Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 153 - Sampai Jumpa


__ADS_3

Tiba di Sentral Pusat mereka langsung dihadapkan oleh pemandangan yang sangat jauh berbeda dari Kekaisaran mana pun. Kekaisaran Wei adalah bentuk dari peradaban yang lebih maju, mereka bahkan tak membutuhkan kekuatan luar biasa untuk menaklukkan langit. Hanya dengan alat dan ilmu pengetahuan yang mereka miliki, mereka mampu menciptakan banyak hal yang tak masuk akal bagi Xin Chen.


Ada banyak jebakan di luar. Dia nyaris beberapa kali menginjak ranjau yang bisa meledak. Lang menunggu Xin Chen beraksi, target pertama adalah masuk ke salah satu bangunan. Yang menjadi permasalahan adalah para penjaga yang jumlahnya sekitar sebelas orang berjaga di setiap titik.


Xin Chen mendadak hilang. Lang kaget.


"Ha? Rencananya apaan ini, rencana melarikan diri?" gerutunya kesal. Tak disangkanya beberapa detik kemudian jantungnya hampir copot gara-gara salah satu terinfeksi menjerit-jerit. Sontak Lang menjauh dengan cepat. Melihat sisa terinfeksi yang dimasuki memanjati pagar kawat dan masuk menyerang sebelas penjaga tersebut.


Melihat kesempatan datang, Lang langsung melompat masuk tanpa disadari oleh penjaga tersebut. Dia mengejar Xin Chen yang berlindung di balik pepohonan. Di sana nyaris tak ada yang berjaga, hanya ada timbunan kayu rongsokan dan bekas-bekas barang tak terpakai.


Xin Chen berhenti menggunakan kekuatan roh, kekuatan itu terus tak terkendali jika dibiarkan terlalu lama. Dia mengendap-endap ke lorong. Membekap mulut salah seorang penjaga dan menusuknya dari belakang sampai tewas. Teman lelaki itu yang memakai jubah besar terkejut dan hendak berteriak, tapi keburu dihantam kepalanya sampai terbentur di tanah oleh Lang.


Darah membasahi tanah, pertarungan diam-diam itu tak disadari oleh penjaga di depan. Xin Chen mengganti pakaiannya agar seragam dengan para penjaga yang berasal dari kelompok Serikat Sentral Pusat. Sekelompok Serikat Sentral Pusat berjaga di sekitar dan mulai mengarah ke lokasi mereka. Kontan Xin Chen memakaikan Lang jubah besar itu dengan asal-asalan.


Lang merepet di dalam baju. Bisa-bisanya Xin Chen menyuruhnya berdiri dengan dua kaki dan menyusul langkah kakinya yang begitu cepat. Lang hampir terpeleset berulang kali, dia tak terbiasa berjalan seperti itu.


"Tunggu setelah ini, aku cukur kepalamu sampai botak," umpat Lang. Kakinya nyaris tersandung batu besar dan dilihat oleh dua lelaki dari kejauhan. Dia menundukkan kepala, takut dua lelaki itu melihat wajah di balik tudung jubahnya.


Xin Chen yang sudah menunggu di depan pintu mengomel, "Nanti ditinggal kau mengomel, bilangnya jadi kucing rumahan."


Protes Xin Chen berhasil membuat Lang diam. Mereka masuk ke satu gedung yang tak berfungsi lagi, tak terpakai sama sekali karena sempat terbakar dan bagian atapnya sudah bolong.


Xin Chen memanjat sampai ke lantai atas. Melihat ibu kota Kekaisaran Wei lebih luas dari atas bangunan. Di tengah-tengah sana terdapat menara tinggi dan bersebelahan langsung dengan satu tempat yang begitu raksasa. Tempat semua manusia ditampung dan kemungkinan guru Luo Li ada di sana. Xin Chen harus segera ke sana sebelum Qin Yujin memulai aksinya.


Xin Chen baru mau bergerak, sebelum terdengar Lang bersuara. Dia serius saat berkata, "Sampai di sini saja, kita berpisah. Aku akan mencari Guru Luo Li. Kau cari kotak itu."

__ADS_1


"Tunggu, di tempat seluas ini? Kau yakin akan mendapatkannya?"


"Kau sendiri yakin soal kotak itu?"


Lang mengambil tatahan kayu yang dititipkan Luo Li di tangan Xin Chen.


