
"Sial, mengapa bisa jadi begini?!"
Lelaki itu, Feng Yong baru saja menghentakkan kedua tangannya yang terkepal erat di atas meja. Botol-botol kaca bergetar, salah satunya pecah di atas lantai mengeluarkan asap tipis.
Semenjak meninggalkan laboratorium pribadinya, banyak data telah menghilang dan beberapa barangnya disita. Bukan hanya itu kabar terburuknya, sejak berhasil melarikan diri tiba-tiba guncangan besar melanda Kekaisaran Wei.
"Kiamat telah dimulai. Dan jika aku mati di sini ... Semuanya akan terkubur bersama mayatku. Dunia ini akan hancur. Sial, sial, sial. Seandainya mereka tak mengambil semua hasil percobaan ku... Mereka berhasil menciptakan virus itu secepat ini meskipun aku belum menyempurnakannya. Dan sekarang mereka bukan hanya membunuh orang, melainkan diri mereka sendiri."
Rak-rak berisi obat-obatan bergetar kembali, gempa tak berkesudahan kembali melanda. Sama seperti raut wajahnya kini yang telah dihiasi oleh kekhawatiran besar. Keringat menetes di wajahnya, tangannya mencengkram kertas gemetar dan di luar sana raungan mengamuk kembali membuat laboratorium nya berguncang.
Hentakan di pintu membuatnya kian kalut. Dia buru-buru mengejar dan mengganjalnya dengan kursi atau lemari, tetapi gedoran tersebut makin keras. Jari-jarinya gemetar sementara kakinya mundur terseret.
Tinju besar tercetak di pintu besi yang tebal. Tak salah lagi, itu adalah tangan terinfeksi tingkat tinggi. Kekuatannya sangat besar jika dibandingkan dengan seorang pria ringkih berusia 49 tahun sepertinya. Lelaki itu mencari satu barang buru-buru, "Apa mereka juga mengambil Jamur Api ku?"
Tangannya mengobrak-abrik rak meja dan tak menemukan benda itu.
"Tamat sudah."
Dia mengeluarkan sebuah map dan buku-buku penting. "Aku boleh mati di sini, tapi buku ini jangan. Aku akan membawanya ke atas atap dan jika beruntung orang-orang yang menyadari petunjuk dariku akan mendapatkannya." Selagi itu dia mengambil ancang-ancang untuk berlari, di samping pintu dia akan bertemu dengan tangga. Kemungkinan besar dia akan tergigit. Namun setidaknya, dirinya harus meletakkan buku itu ke tempat yang bersih dari terinfeksi.
Gedoran pintu selanjutnya membuat engsel terlepas, Feng Yong mencengkram erat barang bawaannya. Dia meneguk ludah kasar, tungkai kakinya seketika lemas saat wujud itu muncul di pintu depannya. Sangat besar tak menyisakannya celah untuk melarikan diri.
Terinfeksi itu dulunya adalah seorang petarung hebat, matanya begitu mengerikan menatapnya. Selayaknya predator mengincar mangsanya.
Feng Yong refleks merapatkan punggung ke dinding, kakinya menolak untuk berlari. Terinfeksi itu hendak berjalan ke arahnya namun dalam seketika sesuatu membuatnya terlonjak kaget.
Kepala terinfeksi yang sepantaran dengan ujung pintu pecah menghamburkan isi dan darahnya. Feng Yong berteriak, barang di dekapannya tergeletak begitu saja. Seseorang menendang kepala itu dari belakang.
Cahaya matahari yang begitu cerah masuk menutupi beberapa bayangan yang berjalan ke dalam laboratorium, lalu terlihat mahluk kecil berjubah putih lusuh masuk disusul dengan seseorang yang tengah menggendong sesosok lainnya.
Feng Yong waspada, dia tak dapat memastikan mereka manusia atau terinfeksi. Mencari benda apa pun untuk mempertahankan diri. Sampai dia mendengar suara seseorang di depan.
"Apakah ini 206 mil yang dimaksud?"
__ADS_1
Mata Feng Yong terbuka lebar. Dia berhenti bergerak dan menatap lekat-lekat ke depan.
"Jadi kalian manusia?"
Tak percaya, Feng Yong mendekat. Mana mungkin terinfeksi bisa berbicara seperti manusia. Dan benar saja dia melihat orang yang baru saja mengajaknya bicara adalah manusia. Lalu di sampingnya seekor rubah yang memiliki aura mengerikan.
Orang itu menggendong seorang gadis, lalu dari belakang seekor naga menyerempet di antara Xin Chen dan Feng Yong.
"Rraaghh!"
Feng Yong lantas mundur. Takut.
"Kami datang ke sini untuk satu-dua hal, apakah kau pengirim sinyal itu?"
Tergagap, Feng Yong menjawab. "Benar, aku! Akhirnya setelah sekian lama menunggu dan kalian menemukan ku. Tapi ini sudah terlambat ... Virus telah menyebar..." Mukanya yang tirus pucat terlihat putus asa. pandangannya teralihkan pada seorang gadis di tangan Xin Chen.
"Omong-omong aku Feng Yong, mantan peneliti Laboratorium A-3. Senang bertemu dengan kalian."
