
Garis Hitam terputus, pedang di tangan Xin Fai dialiri kekuatan roh yang dahsyat. Lalu, dalam sepersekian detik Xin Fai menghilang. Hanya terlihat segaris cahaya di mata Roh Dewa Perang yang tak sempat mengikuti arah gerak laki-laki itu.
Hingga dia tersentak menyadari hawa kehadiran di belakangnya, Xin Fai langsung melepaskan ayunan pedang. Tepat mengenai tubuh Roh Dewa Perang, membuatnya terlempar jauh.
Serangan itu terasa amat menyakitkan hingga Roh Dewa Perang tak sempat berpikir bahwa Pedang Iblis telah menyiapkan serangan beruntun selanjutnya yang mampu membuat tubuh rohnya terasa hancur.
Di sisi lain, pertarungan antara siluman berlangsung tak seimbang. Benar seperti dugaan Huo Rong tadi. Mereka berdua tak akan bisa bekerja sama menghadapi Naga Kegelapan. Tidak ada kekompakan di antara keduanya. Sama sekali tidak ada. Sama-sama keras kepala dan ingin didengarkan maunya. Huo Rong mengeluarkan geraman. Andai yang bertarung dengannya kini adalah Rubah Petir, mungkin kesempatan untuk menang jauh lebih besar.
Huo Rong mencoba memojokkan Naga Kegelapan, tapi Shui tak melakukan hal yang sama. Hal itu membuat usahanya sia-sia dan kini serangan berbalik mengenai Huo Rong yang lengah. Kibasan ekor Naga Kegelapan dua kali lipat lebih kuat daripada benturan pertama yang diberikan Shui dan Huo Rong di awal-awal.
Pembalasan di mulai, Huo Rong kehilangan keseimbangan. Dia jatuh dan langsung menjadi mangsa empuk Naga Kegelapan. Api Keabadian membakar langsung tubuhnya, Salamander Api melindungi tubuh dengan api terkuat yang dia punya. Tak membiarkan kekuatan lain membunuhnya begitu cepat.
Di sisi lain Shui mencoba menyelamatkan, tapi sialnya Naga Air itu begitu gegabah. Dia menjadi mangsa selanjutnya setelah Huo Rong dilepaskan. Lalu, dalam sekejap mata, semburan api panas mengenai seluruh tubuh Shui.
Huo Rong hendak membantu, tapi Naga Kegelapan menabrak tubuhnya begitu kuat hingga terjepit di antara tubuh Naga Kegelapan yang begitu panas dan permukaan tanah. Terdengar raungan dari Huo Rong, hingga suaranya melemah beberapa waktu setelahnya. Kedua siluman itu, jatuh. Dan akan dilenyapkan sebentar lagi oleh Naga Kegelapan.
Huo Rong sempat menatap ke arah di mana Xin Chen dan Xin Zhan berada. Tampaknya kesalahan mereka tadi bisa teratasi dengan selamat. Napas beratnya berdengus lega, matanya terpejam. Membiarkan suhu di sekitarnya melelehkan perisai tubuhnya.
Di tempat lain Shui yang kini tergeletak di atas tanah nyaris tak bergerak.
Beruntung saja sebelum Api Keabadian itu benar-benar mengenai tubuhnya, Shui menciptakan pusaran air yang langsung dilemparkannya ke arah lain. Dia berpura-pura terluka. Menunggu celah hingga Naga Kegelapan kehilangan perhatian atasnya, dan ketika waktu itu tiba, Shui langsung bergerak ke arah lawannya.
Mulutnya terbuka lebar, lalu menggigit leher Naga Kegelapan sekuat yang dia bisa. Rahangnya berbunyi kencang, suara retakan di tulang Naga Kegelapan ikut berbunyi. Gigi-gigi Shui menancap penuh di leher lawannya hingga terlihat darah hitam mulai menetes dari tubuh naga tersebut. Tak main-main, Shui juga menggunakan ekornya untuk menghantam naga tersebut.
Pertarungan Shui menjadi lebih brutal. Huo Rong terlepas sejenak dari Naga Kegelapan dan menyaksikan bagaimana Naga Air melawan Naga Kegelapan sendirian. Pertarungan antara naga yang begitu sengit.
