
Sontak dalam satu hempasan berkekuatan besar, Xin Chen dan Xin Zhan terpental. Tak mampu menghindari jarak serangan yang begitu luas. Keduanya terpisah di dua arah yang berbeda.
Xin Fai bergerak ke arah Xin Chen. Secepat cahaya, tanpa sempat berkedip kini Xin Chen melihat ayahnya begitu dekat dengannya.
Darah hitam keluar dari mulut Xin Chen.
Dia dicekik. Dan dirinya baru menyadari bahwa kekuatan milik Xin Fai sekarang sudah berada jauh berkali-kali lipat di atas levelnya. Bahkan tubuh rohnya sendiri langsung merasakan serangan itu, layaknya tubuh manusia biasa yang tergores saat mengenai pisau tajam.
Bukan tak mungkin keabadiannya akan dihancurkan oleh tangan lelaki yang amat disayanginya itu.
Dibandingkan melepaskan diri, Xin Chen hanya terdiam. Dia benar-benar merindukan sosok ayahnya itu. Tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat, kehilangan Xin Fai selama ini membuatnya hancur. Dan sekarang, laki-laki itu berada di hadapannya.
Entah mengapa Xin Chen berharap Ayahnya itu tiba-tiba tersenyum dan mengatakan sesuatu seperti 'kejutan'. Dia tidak ingin menerima kenyataan ini. Kenyataan di mana ayahnya menjadi musuh terbesar dalam hidupnya.
__ADS_1
Semakin kuat cengkraman di lehernya, Xin Chen sama sekali tak berkutik selain berbicara tanpa suara.
"Ayah ...."
Ayahnya tidak ada di sana. Xin Chen melihat mata itu dengan putus asa. Seandainya Xin Fai masih memiliki kesadaran walau hanya 0,01 persen, dia yakin ekspresi yang dingin dan menusuk itu akan berubah walau hanya sedikit.
Xin Chen mulai bergerak memegang tangan laki-laki tersebut. Mencoba melepaskan dirinya dari tangan Xin Fai, dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki saat itu. Pegangan Xin Fai mengendur. Kesempatan itu tak disia-siakannya, Xin Chen mengambil posisi tepat di sebelah ayahnya. Berniat mengekang pergerakan Xin Fai dengan kedua tangannya.
Xin Chen membelalakkan matanya.
Dia tak sempat berpikir untuk mengelak. Hingga akhirnya Xin Fai menjentikkan jari di keningnya dan membuatnya terlempar amat jauh. Serangan itu begitu menyakitkan, andai tubuh roh Xin Chen masih memiliki tulang rusuk seperti manusia biasa dia yakin kesemuanya sudah hancur lebur sekarang.
Namun dibandingkan memikirkan rasa sakit, Xin Chen justru teringat akan kebiasaan yang selalu dilakukan ayahnya saat melihat dirinya terlalu payah dalam latihan pedang.
__ADS_1
Saat Xin Chen terjatuh dan mendapatkan olok-olokan dari murid seperguruan lain, Xin Fai membantunya berdiri. Menyemangati dirinya yang menangis menahan malu karena kalah berlatih. Saat ayahnya menjentikkan jari seperti itu, entah kenapa tangisannya selalu reda. Lalu, bagian yang paling diingatnya adalah saat Xin Fai meniup dahinya yang sakit.
"Roh yang merasukinya pasti membawa ingatan Ayah." Xin Chen bergumam sembari memegang keningnya. Saat dirinya hendak menyusul ke tempat semula, tatapan Xin Chen terkunci di satu titik di mana Xin Fai kini telah bertarung melawan kakaknya.
Satu tusukan mematikan baru saja nyaris mengenai leher Xin Zhan. Lalu serangan beruntun seratus kali keluar, jurus mematikan dari Kitab Tujuh Kunci yang menjadi salah satu alasan mengapa Pedang Iblis amat ditakuti. Dan sekarang, Xin Zhan harus menghadapi sosok yang jauh lebih menguasai teknik itu dibandingkan dirinya sendiri.
"Ayah! Kau dengar aku?! Berhenti melakukan semua ini, kau mengatakan akan melindungi kaki, bukan? Kembali dan temui ibu, umurnya mungkin sudah tidak lama lagi. Atau kau akan menyesal seumur hidup!"
Jeritan putus asa itu keluar dari mulut Xin Zhan. Xin Chen terkejut bukan main. Rasanya bukan Xin Zhan yang dikenalnya. Kakaknya itu selalu tegar dan dewasa dalam menghadapi banyak hal, hanya terkadang dia menunjukkan kegelisahannya. Namun sampai berucap dengan nada tinggi kepada ayahnya-sosok yang amat dia hormati sedari kecil, sudah menjelaskan sekalut apa pikiran Xin Zhan.
Dan apa yang baru Xin Zhan katakan tadi seolah-olah membuat tubuh Xin Chen kehilangan daya. Umur ibunya tidak lama lagi? Apakah Xin Zhan terlalu kalut hingga mengatakan sesuatu yang aneh.
Atau justru ... Selama ini Xin Zhan merahasiakan sesuatu darinya.
__ADS_1