Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 211 - Melawan Kaisar


__ADS_3

Ketika siang datang membawa hawa panas yang membakar, seperti Qiu katakan ratusan pasukan bersenjata telah berkumpul di persembunyian. Pakaian compang-camping, perawakan kasar dan sebagiannya lagi hanya seperti tulang belulang yang kebetulan memiliki nyawa untuk berjalan. Meski begitu nyali mereka begitu besar. Qiu didampingi Rein mengucapkan sepatah dua kata untuk menyambut mereka.


Yu dan Lian berhasil membawa sebagian besar orang Perkemahan untuk turun ke medan tempur. Sementara sisanya diungsikan ke tempat yang lebih aman, menghindari adanya kemungkinan buruk.


Fu Hua tak terlihat, sementara Rubah Petir baru saja keluar dari tempatnya bersemedi. Setelah mengisi kembali kekuatannya, rubah itu tampak yakin bertarung. Xin Chen di sebelahnya diam. Namun di saat yang bersamaan sedang mencoba kembali kekuatan roh. Ada sekelebat rasa khawatir yang membuat raut wajahnya ragu.


Kekuatan roh hilang.


Di saat-saat seperti ini, Xin Chen tak tahu harus mengatakan apa kepada Rubah. Terakhir kali kekuatan itu telah mencapai tahap ketiga, hingga dia pingsan kekuatan itu tak pernah keluar lagi. Bahkan ketika dia memaksanya untuk keluar. Xin Chen memilih tak memberitahu Rubah Petir.


Masih ada kekuatan Api Keabadian dan Petir. Xin Chen pun merasa tubuhnya mulai membaik-meski belum sepenuhnya, sebab urat-urat di kedua tangannya masih terlihat.


Qiu memanggil Xin Chen untuk naik ke lantai dua yang menghadap dengan ratusan orang berbaris di bawah. Dia menyanggupinya, tiba di sana sambil melemparkan pandangan satu per satu ke orang-orang yang hadir.


"Xin Chen, beriklan kata pembuka dan mungkin akan menjadi penutup dari pertarungan ini!"


Keheningan menjalar selama sepuluh detik, dia akhirnya membuka mulut. Satu-satunya suara yang terdengar di tempat itu.


"Hari ini adalah hari penentuannya."


"Antara kita atau mereka yang mati, itu sama saja. Banyak nyawa yang akan melayang. Tapi yang harus kalian tahu, pertaruhan nyawa ini bukan hanya untuk kemenangan semata. Tapi untuk kehidupan generasi kalian berikutnya. Sanggupkah melihat mereka mengalami hal yang sama, seperti ini? Setiap hari berjalan di atas genangan darah dan bunyi ledakan, menghirup aroma amis darah dan tidur di antara tumpukan mayat?"


Suara-suara itu menyambutnya dengan satu kalimat 'tidak'.


"Mereka mungkin meremehkan kita, tapi aku tak pernah ragu untuk meruntuhkan istana yang megah itu dan membangunnya kembali. Kita telah lama dibakar di dalam neraka, tidak perlu berpikir sebagai manusia hidup yang takut untuk mati. Bertarung dan jangan pergi sampai kau atau musuhmu yang mati!"


Sontak seruan menyambutnya usai itu, dalam beberapa menit setelahnya semua perlengkapan yang telah diletakkan di pintu keluar diambil. Pasukan mulai digerakkan, diiringi teriakan Qiu, Yu dan Xe Chang. Suara kompak menggema di dalam barisan, menyanyikan bait-bait lagu yang mereka rangkai sendiri. Terus diulang-ulang, sampai tiba di pusat kota yang dipenuhi oleh terinfeksi.


Pertarungan di mulai dengan situasi yang berubah kacau. Mereka membunuh ratusan mayat, terus melangkah ke depan tanpa gentar sambil berteriak. Hingga suara-suara serak itu mulai bertemu dengan ajalnya, satu demi satu pasukan tewas dan beberapa terpaksa dibunuh karena tergigit. Xin Chen menyuruh merapatkan barisan.


Mereka semakin dekat dengan Sentral Pusat, tapi keadaan mulai tak kondusif. Pagar besi berkarat terjatuh sehingga banyak terinfeksi yang sengaja dikurung mulai membanjiri jalan.


Mereka mulai ragu ketika ribuan terinfeksi mengejar dari berbagai sisi, Xe Chang berteriak.


"Kita harus pergi!"


