Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 195 - Waktumu Sebentar Lagi


__ADS_3

Rubah Petir masih memejamkan mata ketika dia mendengar sesuatu berbunyi grasak-grusuk, atensinya terganggu sejenak. Berpikir itu adalah Fu Hua, tapi sejak beberapa menit yang lalu gadis itu berpencar mengecek keadaan. Di tempat itu terdapat satu tangga yang terhubung ke lantai bawah, mungkin Fu Hua mencari sesuatu di sana sendirian.


Bunyi desis yang sedikit menyeramkan sampai ke telinganya, Rubah Petir mundur secepat mungkin ketika satu cakaran nyaris mengoyak wajah. Menyadari satu hal mengejutkan. Satu terinfeksi berhasil memanjat ke atas bangunan yang sangat tinggi itu, tubuhnya bermutasi sangat kuat hingga dia terlihat sangat berbeda dengan kawanannya di bawah.


"Sepertinya ini yang dikatakan Xin Chen." Rubah Petir teringat dengan tingkat mahluk tersebut, ada beberapa dari mereka yang tak boleh dianggap remeh. Rubah Petir menatap satu gelang putih di tangannya dengan angka 103. Mungkin menjelaskan bahwa dirinya adalah percobaan nomor seratus tiga. Lidah panjangnya menjulur menampilkan gerigi yang tidak biasa.


Kembali satu serangan menyerbunya, beruntung Rubah Petir cepat menghindar. Tapi yang tak disadarinya, satu terinfeksi lain berhasil memanjat dan melompat ke arahnya.


Rubah tak sempat menghindar. Dia terlanjur kaget, merasa beberapa hal tak berfungsi sebagaimana mestinya. Dia tak dapat merasakan hawa keberadaan mahluk itu, gerakan mereka sangat-sangat cepat dan cekatan.


Xin Chen berada jauh dari tempat di mana dirinya terpojokkan, Rubah Petir jatuh terguling. Mahluk itu berusaha mencekiknya yang terbaring di atas lantai. Rubah menyalurkan kekuatan petirnya untuk meledakkan kepala terinfeksi itu. Tapi terinfeksi lain di belakang ikut menyerang dan mulai menggigit kakinya.


Keadaan terjepit itu memaksanya untuk menggunakan kekuatan petir-yang seharusnya dia batasi sebab para peneliti bisa saja menyadari kekuatan siluman miliknya. Tentu akan membawa perkara besar jika mereka tahu Siluman Penguasa Bumi sepertinya sedang berada di Kekaisaran Wei.


Cipratan darah membasahi sekitar, amisnya mulai tercium pekat. Rantai petir di tangan Rubah Petir muncul dan sesekali menghilang, dia belum menggunakan kekuatan itu sama sekali.


Terdengar suara menggelinding yang cukup keras, Rubah Petir berusaha bangun melihat seseorang baru saja menyelamatkannya. Gadis itu, bernapas tak karuan dengan dua pedang di tangannya yang saling menyilang. Dalam satu kali serang, dua kepala itu terlepas.


"Kau menyelamatkanku." Rubah Petir lega dia tak harus menggunakan kekuatannya, lalu beralih menatap Fu Hua yang masih setengah tersadar. Seperti terkejut akan sesuatu, tentu membuat Rubah Petir heran


"Kau kenapa?"


"Di belakangmu ..." Fu Hua menunjuk dengan jari gemetar, Rubah Petir melihat sebuah bayangan seseorang yang nampak di depannya. Mengangkat tangan hendak menyerangnya.


Saat mahluk itu hendak mencengkramnya Rubah Petir segera berbalik. Melihat sesuatu yang ukurannya lebih besar dan gemuk, lebih terlihat seperti manusia gendut yang perutnya diisi oleh cairan berbahaya. Tubuh mahluk itu kejang-kejang, Rubah Petir dan Fu Hua menjauh waspada. Tak tahu apa yang sedang dilakukan oleh terinfeksi aneh itu.


"Bagaimana caranya dia bisa naik ke sini dengan tubuh seberat itu?!" Fu Hua sempat-sempatnya mempertanyakan hal tersebut. Lalu dia melihat makhluk yang hampir sama memanjat dan naik ke atas atap. Di tepi atap terlihat tangan-tangan yang terus menanjak naik, membuat keduanya ngeri.


**


Xin Chen berusaha mencari ke segala arah, tidak menemukan satu pun manusia yang tersisa selain laki-laki tadi. Dia mencemaskan orang-orangnya Perkemahan Tenggara lebih tepatnya.


