Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 139 - Cara yang Gila


__ADS_3

Mereka meloncat ketika nyaris menabrak dinding bangunan, Xin Chen terhempas di tanah setelah dilepaskan oleh Tiga. Lang sendiri masih terjebak di bawah sana, dia tak bisa mengikuti menggunakan tali yang menghubungkan dua bangunan tersebut. Dikejutkan dengan kehadiran sekelompok manusia lain yang bertahan di tempat ini, Tiga memasang sikap waspada.


Dua orang tersebut menatap tajam ke arah keduanya penuh intimidasi. Salah satunya memiliki teropong yang dilingkari di lehernya. Yang satu lagi membawa kayu bulat di ujungnya dan dinodai darah yang telah mengering.


"Kalian membunyikan bel makan siang mereka. Hebat sekali."


"Kami tidak melakukan apa-apa-"


Yang memiliki teropong berjongkok di depan Xin Chen, mendekatkan muka sekaligus memelototkan mata agar Xin Chen bisa melihat jelas kesalnya yang sudah sampai ke ubun-ubun.


"Serigala siapa itu? Dia sepertinya baru saja membuat perkara di jalanan dan mengundang sekelompok peneliti. Mereka menembakkan senjata api ke sini, sengaja memancing perhatian para terinfeksi untuk mengepung kita. Dengan begitu kita akan keluar dan segera tertangkap. Itupun kalau kita berhasil keluar dengan selamat."


Panjang lebar mulutnya menjelaskan. Xin Chen tampaknya tak begitu terpengaruh dengan ancaman darinya. Dia lebih mementingkan Lang yang tengah berlari ke lantai ketiga bangunan. Melewati jendela yang telah rusak lalu mencapai atap tertinggi di mana Xin Chen, Tiga dan dua orang asing sedang berbincang. Dari situasi di depannya, tampaknya mereka sedang berada dalam masalah.


"Oh ini kau."


Si pemegang tongkat maju, mengetuk-ngetuk kayu tersebut di pundak kanannya dan berjalan petantang-petenteng. Leher diregangkan kanan kiri, bersiap untuk memukuli Lang yang sudah siap untuk menyerang balik.


"Kami memasuki kawasan kalian karena terpaksa. Lepaskan dia, aku akan membawa keduanya pergi secepatnya."


"Pergi? Heh." Sinis di matanya tak berubah. "Lihatlah ke bawah. Mau pergi ke mana kau dengan ratusan terinfeksi berada tepat di bawah kakimu?"


Gedoran di pintu terdengar. Xin Chen mendengar suara ledakan yang begitu dekat. Tepatnya di lantai satu bangunan ini. Seseorang telah menjebak mereka, melemparkan semacam bom yang memancing perhatian para terinfeksi ke tempat mereka. Kaca-kaca yang menghalang setiap ruangan mulai retak. Terinfeksi itu mulai bergerak ke atas, menuju tempat di mana mereka berada.


Di sisi lain, bangunan tersebut tak memiliki akses ke mana pun lagi. Jika mereka mau turun, satu-satunya jalan adalah turun ke lantai bawah.


Xin Chen bangun, merasakan sakit luar biasa di lengan tangannya. Seperti terbakar akan sesuatu yang begitu beracun. Dia berusaha menyembuhkannya, sedikit demi sedikit dan itu berhasil. Beruntung saja tubuhnya memiliki kelebihan ketahanan terhadap racun. Jika tidak dia pasti akan langsung dilempar ke akhirat oleh mahkluk gemuk tadi.


Tiga dan lainnya tak melihat dirinya dan teralihkan pada Lang.

__ADS_1


"Para peneliti itu akan menghancurkan tempat ini sebentar lagi. Aku telah melihat salah satu dari mereka menyiapkan misil peledak. Segera pergi atau kita semua akan rata dengan tanah!" pekik Lang, kepalanya bergerak memaksa Xin Chen dan Lang agar cepat meninggalkan tempat tersebut.


Tiga yang paling tenang menghadapi kepanikan tersebut.


"Berapa lama waktu yang kita punya?"


"Sekitar sepuluh sampai lima belas menit sebelum itu meledak."


"Cih." Pemegang tongkat mendecih kesal, menendang apa pun yang berada di dekat kakinya. Dia berjongkok di sisi bangunan lain.


"Ini benar-benar terjadi." Temannya yang lain menyahuti, terlihat senyum miris sejenak di wajahnya yang masih muda. Umurnya bahkan belum menginjak 17 tahun. "Tempat ini sudah terlalu banyak terinfeksi. Memutus jalur jalan yang mereka butuhkan untuk mengantarkan barang. Pada akhirnya mereka akan meratakan kita."