"Itu hanya akan membuat pasukan berpencar, dengan berpisah kita semua akan mati!" Yu menyahut dengan suara tak kalah keras. Qiu mengambil tindakan nekad dengan langsung menyusul terinfeksi sepuluh meter di depannya, bertarung di dalam lautan terinfeksi.


Di atas bangunan tinggi, seorang laki-laki dengan seragam Serikat Sentral Pusat melipat kedua tangannya sambil menatap remeh ke bawah.


"Oh akhirnya gelandangan-gelandangan ini memunculkan dirinya? Seperti kata Yang Mulia, mereka pasti akan datang. Siapkan kurungan dan lepas sesuai arahanku!"


Suara tembakan mulai terdengar, salah satu tubuh jatuh dan tewas seketika. Xin Chen mengepalkan tangan, mengingat kematian Shuo yang tragis kala itu dan bagaimana hancurnya Lian. Dia menengadah ke atas, tapi tidak dengan kemarahan di dalam hatinya.


Beberapa orang panik melihat tindakan Qiu dan langsung berteriak.


"Sial, Qiu! Kau cari mati!?" Yu menahan napasnya, melihat laki-laki itu seketika menjadi beberapa potongan di dalam lautan mayat itu. Nyali para pembelot mulai menciut, Xin Chen memejamkan mata.


'Aku telah mengalahkan yang lebih mengerikan dari ini, ke mana perginya semua itu?' batinnya. Namun di detik yang sama dia sadar, dia hanya takut untuk membunuh manusia yang tak bersalah, yang menjadi korban atas kebengisan Kaisar Shi. Dan di tambah lagi, penyakit yang bersarang di tubuhnya membuatnya tak bisa mengeluarkan kekuatan besar-besaran.


Bunga Api Biru bercahaya di keningnya, Xin Chen mengatur aliran tenaga dalamnya. Mulai membangkitkan kekuatan terbesar yang telah lama tertidur di dalam tubuhnya.


"Penyakit itu sudah mati. Andai masih ada, aku dan dia akan mati di dalam tubuh ini."


Yu melihatnya khawatir.


"Hei, kau bicara apa?"


"Mundurlah."


Yu yakin tidak yakin, dia memberikan perintah kepada pasukan mundur ke belakang Xin Chen. Menyisakan pemuda itu yang langsung berhadapan dengan gelombang terinfeksi yang hanya beberapa meter lagi dari mereka. Dari atas sana terdengar teriakan yang menggelegar.


"Lepaskan!"

__ADS_1


"Mereka pasti akan menembak! Tiarap!!" Lian mengeluarkan suaranya yang sampai hilang, tapi setelahnya tak ada bunyi tembakan apa pun yang terdengar.


Selain derap langkah kaki yang begitu banyak dan berat. Xin Chen menatap lurus ke depan, di mana di belakang mayat manusia itu mulai terlihat makhluk percobaan lainnya yang lima kali lebih kuat dari yang lain. Hanya terlihat seperti gumpalan daging merah berbentuk manusia dewasa dengan otot besar, tanpa mata ataupun hidung. Mereka mempunyai cakar dan kaki yang bisa membuat besi rontok dalam sekali tendang. Lalu mulut dengan gerigi tajam, jika sudah digigit mereka tulang pun bisa hancur dilumatnya.


"Ini berbahaya, kita mundur dan bentuk formasi ulang, Chen! Kau dengar?!" Xe Chang berbicara sia-sia karena orang yang diteriakkannya mulai bersiap dengan kekuatan api penuh.


"Terbakar lah kalian sampai seujung rambut pun tak bersisa." Xin Chen mulai merasakan perbedaan ketika menatap mahkluk-mahkluk itu sebagai musuhnya. Sepintas, suhu mulai berubah tak wajar. Lian melihat kulit orang di sampingnya yang mulai melepuh.


"Kita harus pergi! Dia akan menggunakan kekuatannya!"


"Kekuatan apa?" Yu dan yang lain heran.


"Seperti yang topan hitam yang kau lihat itu, dia bisa menghancurkan satu kota dengan kekuatannya! Lari sejauh mungkin!!!"


Sebegitu paniknya Lian sampai dia berlari duluan, orang-orang mulai mengikutinya hingga hanya Rubah Petir yang berada di belakangnya. Yu hendak mengajak rubah tapi siluman itu sepertinya ingin membantu Xin Chen.


