
Satu loncatan tinggi membuatnya terpental dan terkunci di bawah terinfeksi yang tanpa disadari menyerangnya. Xin Chen kehilangan fokusnya sebentar dan inilah yang terjadi, muka itu mendekat untuk memakan wajahnya.
Xin Chen membakar wajah terinfeksi itu dengan tangan kanannya, api melelehkan kulit tersebut sampai melepuh namun sampai daging merahnya terlihat mahluk itu sama sekali tak berniat untuk menyerah dan masih berusaha mengoyaknya. Sekarang dirinya terperangkap sementara di bawah sana ribuan nyawa manusia berada di ujung tanduk.
Xin Chen tercekik, cakar musuhnya mulai menembus lehernya. Dia membalas cekikan itu, membakar leher terinfeksi tersebut sampai ke tingkat paling terpanas. Perlahan-lahan daging itu mulai melepuh, Xin Chen menggunakan kesempatan itu untuk memotongnya.
Kepala tersebut terlepas saat Xin Chen benar-benar mengerahkan kekuatannya, dia segera bangun meski tubuhnya terluka. Hanya untuk menghadapi satu saja dia kewalahan, tapi setidaknya Xin Chen tahu mereka masih bisa mati.
Meski sekarang, yang dilihatnya terinfeksi itu masih menggelepar seperti ikan di daratan. Dia tak mau menghabiskan kekuatannya untuk menghabisinya dan langsung turun ke bawah, tepat saat kakinya mendarat, tubuh seseorang terlempar jauh. Xin Chen menghindar, bunyi hantaman di dinding besi berseru usai itu. Terinfeksi Tipe SSS tengah mengincarnya dari berbagai sisi. Lautan manusia mulai menipis, antara berhasil melarikan diri atau mati selama pelarian.
Menghalang jalan mereka agar tak membunuh para manusia lagi, Xin Chen mulai merasakan makhluk-makhluk itu menggertaknya. Terbersit sesuatu dalam pikirannya, satu-satunya cara untuk mengalahkan mereka adalah dengan kekuatan roh. Xin Chen mengumpulkan kekuatan tersebut.
Memanggilnya untuk memakan para manusia yang telah mati, tapi tak terjadi reaksi apa-apa. Tangannya mengepal keras,
"Tak mungkin aku kehilangan kekuatan ini ..."
Padahal saat itu Rubah Petir berkata bahwa saat dia pingsan dirinya berhasil melewati tahap ketiga Kitab Pengendali Roh.
Atau mungkin tubuhnya tak siap untuk itu dan Kitab Pengendali Roh hancur. Itu kemungkinan terburuk yang tak mau diterimanya. Selama ini dia menguasai banyak jurus dari kitab tersebut.
Dibandingkan kitab pada umumnya yang hanya berfokus untuk serangan satu lawan satu menggunakan pedang atau senjata lain, Kitab Pengendali Roh memiliki keistimewaan yang membuatnya sangat unggul. Kemampuan membunuh dalam jumlah banyak, tanpa harus mendekati musuh dan tanpa suara. Hanya bergantung dengan kekuatan petir dan Api Keabadian tak selamanya menguntungkan.
Karena tubuh terinfeksi beda dengan tubuh manusia, mereka memiliki ketahanan tubuh di atas rata-rata. Bahkan untuk memotong satu lehernya saja Xin Chen harus membakar tangannya sendiri.
Keadaan mulai tak memungkinkan, Xin Chen mendengar suara dari balik pintu yang terhubung dengan bagian dalam Laboratorium.
"Beraninya kau menghancurkan tempat ini ...! Kami tak akan memaafkanmu, b*ngsat!! Jika kau pikir kau menang, maka kau TERLAMBAT!"
Matanya berputar mencari sumber suara, lalu Xin Chen melihat seorang laki-laki berkacamata dan tubuh kurus ringkih menghardiknya penuh emosi. Sampai dia menghantam-hantam besi pembatas, memakinya dengan bahasa binatang.
