
Hawa mengerikan telah bertahun-tahun hinggap di Laboratorium A-3, sisa pertumpahan darah dan bangkai malapetaka bersemayam bersama para terinfeksi di dalamnya. Terdapat satu ruangan yang menjadi titik mula penciptaan wabah itu, tempat di mana Xin Chen dan Lang terjebak tanpa jalan keluar.
Xin Chen mulai menyusun rencana, "Satu pintu darurat itu mungkin satu-satunya harapan kita untuk selamat. Aku sudah melihat seluruh tempat ini ... Mungkin Rusa Keledai itu sudah punah."
"Berarti sia-sia kita ke sini?"
"Apalagi? Aku tak melihatnya semenjak kita masuk sampai terjebak di dalam sini. Makin lama kita di sini, makin kecil kemungkinan untuk selamat."
"Kau benar," timpal Lang. Kali ini dia setuju dengan Xin Chen, sebagai siluman Lang dapat mencium bau binatang di sekitarnya. Tapi tak satu pun petunjuk di dapatnya selain para terinfeksi yang tak berguna.
Xin Chen mengeluarkan panah api, saat itu terinfeksi berbahaya telah menyadari keberadaan keduanya dan mulai berlari cepat ke arah mereka. Xin Chen membunuh yang berlari paling cepat lebih dulu. Sambil mundur ke tempat yang lebih sepi.
Lima anak panah dalam satu bidikan mulai mengincar kepala-kepala para terinfeksi di bangku. Jumlah mereka yang sangat banyak terlihat seperti gelombang sungguhan, bergerak menuju satu tempat dengan grasak-grusuk. Ribut dan kacau tak terhindarkan, Xin Chen tiba-tiba menyuruh Lang menghancurkan satu tabung besi besar di ujung arena.
Lang menggunakan kakinya, dalam empat kali serangan tabung raksasa itu hancur. Seketika menumpahkan cairan biru bening yang tidak mereka ketahui. Lang mencari tempat tinggi agar tak terkena, Xin Chen telah berlari ke sisi lain.
"Cepat kemari, kita tak punya waktu lagi!"
Lang mengejarnya dengan melompat tabung dan kurungan, dia melompat tinggi dan tiba di samping Xin Chen.
"Aku mungkin akan meledakkan tempat ini."
"Apa?!" Lang terkejut. "bagaimana kita bisa keluar dari sini kalau kau mau meledakannya? Kau mau membunuh diri sendiri?"
"Tempat ini tak bisa dibiarkan kotor lebih lama, dan aku curiga mungkin di tempat ini juga masih ada hasil percobaan yang berhasil seperti di Laboratorium B-1. Aku harus memusnahkannya sebelum mereka mengambilnya. Urusan selamat atau tidak tergantung kau bisa mengikuti dengan benar atau tidak."
"Jadi apa rencanamu?"
Lang sudah kepalang kesal, Xin Chen seolah-olah meremehkan kecepatan kakinya yang bahkan bisa menyaingi kecepatan berlari Pedang Iblis.
"Rencananya ..."
Xin Chen membalikkan badan, melihat para terinfeksi hampir delapan puluh persen telah turun ke lapangan yang banjir.
Aliran kekuatan petir melonjak dahsyat, Lang tertegun dan ikut melihat ke belakang di mana rantai petir menguasai seluruh ruangan raksasa itu. Terutama di bagian tengah yang dipenuhi oleh air, para terinfeksi di sana tersetrum. Bahkan mereka yang berada di tengah mendapatkan kerusakan yang dua kali lipat.
Lang mulai bersiap, Xin Chen serius untuk meledakkan Laboratorium A-3. Berpikir Xin Chen akan mengatakan rencana berikutnya, dia dibuat terkejut saat seruan berikutnya dari pemuda itu.
__ADS_1
"Adalah lari secepat yang kau bisa!!"
Xin Chen telah menjauh begitu cepat, Lang yang tertinggal refleks mengejar pontang-panting. Terinfeksi dari kiri dan kanan mulai mengejar ke arah mereka.
Dalam kepanikan yang tak tergambarkan, ledakan dahsyat terjadi di belakang mereka. Seketika tempat itu berubah menjadi merah dalam beberapa detik, beberapa barang terlempar bersama tubuh yang berserakan.
Cairan yang tadi ditumpahkannya mungkin memicu ledakan semakin besar. Lang curiga Xin Chen memberikan kekuatan apinya sampai-sampai ledakan tersebut mampu mencapai jarak mereka yang sudah cukup jauh. Satu ledakan itu membuat tabung berisi cairan biru lain bocor.
Ledakan kedua menyusul lebih dahsyat, dinding Laboratorium A-3 bergetar seakan-akan ingin roboh. Xin Chen di depan Lang mengeluarkan pedang biru yang dikelilingi petir di kedua tangan. Menyapu jalan sambil memenggal dan meledakkan para terinfeksi.