"Kali ini saja, aku akan membantu muridku bertarung. Pergilah." Rubah tak menatap Yu sedikit pun, tapi wanita itu tahu itu ditujukan padanya. Dia mengangguk dan mengucapkan sepatah kata sebelum kepergiannya. "Kami akan langsung mencari jalan ke istana, temui kami di sana!"


Rubah Petir mengangkat kedua tangan di sisi tubuhnya, "Chen, mau bertaruh?"


"Heh, tumben sekali guru langsung turun tangan." Kilat cahaya di matanya tampak begitu yakin, jika Rubah ada di sana Xin Chen yakin dia akan baik-baik bahkan jika penyakitnya kembali lagi.


"Kau lupa orang bodoh sepertimu membutuhkan pawang agar tidak melakukan hal bodoh?"


"Bilang saja kau takut aku tiba-tiba kambuh dan menghancurkan satu kota lagi."


"Itu salah satunya." Rubah menjawab refleks, wajahnya langsung masam setelahnya. "Kau berusaha mengejek ku?"


"Hahaha, tidak-"


"Fokus di depan!"


Xin Chen bersiap dengan kedua kekuatan yang mulai mengalir di kedua tangannya. Tangan kanannya mengalir kekuatan biru, membuncah menciptakan kobaran api yang mulai menjalar di jalan. Merambat dan membakar para mayat hidup, tangan kirinya bereaksi. Mendung besar terpanggil oleh kekuatan keduanya. Rubah mengumpulkan kekuatan petir, gemuruh berbunyi bersusulan di atas.


Tampaknya selama beberapa hari ini Rubah Petir telah bersiap dengan pertarungan ini dengan mengumpulkan kekuatan sebanyak-banyaknya. Rubah itu mengangkat kedua tangannya dan mulai menjatuhkannya. Detik yang sama kunang-kunang itu jatuh ke bumi dan mulai meledakkan satu per satu kepala.


"Kau ingin bertaruh apa tadi, Guru Rubah?"


"Aku bertaruh jika kau paling banyak membunuh maka hukumanmu ditiadakan."


Xin Chen terkejut antusias. "Kalau kau yang menang?"


"Kutambah sepuluh kali lipat."


"Kalau aku menang, ranting laknat itu akan aku lenyapkan dari bumi."


Perkara ranting saja Xin Chen sampai setakut itu, Rubah Petir tertawa mengejek. "Seperti anak kecil saja takut dengan rantai."


Kegaduhan mulai menggemparkan seisi jalan, kobaran api menjalar kian ganas. Lalu rantai petir ikut mengalir di antara genangan darah, bersatu dengan api keabadian dan menciptakan percikan yang perlahan-lahan berubah menjadi ledakan besar.


"Gawat, manusia itu kekuatannya sangat mengerikan ... Dia membunuh ratusan terinfeksi tipe S hanya dengan menggerakkan tangan dari jauh?"


Lelaki berseragam itu menatap ke bawah dengan keringat membanjiri wajah putihnya, gelisah tak kunjung hilang.


"Jika memang ada orang sekuat dia mengapa hari ini baru kelihatan? Sial, kita tak mempersiapkan diri untuk ini, keluarkan senjata paling mematikan dan bunuh si mata biru itu!" ucapnya yang membuat rekan sebelahnya tertegun dengan apa yang baru saja diucapkannya.


"Mata Biru?"


"Kenapa?"


Lalu keduanya terdiam dalam ketakutan yang tak biasa, atmosfer menjadi kelam dan ancaman kian mendekat.


"Anak Pedang Iblis yang telah membunuh Kaisar Shi dan membantai ratusan prajurit?"

__ADS_1


"Tidak baik membicarakan orang di belakang, bagaimana kalau turun dan menyaksikan hal menarik di bawah?"


Bahu lelaki itu melunjak ke atas, karena begitu kaget dia sampai menjerit saat wajah Xin Chen tahu-tahu sudah mengintai di belakangnya. Mata seram yang tak menawarkan ampunan, terbayangkan di matanya bagaimana pemuda itu menghabisi ratusan nyawa sendirian karena dia melihat lokasi berdarah itu. Pembunuhan tersadis yang pernah dilihatnya.


Dan sekarang pembunuh itu sedang mengincar nyawanya.


"A-"


Satu tebasan panjang memenggal kepala dua orang itu sekaligus lalu jatuh dari lantai tinggi. Pecah berhamburan dikerubungi terinfeksi. Sementara tubuh mereka masih berdiri, begitu cepat kematian datang. Xin Chen menendang keduanya untuk dijadikan umpan terinfeksi.