Bukan hanya dia, semua orang dapat Laboratorium Baru tentu saja tak menduga serangan akan sebesar ini. Rubah petir berniat membumi hanguskan Laboratorium Baru. Dan Xin Chen harus menghentikan para terinfeksi mengerikan itu sebelum mereka membunuh lebih banyak orang di luar sana.
"Aku tandai kau! Ayahmu, ibumu, saudara kembarmu ...!!! Semuanya! Kau akan melihat mereka berubah menjadi makhluk menjijikkan, aku bersumpah untuk itu!"
Rubah Petir semakin mengamuk di luar sana sehingga membuat atap Laboratorium Baru mulai runtuh, di atas lelaki itu keping-keping reruntuhan mulai jatuh.
"Keluarkan Qingou sekarang!"
Lelaki itu, tak peduli bahkan ketika reruntuhan berat membunuhnya. Xin Chen masih bisa melihat sepasang mata di balik timbunan batu yang mulai digenangi darah, menatap penuh kemarahan ke mukanya. Lalu ruangan rahasia terbuka, menampakkan sesosok mahluk yang tak pernah Xin Chen temui sebelumnya.
Xin Chen mundur, merasakan ngeri yang mulai menjalar membuat tengkuknya dingin. Seperti halnya hantu yang datang di mimpi buruknya ketika masih kecil, manusia yang bahkan tak bisa disebut manusia lagi itu berjalan, membuat lantai bergetar. Suara puluhan laki-laki, wanita dan anak kecil terdengar di tubuh tersebut.
Puluhan mata itu menatapnya, memerah dan mengharap. Mereka hidup dalam satu tubuh yang ukurannya hampir satu rumah, di lengan berotot, kepala hingga paha bermunculan wajah yang seolah-olah tenggelam di dalam tubuh itu.
Xin Chen tak habis pikir bagaimana bisa puluhan otak dan tubuh dipadatkan dalam satu tumpukan daging yang bisa berjalan. Bagaimana kejamnya manusia di Kekaisaran Wei memperlakukan sesamanya sampai seperti ini. Mahluk itu lebih mirip disebut monster dengan dua puluh kepala. Xin Chen tak yakin kalau dia tak menyimpan sesuatu yang berbahaya.
Keempat Terinfeksi Tipe SSS mulai bergerak, di dalam reruntuhan yang mulai membuat lantai bergetar pertarungan baru saja dimulai.
Xin Chen menangkap satu pemandangan, di mana mahluk yang disebut Qingou tadi mengangkat sebuah batu yang ukurannya tiga kali lipat dari tubuhnya, mulai melemparkannya ke arahnya.
Beruntung Xin Chen masih bisa menghindar dengan mudah. Hanya saja di beberapa situasi empat Terinfeksi mulai mengungkungnya hingga tak dapat bergerak ke mana pun. Ibaratnya seekor rusa yang diburu oleh singa sebagai makan siang, Xin Chen tak bisa melawan balik. Dia dikeroyok.
Api Keabadian menjalar, menghanguskan benda-benda namun tidak dengan musuhnya. Xin Chen tahu sampai kekuatannya habis pun, mustahil membunuh mereka semua. Apalagi Qingou itu, dia memang tak seberbahaya terinfeksi Tipe SSS, tapi dalam hal ketahanan tubuhnya seperti besi.
Racauan dan erangan di tubuh Qingou berulang kali membuat Xin Chen kehilangan konsentrasi. Satu tendangan mengenai tulang rusuknya, Xin Chen belum sempat menghindar karena tiga serangan menyerbunya sekaligus. Dan di saat yang sama dirinya menyadari kemampuannya bertarung jarak dekat mulai tumpul karena selalu bergantung dengan kekuatan roh.