Shui membuka kesempatannya sendiri dengan menunggu waktu di mana Naga Kegelapan lengah, naga itu bahkan tak sempat menyeimbangkan tubuhnya karena terus-terusan diserang Shui. Tanpa dilepaskan hingga dua menit berjalan.
Satu tepisan kencang membuat Shui terlepas dari lawannya. Mulut Shui penuh darah hitam. Tubuhnya berasap, karena tubuh lawannya yang begitu panas dan Api Keabadian di sirip-sirip nya bisa saja membuat Shui ikut terbakar. Karena dia adalah Siluman Penguasa Bumi, Api Keabadian dapat diatasinya dengan menggunakan perisai elemennya sendiri. Kekuatan elemen air nya begitu besar. Tak mustahil lagi air tersebut mampu menghalang panasnya Api Keabadian. Tanpa harus menghindarinya.
Naga Kegelapan seperti akan mengamuk, dia mengeluarkan napas api. Membakar apa pun di sekitarnya. Membuat suhu naik dari waktu ke waktu. Bisa dilihat saat itu Lembah Para Dewa bukan lagi tanah yang dapat dihuni oleh bangsa manusia. Lebih seperti lautan api biru yang membara, tak ubahnya Kota Renwu. Bahkan siluman biasa pun tak akan mampu tinggal di sana dalam waktu lama.
Dan yang paling penting, selepas ini tanah tersebut tak akan diperebutkan lagi seperti sebelumnya oleh kedua Kekaisaran karena kini Lembah Para Dewa hancur dalam artian hancur yang sebenarnya.
__ADS_1
Bukit rata dengan tanah, ratusan ribu mayat-mayat mati di sana dan langsung terbakar tanpa upacara pemakaman, sebatang pohon pun tak bersisa, lalu di satu tempat terdapat satu jurang yang diciptakan Naga Kegelapan sebelumnya. Sangat dalam, dan di dalamnya terdapat semacam lubang berisi lahar api biru panas.
Siap membakar apa pun yang jatuh ke dalamnya, bahkan dalam waktu kurang dari satu detik.
Naga Kegelapan menyerang Shui, membalas gigitan leher sebelumnya dengan sama. Shui tak bisa mengelak sama sekali, lehernya terasa seperti akan putus oleh gigi tajam lawannya. Begitu keras seperti batu yang dilengkapi dengan ketajaman yang mampu membuat tulangnya tertusuk dalam.
Huo Rong mengepakkan sayapnya, bangkit dari tempatnya dan langsung menerjang Naga Kegelapan. Mencoba melepaskan naga itu dari Shui yang memberontak, jeritannya menyakitkan untuk didengar. Saat Naga Kegelapan melepaskan Shui, leher Shui nyaris seperti akan lepas. Huo Rong sedikit takut melihatnya, juga tak percaya bahwa Shui mampu bergerak lagi setelah gigitan tadi.
Tapi tampaknya Naga Kegelapan tak akan melepaskan Shui sebelum naga itu mati. Naga Kegelapan terus mengincarnya dan melepaskan semburan api dahsyat, dia menghiraukan Huo Rong yang terus menyerang dari belakang.
Bodohnya Shui meladeni serangan tersebut, jelas dia kalah telak. Dan kini yang terjadi justru membuat kedua siluman itu terpojokkan. Shui jatuh, sebuah benda tajam berukuran besar yang diciptakan lawannya menancap di ekor Shui. Membuatnya terdiam di atas tanah, tak bisa bergerak. Naga Kegelapan sengaja menjatuhkan diri, menubrukkan tubuhnya ke arah Shui seperti yang sebelumnya dia lakukan kepada Huo Rong.
Naga Kegelapan menjadi lebih berkuasa saat lawannya tak berdaya di bawah kendalinya, dia menggigit lawannya sampai kulit Shui terlepas, memperlihatkan daging tubuhnya yang memerah mengeluarkan darah banyak. Shui membalas, tapi balasan yang dia dapatkan lagi jauh lebih mengerikan. Sementara Huo Rong di atas mereka mencoba melepaskan Shui. Tapi apa daya, Naga Kegelapan terlanjur mengunci lawan dan tak akan meninggalkannya sampai Shui mati.