Dia tahu, banyak lagi bawahan laki-laki itu dan mulai mencari. Tanpa ragu dia turun dari ketinggian, tanah retak besar di bawah telapak kakinya yang baru saja mendarat. Xin Chen memasuki berbagai rumah, mengambil nyawa mereka hidup-hidup. Sementara rubah petir dalam waktu singkat membersihkan terinfeksi di jalanan.


Xin Chen tak mau kalah, ledakan kekuatan dalam tubuhnya menciptakan serangan berskala besar yang hebat. Rubah Petir terdiam sejenak. "Kau baru mendapatkannya sekarang?"


"Apanya?"


"Jawaban dari pertanyaanku sebelum sampai di Kekaisaran ini."


Xin Chen berusaha mengingat, ketika itu Rubah Petir baru saja berhasil menciptakan kunang-kunang peledak. Jenis kekuatan baru yang baru dia lihat dari gurunya itu.


"Kelemahanku?"


"Bukan, tapi tentang dirimu sendiri dan kekuatan yang ada kau miliki."


"Oh, ilmu dasar yang diajarkan tentang Pengendalian Kekuatan?"


Rubah Petir tak mengiyakan tapi memang itu jawabannya, "Kau melupakan sesuatu, Chen."


Xin Chen masih terus menghabisi musuhnya selagi mendengar Rubah Petir memberikan jawaban. Dia sempat mengira telah menemukan jawabannya ketika berhasil menguasai jurus baru dengan pengendalian kekuatan yang penuh. Tapi tampaknya jawaban itu salah besar.


"Pengendalian Kekuatan bukan hanya tentang mengendalikan aliran kekuatan atau besar tidaknya tenaga dalam yang kau keluarkan." Kunang-kunang indah di atas langit yang gelap menjadi menyeramkan ketika sang rubah menurunkan tangannya, menciptakan air terjun darah di mana-mana.


"Tapi juga tentang mengendalikan emosimu. Semakin tak terkendali emosimu, maka semakin buruk pula pengendalian kekuatanmu. Pada akhirnya membunuh satu semut saja kau tak mampu walaupun memiliki kekuatan besar."


"Aku mengerti ..."


Xin Chen semakin kagum dengan pemikiran Gurunya itu, guru yang tak akan dia temukan di Lembah Kabut Putih atau perguruan terhebat lainnya. Jalan pikir rubah tajam dan selayaknya orang yang telah dibekali ilmu serta pengalaman segudang. Terkadang sikap gurunya itu membuat Xin Chen bertanya-tanya, tapi dia tahu apa yang dilakukan Rubah Petir selalu memiliki alasan yang baik.


"Tapi sayangnya kau akan kehilangan ranting kesayanganmu itu, Guru."


Xin Chen menjebak terinfeksi itu masuk ke dalam perangkap berupa satu lingkaran yang dibatasi oleh penjara Api. Mulai memasukkan kekuatan petir, tak membiarkan satu pun dari mereka keluar dan dalam detik selanjutnya ledakan hebat membunuh ratusan terinfeksi di dalam lingkaran itu.


Rubah Petir melepaskan kekuatannya, lengan baju nya yang panjang kembali menutup tangan dengan cakar dan bulu itu. Dia tersenyum penuh arti ketika melihat muridnya itu sedang bahagia-bahagianya, memberikan waktu sebentar agar dia menikmati itu.


"Senang sekali rantingku jadi korban."


Rubah petir mengeluarkan benda tipis yang memang hanya sebuah ranting pohon itu. Xin Chen membakarnya langsung tanpa ampun.


"Akhirnya.. selamat lahir batin," ucapnya lega.


"Chen, pernah mendengar satu peribahasa?" Rubah petir bertanya, membiarkan muridnya terlalu lama bahagia membuatnya tak senang.


"Peribahasa apa?"


"Patah satu tumbuh seribu."


Tengkuk Xin Chen merinding seketika, dia menatap ke seluruh penjuru di mana puluhan ranting di jalanan mulai mengambang di udara. Rubah Petir mengepalkan tangan kirinya, membuat ranting-ranting itu berkumpul. Dia menggenggam ranting itu sambil tertawa singkat, muridnya langsung meminta ampun.


"Hati-hati melangkah, murid yang nakal."


***


A/N:

__ADS_1


Gak kebayang kalau punya Guru macam si Rubah. Untung Xin Chen punya BPJS.


__ADS_2