
Aroma darah yang menguar dari permukaan tanah basah berubah menjadi aroma gosong, tak terbayang berapa ribu jasad habis terbakar. Seolah-olah api tersebut datang untuk melenyapkan bukti perang yang terjadi di tanah Lembah Para Dewa. Jasad para jenderal perang yang seharusnya akan dimakamkan dengan penuh penghormatan di tempat mereka masing-masing kini hanya bersisa abu yang mengepul dan tergerus oleh hembusan angin dari Utara.
Salah satu tumpukan abu yang masih membentuk jasad manusia tiba-tiba terpotong oleh satu sayatan pedang. Abu berhamburan ketika kaki seseorang menapak mundur, Xin Zhan melindungi kepalanya dari sebilah pedang tajam yang nyaris merenggut nyawa.
Tapi tak menutup serangan lain yang masuk dari sisi lain. Pedang Xin Fai berbelok arah, menyerang bagian pinggang atasnya.
Meski Xin Zhan telah melapisi tubuhnya dengan armor besi yang tersembunyi di balik jubah putihnya, serangan itu tetap tembus. Terlihat dari tetesan darah yang lagi-lagi membasahi permukaan bajunya yang seputih gading gajah.
Xin Zhan tak bisa menghalau serangan beruntun Xin Fai lagi. Meski dia sudah paham seratus persen tentang teknik-teknik dari Kitab Tujuh Kunci yang diberikan ayahnya. Namun saat laki-laki itu yang menggunakan jurus tersebut, semuanya terasa berbeda. Mulai dari gerakan sampai ke tempo penyerangan, Xin Fai memiliki keunikan yang tak akan pernah dimilikinya dalam pertarungan.
Selepas serangan beruntun yang berhasil memukul mundur Xin Zhan begitu saja, dia segera menjauhkan diri secepat mungkin. Berhasil menjaga jarak. Xin Zhan berlari memutar di sekitar sosok musuh yang tak lain adalah ayahnya sendiri. Melihat lebih jelas Xin Fai dari berbagai sisi.
__ADS_1
Dia tidak menemukan kertas mantra apa pun di tubuh Xin Fai. Dan dari tubuh Xin Fai sendiri, dirinya masih bisa mendengar suara detak jantung yang lemah.
"Ayah masih hidup. Tidak ada kertas mantra. Berarti ini bukan sejenis ilmu pemanggil. Semakin memperkuat dugaanku bahwa ini adalah Ilmu Pengendali Pikiran."
Sebelum Xin Fai melepaskan serangan mematikan lain kepadanya, Xin Zhan sudah lebih dulu melompat jauh. Menghindari segala serangan demi mempelajari situasi yang sedang dihadapinya. Selama berguru di Lembah Kabut Putih, hal itulah yang selalu diajarkan kepadanya. Ketenangan adalah kunci dari kemenangan.
Setelah merasa cukup mengamati lawannya, Xin Zhan mulai mengeluarkan pedang dari tempatnya. Energi kekuatan yang sama seperti milik Xin Fai mengalir ke bilah pedang tersebut. Menciptakan cahaya terang yang selama ini selalu melindungi Kekaisaran Shang. Dengan kekuatan tersebut, Xin Fai berhasil melindungi banyak orang.
Hempasan berkekuatan tinggi menyambut. Tebasan miring Xin Fai dari kejauhan bergerak tanpa wujud, dan tiba-tiba saja Xin Zhan merasakan hembusan angin tajam melewati pipinya.
Entah ke mana perginya angin tajam tersebut, tapi Xin Zhan dapat mendengar lagi-lagi suara retakan bumi. Menandakan serangan barusan nyaris merenggut nyawanya untuk yang kesekian kali.
__ADS_1
"Bisa bertahan sampai detik ini. Mungkin aku sedang beruntung. Semoga saja keberuntungan ini tak akan habis sampai Xin Chen berhasil membunuh naga itu. Dan ... Kau kembali mendapatkan kesadaran mu, Ayah."
Akhirnya duel yang sesungguhnya dimulai. Xin Zhan menyerang maju, memperhatikan celah yang nyaris tak bisa dibacanya dengan kecepatan serang Xin Fai yang jauh menggila. Kekuatan laki-laki itu jauh berbeda dari latihan yang dulu sering mereka lakukan. Satu hentaman yang mengenai pedang Xin Zhan saja, berhasil membuat tangannya bergetar tak terkendali. Xin Zhan nyaris melepaskan pegangannya pada pedang karena begitu kuatnya tekanan yang diberikan dari senjata lawan.
Dari sepuluh serangan saja, Xin Zhan hanya mampu mengelak dua serangan. Tak terbayang begitu babak belurnya dia saat itu. Xin Zhan mengerjap, membiarkan aliran darah memasuki kelopak matanya. Hingga bagian putih matanya berubah sepenuhnya menjadi merah. Kakinya sama sekali tak mau jatuh bahkan ketika Xin Fai berhasil mengenai tulang belakang lehernya dengan amat sangat menyakitkan.
Xin Zhan menelan ludah. Dia menyerang balik. Memutar pedang seirama dengan gerakan tubuhnya sendiri. Pedang itu berhenti tepat sebelum menusuk bola mata Xin Fai.
Diam. Xin Zhan tak mampu menyakiti laki-laki itu. Namun matanya berhasil menangkap satu keganjalan. Dia hendak mundur akibat terkejut. Tapi Xin Fai lebih dulu berhasil menangkapnya, Xin Zhan jatuh tersungkur di atas tanah dan kini laki-laki itu mengunci pergerakan Xin Zhan dengan rantai yang muncul begitu saja entah dari mana.
"Tidak mungkin ... Aku harus memberitahu Xin Chen."
__ADS_1