
Sebelum Xin Zhan dapat menjaga jarak dari Xin Fai, dia kembali terkurung oleh rantai milik laki-laki itu.
Sekuat tenaga Xin Zhan melepaskan diri. Langkahnya termundur beberapa langkah, masih berhadapan dengan Xin Fai yang berdiri dengan penampakan yang begitu mengerikan baginya. Mata itu tak memiliki ampun.
Xin Fai, mengangkat wajahnya. Rantai-rantai milik lelaki itu bergerak liar di sekitar tubuhnya. Hembusan angin kencang menerbangkan rambut di wajahnya, memperlihatkan lambang bunga api di dahi Xin Fai telah berubah. Menjadi bentuk Bunga Teratai dengan api di atasnya. Lambang itu adalah lambang Kekaisaran Qing.
Xin Zhan mematahkan serangan yang datang. Keduanya berduel sengit. Xin Fai terus-menerus menggencarkan serangan tanpa habisnya. Dan tanpa diduga dalam waktu tiga puluh menit mereka bertarung tanpa jeda. Membuat Xin Zhan kehabisan napas untuk sekedar menghindari tebasan miring yang masuk nyaris mengenai kepala.
Keputusan Xin Chen benar. Saat ini hanya Xin Zhan lah yang mampu menyaingi ayahnya. Karena sejak kecil lagi, Xin Zhan dan ayahnya sering bertarung dalam latihan serius. Hal itu membuat Xin Zhan lebih mengetahui teknik-teknik dan cara bertarung ayahnya. Beberapa teknik rahasia Xin Fai pun bisa dipatahkannya, meski kadang perkiraannya salah dan Xin Fai mengecoh kan dirinya.
Bisa berduel sampai sejauh ini dengan tempo pertarungan yang intens. Xin Zhan tersenyum tipis, aliran darah keluar dari sudut bibirnya. Namun entah mengapa dalam situasi seperti ini pun, dia merasa Ayahnya sedang melatihnya bertarung seperti biasa. Sambil mengajarkan beberapa gerakan dan kuda-kuda. Atau hanya sekadar tersenyum saat melihat dirinya melakukan kesalahan.
Terlalu terlarut dengan pikirannya sendiri, Xin Zhan sampai tak menyadari lawan telah datang dengan serangan selanjutnya. Dia membalas dengan pedangnya hingga derit pedang yang amat memekakkan kembali terdengar. Xin Zhan menahan serangan itu, hingga sebuah rantai mulai melilit dan mencekik lehernya.
__ADS_1
Dia membalikkan badan. Memotong rantai-rantai tersebut hingga rasanya benda itu seperti sedang memotong lehernya pula. Putusnya rantai tersebut seolah-olah membakar amarah Xin Fai.
Hujan Darah.
Pegangannya pada pedang melemah. Xin Zhan nyaris tak percaya ayahnya akan menggunakan jurus mematikan itu padanya. Jurus yang hanya dimiliki oleh Kitab Terlarang. Di mana pun kitab tersebut akan menjadi mimpi buruk. Kitab yang katanya merupakan kitab terkutuk yang membawa kekuatan selayaknya iblis haus darah.
Xin Zhan bisa melihat langit merah. Ini dunia lain yang disembunyikan oleh ayahnya dan seumur-umur tak pernah diperlihatkannya pada kedua putranya. Sisi kejam yang menakutkan tersebut membuat Xin Fai lebih terlihat seperti monster pembunuh dibandingkan seorang pahlawan yang dijunjung oleh orang-orang.
Rantai itu kembali muncul dari tanah yang berubah menjadi genangan darah. Lalu rantai tersebut berubah menjadi puluhan tangan yang keluar dari bawahnya, memaksa Xin Zhan berdiri. Satu tangan yang paling besar mencekik lehernya dari belakang.
Hujan darah membasahi sekujur tubuhnya. Xin Fai muncul di tengah hujan yang amat deras itu. Membawa pedang hitam di tangannya. Namun yang membuat Xin Zhan terkejut adalah, ayahnya itu datang dengan leher terikat oleh rantai hitam. Lalu di belakang Xin Fai, di kegelapan yang ditutupi oleh kabut-kabut merah. Seseorang tersenyum amat lebar, matanya sama sekali tidak terang. Namun begitu hitamnya mata tersebut membuat Xin Zhan sampai melihat jelas dua lubang tersebut.
Tengkuk Xin Zhan sampai merinding. Apalagi melihat ayahnya dipermainkan seperti boneka oleh sosok yang ditebaknya adalah seorang Pengendali Pikiran tersebut.
__ADS_1
"Lepaskan ayah!"
Xin Fai sudah semakin dekat. Pedangnya terangkat ke samping. Dia akan menebas Xin Zhan sebentar lagi. Nyaris tak ada belas kasihan di matanya. Sementara putra pertamanya tak memikirkan lagi cara untuk menyelamatkan dirinya dari ayahnya.
Yang dia pikirkan saat itu adalah menyelamatkan Xin Fai dari Pengendali Pikiran tersebut. Dia ketakutan. Benar-benar ketakutan oleh mata hitam tadi. Dan tak ingin sosok tersebut membawa Ayahnya lagi
"Ku peringatkan padamu." Napas Xin Zhan menderu-deru. Bilah tajam pedang telah bergerak di samping bahunya. "Lepaskan ayah dan matilah hingga membusuk."
Darah mencuat deras. Sebelah tangan jatuh ke genangan darah. Lalu, tebasan lainnya dilepaskan dengan Xin Zhan yang sama sekali tak berkutik. Sebelah tangan lagi terpotong dari tempatnya.
Kali ini Xin Fai mengangkat pedang tepat di atas kepala Xin Zhan yang membeku. Bibirnya terkatup rapat tanpa mampu berkata-kata. Dia terlalu terkejut hingga tubuhnya berhenti merespon seperti sebagaimana yang seharusnya.
Satu potongan yang lurus dan rapi. Tangan besar yang mencekik leher Xin Zhan dari belakang ikut terjatuh. Lalu tangan-tangan yang muncul dari genangan darah ikut berjatuhan saat Xin Fai lagi-lagi memotongnya tanpa segaris pun mengenai Xin Zhan.
__ADS_1
Tak terucap sepatah kata pun dari mulut Xin Fai. Xin Zhan hendak berbicara, dia yakin lelaki itu masih memiliki kesadaran pada tubuhnya sendiri.
Namun saat Xin Zhan membuka mata, dia telah kembali ke dunia nyata. Dan sosok laki-laki di hadapannya kembali asing baginya.