Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 232 - Enam Tuan Rumah V


__ADS_3

Xiu Qiaofeng melihatnya. Aliran kekuatan di dalam tubuh Beruang Putih, dia tak merasakan adanya kekuatan seperti teman-teman Beruang Putih yang lain. Namun terdapat sesuatu yang begitu besar dalam dirinya, kekuatan yang dilatih dengan pengalaman dan keringat.


Si Topeng Beruang berdiri dengan sebelah kaki diangkat, tangannya bergerak seolah-olah sedang menantang dua gadis itu.


"Menang banyak aku sepertinya, langsung dihadapkan dua wanita cantik pula."


"Kau akan menyesalinya!" teriak Xiu Qiaofeng, Yue Huanran berbisik kecil padanya. "Kau mengerti rencanaku, Nona Xiu?"


"Tentu saja."


Xiu Qiaofeng mengepalkan tangannya erat, selama ini dia tak pernah berhadapan langsung dengan musuh sekuat sekarang. Bahkan dia baru menjadi Pilar Kekaisaran tak sampai setahun dan telah dihadapkan dengan musuh yang tak masuk akal.


Kedua tangannya memegang pedang, gadis itu mengumpulkan kekuatan sejenak sementara Yue Huanran bersiap.


"Aku siap."


Dengan mengerahkan kecepatan terbaik Xiu Qiaofeng berlari kencang ke arah Beruang Putih, menebaskan pedang ke titik-titik buta. Pertarungan satu lawan satu dimulai. Xiu Qiaofeng unggul di awal-awal tapi yang tidak disangkanya itu hanyalah trik.


Beruang Putih memberinya ruang untuk bersenang-senang sebelum dia mulai memperlihatkan kekuatan. Tepi telapak tangan Beruang Putih menghantam leher Xiu Qiaofeng mentah-mentah. Pedang di tangan Xiu Qiaofeng terjatuh. Gadis itu tersungkur.


"Sekarang!"


Yue Huanran yang bersembunyi di balik tiang melemparkan senjata rahasia berupa pisau kecil yang bisa menembus sangat dalam. Mematikan dan harganya bisa dikatakan mahal. Beruang Putih menarik senyum di balik topengnya.


"Kalian kira trik murahan ini akan mengelabuiku?" Dia sedikit mengumpat, menangkap pisau itu jari-jarinya dan melempar balik. Yue Huanran yang bersembunyi kembali menutup tubuhnya di balik tiang. Xiu Qiaofeng berada dalam bahaya.


Beruang Putih mendekat, "Tamat riwayatmu."


Tapi kelihatannya gadis itu tak begitu gentar dengan kata-katanya, Beruang Putih mulai mencurigai sesuatu. Sejenak melihat ekspresi yang aneh di wajah Xiu Qiaofeng, lalu benar saja dua pedang yang dikendalikan menggunakan tenaga dalam Xiu Qiaofeng bergerak mengikuti jari gadis itu.


Pedang yang tertancap di kedua sisi Beruang Putih melesat cepat, mata kedua pedang mengarah ke kepala Beruang Putih.


Xiu Qiaofeng begitu yakin laki-laki itu tak memiliki kesempatan untuk mengelak dan benar seperti dugaannya sampai kedua pedang mengenai tubuhnya Beruang Putih masih di tempat yang sama.


Yue Huanran melihat keberhasilan Xiu Qiaofeng dengan senang.


Tapi sayangnya itu hanya bertahan beberapa detik, lagi-lagi Beruang Putih membiarkan gadis itu bersenang-senang sebentar sebelum mematahkannya.


Mata pedang itu berhenti tepat di permukaan kulit Beruang Putih, sama sekali tak menyentuh kulit kepalanya. Ada kekuatan besar yang mendorong pergerakan pedang milik Xiu Qiaofeng sehingga dia tidak bisa memaksanya mendekati tubuh musuh.


Xiu Qiaofeng tertegun, dia mencoba mengikuti pergerakan lawannya yang tiba-tiba bergerak ke titik lain. Yang dilihatnya seperti melihat belasan bayangan yang berpindah-pindah tempat dengan sangat cepat, Beruang Putih mengarah ke tempat Yue Huanran. Xiu Qiaofeng berteriak.