"Ada apa dengan gadis itu?" lanjutnya.
"Apa kau bisa merawatnya? Aku sudah melakukan penanganan pertama untuknya hanya saja keadaannya tak berubah." Xin Chen membawa tubuh Fu Hua ke tempat di mana Feng Yong menyuruhnya, dia dibaringkan di salah satu ruangan yang memang dibuat untuk tindakan pengobatan.
Laboratorium milik Feng Yong sendiri tak terlihat seperti laboratorium dari luar. Dibuat seolah-olah taman besar yang dibangun di sebelah rumah. Namun di dalamnya begitu banyak barang dan alat penelitian yang harganya bukan main. Rubah Petir mencium kejanggalan, segera berkata tanpa basa-basi.
"Apa tempat ini dijaga penuh sebelumnya?"
"Tuan Rubah, anda memiliki pikiran yang tajam. Benar tempat ini telah dijaga oleh sekelompok pembunuh bayaran sebelumnya."
"Mengapa kau mengirimkan sinyal itu? Apa maksudmu dan untuk apa semua ini?"
Tiga pertanyaan sekaligus menimbulkan kerumitan di wajahnya, Feng Yong membuang pandangan. "jika aku menceritakannya ini akan lama, sebelum itu aku harus merawat gadis ini lebih dulu, aku akan menjelaskannya saat malam tiba."
Berjam-jam berlalu, Feng Yong mengemas kembali peralatannya di dalam koper khusus. Ekspresinya buruk, Xin Chen dapat membaca itu. Dia kembali menatap di balik jendela kaca.
__ADS_1
Tak berapa lama Feng Yong menghampiri mereka berdua. Rubah Petir membalikkan badan, melihat Feng Yong duduk di satu kursi panjang.
"Semua ini berawal dari kesalahanku."
Mendengarnya lantas Xin Chen membalikkan badan, ikut duduk di hadapan Feng Yong sementara beberapa pertanyaan mulai muncul di kepalanya.
Entah mengapa, saat melihat wajah Feng Yong terlihat sebuah penyesalan yang begitu besar. Tatapan matanya hancur hingga untuk mengatakan kalimat selanjutnya bibirnya sampai bergetar.
"Aku telah menemukan satu rahasia yang tak seharusnya dibuka kembali. Saat itu aku begitu penasaran, seseorang seperti ku ... Saat menemukan hal baru untuk dijadikan penelitian, jiwaku akan terbakar. Dan seumur hidupku kudedikasikan untuk hal itu, namun aku membawa bencana yang tak akan pernah dimaafkan."
Rubah menginterupsi, "Jadi kau adalah si pencipta virus ini?"
"Bukan, aku hanya meneruskan apa yang sudah diciptakan."
Kesepuluh jari-jari Feng Yong menyatu, keringat dingin turun di dahinya. Setelah mengungkap kebenarannya dia yakin Rubah Petir dan Xin Chen memenggal kepalanya.
"Semua ini dimulai sekitar 1400 tahun yang lalu. Di saat perang besar meletus di tanah yang begitu dihormati akan ilmu pengetahuannya." Lelaki itu mulai menjelaskan, rumit mengisi raut wajahnya.
"Saat itu, seorang alkemis seperti ku mulai menciptakan sesuatu yang 'menyimpang' dari kode etik seorang alkemis. Dia meneliti darah seorang anak berdarah campuran manusia dan iblis. Darah yang disebut sebagai dosa dan dikutuk oleh sang Raja Iblis hingga akhir hayatnya."
Feng Yong melanjutkan, bahwa pernikahan itu ditentang baik ras iblis maupun manusia. Cinta yang buta itu melahirkan sebuah malapetaka besar. Kelahiran sang anak disambut oleh munculnya bulan darah, tiba-tiba saja desa tempat anak itu lahir dilanda bencana hingga berbulan-bulan. Akhirnya suami-istri itu di hukum gantung. Lalu anaknya dibakar hidup-hidup.
Namun mereka melewatkan sesuatu.
Sang anak adalah dosa yang telah dikutuk, dia mewarisi kekuatan api di dalam nadinya. Api biasa tak akan mematikannya.
Lelaki yang menyelamatkan bocah kecil itu memainkan peran menjadi ayah angkatnya. Diam-diam menggunakan darah sang bocah, meneliti hingga tiga belas tahun lamanya hingga sang anak beranjak remaja dan mulai menyadari ada yang salah. Ketika dia menyadarinya, wabah besar mengamuk. Membunuh semua orang yang saat itu mulai menuduhnya sebagai sang pembawa penyakit.
Hingga wabah itu berakhir, sang alkemis yang hendak dibunuh oleh anak angkatnya menyimpan semua data dan hasil penelitiannya di ruang bawah tanah sebuah kastil tua. Tempat itu kembali menghadirkan malapetaka,
"Dan semua ini adalah ulah kedua tanganku yang saat ini penuh berlumuran darah. Kalian boleh mengambil nyawaku sekarang..."
Xin Chen mengeluarkan Pedang Baja Phoenix, benda itu menembus leher Feng Yong hingga ke belakang senderan kursi.
__ADS_1