Detik-detik sebelum Shui menyerah melakukan perlawanan, Huo Rong berteriak. Tak membiarkan naga itu menyerah, musuh jelas-jelas akan mencabiknya tanpa sisa jika Shui kehilangan kesadaran. Naga Kegelapan berhasil mengelupas kulit luar wajah Shui, hampir setengahnya. Naga Air itu terperosok di atas tanah, benar-benar kehabisan segalanya melawan Naga Kegelapan.
Huo Rong menjerit, Shui bisa mati jika begitu. Dia menciptakan ledakan dari mulutnya, membuat Naga Kegelapan terpental jauh sebelum dapat melakukan serangan penghabisan terakhir kepada Shui.
Huo Rong meletakkan Shui di belakangnya, mewanti-wanti Naga Kegelapan akan kembali menjadikan Shui mangsa. Dia tak tahu apakah Naga Air itu masih bisa diselamatkan atau tidak. Keadaannya jauh dari kata baik-baik saja, bahkan sangat buruk. Kulitnya terkelupas sangat banyak, darahya tak henti-hentinya keluar. Dan tubuhnya babak belur dibuat Naga Kegelapan.
Saat Naga Kegelapan mendekat, bola-bola api itu bergerak menyerbu Naga Kegelapan. Lalu meledak saat mengenai musuhnya yang sama sekali tak terlihat terganggu dengan serangan barusan.
Hantaman ekor Naga Kegelapan ditahannya sekuat tenaga, Huo Rong berusaha untuk tak terpental. Dia menggunakan kepakan sayapnya, mengenai kepala naga tersebut. Lalu menjauh secepat yang dia bisa sebelum Naga Kegelapan berhasil menggigit lehernya.
Kekuatan gigitan Naga Kegelapan itu jauh daripada gigitan siluman biasa. Bahkan saat Shui digigit tadi, belum sepuluh detik saja dia mampu menembus tulang leher naga air itu. Jika diibaratkan hewan air, Naga Kegelapan bisa disamakan dengan paus pembunuh dengan gigi tebal yang kerasnya melebihi batu. Dan ketajamannya mampu menghancurkan karang-karang di lautan.
Satu hal yang harus Huo Rong hindari saat itu adalah terperangkap oleh Naga Kegelapan. Sekali tertangkap dia akan sulit melepaskan diri. Selagi Naga Kegelapan mengejarnya, Huo Rong meledakkan api-api, menyerang Naga itu dengan segala serangan yang dimilikinya.
Jarak Huo Rong semakin terkejar Dia tak bisa menjauh lebih lama lagi sebab kecepatan lawannya jauh di atasnya. Saat Naga Kegelapan hendak membenturkan tubuhnya ke tubuh Huo Rong, terdengar suara alunan seruling yang seketika membuat Naga Kegelapan kehilangan fokusnya.
Naga Kegelapan mengerang, serangannya menjadi tak karuan. Tubuhnya bergerak tak seimbang, mengikuti alunan seruling yang amat berantakan di telinganya, menyakitkan dan mengganggu jiwanya. Alasan mengapa dia begitu tak menyukai Irama Kematian adalah karsna kepekaan indera pendengarannya jauh di atas siluman lainnya. Dalam beberapa hal, indera pendengaran mereka bisa begitu sensitif dan memasuki hingga ke dalam otak.
Dan irama kematian itu merasuki hingga ke dalam jiwanya. Meski tak langsung hancur, tapi Naga Kegelapan bisa langsung kacau dibuat suara itu.
__ADS_1
Tak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Xin Chen, Huo Rong lantas menghajar Naga Kegelapan habis-habisan. Saat ini serangan fisik jauh lebih mempan terhadap naga itu. Huo Rong menggunakan cakar dan taringnya, mencabik-cabik Naga Kegelapan yang memberontak keras.
Tebasan, cabikan dan cakaran dia dapatkan tanpa ampun dari Huo Rong. Naga Kegelapan menggeliat, mencoba lepas tapi cengkraman lawannya tak bisa dia taklukan.
Naga Kegelapan menciptakan sesuatu di mulutnya, cahaya putih bersinar terang dari sana. Xin Chen berhenti meniup seruling, dia berteriak pada Huo Rong.
"Menjauh!"
