Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 31 - Tahap Kedua - Garis Hitam


__ADS_3

"Rajaku akan tiba ..."


Lelaki yang tengah duduk terpekur di depan meja berisi bidak-bidak catur menggumam, mengambil raja dan meletakkannya ke satu sisi lainnya di atas papan. Raut wajahnya yang sejak beberapa hari lalu masam mulai berbinar cerah. Ditekuknya jari di atas meja dan mengetuknya berulang-ulang. Memikirkan bagaimana satu Raja dan beberapa bidak lainnya mampu mengalahkan lawan beserta pion-pion tersebut.


Lalu terdengar suara tertawa diiringi tepukan tangan darinya sendiri, sebegitu puas dengan strategi yang dibuatnya. Orang-orang yang berdiri di sekitarnya diam ibarat patung.


"Aku sudah mempersiapkan sampai sejauh ini, tak mungkin kau tak terkejut. Bisa kubayangkan wajahmu yang begitu dingin itu, pucat pasi seperti mayat. Pemandangan yang sangat indah untuk seorang yang licik sepertimu. Dan anak sialan itu ..." Tawanya lenyap dalam sekejap mata, temperamen laki-laki itu memang sering berubah-ubah sehingga siapa pun yang berada di sekitarnya tak heran lagi.


"Aku benar-benar ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri."


*


"Berdirilah."


Embusan angin menggema di sebuah ruang hampa, tak ada sesiapapun di sana selain Xin Chen. Dia mengunci Roh Dewa Perang di tempat lainnya.


'Mengapa ingatan itu tiba-tiba mengacaukan ku? Sudah sejauh ini ...' Xin Chen berhenti mempertanyakan hal itu, firasat buruk dianggapnya sebagai angin lalu saja. Apa pun yang terjadi perang harus dia menangkan.


"Angkat wajahmu."


Ucap dirinya sendiri. "Musuh tidak akan tunduk saat melihat kau lemah. Kembali, jiwaku. Hancurkan mereka. Dan pulanglah kepada mereka yang menunggu mu."


Xin Chen mengangkat tangan kanannya, sama halnya dengan yang terjadi di dunia nyata.


Xin Zhan tertegun saat melihat Xin Chen kembali bergerak. Tapi tak mengetahui apa maksud tangannya yang terangkat seperti sedang memegang sesuatu.


"Bakarlah, hingga menjadi abu. Bunuhlah hingga tak menyisakan tulang. Padamkan jiwa mereka."


Kekuatan yang begitu murni. Li Baixuan sempat terhenti sejenak merasakan aliran kekuatan lain dalam diri Xin Chen.


"Sebenarnya ada berapa jenis kekuatan yang dia miliki?!" teriakan itu terdengar frustasi. Andaipun dia telah berhasil menghabisi kekuatan roh Xin Chen, jika kekuatan Api Keabadian yang dia miliki juga setara dengan kekuatan roh, maka usaha yang dilakukan Li Baixuan sia-sia.


Api Keabadian menyala di telapak tangan Xin Chen bersama tanda bunga api di keningnya. Hitam dan biru menyeruak dari penjara cahaya. Layaknya monster yang tengah di kurung di dalam penjara, dua kekuatan itu mengamuk saat saling bertubrukan.


Api di tangan Xin Chen semakin memanas. Meski tak lebih dari segenggam tangan, udara yang bertiup di sekitar berubah kering. Kekuatan murni berada satu tingkat di atas kekuatan biasa, tak heran mengapa api tersebut memiliki tingkat panas yang jauh lebih gila dari api biasa.


Mulai terlihat inti di dalam Api Keabadian dalam genggaman Xin Chen. Kini bunyi kobaran api mulai terdengar. Membakar tulisan mantra yang mengambang di sekitar penjara, api biru mulai melalap ujung kertas mantra.


Xin Chen merapatkan giginya. Mantra itu kebal bukan buatan. Tapi cara ini berhasil, Xin Chen bisa menghancurkan mantra itu sebelum kekuatan rohnya habis tak bersisa.


"Belum cukup ..."


Tangan Xin Chen mulai terasa seperti terbakar, dia membuang rasa sakit itu jauh-jauh. Menambah kekuatan Api Keabadian hingga ke batas terakhir. Giginya mulai berbunyi gemeretak.