"Apa yang kalian lakukan? Kenapa hanya diam saja?" kelit Xin Chen, tak menyangka respon keduanya malah seperti itu.


"Selain diam mau apa? Lari ke bawah, sudah jelas nasibmu seperti apa. Tidak ada jalan yang kita miliki. Antara terjun ke dalam lautan terinfeksi atau menunggu bom itu meledak. Hasilnya sama saja, kita akan tetap mati. Hahah. "


Si pemilik teropong membuang napas berat.


Dia membalikkan badan, mengulurkan tangan sambil tersenyum.


"Yian. Kau?" Dia memperkenalkan diri. Xin Chen menyambutnya dengan bingung. "Panggil saja Chen."


"Sama-sama tak mau memberitahu nama depan, haha." Dia tertawa lepas.


"Ah, setidaknya aku punya satu teman lagi sebelum mati. Bagus juga."


Yian membaringkan tubuhnya di lantai, menatap ke atas langit yang sedikit mendung.


"Terinfeksi itu mengenal kita dari bau bukan?" Dia menengok ke jalanan di bawah sana. Sedikit ngeri.

__ADS_1


"Ya, bau manusia yang sudah mati dengan yang masih hidup berbeda."


"Kita masih punya harapan."


Xin Chen berucap dengan yakin. Dia mempunyai sebuah ide. Yian terbangun, melihat sedikit harapan di wajah Xin Chen, tampaknya pemuda itu tak berniat bercanda di tengah krisis ini.


Si pemegang tongkat, Shuo, ikut tertarik menengok ke arah Xin Chen yang berjalan cepat. Mengambil mayat yang telah terbaring dikerubuti lalat di dekat pintu atap.


"Apa yang mau kau lakukan dengan mayat busuk itu?" Tiga bersuara heran.


"Berpura-pura menjadi mayat hidup." Xin Chen tak menunggu balasan lagi, dia mengeluarkan kapak besi. Menghancur leburkan daging manusia yang telah membusuk itu.


Yian mundur kaget, Shuo membuka mata lebar-lebar. Xin Chen seperti sedang memutilasi sadis mayat. Mata berceceran, usus berhamburan di lantai yang kini telah berubah warna menjadi merah kehitaman yang merupakan darah mayat tersebut. Napas Xin Chen tersengal, dia menghentakkan kapak tersebut di tangan dan paha hingga bagian tersebut terpotong-potong.


Tiga hampir muntah, Xin Chen benar-benar sadis. Tak ada keraguan di mata pemuda itu. Meski sebelumnya dia sempat melihatnya ketakutan ketika hendak membunuh Luo Li.


"Ratakan darah dan daging ini ke baju kalian. Jangan sampai kena ke kulit. Cukup bagian luar saja."


"Apa? Huekk. Bukannya terselamatkan dari terinfeksi, mungkin aku yang harus diselamatkan gara-gara usus ini." Yian mengutip beberapa organ, merinding hebat.


"Kau mau hidup?"


Yian terdiam. Shuo dan Tiga saling memandang. Mereka tak punya banyak waktu lagi. Dan ide Xin Chen yang sudah tidak waras ini mungkin akan menyelamatkan mereka. Cukup berdoa saja mereka tidak mati karena teori Xin Chen salah.


"Jangan sampai terkena di bagian yang terluka. Kita tak tahu apa yang akan terjadi kalau darah terinfeksi ini menyatu dengan darah kita sendiri."


Xin Chen, Tiga, Shuo dan Yian bersiap menuruni anak tangga. Tujuan mereka adalah mencapai pagar pembatas kota. Jaraknya memang tak begitu jauh, tapi melewati kerumunan yang begitu banyak dipastikan akan memakan cukup banyak waktu. Lang baru saja selesai membaluri tubuhnya dengan sisa daging dan darah yang berceceran di lantai.


"Nyawa kita bergantung pada berhasil tidaknya caramu, Chen." Yian tampak ragu ketika gedoran pintu di atap berhenti, lalu terlihat tiga terinfeksi masuk sambil membaui ke segala arah. Langsung mendekati mereka sambil membuka mulut.

__ADS_1


***


Btw author baru buka grup, karena baru pertama kali pakai fitur ini author hanya menerima 50 anggota. Bisa muat 500 org sih. Kalau tertarik silakan bergabung yaa, caranya langsung klik profil author dan bergabung ke grup chat di bawah profil. Untuk fungsinya sih, mungkin kalau kalian mau saling menyapa atau membahas cerita ini boleh, belum kepikiran juga author fungsinya apa aja. Yang jangan nagih crazy up ya🙄


__ADS_2