
"Di sini semuanya dimulai ..."
Xin Chen dan Rubah Petir telah berada tepat di depan tembok besar yang melindungi Kekaisaran Wei, pertahanan tingkat tinggi itu akan sulit ditembus jika suatu saat pihak musuh mereka mengibarkan bendera perang. Mereka berdua diam beberapa lama, Xin Chen menoleh ke arah Rubah Petir yang tak berkata-kata semenjak lima menit terakhir. Telinganya bergerak, mengikuti suara menakutkan yang keluar dari dalam tembok tersebut.
"Baru dari luar saja sudah sekacau dan semengerikan ini suaranya." Rubah itu akhirnya mengeluarkan kata-kata, tapi yang dikatakannya sama seperti yang Xin Chen pikirkan. Suara itu seolah-olah ratusan ribu manusia tengah meraung dan mencabik apa pun di sekitarnya.
"Kita tak akan bisa masuk dengan mudah, kemarin aku dan Lang bisa menembus ini karena dibantu seseorang. Sekarang kita tak punya siapa-siapa. Kita harus mencari jalan masuk."
"Cih, kau memikirkan cara memasukkanku ke sana. Kau sendiri bisa langsung masuk padahal," dengkus rubah itu, Xin Chen menggeleng singkat. "Aku tak bisa menggunakan kekuatan roh sekarang. Dan tubuh ini sangat rentan. Aku tidak boleh menggunakan kekuatan secara berlebihan atau hal buruk akan terjadi."
Xin Chen berjalan diikuti Rubah Petir, berlindung dari balik rumput tinggi dan batang pepohonan besar. Ada satu gerbang samping, hanya muat untuk satu orang dewasa. Mereka mengintip dari sana beberapa lama sampai pintu gerbang terbuka.
Tampaknya suara terinfeksi yang begitu dekat itu berasal dari kurungan yang diisi oleh lima mayat. Mereka dibiarkan terkurung begitu saja tak jauh dari gerbang.
Rubah Petir menyelutuk, "Kita hanya akan menunggu sampai tamat kalau tidak melakukan sesuatu. Waktunya menggunakan otak, Chen. Kalau otakmu tak berguna lebih baik kau ganti dengan batu saja."
"Diamlah Guru Rubah, ini juga sedang berpikir. Kau kira dari tadi aku menari?"
Xin Chen mulai tak yakin, tiga menit berpikir disertai desakan dari Rubah karena di belakang mereka musuh mulai mendekat tapi dia hanya memiliki satu cara yang agak berbahaya.
Dia sendiri tak pernah mencoba cara ini, entah berhasil atau tidak. Pemuda itu berusaha menepikan keraguannya, memusatkan konsentrasi sebaik mungkin karena jika dia gagal kali ini kemungkinan akan terjadi hal buruk. Mereka tak akan memiliki kesempatan untuk masuk ke dalam Kekaisaran Wei.
"Kau menemukan cara?"
"Mungkin."
Dia menghitung jumlah prajurit yang berjaga di sekitar gerbang samping, sekitar sebelas orang dan satu orang pemanah yang berdiri di atas tembok Kekaisaran. Xin Chen menciptakan busur Api Keabadian. Membidik laki-laki yang cukup jauh di atas tembok sana, memastikan anak panah tersebut akan menjatuhkan tubuh laki-laki itu ke luar tembok.
Anak panah meluncur, tak begitu cepat atau pun lamban. Lelaki yang tengah memantau terkejut ketika tiba-tiba sebuah benda lurus dengan mata ujung tajam bersarang di batang tenggorokannya. Dia diam dua detik dan akhirnya jatuh.
Bunyi tubuhnya yang barusan jatuh dari ketinggian menghantam tanah menarik perhatian prajurit di dalam, gerbang kembali dibuka dengan munculnya dua orang prajurit berzirah tebal.
Saat yang menjadi penentu dimulai.
__ADS_1
Xin Chen menyalurkan kekuatan roh ke seluruh tubuhnya dalam jumlah besar, mengatur aliran kekuatan itu agar terpusat pada pikirannya. Kekuatan itu mengamuk, Xin Chen menahannya berulang kali sampai tangannya gemetar. Ratusan ribu roh itu memberontak.
"Pusatkan pikiranmu ke satu hal di depan sana." Rubah Petir membantunya tetap sadar, menunjuk ke pintu gerbang di mana di dalamnya terlihat lima terinfeksi dikurung.
"Baik-"
Dia merapatkan kepalan tangan, menahan serangan dari kekuatan tersebut. Dari semua jenis jurus Kitab Pengendali Roh, kekuatan baru ini sepuluh kali lebih sulit untuk dilakukan.
Kekuatan hitam menyebar di balik semak dan pepohonan. Membuat para prajurit yang mengecek mayat tadi mulai panik. Mereka memanggil prajurit lainnya untuk memeriksa.
