Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 174 - Titik Cahaya


__ADS_3

Hampir satu pekan semenjak kepulangannya, Xin Chen tak mengabarkan apa pun kepada Kekaisaran. Prioritasnya saat ini adalah memastikan Ren Yuan benar-benar sembuh. Xin Zhan sekali-kali meluangkan waktunya untuk berada di rumah. Sementara Xin Fai dua hari belakangan memutuskan untuk menjaga Ren Yuan sementara waktu. Tentu setelah mendapatkan izin.


Di sore hari yang masih begitu terang, Xin Chen izin pamit bersama Ye Long selagi Xin Fai menjaga Ren Yuan. Dia pergi ke rumah Xin Xia untuk mengetahui keadaan wanita itu, beruntung bibinya memiliki banyak pengawal dan pelayan yang selalu siap sedia melayaninya. Anak Xin Xia tumbuh sehat tanpa kekurangan apa pun.


Xin Chen hanya bertamu sebentar, dia memiliki tujuan lain yang harus dilakukan; menemui Shui di Lembah Para Dewa. Xin Chen akan melakukan perjalanan cepat bersama Ye Long. Tanpa banyak membuang waktu keduanya segera berangkat ke sana.


Kecepatan terbang Ye Long terasa jauh lebih cepat dari sebelum-sebelumnya, Xin Chen sempat berpikir hal yang sama semenjak kepulangannya.


"Kau melatih sayapmu?"


Ye Long menoleh ke belakang sambil menjawab, "Waktu itu aku berpikir untuk mengejar mu ke Kekaisaran Wei ..."


Xin Chen pasti akan memukul Ye Long kalau saja naga itu benar-benar menyusulnya ke sana. Tapi Ye Long sampai menunggu di perbatasan demi kepulangannya. Sama seperti saat dia mengurung diri dalam lautan api di Kota Renwu. Naga itu tak beranjak dari depan patung pilar yang telah kehilangan kepalanya, tempat di mana Xin Chen pernah mengatakan bahwa dirinya bukan lagi majikan naga itu.


"Tapi ada beberapa alat yang ditembakkan dari bawah untuk menangkapku. Setiap harinya aku terbang dan mencoba melampaui kecepatan serangan mereka."


"Tapi tidak berhasil?"


"Aku hanya bisa menempuh jarak dua kilometer, mungkin. Selebihnya ketika mendarat ratusan mayat berjalan mengejarku. Aku kembali setelah itu dan memutuskan menunggumu di perbatasan saja."


"Baguslah."


Berkat kecepatan terbang yang semakin tinggi, perjalanan yang ditempuh tak memakan waktu lama. Malam hari mereka telah tiba di gerbang markas Empat Unit Pengintai. Xin Chen memperhatikan selubung roh yang menyelimuti tempat ini telah menghilang.


Pantas saja itu terjadi. Semenjak di Kekaisaran Wei dia nyaris tak menggunakan kekuatan rohnya, jika ada pun sangat-sangat sedikit dan itu hanya untuk membuat wujud manusianya tetap utuh. Tempat itu menjadi lebih besar dan ramai. Aktivitas di bawah mereka sangat padat. Jalan penghubung dan lokasi yang sebelumnya terbengkalai mulai beroperasi.


Xin Chen tak salah memilih Huo Rong sebagai ketua sementara. Dia membawa perubahan besar untuk Empat Unit Pengintai. Ye Long mengepakkan sayapnya rendah, membawa keduanya turun ke markas. Beberapa orang yang menyadari kehadirannya memberitahu yang lain dan segera memanggil Huo Rong yang sedang bekerja memotong kayu.


Keduanya mendarat di tengah markas, di mana puluhan ribu anggota Empat Unit Pengintai menyambut kedatangannya dengan suka cita.


"Ketua kembalii!" jerit mereka dipenuhi haru. Wajah bahagia sekaligus tersiksa terlihat hampir di seluruh wajah mereka. Tampaknya Huo Rong memperlakukan mereka dengan keras. Xin Chen mencari Huo Rong yang ternyata telah datang sambil menenteng batang pohon seukuran tubuh manusia dewasa di pundaknya.


"Kau kembali," sahutnya sambil menurunkan kayu itu, menepuk kedua tangannya yang berabu lalu mengajak keduanya duduk di satu kursi yang dibuat di bawah pepohonan.


Napas Huo Rong masih ngos-ngosan, mulutnya terus berbicara. "Beberapa rencana yang kau maksudkan telah aku jalankan. Sisanya kau yang urus, menjadi ketua di sini sangat melelahkan. Habis suaraku mengatur keroco-keroco lemahmu itu," umpatnya kesal. Surai rambut merahnya sampai ikut kusam karena bekerja siang malam.


Xin Chen menyahut, "Siapa bilang kau boleh lepas tangan seenaknya."