Tentu tak ingin kalah begitu saja, Xin Chen membalas balik, memotong salah satu tangan mereka dengan Pedang Api Keabadian. Kepanasannya membuat suhu seisi ruangan memuncak. Jeritan itu kembali terdengar, Api Keabadian membuat wajah-wajah di tubuh Qingou kesakitan.
__ADS_1
Mncari kesempatan, Xin Chen menyerang Qingou dari belakang dan serangan dicekal begitu cepat. Mahluk itu tak memiliki titik buta, semua wajah dengan mata yang tumbuh di sekujur tubuhnya berfungsi sempurna. Xin Chen mencebik, dia menjauh secepat yang dia bisa saat mulai merasakan posisinya akan terpojok.
Saat dirinya berada dalam bahaya Qingou melakukan pergerakan yang ganjil, jantung yang tersembunyi di dadanya berdebar. Menimbulkan detakan kecil di kulit dadanya, kedua tangannya terangkat. Urat hitam bergerak ke seluruh tubuhnya seperti akar yang menjalar.
Tubuh yang amat berat dan besar itu tanpa diduga memiliki kekuatan yang mengerikan, kakinya berlari lebih cepat dari terinfeksi yang lebih kecil. Dia menggulung tubuh dan berputar di atas lantai, Xin Chen tak sempat menghindar.
Ketika dia sadar, tubuhnya berada dalam cengkraman tangan raksasa itu, tulangjya seperti sedang diremukkan. Xin Chen mengeluarkan darah, melakukan apa saja untuk membakar tangan tersebut. Pedang Baja Phoenix yang digunakannya untuk memotong tangan itu tergeletak di tanah, kekuatan petirnya sudah pasti tak mempan.
Hanya dengan menggunakan Kekuatan Api Keabadian bukannya membuat dia selamat, Xin Chen kehabisan waktunya sebelum mahluk itu menghabisinya.
"Bunuh dia bunuh dia," suara itu mulai menggema, mulut-mulut di tubuh Qingou menyerukan satu kalimat.
"Berhenti membunuh manusia, aku tahu kalian masih mendengarku. Jika kalian menginfeksi semua manusia ini tak akan ada lagi yang tersisa."
"Untuk apa kami menyelamatkan orang lain sementara kami sendiri tak selamat? Yang untung adalah mereka namun yang menerima ampasnya kami semua."
"Kalau begitu ini semua tak akan berakhir dengan pemikiran seperti itu-"
Cengkraman semakin erat, Xin Chen tak dapat mendengar lagi suara-suara yang menyahutnya. Qingou berteriak, membuat empat terinfeksi mundur ketika hendak memakan Xin Chen dari tangannya.
Qingou membawanya ke satu tempat di mana api merah telah menjalar. Ada ruang-ruang berbahaya tempat percobaan dilakukan, suara monster itu kembali terdengar. Berusaha melepaskan diri, tapi dirinya dicengkeram jauh lebih erat ketika bergerak. Qingou bisa membuat seluruh organ dalamnya hancur.
"Kau lihat di sana?"
Matanya terbuka, menatap apa yang ditunjukkan Qingou.
"Mereka berhasil menciptakan virus terbaru yang jauh lebih mematikan. Tak perlu tergigit, cukup minum racun yang bisa disebarkan lewat air sungai, minuman atau makanan. Maka seluruh dunia ini akan merasakan apa yang kami rasakan. Bukankah ini kabar baik?"
"Kau menginginkan kehancuran karena kau sudah hancur lebih dulu."
"Kalian semua setuju 'kan?"
Serentak orang-orang di satu tubuh itu menyerukan hal yang sama, Xin Chen semakin melemah. Dia benar-benar terkunci.
"Kalau begitu kau adalah musuh yang harus kubasmi, kita punya pemikiran yang beda. Kau memikirkan Era Kemusnahan. Maka aku akan mencari jalan sendiri untuk Era Baru."
