
Li Baixuan tak lagi menganggap remeh ancaman lawan, dia tahu jika Xin Chen benar-benar akan melakukannya. Karena pemuda itu mampu. Meskipun begitu, di saat-saat genting bahkan, Li Baixuan tetap dapat tergelak.
"Jika kau menggunakan sepuluh pedangmu, maka aku akan menggunakan seribu pedangku. Majulah jika kau pikir kau sanggup mengalahkan ku."
Semua orang yang dari tadi hendak menyaksikan pertarungan antara keduanya dibuat tertegun saat Xin Chen mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dengan sebelah tangan.
"Untuk Kekaisaran Shang!"
Teriakan tersebut tanpa diduga menggelegar keras, diiringi suara gemuruh petir yang mulai bergejolak. Para prajurit Kekaisaran Shang kembali berdiri tegak. Mereka mengacungkan pedang ke atas seperti yang Xin Chen lakukan, satu per satu dari mereka mulai mengikuti Xin Chen. Meneriakkan nama Kekaisaran Shang hingga melangit, melewati batas-batas awan yang kelabu. Andai hujan kembali turun membasahi bumi di bawahnya, maka dipastikan air yang dibawa tak lebih dari genangan darah.
Membentuk lautan darah terbesar dalam sejarah. Xin Chen dan Li Baixuan telah berdiri saling berhadapan di sebuah batu besar bekas reruntuhan dari pegunungan.
Tanpa menunggu serangan dari lawan, Li Baixuan membuka pertarungan dengan satu guncangan dahsyat. Pedang di tangannya melebur oleh kekuatannya sendiri dan berubah menjadi dua cambuk panjang.
__ADS_1
Laki-laki itu mengempaskan satu terjangan maut, beruntung Xin Chen mengelak cepat sebelum cambuk putih yang dikelilingi kekuatan besar itu mengenai.
Sebuah pohon yang berada di belakang Xin Chen berbunyi gemeretak, bekas cambukan di tengah-tengah batang pohon terpotong dengan sangat-sangat rapi. Bahkan pohon tersebut tetap berdiri tegak meskipun telah terbelah dua, hingga angin besar datang menjatuhkan bagian yang telah terpotong.
Tak berhenti sampai di sana, Li Baixuan berlari cepat dan langsung menggencarkan serangan dari berbagai arah. Dia kehilangan jejak Xin Chen setelahnya, dan tahu-tahu saja seseorang telah berdiri di balik punggung Li Baixuan.
Dua pedang biru nyaris tipis mengoyak punggung Li Baixuan, tapi meski serangan tersebut berada di titik buta, Li Baixuan dapat mengendus serangan Xin Chen dari mana saja. Dan tanpa melihatnya. Li Baixuan mengelak dari serangan tersebut dengan meletakkan pedangnya menyilang pada punggung belakangnya.
Detik selanjutnya menjadi malang terbesar untuk Xin Chen, dia baru menyadari bahwa pedang Li Baixuan telah kembali yang artinya cambuk yang laki-laki itu gunakan sebelumnya telah menghilang. Dalam satu serangan sebuah benda serupa cambuk bergerak lurus menghujam Xin Chen. Xin Chen membelalak saat melihat Li Baixuan mengeluarkan senjata yang paling dihindarinya.
Nada penyesalan muncul, dia menggeleng dua kali seakan-akan masa lalu tersebut begitu pelik untuk diceritakan.
"Aku selalu berharap dapat membangkitkan saudara-saudariku, dengan kekuatan ini. Tapi tidak ada yang bisa aku lakukan sama sekali."
__ADS_1
Li Baixuan mengangkat sebuah kertas dengan huruf-huruf kuno yang dibuat oleh tinta darah.
"Mantra ini dibuat dengan menggunakan darah dari seorang pengguna roh terhebat di masa lalu."
Cambuk tersebut bergerak tanpa perlu Li Baixuan sentuh, mengikat sekujur tubuh Xin Chen yang mendadak bergeming. Raut wajahnya sama sekali tak memiliki ekspresi.
Saat Li Baixuan mendekati pemuda itu dan menyentuh tanda bunga api di dahinya, dia terkejut. Seperti baru saja menyentuh balok es, begitu dingin.
Sesaat, Xin Chen membeku tanpa berucap sepatah kata pun. Sekitarnya berubah menjadi sebuah kota yang amat dirindukannya. Kota yang dilihatnya dari tengah laut tengah terbakar habis-habisan. Kota di mana terakhir kali dia menjumpai sosok yang amat disayanginya. Dan kota di mana kebahagiaannya terasa lengkap.
Kota Renwu yang penuh dengan mayat bergeletakan. Suara-suara putus asa dan ketakutan. Asap yang mengepul dari berbagai sisi. Dan dirinya saat ini; terjebak dalam cengkraman musuh seperti saat dirinya ditangkap Ratu Iblis dan nyaris tewas di saat itu juga.
Ketakutan itu menghantui Xin Chen perlahan-lahan hingga dia tak sadar bahwa pertarungan masih berlanjut di depan matanya.
__ADS_1
Li Baixuan melihat itu. Wajah ketakutan tersebut. Raut wajahnya sekilas berubah, tapi kembali lagi seperti semula. Justru Li Baixuan semakin senang saat melihat musuhnya tengah lemah karena itulah kesempatan baginya menghabisi Xin Chen.