Bahkan setelah melewati batas kemampuannya sendiri, mantra itu tak cukup cepat untuk terbakar sebelum kekuatannya tersedot habis.


"Berikan aku semua kekuatanmu, Api Keabadian."


Li Baixuan mulai kehilangan keseimbangan karena terus mencuri pandangan ke belakang. Melihat Xin Chen semakin mengerikan di dalam penjara yang dia ciptakan sendiri.


Mata biru menyala dalam sebuah kurungan hitam berisi kekuatan roh. Sebuah nyala api membakar mantra terhebat yang diciptakan dua ratus tahun lalu.


"Apa-apaan orang itu ..." Saat itu Li Baixuan seperti sedang menyelam ke dalam permukaan laut yang paling jauh dan melihat seekor monster yang tak pernah diketahui oleh manusia. Memiliki kekuatan tersembunyi, Api Keabadian.


Saat kesadarannya kembali, Li Baixuan kehilangan keseimbangan. Xin Zhan mengempaskan satu serangan yang berhasil mengenai dadanya.


Mengambil jarak sejenak, Li Baixuan mundur. Xin Zhan berhenti sesaat. Dia telah mencapai batas kemampuannya. Tenaga dalamnya nyaris tak bersisa. Bertarung melawan Li Baixuan yang bukan tandingannya memang menguras tenaganya lebih cepat.


Seketika kobaran api meletup hingga keluar dari penjara cahaya, kian besar bertambah tiap detiknya. Entah apa yang baru saja terjadi tapi Li Baixuan tahu Xin Chen hendak menghancurkan mantra tersebut.

__ADS_1


Tak dibiarkannya sama sekali, Li Baixuan hendak melompat tinggi ke atas. Tapi langkahnya dicegat oleh Xin Zhan begitu cepat.


"Aku belum menyerah."


"Persetan denganmu!"


Li Baixuan mulai panik. Jika Xin Chen menghancurkan mantra itu semua kekuatannya akan kembali seperti semula. Xin Zhan tetap bersikukuh dan memulai pertarungan sebelum Li Baixuan beranjak. Mau tak mau Li Baixuan harus menghadapi Xin Zhan sekali lagi. Tapi kali ini, dengan tidak tenang sama sekali.


Kilau api biru berkobar kian indah, melawan siluet jingga dari matahari yang hendak terbit. Saat itu pertama kalinya cuaca tampak cerah semenjak perang dimulai.


Kertas merah mulai terbakar. Bagian tersulit untuk dihancurkan adalah darah milik pengguna roh. Xin Chen membakarnya dengan seluruh kekuatan Api Keabadian yang dia miliki. Melampaui batasnya sendiri. Rasanya tubuhnya akan hancur jika panas ini terus menggerogoti.


Hingga akhirnya Xin Chen dapat menggenggam kertas mantra yang hanya tersisa seperempat.


"Tak akan kubiarkan kesalahan fatal lainnya datang."


Lalu api di tangannya menghabisi kertas tersebut hingga tersisa debu. Kekuatan hitam keluar serempak. Tak terbayangkan seberapa banyaknya yang mulai masuk ke dalam tubuh Xin Chen.


Dari tangannya dua buah kekuatan menyatu, membentuk sebuah pedang dengan wujud baru. Kekuatan Api Keabadian dan kekuatan roh.


Satu tebasan melingkar, penjara cahaya langsung pecah seketika. Deru angin berhembus makin kencang. Li Baixuan mengantisipasi Xin Chen yang datang dari atasnya, benar saja sambaran dari atas langsung membuat tanah tempatnya berdiri masuk ke dalam. Kedua senjata saling bergesekan menimbulkan suara derit panjang yang memekakkan telinga.


Xin Chen melepaskan serangan dan melompat di samping Xin Zhan.


"Manusia beban ini adalah tanggung jawabku."


Xin Chen berkata tanpa dosa. Li Baixuan mendengarnya dan ingin menjerit detik itu juga.


"Tiga lainnya sudah tumbang, tersisa satu yang mungkin sedang bersembunyi."


Lebih parahnya lagi orang seperti Xin Zhan sama sekali tidak terganggu dengan sebutan Manusia Beban untuknya.