Huo Rong langsung memalingkan muka panik. "Kau sudah kembali, lalu apalagi? Aku hanya menggantikanmu saat kau tidak ada."


"Kau tetap akan bekerja di dalam Unit Satu."


Pundak Huo Rong merosot. "Cih, menyusahkan saja kau ini."


"Shui mana?" tanyanya, Huo Rong menggendikan bahu.


"Berendam di sungai mungkin. Kebiasaan cicak air itu, orang kerja pontang-panting dia malah perawatan kulit."


Huo Rong berjalan ke sungai yang dimaksudnya diikuti Xin Chen. Benar saja, Shui malah berendam di sana sampai kulitnya keriput. Memandangi pantulan wajahnya sendiri sambil menggumam bahagia.


"Sudah sinting sepertinya," gerutu Huo Rong sembari menunjuk Shui. Xin Chen mengambil batu, melemparkan miring ke permukaan sungai. Batu itu melompat beberapa kali sebelum mengenai wajah Shui.


"Ya ampun anakonda."

__ADS_1


"Mahkluk ini. Yang lain bekerja kau malah sibuk berendam. Keluar dari sana kau beban kelompok." Huo Rong memaksa mengangkut Shui dari dalam air. Shui berontak.


"Aaaa sialan kau, Xin Chen kau dapat anakonda dari mana menyeramkan begini?"


"Sudah jangan banyak bicara. Ada yang mau aku omongkan denganmu. Keluar dulu dari situ."


Shui mendecak kesal. Kepalanya sampai benjol dipukuli Huo Rong yang sudah kehabisan kesabaran dengan tingkahnya. Mau membalas balik pun yang ada dia yang dianiaya. Rambut birunya basah, dia berjalan ke tepi sungai membuat Huo Rong dan Xin Chen menutup mata.


"Pakai bajumu, setan. Menodai mata orang saja," protes Huo Rong. Xin Chen berniat menunggu Shui di ruang rapat.


"Huuu penakut. Kau lihat apa sampai takut begitu."


"Lihat anakondamu."


Perseteruan dimulai lagi.


Xin Chen sampai kehabisan akal dengan kelakuan dua siluman itu, sebentar-sebentar berkelahi.


**


Hanya ada Xin Chen dan Shui di satu ruangan yang serba tertutup. Satu-satunya penerangan hanyalah sebuah api biru yang menyala di atas meja. Shui dapat melihat begitu serius lawan bicaranya saat ini. Dia ikut serius dan langsung bertanya, " Perihal apa yang mau kau bicarakan?"


"Guru Rubah."


"Oh, jasadnya masih utuh di ruang dimensi ku. Kau mau menengoknya?"


"Bukan itu," potongnya.


Tangan Shui turun ke meja, "Keberuntunganmu hebat sekali. Menemukan benda ini di tempat seluas itu ..."


"Benar. Benda ini dilelang. Aku tidak tahu siapa yang membawanya ke sana, tapi dari kabar yang kudengar barang ini berpindah-pindah tangan dan terus memakan korban jiwa."


Shui mengangguk, "Rubah Petir memegang kuasa penuh atas kekuatannya. Dan ketika dia ingin kekuatan itu mengutuk siapa pun yang menyalahgunakannya, maka itu akan terus terjadi."


Xin Chen mengeluarkan permata rubah dengan hati-hati, benda itu lecet dan lusuh. Sinar terang keperakan darinya keluar menerangi ruangan itu dengan redup. Xin Chen menatap Shui yang seolah mengerti apa maksudnya.


Jasad Rubah Petir dikeluarkan dari ruang dimensinya. Shui membaringkan tubuh Rubah Petir pada di antara keduanya. Xin Chen tak bisa berbuat banyak, dia menyaksikan Shui menggunakan kekuatannya kepada Rubah Petir. Tubuh itu telah lama mati dan sengaja dipindahkan ke ruang dimensinya di mana dirinya bisa mengendalikan waktu sehingga tubuh itu tak membusuk.


"Semuanya baik-baik saja."


Wajah Shui begitu meyakinkan, Xin Chen memberikan permata rubah itu kepadanya.


"Bangunlah, Rubah Cerewet. Muridmu ini sampai menangis-nangis memintamu kembali."


Xin Chen ingin mengatakan pada Rubah itu, dia menyesali perbuatannya dulu. Saat Rubah Petir sedang jatuh-jatuhnya dan tak punya tempat untuk berlindung yang justru dilakukannya adalah menyalahkan keadaan dan mengurung diri seperti pengecut. Xin Chen tak akan memaafkan kesalahannya waktu itu.


Apa pun dilakukannya demi Rubah Petir kembali. Xin Chen ingin meminta maaf pada gurunya itu.