Pemuda itu berbalik badan, berniat kembali sebelum malam turun dan keadaan di bawah sini menjadi lebih berbahaya. Namun sesaat langkahnya tertahan, matanya terkunci pada satu terinfeksi yang tengah memerhatikannya dari jarak kurang dari sepuluh meter.


Matanya tak membara berapi seperti biasanya, telah lama redup semenjak tubuhnya kehilangan ruh. Bahunya yang bidang menurun, urat-urat di tangannya menonjol. Tubuhnya bermandikan darah, menggambarkan seberapa keras perjuangannya bertahan hidup sebelum akhirnya menjadi terinfeksi.


Mulut laki-laki itu terbuka, seperti hendak menggigit Xin Chen yang masih memaku di tempat.

__ADS_1


"Tiga ..."


Lelaki itu adalah orang pertama yang mempercayainya di Kekaisaran Wei. Orang yang pernah menyelamatkan nyawanya, Lang dan Luo Li. Nasibnya tak beda tragis dengan manusia di Kekaisaran Wei ini. Xin Chen mundur perlahan.


"Kau pasti tersiksa."


Tangan Tiga terangkat ke atas, berusaha meraih Xin Chen yang terus mundur. Dia jalan pincang, meraung-raung dengan mulut penuh darah.


"Senang bisa mengenalmu, aku yakin anak istrimu sedang menunggumu. Pergilah dan temui mereka dengan tenang."


Xin Chen berhenti mundur, ketika Tiga hendak menyentuhnya tangan kanannya segera menebas melintang, Pedang Baja Phoenix kembali meneteskan darah yang agak sedikit hitam tersebut. Dia tak berani melihat kepala Tiga yang sudah terlempar jauh. Hanya melihat tubuh yang masih berdiri sampai sepuluh detik itu dan masih mengeluarkan darah.


Sampai ketika tubuh itu ambruk, Xin Chen meneruskan perjalanan kembali. Dia baru saja menyarungkan ketika mendengar sesuatu yang mengerikan.


Dia berlari, melihat ke bangunan tinggi yang kini membuat tengkuknya merinding kembali. Tepatnya di samping tempat tersebut para terinfeksi berkumpul dan membentuk piramida mematikan, mereka mencapai bagian tertinggi bangunan tempat bau manusia hidup tercium. Lautan mayat hidup itu membuat bangunan yang menopangnya mulai memunculkan tanda-tanda akan rubuh.


Jeritan yang mencekam timbul tenggelam di telinga. Xin Chen melihat dari kejauhan di atas atap sana tiga terinfeksi beracun hendak meledakkan Fu Hua dan Rubah Petir. Tidak ada waktu untuk mengejar ke atas sana, Xin Chen berbalik badan ketika sesuatu mencakarnya.


Dan dia terlalu lengah untuk menyadari bahwa ratusan terinfeksi sedang mengejarnya juga.


"Kota macam apa ini?!"


"Tidak mungkin, ini ..."


Dia memutar otak, berusaha mencari jalan keluar.


"Tidak ada pilihan lain." Xin Chen melepaskan kekuatan roh yang seketika meledak-ledak, menyerang jiwanya yang mulai kesakitan oleh ratusan ribu dari roh yang memberontak. Xin Chen tak bisa mengendalikannya di tempat yang dikerumuni ribuan terinfeksi seperti ini.


Di tengah kekacauan yang menyelimuti pikirannya, Xin Chen melihat dari jalan besar puluhan ribu terinfeksi turun ke jalanan karena suara yang ditimbulkan piramida mayat di tempat Fu Hua. Jarinya gemetar, tak mampu menjinakkan kekuatan roh tersebut. Sementara satu terinfeksi beracun telah meledak.


Rubah Petir menciptakan perisai petir. Mereka berdua tak bisa pergi dari sana karena dari segala arah kini piramida terinfeksi telah menanjak ke puncak atap. Keduanya dikepung dari berbagai sisi.


Sementara Xin Chen di bangunan yang berada agak jauh dari sana masih mengendalikan kekuatannya. Terinfeksi yang sebelumnya hendak memanjati tempat itu berhenti bereaksi. Aroma tubuh manusia tak tercium lagi, mereka bertolak mengejar ke arah Rubah Petir dan Fu Hua.