Mereka diburu dari segala sisi. Xin Chen berpikir secepat yang dia bisa, menemukan jalan keluar sambil dikejar oleh kematian.
Ledakan di belakang mereka menjalar menghanguskan seisi Laboratorium A-3.
Xin Chen tahu hanya dalam tiga puluh detik lagi, api di ruang bawah tanah itu akan mencapai satu tabung paling besar. Yang bisa menghancurkan bukan hanya Laboratorium A-3, tapi sampai jarak puluhan meter di sekitarnya.
Jalan yang mereka tempuh tak mudah, Xin Chen menggunakan kekuatannya di luar batas secara terus-menerus. Tak mempedulikan lagi soal kewarasannya setelah memaksa tubuhnya.
Mata Xin Chen memburam, pintu sudah di depan mata dan hanya beberapa meter lagi mereka akan selamat dari sana. Lang mendobrak pintu, berlari di depan Xin Chen hingga ledakan yang paling dahsyat meluluhkan lantakkan seisi Laboratorium A-3 dan api itu keluar sampai beberapa puluh meter dari sana.
Di ambang kesadarannya, Xin Chen melihat ke belakang. Cahaya merah dari api ledakan begitu menyilaukan matanya. Asap tebal keluar dan bunyi retakan menyusul bersamaan.
**
Bunyi hujan mendengung di telinga, suhu terasa sangat dingin di sebuah kamar yang jendelanya dibiarkan terbuka sehingga rintik air dari luar masuk membasahi lantai.
Para tabib muda berjalan di jembatan kecil dengan batu-batu putih, mengobrol sesekali berbisik tak percaya atas kabar yang diberikan oleh Guru Besar mereka.
"Setelah bertahun-tahun tanpa harapan ...?"
Yang paling tinggi di antara mereka menggeleng sambil lanjut mengobrol. Temannya yang lain menarik ujung bajunya, melirik seekor Siluman yang sedang meminum air di kolam.
"Sudah dua hari dia di sana, sepertinya sedang sedih ..."
"Hais, aku kemarin menawarinya makanan malah dimarahi tanpa alasan. Dia itu serigala betina?"
"Lihat saja warna bulunya, dia jantan."
__ADS_1
"Tapi mulut seperti betina."
Lang melemparkan tatapan mengerikan, yang langsung membuat mereka bungkam.
Di kamar yang jendelanya tak ditutup seorang pemuda masih terbaring tak sadarkan diri.
Angin berhembus kencang, membuat rintik air itu menetes di wajahnya. Kelopak matanya bergerak, hingga pupil biru tersebut mulai terbuka. Kosong.
Xin Chen bangun, tak sepenuhnya sadar dia langsung dikagetkan oleh satu hal mengerikan.
Tangannya. Urat biru dan merah tercetak jelas di sana dan bahkan bertambah dengan urat hitam. Xin Chen mengecek dadanya, sumber itu semua berasal dari sana. Tepat di jantungnya.
Keadaannya makin memburuk.
Xin Chen terdiam, berusaha menerima keadaannya. Saat memejamkan mata bayangan seekor rusa dengan tubuh bercahaya kembali hadir.
Itu ingatan terakhirnya sebelum pingsan. Dan sekarang mungkin Lang telah membawanya kembali ke Kuil Hujan. Selebih dari itu, Xin Chen tak tahu apa-apa.
Langkah kaki terdengar di selasar rumah kecil itu, berbondong-bondong dan terdengar mereka berdiskusi dengan serius.
"Kalau bukan karenanya kita takkan mungkin menciptakan obat ini, jadi tak ada salahnya bagiku untuk mengeluarkan anggaran lebih untuk mengobatinya."
"Dan Anda masih harus menciptakan obat untuk Kristal Merah. Anda tahu betul biaya yang diperlukan akan menghabiskan dana kuil sebanyak dua puluh persen. Itu sudah sangat besar."
"Tidak ada biaya yang rugi dikeluarkan untuk menolong orang. Apalagi orang itu juga membantumu."
Sebelum masuk ke dalam pintu yang baru dibuka, laki-laki itu memegang pundak lawan bicaranya.
"Oh, kau sudah sadar?"
Luo Mei baru teringat dia lupa menutup jendela kamar.
"Apa yang terjadi pada tubuhku?" Xin Chen mungkin sudah tahu sedikit jawabannya, tapi hatinya tak tenang.
Bagaimana dia bisa pulang dengan keadaan seperti sekarang?
Ren Yuan pasti akan menangis. Ayahnya akan tertekan. Dan Xin Zhan, paling-paling menamparnya.
__ADS_1
"Aku merasa keadaanku semakin memburuk."