Xin Chen menggunakan sisa kekuatannya untuk menciptakan satu ledakan yang mungkin akan meledakkan satu ruangan tersebut.
Qingou tertegun, sebuah kekuatan besar berkumpul di sekitar mereka, percikan api mulai terasa di kulitnya. Mata merahnya yang berada di tengah menatap Xin Chen dengan amarah.
Hawa meninggi, kekuatan berkumpul hingga akhirnya ledakan yang begitu dahsyat menghantam wajah hingga ke dada Qingou sampai mahluk itu terpental. Terjatuh duduk di atas lantai sambil memegang wajahnya, Xin Chen sama terlukanya seperti Qingou.
"Seni membunuh diri sendiri ... huh." Asap keluar dari mulutnya, tangannya berdarah oleh ledakan yang melukai dirinya sendiri. Xin Chen berusaha untuk bangun, tapi Qingou sudah lebih dulu bangun dan membalasnya dua kali lipat.
Tubuh manusianya semakin melemah. Xin Chen benci sakit itu, ketika dia tak bisa mati namun rasa sakit seperti sedang sekarat selalu dirasakannya. Tinju berat menghantam wajahnya, Xin Chen berusaha menahan dengan sisa dayanya tapi Qingou terlalu kuat.
Kekuatan tangannya itu seberat besi berpuluh-puluh ton, tubuhnya bahkan hanya mendapatkan luka kecil dari ledakan tadi membuat Xin Chen hanya bisa menelan ludah. Tertawa.
Semua orang di luar sana menganggapnya hebat. Sekarang hanya untuk melawan mayat hidup dia harus babak belur. Secepatnya Qingou menghantamnya, bertubi-tubi sampai wajahnya tertoleh ke samping berlumur darah.
Qingou semakin mengamuk sampai dia membunuh empat terinfeksi SSS dengan menelan mereka hidup-hidup. Xin Chen masih dapat melihatnya dengan mata yang semakin memburam. Mahluk ciptaan terakhir itu, memiliki kekuatan yang begitu besar.
Xin Chen menggerakkan sedikit jarinya, kesadarannya mulai menipis, darah terus bercucuran di hidung dan kepalanya yang bocor. Mahkluk itu masih mengawasinya, saat Xin Chen mengangkat wajah, sebuah batu besar diangkat Qingou dan langsung ditubruk ke tubuhnya.
Detik itu Xin Chen kehilangan kesadarannya.
**
__ADS_1
"Sial, apa yang dia lakukan sampai selama ini?" Rubah Petir yang berada di atas atap Laboratorium Baru mulai menggrutu sebab dari berbagai sisi para prajurit dan pengawal yang selamat menyerangnya tanpa henti. Mereka sangat-sangat banyak dan tak ada habisnya sehingga dalam waktu cepat rubah itu harus memakai lima persen kekuatannya. Kutukan Langit jatuh menghentak bumi, guncangan dahsyat terjadi.
Laboratorium Baru hancur sebagian oleh petir tersebut. Dan Rubah Petir memang sengaja menghancurkannya agar tak ada lagi tempat untuk menyiksa manusia atau menciptakan hal buruk lainnya. Dia membunuh ribuan manusia dalam kurun waktu kurang dari setengah jam, meluluhlantakkan bangunan yang sangat amat luas itu hingga rusak lebih dari setengahnya.
Namun hatinya tak kunjung tenang, setelah tahanan berhasil melarikan diri dengan selamat dia tak melihat tanda-tanda kehadiran Xin Chen.
Rubah itu menghentikan serangan sejenak, melihat dan mendengar di bagian tengah Laboratorium seksama dan menyadari sebuah pertempuran telah terjadi. Satu mahluk mengerikan terlihat di matanya. Aliran kekuatan besar mengalir di tubuh mahkluk itu.
Lalu di sisi lain, dia melihat sesosok manusia lain. Tak bisa mematikan aliran kekuatannya. Tapi yang dia tahu, manusia itu telah kalah.