"Tiga?"


"Kesepuluh, Ning Tian. Ghou Fu Xi, kesembilan, dan Zhaohuo keenam. Dua dari mereka terbunuh di tanganku."


"Hanya tersisa yang kedelapan berarti."


"Benar."


Xin Chen tiba-tiba menatapnya. "Masih bisa berdiri?"


Tak mendapatkan jawaban, Xin Chen langsung menopang tubuh Xin Zhan yang tampaknya akan ambruk.


"Kau selalu datang di saat aku ketakutan."


Tak ada yang keluar dari mulut Xin Zhan selain tawa kecil. "Kau tak pernah berubah. Mungkin karena itu ibu selalu menyuruhku untuk menjagamu. Kau sangat ceroboh."


"Kalian pikir kalian sedang mengacuhkan siapa?" Li Baixuan ingin mengamuk, mana mungkin dia diacuhkan di tengah-tengah pertarungan. Sungguh memalukan baginya.


"Berikan aku waktu. Aku akan bertarung denganmu."


"Baiklah." Xin Chen melepaskan tangannya dengan hati-hati. Xin Zhan memulai pemulihan tubuhnya sejenak. Sementara Xin Chen kembali mengeluarkan pedangnya.


Li Baixuan menyunggingkan seringai iblisnya. "Cih, sudah selesai acara reuni dengan saudaramu?" Dia makin semangat berbicara. "Kau takut cambuk ini akan menangkapmu lagi?"


"Seharusnya kau yang takut ..."


Kali ini, Li Baixuan dapat melihat jelas bola mata Xin Chen. Sejak awal dia selalu tenang dalam bertarung dan tiba-tiba saja menjadi agresif.

__ADS_1


"Kau jadi tak takut mati ya setelah melihat kakakmu berdiri di belakang mu?"


"Kenapa? Sekarang kau pula yang takut mati?"


Li Baixuan yakin siapapun yang mengandung Xin Chen dulu pasti sering memakan cabai.


"Hahaha, aku? Takut mati?"


Li Baixuan sampai terbahak-bahak. "Jangan ha-"


"Tingkat kedua - Garis Hitam."


Li Baixuan tercekat melihat sebuah bayangan hitam bergerak di bawah kakinya. Lalu bayangan tersebut naik ke atas menyerang dirinya. Tak hanya satu atau sepuluh, lebih dari seratus garis hitam yang panjangnya bisa sepanjang satu kilometer membentang di atas permukaan tanah. Saat menemukan musuhnya, bayangan hitam itu membelah diri menjadi sangat kecil layaknya jarum dan seketika menusuk targetnya.


Bukan sekali dua kali Li Baixuan hampir tertangkap oleh Garis Hitam. Kali ini, garis-garis hitam itu memutari tubuhnya dan mengurung Li Baixuan. Laki-laki itu menebaskan pedang, membelah garis hitam tersebut tanpa keraguan.


Saat dia menapakkan kaki di tanah, sekilas Li Baixuan melihat retakan lain pada pedangnya. Tak terlalu besar, tapi jika lima serangan lagi mengenai di tempat yang sama maka pedang andalannya itu pasti akan patah.


Darahnya kian menggelegak. Pertarungan sengit di antara keduanya membuat sekitar hancur berkeping-keping. Garis Hitam itu adalah kekuatan jarak jauh terbesar yang pernah Li Baixuan lihat, memang daya serangnya tak begitu mengerikan tapi jika digunakan untuk menangkap mahkluk sejenis Siluman Penguasa Bumi, teknik itu akan sangat berguna.


Tawa gelak keluar dari mulutnya. Li Baixuan berteriak setelahnya. "Dengan seribu teknik terkuat pun kau tak akan sanggup mengalahkan ku!"


Puluhan Garis Hitam yang seukuran pohon besar keluar dari dalam tanah, naik ke atas mengejar Li Baixuan hendak mengurungnya. Dalam satu potongan saja, Li Baixuan berhasil menghabisi seluruh Garis Hitam itu. dia kembali melihat pedang di tangannya. Kali ini bekas retakan itu sudah berkurang karena dia melapisi bilah pedang dengan kekuatannya sendiri.