Situasi semakin kritis dari waktu ke waktu. Xin Chen memegang kepalanya yang berdenging, jatuh berlutut menahan sakit luar biasa. Namun sesaat dia terdiam, garis hitam telah kembali terukir di wajah dan tubuhnya. Lalu dalam sepersekian detik kekuatan roh yang begitu dahsyat keluar, menyerbu terinfeksi yang berada di atas puncak.


Xin Chen mati-matian mengendalikan mereka untuk turun dan menyerang terinfeksi lain di bawah agar Fu Hua dan Rubah Petir memiliki kesempatan untuk kabur.

__ADS_1


Sementara di tempat lain, Rubah Petir menangkap sumber kekuatan yang begitu kuat, menyadari Xin Chen akhirnya menggunakan kekuatannya dan itu menjadi di luar kendali. Ini terlalu banyak, sampai-sampai kabut putih di atas langit berubah menjadi gelap.


"Tidak ... kita harus ke sana atau dia bisa kehilangan kesadaran-" Fu Hua berkata khawatir, sama seperti Rubah dia juga menyadari hal yang sama. Fu Hua menggunakan tubuh terinfeksi yang telah dibunuhnya untuk berlindung saat terinfeksi beracun meledak.


"Ke sini!" teriak Rubah Petir ketika menemukan satu jalan yang telah terbuka, dia turun dengan bergantung pada beberapa pijakan kecil di jendela-jendela bangunan. Fu Hua turun mengikuti Rubah Petir secepat yang dia bisa.


Dari kejauhan mata safir itu dapat melihat Xin Chen kehilangan kendali atas kekuatan rohnya. Mereka semakin dekat dengannya. Dan yang mengejutkannya para terinfeksi itu tak mencoba menyerang mereka berdua karena berada di bawah pengaruh kekuatan Xin Chen.


"Chen, berhenti!"


"Tidak bisa ...! Mereka terus memberontak!" Xin Chen merasakan kepalanya seperti dihantam dengan benda yang beratnya berton-ton. Begitu menyakitkan. Sampai begitu sulit untuk sekedar mempertahankan kesadarannya sendiri.


Terinfeksi yang berada di bawah kendali Xin Chen melahap mereka yang tidak terkena, saling menyerang dan memakan. Fu Hua tiba lebih dulu, berusaha menenangkannya tapi dia tak bisa menyentuh Xin Chen sedikit pun.


Gadis itu melihatnya, urat yang keluar dari leher dan kini menjalar hingga ke wajah Xin Chen. Penyakit yang kelihatan begitu parah dan tak pernah di temuinya seumur hidup. Dia sempat bertanya-tanya, mengamati Rubah Petir yang mengambil tempat duduk di sisi sebelah Xin Chen.


"Bayangkan air sungai yang tenang. Ikuti arusnya yang pelan."


Xin Chen berusaha mendengarkan kata rubah itu, di tengah kesakitan yang semakin merajalela. Piramida yang mengerubungi bangunan di sana mulai memunculkan pertanda.


Lalu dalam hitungan detik berikutnya piramida itu rubuh dengan sendirinya, kabut hitam tebal mulai menghilang di kota tersebut dan para terinfeksi kembali seperti sebelumnya. Bergerak tanpa arah dan bersuara aneh.


Fu Hua membuang napas lega, Rubah Petir bisa lega untuk saat ini. Xin Chen masih setengah sadar, dia kembali ke wujud manusianya dan kembali dihantam oleh rasa sakit yang nyaris membuatnya pingsan.


Xin Chen melihat tangannya, sama seperti yang terjadi di halaman Istana Kaisar.


"Kalau boleh di bilang ..." Fu Hua mengeluarkan suara serak, menarik perhatian mereka berdua, "Kau sedang sekarat."


"Bagaimana kau bisa tahu?"


Xin Chen menoleh ke arahnya, pertanyaannya sama seperti pertanyaan yang baru saja dilontarkan Rubah Petir.


"Aku sempat membaca di sebuah buku milik alkemis yang ku geledah. Tubuhmu mencoba bertahan oleh virus itu. Dan sekarang virus itu masih mencoba membunuhmu. Dia tak akan mati sebelum kau benar-benar menghabisinya. Andai pun kau pernah membersihkannya ... Dia akan hidup kembali."


"Jadi penyakit ini tak akan bisa sembuh?" tanya Xin Chen sedikit putus asa.


"Aku tidak bisa mengatakannya, tapi peneliti di sini pasti punya jawaban untuk itu. Kau telah tergigit sejak dua bulan yang lalu, bukan?"

__ADS_1


"Kurang lebihnya," jawab Xin Chen.


"Waktumu tak banyak."


__ADS_2