Debu-debu cahaya mulai naik ke atas udara, Shui mengaktifkan kekuatannya. Menyatukan permata Siluman itu ke dalam tubuh Rubah Petir kembali. Xin Chen memperhatikan lama wajah sang rubah. Wajah itu selalu terlihat marah padanya. Tapi sekarang itu menjadi hal yang paling dirindukannya dari sang rubah.


"Beberapa organ tubuhnya sudah tak berfungsi." Shui masih melanjutkannya dengan ragu. "Kemungkinan hidupnya tak begitu banyak. Jadi kumohon padamu, jangan terlalu berharap padaku. Ini mungkin bisa saja mengecewakanmu."


Saat Shui mengatakannya saja dia sudah terlanjur kecewa, kemungkinan Rubah Petir hidup berkurang. Butir-butir cahaya beterbangan di dalam ruangan gelap itu. Membuatnya menjadi ruangan yang penuh cahaya. Bulu-bulu perak Rubah Petir bergerak pelan oleh angin kecil dari kekuatan Shui.

__ADS_1


Ekspresi Shui memburuk tapi dia tak berkata apa pun lain pada Xin Chen. Ditelannya ludah sambil menarik napas.


"Ayolah ...!"


Shui memaksakan permata itu tapi sesuatu yang mengejutkan terjadi.


Permata Rubah terlempar kuat menghantam dinding, retakan semakin membesar di tubuh benda itu. Xin Chen membawanya dengan cepat, melihat kerusakan semakin parah di permata itu.


"Aku tak mau memaksakannya. Permata itu menolak tubuh Rubah Petir."


"Tidak ada cara lain?"


Shui menjawab tanpa berpikir panjang. "Tidak ada."


Xin Chen berusaha mencari cara, tapi dia tahu betul jika kedua kalinya Shui gagal menyatukan permata itu ke tubuh Rubah maka benda itu hanya akan berakhir hancur berkeping-keping. Akhir terburuknya, Rubah Petir tak memiliki satu persen pun kesempatan untuk selamat.


"Coba sekali lagi."


"Kalau kali ini hancur, kau tahu kan resikonya?"


Xin Chen terdiam, merenunginya dan mulai merasakan hal buruk jika Shui memaksanya.


"Jangan dulu," tahannya. Xin Chen memperhatikan lamat-lamat benda itu.


"Orang bilang jika membawa permata ini pasti akan mendapatkan musibah. Tapi tidak berlaku padaku."


"Karena kau memiliki sedikit bagian kekuatan Rubah Petir." Shui menjawabnya langsung, tak mungkin dia tidak tahu akan hal itu.


Xin Chen menatapnya, mulai memikirkan satu kemungkinan kecil. Dia sempat membuat batu permata ini aktif lagi dengan membuatnya bercahaya.


Xin Chen melakukan hal yang sama, menyalurkan kekuatan petir ke dalam permata itu.


Cahaya perak mengalir di dalam permata tersebut, bekas goresan di sana tampak bersinar oleh cahaya terang.


"Aku mengerti ..." Shui mulai menangkap apa yang dilakukan Xin Chen. "Permata ini hanya memiliki sedikit kekuatan yang tersisa di dalamnya. Itu saja tak akan cukup untuk bisa menyatukannya dengan tubuh Rubah."


Xin Chen menanggapi, "Dengan kekuatanku, mungkin ini bisa dilakukan. Aku akan menahan kerusakan dengan kekuatan petir. Tapi kau harus menahan sengatan listrik yang bisa saja keluar dari permata ini."


Shui tahu akan hal itu. Xin Chen yang menggenggam batu permata meletakkannya di kening Rubah Petir. Tangan Shui berada di atas tangannya, mulai mengulang kembali dari awal.


Lonjakan kekuatan petir mengalir dalam batu permata rubah, Shui menahan perih yang menghampiri telapak tangannya yang serasa seperti disengat sekaligus dibakar. Tapi berjalan sepuluh menit pun batu itu sama sekali tak kembali ke tubuh pemiliknya.


"Sial, aku tidak bisa menahan lebih lama, Chen. Batu ini akan membuat tanganku terbakar."


"Bertahan, Shui. Kita tidak tahu kapan ini akan berhasil."


"Ya kalau sampai dua jam giliran aku yang harus kau selamatkan." Shui tampak emosi tak seperti biasanya. Dia sudah menahan sebisa mungkin tapi rasa sakit kian menggerogoti.


Shui melepaskan tangannya. Kali ini bukan batu permata yang terpental, justru dirinya terlempar menabrak dinding. Lonjakan kekuatan petir yang dahsyat terlepas begitu saja. Xin Chen menyusul Shui panik.


"Sudah kubilang tahan sebentar."


Shui nampak kaget. Tapi bukan karena peristiwa dadakan yang hampir membuatnya jadi kadal bakar, tapi sesuatu di balik punggung Xin Chen.

__ADS_1


__ADS_2