"Lari!"


Yue Huanran terlalu lamban untuk menyadari bahwa bahaya sudah di depan matanya, satu hempasan dari tangan Beruang Putih membuat Yue Huanran terpental ke bawah kaki Xiu Qiaofeng begitu saja.


Yang membuat Xiu Qiaofeng bergidik ngeri adalah kenyataan bahwa tangan Beruang Putih bahkan tak menyentuh Yue Huanran sama sekali dan temannya itu bisa terpental jauh sampai mimisan.


Yue Huanran bangkit dibantu Xiu Qiaofeng. Xiu Qiaofeng bersiap mengeluarkan dua pisau kecil yang sama seperti sebelumnya dengan kedua tangan.


Namun musuh yang begitu cepat segera memecahkan konsentrasi mereka. Xiu Qiaofeng belum begitu siap, saat dia kembali membuka mata yang dilihatnya sungguh membuatnya terkejut.

__ADS_1


Di depannya Yue Huanran berada, pisau di tangan kanannya mengarah ke punggung gadis itu, dapat membunuhnya kapan saja. Sementara di belakangnya Beruang Putih berada, tangan kiri Xiu Qiaofeng menancapkan pisau itu tepat di punggungnya sendiri.


Dan yang membuatnya demikian adalah Beruang Putih yang memegang kedua tangannya. Pas sekali, membunuh dirinya dan Yue Huanran bersamaan. Tak ada ampun, langsung memojokkan dua orang sekaligus.


"Mana yang kalian sebut kekuatan sebenarnya Pilar Kekaisaran Shang? Hanya seperti ini?"


**


"Aku juga sepertimu."


Xin Chen bahkan terlalu kaku untuk berekspresi sebab musuh di depannya ini memiliki sesuatu yang mengancam. Dia merasakan meski lawannya tak mengatakan banyak hal selain omongan tak penting.


"Penguasa empat kekuatan." Xin Chen mengerutkan dahinya, "Empat? Kau bercanda?"


"Air, api, tanah dan angin. Dengan semua kekuatan itu aku tak membutuhkan kekuatan roh yang busuk untuk menyingkirkan manusia-manusia tak berguna."


Serigala Merah menambahkan dengan nada sinis, "contohnya seperti mu."


"Satu-satunya yang masih manusia di antara kita hanya kau. Sedang bosan mengatai orang sampai memaki diri sendiri?" Xin Chen membalikkan kata-katanya, sesaat Serigala Merah tersinggung berat. Kata-kata ejekannya malah terpantul balik gara-gara mulut Xin Chen.


Mata merah menyala di balik topeng serigala.


"Memang baj*ngan! Air - Gelombang Lingkaran!"


Xin Chen sama sekali tak tertarik untuk menghindari serangan tersebut dan seperti dugaannya, serangan itu sama sekali tak mengenainya.


"Katamu sudah tahu bagaimana kekuatan ku."


"Aku hanya mengetes, rupanya kau tidak takut mati, huh?"


"Sampai rindu dengan malaikat pencabut nyawa malah."


Serigala Merah nyaris tertawa, lawannya itu mengatakan dengan sungguh-sungguh.


"Kau sendiri pasti tahu kelemahan mu sendiri."


Xin Chen bahkan tak ingat sama sekali.


"Apa?"


"Kekuatan yang bisa menghancurkan kemampuan tembus tubuh rohmu," katanya dengan menggantung, jelas Xin Chen berubah sedikit serius.


Xin Chen sepertinya mulai mengingat apa yang dimaksud oleh Serigala Merah, merasakan pertarungan akan semakin sulit jika dia tidak memiliki keunggulan sama sekali.


Apa yang ditakutkan betul-betul kejadian, laki-laki itu menapakkan kakinya. Dari tanah muncul puluhan garis cahaya merah yang bergerak menjauh ke segala arah. Menyebar hingga ke hutan dan semak.


Xin Chen masih berdiam di tempat ketika Serigala Merah berlalu dan menyerangnya dengan kekuatan api di tangan kirinya. Jubah yang dijahit oleh Ren Yuan terbakar sebagian.