Li Baixuan menoleh ke belakang dengan wajah masih tersenyum bengis, seketika bola matanya mengecil. Sebuah tinju sedang mengejar wajahnya dan saat itu pula, tubuhnya terpental jauh. Satu serangan Xin Chen berhasil mengenai Li Baixuan yang saat ini mendarat di atas tanah yang dipenuhi oleh Garis Hitam. Garis-garis itu membentuk jaring laba-laba raksasa.


Li Baixuan menarik tangan sekuat tenaga dan tak ada yang terjadi. Dia melekat dan diam seperti batu di atas jaring-jaring tersebut.


Semakin genting keadaan di depannya, Li Baixuan bergerak semakin panik. Seekor laba-laba raksasa datang menghampirinya. Dan dari sisi timur, Li Baixuan melihat Xin Chen juga mengarah ke titik yang sama. Di tempatnya.


Perangkap ini bagaikan balasan Xin Chen atas perbuatannya tadi. Li Baixuan mendengus, irama napasnya tak lagi beraturan.


Tak mau membiarkan dirinya terperangkap lebih lama, Li Baixuan memaksa tubuhnya bergerak. Mulutnya dia buka ke samping menggigit gagang pedang yang tergeletak di samping. Lalu tanpa keraguan sedikit pun laki-laki itu memotong tangannya sendiri.


Satu tangan yang terbebas mengeluarkan kekuatan cahaya yang menembus hancur garis hitam di seluruh tubuhnya. Li Baixuan terbebas. Namun apa yang menunggunya di belakang kembali membuat laki-laki itu terjebak di dalam perangkap musuh.


Xin Zhan menarik napas dalam. Arus angin bergerak ke satu titik tepat ke arahnya. Teknik di dalam Kitab Tujuh Kunci memang membutuhkan konsentrasi penuh dan kejernihan pikiran dalam tingkat tertentu. Kegaduhan di sekitar sama sejak tak dihiraukan olehnya. Hingga kedua bola mata hitam pekat Xin Zhan terbuka, pantulan pertarungan di depannya terlihat di sana. Sebuah Garis Hitam raksasa yang memporak-porandakan Lembah Para Dewa. Jika sudah memakai teknik sebesar itu, Xin Zhan yakin bahwa adiknya benar-benar kewalahan menghadapi Li Baixuan.


"Ini adalah kekuatan terakhir ku. Jika memaksakan lebih jauh ..." Xin Zhan mengepalkan tangan erat. "Hei, kau tahu. Jika kita menang nanti, andai kau tak pulang ke rumah aku akan menceritakan pertarungan hebat ini pada ibu."


Dia menarik pedang dari sarungnya. Menarik satu napas dalam dan mengembuskan perlahan.


Xin Zhan sengaja menipiskan hawa keberadaannya, mendapati Li Baixuan musuhnya berada di depan. Kesempatan langka yang harus digunakannya baik-baik. Tebasan lurus diangkat, lalu turun cepat menyerang Li Baixuan yang seketika itu pula berpaling ke arahnya.


Tak memakan waktu lima detik, Xin Zhan menyerang Li Baixuan habis-habisan. bahkan dalam waktu sesingkat itu dia telah melepaskan ratusan tebasan sekaligus. Li Baixuan membelalak lebar-lebar, satu serangan terakhir berhasil menembus jantungnya.


"Sekarang, matilah dengan tenang."


Dan di balik punggung Xin Zhan, Xin Chen datang. Gerakan secepat kilat itu berhenti ketika Xin Chen tiba di depan Li Baixuan.


Awalnya tak terlihat apa pun di tangannya, tapi kemudian dapat terlihat satu pedang hitam dengan corak biru menyala telah menembus dada Li Baixuan.


Sorakan dari Prajurit Kekaisaran Shang menggema keras, semakin riuh saat Garis Hitam keluar dari tubuh Li Baixuan dan bergerak hendak melahap laki-laki itu habis-habisan.


"Tidak ... Ini bukan kekalahan ku ..."


Sudut bibir Li Baixuan mengeluarkan aliran darah hitam. Cacing keabadian di tubuhnya hancur luar dalam.


"TUAN LI!"

__ADS_1


__ADS_2