"Semuanya tentang kemungkinan kecil, kawan. Berlarilah, kita akan bertemu nanti."


Tak banyak yang dikatakan Lang, tapi Xin Chen merasa beruntung karena Lang ada bersamanya. Serigala itu selalu bisa diandalkan dalam situasi apa pun. Lang telah menghilang dari pandangannya.


Xin Chen menatap ke depan. Menarik napas dalam. Lalu langkah panjangnya mulai membawanya pergi ke dalam pusat Kekaisaran Wei. Tempat di mana para elit, petinggi, peneliti dan sekalipun Kaisar bertempat tinggal di sana. Dia paham betul konsekuensi mengendap-endap di tempat penuh penjagaan seperti ini. Sekali tertangkap, kepalanya pasti langsung digantung oleh mereka.


"Pertarungan yang sebenarnya baru saja dimulai."


Xin Chen menghunus mata belati ke lelaki saudagar itu.


"Di mana Kaisar berada? Atau ... Sekongkolnya yang bernama Qin Yujin itu, beritahu aku."


"A-apa ... Aku tak tahu apa-apa, ku-kumohon! Siapa pun to-"


Sebelum menyelesaikan kalimatnya, kepala lelaki itu telah terpenggal. Di saat yang bersamaan pula kain yang menutupi kereta buka tergerai, orang-orang yang curiga langsung bertindak cepat membuka ke dalam. Yang mereka lihat adalah lelaki yang seperti baru saja ditusuk di leher tiga detik yang lalu, matanya melotot ketakutan sambil menunjuk sesuatu.


Tidak ada siapa-siapa di dalamnya. Lantas semua orang bertanya-tanya, penjaga yang berada di sekitar mengecek berulang kali, tapi kematian itu tetap menjadi misteri. Kerumunan mulai datang memenuhi tempat tersebut.


Xin Chen berhasil menghindar jauh. Masih dengan seragam Serikat Sentral Pusat, dia mencoba berbaur di sebuah kantin yang dipadati oleh-oleh lelaki buncit berseragam. Canda tawa yang mereka gelakkan sejak siang tadi hanya seputar wanita saja. Xin Chen meminum air tawar yang baru saja dipesannya. Mukanya sangat-sangat kesal.

__ADS_1


Dua jam duduk jengah mendengar obrolan mereka, Xin Chen membayar minumannya. Pergi ke luar. Sejauh ini penyamarannya belum terbongkar.


Sampai salah seorang menarik pundaknya.


"Hei, bung!"


Dia berbalik badan. Setengah kaget.


"Oh, salah orang. Hahaha. Aku kira temanku, mau mengajaknya ke acara lelang esok siang."


"Acara lelang?" ulang Xin Chen. Sedikit tertarik walaupun dia tidak mau menghamburkan uang untuk boros. Pakaiannya yang sering sobek saja selalu dijahit oleh Ren Yuan, wanita itu selalu mengajarinya untuk berhemat.


"Ohoho kau tidak tahu. Acara itu hanya digelar setahun sekali. Orang-orang kaya dari seluruh penjuru datang, kau pasti tahu soal Pil Keabadian? Semua barang seperti itu ada di sana! Pil Dewa Matahari ada, Pil Keabadian, Pil Bunga Surgawi, barang-barang antik ada, sampai benda tak lazim pun ada! Kau mau istri? Ya cari! Ahahaha, uhuk uhuk! " Dia tertelan lelucon garingnya sendiri, Xin Chen mengernyitkan dahi.


"Di mana tempat acara itu?"


"Aih kawan." Lelaki muda dengan tampang pas-pasan itu meringis. "Aku saja bisa masuk karena orang dalam. Tapi kau tahu, tiket masuk untuk orang sepertimu itu bisa membuat ginjalmu mengerut. Kau sanggup membayar dua ratus juta keping emas hanya untuk masuk? Belum lagi membeli barangnya. Tapi sudahlah, kalau kau mau datanglah besok di sebelah Utara berdekatan dengan Sungai Aimezu. Kemungkinan masih banyak kursi kosong karena acara ini sudah tak semeriah tahun-tahun lalu."


Dia melihat sekitar baru sadar akan sesuatu. "Aduh, sampai lupa waktu. Aku harus pergi. Ngomong-ngomong namamu siapa?"


"Chen."


"Aku Gong Yi. Sampai jumpa di lelang, bung."


*

__ADS_1


__ADS_2