
"Kau bilang aku salah? Sementara semua berjalan menjadi seburuk ini! Kau ayah yang buruk, asal kau tahu! Kau bodoh!" Mata Lan An berkaca-kaca, dia mencengkram kerah baju Xin Fai sambil menyumpah serapah.
"Andai kau tidak pergi hari itu! Andai kau tetap di sini bersama mereka dan menghadapi semuanya layaknya seorang petarung. Tak perlu menyerahkan diri seperti seorang pecundang lemah, hanya karana takut rakyat dan Kekaisaran Shang berada dalam masalah!"
Lan An meninju pelan pipi laki-laki itu. Marah dan emosi menguasainya semakin gila.
"Berkatmu, semua orang hancur. Kau bukan hanya menghancurkan keluargamu sendiri! Kau menghancurkan Kekaisaran! Pilar-pilar telah berganti penuh orang busuk dengan jubah megah! Aku menggantikan posisimu, menjadi orang bodoh yang disanjung-sanjung, padahal-"
Darah naik ke tenggorokannya membuat Lan An tak bisa berucap dengan jelas. Dia memaksa menelan ludah itu. Mencengkram kerah leher Xin Fai dan mendekatkan wajahnya yang padam akan amarah.
"Padahal aku hanyalah orang lemah yang tak tahu apa-apa dan sedang berharap kau kembali untuk memperbaiki semua hal yang hancur. Kau tahu seberapa menderitanya aku setelah kau pergi?"
__ADS_1
Lan An masih meneruskan omongannya, kali ini alisnya menukik tajam. "Oh, kau tak perlu tahu. Sebab, untuk membunuh keluargamu sendiri saja kau sanggup."
"Diam!"
Lan An melebarkan matanya, dia baru saja mendengar sahabatnya itu menjawab. Pedang roh di tangannya menghilang, Xin Fai memegang kepalanya kesakitan. Terdengar erangan dan teriakan dari mulutnya. Sementara itu, napas Lan An telah berada di ujung, dia tak bisa merasakan paru-paru dapat mengambil udara. Laki-laki itu ambruk tak berdaya, telungkup di depan Xin Fai yang menatap kosong pada tubuh Lan An.
Xin Chen sudah melakukan segala upaya untuk keluar dari pusaran api musuh. Dan Dewi Api baru mau membukanya ketika Lan An ambruk.
Untuk pertama kali dalam hidupnya Xin Chen benar-benar naik pitam kepada laki-laki bergelar Pedang Iblis itu, dia berteriak penuh emosi.
"Kau pembunuh!"
__ADS_1
Xin Fai masih menutupi telinganya, mencoba mati-matian untuk menghalangi suara aneh yang mausk ke dalam pikirannya.
"Kau tahu seberapa banyak yang kau bunuh?! Aku bahkan tak sanggup lagi untuk memanggil mu ayah! Kau-" air di pelupuk mata Xin Chen menggenang, dia berani mengatakan kata-kata kasar itu, karena kesabarannya telah habis oleh perbuatan Xin Fai.
Meski dia sendiri tahu bahwa laki-laki itu kehilangan ingatan. Dan kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri.
"Kau tidak ada bedanya dengan sampah-sampah di luar sana yang penuh dosa. Membunuh orang tak bersalah, menciptakan kekacauan. Tarik lagi kata-kata mu menciptakan dunia yang damai dari perang! Kau bahkan tak pantas lagi bertemu dengan ibu."
Detik dia menghentikan ucapannya, Xin Chen baru menyadari bahwa ucapannya keterlaluan. Xin Chen ingin mengatakan segera bahwa tadi dia hanya terlalu emosi dan tak tahu apa yahg baru saja dia ucapkan.
Sesuatu yang tak Xin Chen ketahui. Bahwa meski tubuh dan kendali Xin Fai seperti orang yang kehilangan kendali. Jauh di alam bawah sadarnya, secara utuh jiwa Xin Fai masih bisa mendengar suara anaknya sendiri.
__ADS_1
Dan di dalam sana, laki-laki itu hancur lebur hingga mati rasanya. Menjadi sosok ayah yahg gagal melindungi kedua putranya. Dan gagal melindungi sahabatnya yang kini telah meregang nyawa di tangannya sendiri.