"Tempat ini adalah medan perangku sekarang."


Lekas Xin Chen mundur, mencoba mencerna apa yang terjadi sembari menyingkirkan api dari pakaiannya. Kekuatan roh dibatalkan oleh kekuatan yang levelnya puluhan kali lebih kuat, laki-laki bertopeng serigala itu memiliki ilmu yang tak main-main. Xin Chen sampai kehilangan konsentrasi karena masih terkejut.

__ADS_1


Serigala Merah telah menanti momen itu, momen ketika Xin Chen lengah dan menyerangnya dengan jurus angin.


"Angin - Tusuk Penembus."


Angin tajam muncul di depan Serigala Merah, menembus ke badan Xin Chen yang langsung tertohok mengeluarkan darah. Xin Chen tertancap di sebuah pepohonan besar, terlihat seperti pohon ritual. Dia tak sempat melakukan apa-apa karena Serigala Merah begitu cepat mengejarnya dan langsung tiba di depan Xin Chen.


"Tanah - Duri Mawar."


Lagi-lagi Serigala Merah akan mengeluarkan serangan, kali ini jenis tanah. Xin Chen dapat merasakan sesuatu bergetar di bawah kakinya. Benar saja, tanah itu membentuk seperti ranting-ranting yang melilit tubuhnya dengan duri tajam.


Serigala Merah melipat kedua tangan.


"Kau tidak bisa ke mana-mana."


Xin Chen yang terkunci tak bergerak. Sementara Serigala Merah mendekat untuk mengakhiri nyawanya. Tiba-tiba saja Dua Belas Roh datang dari balik punggungnya, Serigala Merah tersenyum sampai gigi taringnya terlihat jelas.


"Aku tak akan tertipu."


Langsung dihabisi tanpa ampun kedua belas roh itu, Serigala Merah melayangkan Tusuk Penembus kembali.


Dia sudah berada di depan Xin Chen, mencekik pemuda itu keras. "Lebih cepat kau mati lebih baik."


"Sudah kubilang malaikat pencabut nyawa membenciku."


Xin Chen memegang balik lengan Serigala Merah, tak membiarkan laki-laki itu pergi ke mana pun.


Serigala Merah menoleh ke belakang dan menyadari bahwa Kedua Belas Roh tadi hanyalah umpan, mereka tidak musnah melainkan berpencar dan berubah menjadi roh lainnya yaitu Setan Pengamuk.


"Kitab Pengendali Roh - Gerbang Neraka."


serigala Merah memberontak saat Setan Pengamuk menyeretnya ke dalam jurus mematikan Xin Chen. Dia tak bergerak sama seperti Xin Chen.


"Boleh juga kau," ucap Serigala Merah, begitu tertarik dengan lawannya. Dia menghancurkan Gerbang Neraka dengan kekuatan besar. Bukan tak mungkin menghancurkannya dengan kekuatan yang dia miliki.


Xin Chen melepaskan diri dari jeratan Tanah Berduri. Meski harus berdarah-darah tapi setidaknya untuk awal-awal dia masih bisa menyeimbangi lawannya.


"Oh iya aku lupa mengatakan satu kekuatan lagi."


Xin Chen berubah waspada. Di belakang Serigala Merah sekarang Setan Pengamuk kembali muncul dan bergerak untuk menancapkan sabit tajamnya ke arah Serigala Merah.


"Aku bisa melihat apa yang akan kau lakukan."


Terlambat sudah saat Serigala Merah mengatakannya, lagi-lagi dengan kecepatan yang berada di atas rata-rata Serigala Merah merebut sabit di tangan Setan Pengamuk dan melemparnya ke arah Xin Chen.


Sedikit goresan menyayat Xin Chen.


"Aku bahkan belum tergores segaris pun dan kau sudah babak belur? Aku kecewa."


Serigala Merah memasang tampang bengis di balik topengnya.


"Sebagai hukumannya akan kucabik-cabik tubuhmu agar kau ingat rasanya sakit saat dikuliti."

__ADS_1


__ADS_2