Tapi Huo Rong tak mempedulikan peringatannya dan terlalu bernafsu untuk membunuh lawannya. Kelalaiannya itu membuatnya berada dalam situasi berbahaya, cahaya putih di mulut Naga Kegelapan adalah Api Keabadian terkuat yang digabungkan menjadi satu kesatuan padat. Saat benda itu mengenai Huo Rong, lantas sebuah ledakan api membesar. Menyerbu tubuh Huo Rong yang langsung terbakar tanpa ampun.
Huo Rong tak bisa menangkis suhu panas yang menyambar tubuhnya saat itu juga, dia tak begitu menyadari bahwa cahaya terang tadi merupakan serangan mematikan milik Naga Kegelapan yang tak pernah dipakainya sebelum-sebelumnya. Huo Rong benar-benar terkecoh hingga dirinya berada dalam situasi pelik.
Sementara di tempat lain Xin Chen tiba-tiba diserang oleh Xin Fai yang sebelumnya berhadapan dengan Roh Dewa Perang. Tak bisa dielakkan pertarungan antar keduanya, Xin Chen tak bisa membantu Huo Rong lebih banyak. Bahkan untuk menyelamatkannya saja tak bisa.
Babak belur. Satu kata yang mewakili apa yang dialami Huo Rong detik itu dan seterusnya. Saat Shui terjatuh dan Xin Chen tak ada di sana, Huo Rong merasa dia akan tamat sebentar lagi.
Tanah bergetar tak henti-hentinya, tubuh Huo Rong remuk luar dalam akibat serangan yang terus digencarkan lawan. Dia tak bisa mengelak, tubuhnya kehilangan tenaga. Untuk memulihkan bekas Api Keabadian yang tadi, dan membuat tubuhnya seolah mati rasa dibutuhkan begitu banyak kekuatan. Kecepatannya menghindar pun ikut terpengaruhi. Huo Rong tak bisa kabur dengan selamat lagi seperti sebelumnya.
Kekuatannya habis. Huo Rong tak bisa bertahan lebih lama. Dia akan mati dibuat Naga Kegelapan, tak ada yang bisa membantunya selain dirinya sendiri. Huo Rong pernah mendengar kata-kata itu dari para manusia. Dan sekarang, dia bahkan tak bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Lantas, apakah sudah waktunya ajalnya datang?
Setelah berjuta-juta tahun lamanya. Hidup dan berpetualang selayaknya manusia. Merasakan bahagia, sedih, kehilangan dan kesepian. Semua hal itu sudah Huo Rong lalui bersama sesosok manusia yang kini amat dirindukannya. Huo Rong sempat berpikir di detik-detik sebelum kematiannya, laki-laki yang merupakan sahabat terbaik nya itu memunculkan diri dan menyodorkan tangan kepadanya seraya berkata. 'Aku kembali.'
Hal itu begitu sederhana untuk dibayangkan. Tapi tak akan pernah mungkin untuk diwujudkan.
'Kau tahu, aku kembali bertarung untuk manusia. Kali ini aku memihak kalian kembali, meski banyak manusia busuk yang telah membuatku membenci manusia. Hingga Ingin membunuh semuanya.' Huo Rong mengeluarkan napasnya yang amat berat dan kesakitan.
'Aku selalu berpikir bagaimana jika kau dan Rubah Petir berada di sini. Apa jika aku mati, kalian akan menangisi kepergian ku?'
Mengelana di antara para manusia, mengganti wujudnya menjadi manusia pula, dan bersahabat dengan salah satu dari mereka. Ingatan itu begitu indah di kepala Huo Rong. Dia tak mampu menghilangkan emosi itu. Dan ketika dirinya kehilangan sumber kebahagiaan itu, entah mengapa kesedihan yang didapatkannya seratus kali lipat lebih menyakitkan.
Perasaan manusia memang begitu runyam. Dia bahkan tak pernah mengerti apa pun selama hidupnya yang panjang.
Huo Rong menatap samar-samar Naga Kegelapan, dia membuka mulut. Menyerap sesuatu dari tubuhnya, Huo Rong tersentak tapi tubuhnya tak mau bergerak lagi.
__ADS_1
Petaka. Apa yang dikatakannya sebelum pertarungan ini benar-benar terjadi sekarang.
Naga Kegelapan berusaha mencuri permata Huo Rong. Di permata itu, kekuatan api merah miliknya berada. Jika sampai kekuatan itu jatuh ke musuhnya, hancur sudah. Bahkan, Dewi Api pun akan ikut menjadi musuh mereka kelak.