"Mereka datang," ucap Rubah bersiap untuk meledakkan kepala mereka jika muridnya itu benar-benar gagal kali ini.
"Jangan, aku bisa melakukannya ..."
Rubah Petir melihat aliran kekuatan Xin Chen mulai stabil, tapi bukan itu saja yang membuatnya tertegun. Tapi garis-garis hitam yang mulai menjalar dari wajah hingga ujung kaki muridnya itu. Mata kirinya yang sebelumnya bersinar biru terang mulai meredup, berganti hitam pekat yang mengalahkan hitamnya tinta.
"Ada apa dengan tubuhmu?"
Rubah Petir tak menganggap jurus itu terlalu bahaya, sebab kalau hanya merasuki satu tubuh saja mana mungkin akan menjadi petaka.
Lima roh keluar, melesat cepat ke segala arah. Xin Chen dapat melihat apa yang mereka lihat dengan mata kirinya, mengarahkan roh itu ke dalam kurungan yang berisi lima terinfeksi.
Garis hitam di tubuhnya mulai memudar, begitu pun matanya telah kembali seperti semula. Lalu dalam beberapa detik setelahnya Xin Chen jatuh, merasakan sesuatu yang tak bisa dijelaskan.
"Terinfeksi keluar dari kurungan! Cepat tangkap mereka!!"
Lima prajurit yang hendak mengecek tiba-tiba terkecoh dan langsung berlari ke sumber suara. Baru mereka masuk ke dalam gerbang, sesuatu meloncat kencang. Membuat salah satu kepala dari mereka pecah. Tiga pria berpencar luntang-lantung, satu yang tertinggal langsung dicabik-cabik.
Kekacauan menghiasi bagian gerbang samping, beberapa prajurit yang berusaha melawan mati tanpa ampun oleh terinfeksi yang bertambah kuat.
Rubah Petir mengingatkan Xin Chen, "kita tak punya waktu banyak, selagi mereka sibuk kita langsung masuk."
"Kau benar."
__ADS_1
Xin Chen kembali ke tubuhnya semula, dia tak bisa berlama-lama di tubuh roh karena sangat sulit mengendalikan mereka. Benar seperti apa yang dikatakan Rubah Petir, roh itu adalah wujud ketamakan. Begitu melihat makanannya, mereka mengganas.
Keduanya melangkah masuk secepat mungkin, Xin Chen mengikuti langkah Rubah dari belakang.
Tapi tidak beruntungnya ketika sedang mengendap-endap seorang pemanah melihat dirinya.
"Hei, aku melihat penyusup-"
Dinding di belakang pemanah itu langsung terciprat oleh darah. Terinfeksi yang baru menyerangnya memakan pria itu dengan beringas. Xin Chen merinding, tidak tahu apa yang terjadi kalau lima terinfeksi itu melihat mereka berdua.
Dan sekarang Xin Chen terperangkap. Tidak ada jalan keluar, Rubah Petir sendiri sudah berjalan cukup jauh darinya. Dia hendak menuju pintu untuk menyusul Rubah dan saat yang bersamaan pula satu terinfeksi menghadangnya.
Mata mahluk itu hitam, seperti kata Rubah; diisi oleh kekuatan roh di dalamnya.
Xin Chen diam. Tak berkutik. Dan baru menyadari di sekitar ruangan yang cukup luas itu tak ada satu pun manusia yang selamat.
"Aku bukan manusia. Anggap saja aku bebatuan. Haha." Tawa kikuknya mengundang perhatian Empat terinfeksi lainnya, Xin Chen merinding bukan main. Melihat mayat hidup yang menatapnya seperti orang hidup.
Tengkuknya dingin seperti es. Terinfeksi itu diam, membiarkannya lewat ketika yang lainnya mendekatinya.
Ada dua pintu di ruangan itu. Satu pintu untuk menyusul Rubah Petir, satu pintu lagi terdapat para prajurit yang hendak mendekat. Xin Chen dapat mendengar suara mereka dari kejauhan.
Ide jahat menguasai otaknya. Tahu terinfeksi itu tak menyerangnya, Xin Chen membuka pintu yang terhubung dengan ruangan lain berisi para prajurit Kekaisaran Wei.
"Silakan, makanannya Tuan-tuan."
Dia segera berlari cepat ketika lima terinfeksi itu berlari mencium bau manusia hidup. Rubah Petir yang menunggunya dengan geram hanya bisa membuang napas. Jeritan melolong dari lorong-lorong kastil.
"Kita harus keluar dari tempat ini. Di luar ada lebih banyak prajurit. Berhati-hatilah."
"Siap, Guru."
"Dan usahakan jangan terlalu banyak membunuh. Kau akan membuat mereka curiga kalau pembunuh Kaisar Shi kembali."
__ADS_1