Sontak Rubah Petir menyadari bahwa sosok itu adalah Xin Chen. Dia ingin menghampiri namun sayang dalam waktu yang tidak tepat musuh baru telah datang menunda itu semua. Siluman yang disimpan di Laboratorium Baru dikeluarkan dan mulai dikendalikan oleh para prajurit untuk menyerangnya.
"Murid dungu, bisa-bisanya dia tiduran di saat begini," umpatnya sambil mulai mengeluarkan jurus petir.
Ketika Jurusnya telah siap untuk menyerang, Rubah Petir kehilangan keseimbangan secara tiba-tiba. Sebuah kekuatan besar keluar membuatnya kaget sampai jurus petir terlepas dan menyerang sembarang arah. Rubah itu hampir jatuh dan dari belakangnya atap tempatnya berpijak mulai ambruk seluruhnya.
Dengan cekatan sang rubah melompat, mengamankan tempatnya mendarat dengan menghabisi para prajurit dan mulai membalikkan badan dalam keterkejutan yang masih terlihat jelas di wajahnya.
Dia tak pernah merasakan kekuatan roh yang sebesar ini, begitu dahsyat dan mencekam. Seperti saat di kota yang telah Xin Chen hancurkan dan bahkan lebih besar. Seluruh Laboratorium Baru hancur, Garis Hitam mulai bermunculan menembus satu per satu atap.
Prajurit yang bersembunyi di balik hutan menahan napas, untuk pertama kali di dalam hidup melihat sesuatu menyerupai monster dengan ribuan kaki menjalar seperti gurita. Mengungkung Laboratorium Baru dari bawah tanah dan menghancurkannya hingga retak.
"Apa-apaan itu ...? Apakah master menciptakan mahluk sebesar itu?" tunjuk salah satu dari mereka, bahkan jarinya sampai gemetar tak karuan.
"Tidak, dia ..." Senior di antara mereka menelan ludah, dia tahu benar apa yang sedang mencoba memakan Laboratorium Baru dengan monster raksasa itu.
"Siapa?" Puluhan suara menyuruhnya segera bicara.
"Anak Pedang Iblis, Sang Pengendali Roh yang kekuatannya mungkin jauh lebih menakutkan dari ayahnya. Tak heran dia bisa membantai Kaisar Shi dan ratusan prajurit dengan mudah-"
Rubah petir di tempatnya refleks memundurkan diri beberapa kali. Saat mengira jurus itu adalah teknik Garis Hitam, dia salah besar.
Roh itu membentuk satu jenis mahluk yang memiliki ruh dengan tubuh yang mampu menyaingi satu menara. Seekor makhluk hitam keluar merangkak dari dalam bumi, melahap bangunan itu. Semua orang menyaksikannya dan terpaku, tak berpikir untuk lari menyelamatkan diri.
Lalu sesosok mahluk muncul dengan mata biru, hawa kekuatan roh semakin mengental, tekanan yang kuat membuat kedua kaki seperti dipaksa menyentuh tanah. Rubah Petir menyadari sesuatu, monster itu tak hanya memakan manusia melainkan juga memakan benda mati dengan rakusnya.
"Tidak mungkin ... Xin Chen, kendalikan kekuatanmu dan jangan lepas kendali seperti ini."
***
#Side story
Qingou: Tak ada kekuatan yang bisa membunuhku!
Xin Chen: Sial, dia terlalu kuat...
Qingou: Hahahaha, kau tak akan bisa mengalahkanku!
Xin Chen: Terpaksa harus menggunakan jurus terakhir. Jurus yang paling sakral, tak ada yang mampu menandingi kehebatannya..
Qingou: (kaget) Apa?! Kekuatan yang tak tertandingi?!
Xin Chen: Jurus Terakhir - Doa Ibu!
Qingou is dead. Tamat.
#udah jangan serius kali bacanya xixixi
__ADS_1