rong untuk membawanya ke salah satu asrama terdekat di markas.


Usai memberikan tempat beristirahat untuk Rubah Petir, Xin Chen berniat membantu memperbaiki banyak hal rusak di luar.

__ADS_1


Huo Rong yang sudah lebih dulu di luar membantu memulihkan markas kelihatan menggerutu, "Bagusnya sahabatku itu. Sedang tak sadarkan diri pun masih sanggup merepotkan orang."


Meski terlihat marah, samar-samar terlihat bahwa Huo Rong sedang menahan harunya. Dia dan Rubah Petir memiliki ikatan pertemanan yang kuat. Xin Chen bahkan masih ingat ketika dia menyampaikan kabar kematian Rubah Petir kepada Salamander Api itu. Marahnya yang berapi-api bisa saja menghancurkan satu lautan.


Dia mengelap wajahnya yang penuh oleh keringat, mencangkul tanah sambil sesekali memarahi bawahannya yang dianggapnya tak becus bekerja.


"Cepat bereskan yang di sana, cecunguk. Aku tak mau melihatnya seperti itu, membuatku kesal saja."


"Mana bisa kita membereskan kerusakan ini hanya dalam satu malam?"


"Kata nenekmu, iya. Kata aku tidak! Lakukan saja!"


Shui datang bersama Xin Chen, melihat antusias di wajah Huo Rong si Surai Biru mengejeknya.


"Ada satu orang yang bersemangat, heh. Hati-hati nanti malah kau cangkul kakimu sendiri."


Huo Rong mengangkat cangkulnya sambil mengumpat, "Kepalamu sini yang ku cangkul."


Dia beralih ke arah Xin Chen, "Nah kau kenapa ke sini? Bukannya menjaga si rubah. Kalau dia berubah lagi bisa hancur satu markas ini dibuatnya!"


"Mungkin butuh waktu lama agar dia bisa sadar. Aku ingin membantu yang di sini dulu. Kau saja yang menjaganya."


Xin Chen mengambil cangkul di tangan Huo Rong. Sejauh penglihatannya, tubuh dan otot Huo Rong berubah banyak semenjak terakhir kali mereka berjumpa. Huo Rong bekerja mati-matian untuk membangun Markas Empat Unit Pengintai hingga bisa sebesar sekarang.


"Istirahatlah sebentar. Biar aku yang urus di sini."


Huo Rong tersenyum, menghargai kebaikannya dan tanpa banyak menolak langsung pergi ke tempat Rubah berada.


Ketika melangkah, Xin Chen menyahut kesal.


"Oi, oi, yang di sana. Siapa yang menyuruh kau ikut beristirahat?"


Shui menoleh ke belakang canggung, dia menggaruk telinganya. "Eh ... Aku kan juga capek."


"Bantu sini!"


"Haisss," gerutunya. Membantu setengah hati. Perbaikan dilakukan sampai satu hari lamanya, karena banyaknya tenaga kerja banyak pula waktu yang dihemat. Xin Chen berniat membuat pesta kecil-kecilan sebagai penghargaan atas kerja keras mereka selama dia tak ada.

__ADS_1


Tentu saja, dengan uang yang telah didapatkannya dari Kekaisaran Wei, dia tak perlu khawatir akan jatuh miskin lagi.


__ADS_2