Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 202 - Di Ambang Hidup dan Mati


__ADS_3

Terinfeksi yang dimiliki Qin Yujin menyerang laki-laki itu, gigitan kuat menembus daging Qin Yujin. Dia berusaha menyingkirkan terinfeksi tersebut, membuat sebagian daging lengannya terlepas. Teriakan marah terdengar dari mulutnya, alih-alih membunuh terinfeksi yang telah menggigitnya, Qin Yujin justru menyuruh empat terinfeksi lain untuk menyerang Fu Hua.


"Kau j*lang pengkhianat, seharusnya aku membunuhmu saat itu."


"Seharusnya aku yang membunuhmu sebelum kakakku tiada!" sahut Fu Hua dengan suara tinggi, dia merasakan sesuatu menjalar memadamkan kewarasannya, gadis itu mengeluarkan pedang. Lian berlindung di belakang gadis itu ketika empat terinfeksi berusaha membunuh keduanya.


Darah bercucuran di lengan kanan Qin Yujin, dia tertawa miris. "Dulu ayahnya yang memotong tangan kananku. Sekarang anaknya juga melakukan hal yang sama." Usai berbicara Qin Yujin tertohok, darah keluar dari mulutnya. Matanya kian membesar ketika rasa sakit yang begitu hebat terasa, berdenyut perih setiap detik.


Laki-laki itu sampai berlutut, memuntahkan darah. Kesadarannya terkuras habis-habisan.


"Tidak ... Gigitan itu-" Qin Yujin menatap nanar ke depan, Fu Hua melarikan diri dengan Lian. Dia mengerang kesakitan, membayangkan jiwa Fu Qinshan berada di sampingnya. Wanita itu pasti akan menyelamatkannya dengan cara apa pun.


Qin Yujin mengeluarkan sebuah jarum suntik berisi cairan penenang, saat ini virus sedang menyebar ke seluruh tubuhnya. Dia mencebik, tak menyangka serangan terakhir yang digencarkan Xin Chen berhasil mencelakainya sebegitu parah.


"Sial ... Seharusnya tidak begini-" Wajah Qin Yujin memerah padam, urat di dahinya sampai bermunculan menandakan seberapa sakit denyutan di tubuhnya. Penyakit tersebut tak memberikan ampun, Qin Yujin tumbang. Namun kesadarannya masih utuh, membuatnya tersiksa. Dalam keadaan sadar, dia merasakan sakit yang tak kunjung berhenti. Tiap detiknya terasa seperti dibakar.


"Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga."


Qin Yujin tak bisa membalikkan badannya, seseorang baru saja berbicara di belakang. Ketika orang itu tiba di depan, Qin Yujin mengenali siapa sosok tersebut. Salah seorang alkemis Kekaisaran Wei yang bekerja di Laboratorium Baru.


"Kau terlihat seperti sampah yang menjijikkan. Tak kusangka aku harus memungut sampah sepertimu di saat seperti ini, cuih."


"Yan She b*ngsat ... Bantu aku berdiri."


"Kau memohon padaku?"


Qin Yujin tak menjawab. Tapi dia tak mau di saat begini masalah lain akan datang dan dia tak bisa berbuat apa-apa.


"Meski tubuhmu sudah bermutasi bukan berarti gigitan itu tak berpengaruh. Kau baru saja tergigit terinfeksi Tipe S. Itu sangat berbahaya, tapi tenang saja ... Aku akan menciptakan obat paling manjur untukmu dengan beberapa kesepakatan."


Wajahnya yang tertutup oleh masker udara bergerak ke kanan kiri, memastikan tidak ada siapa-siapa. Dia berjongkok, menyimpan senyum di balik penutup wajahnya, dia berbisik kecil kepada Qin Yujin.


"Kaisar Shi menawarkan kesepakatan menggiurkan padamu ..."


**


Rubah Petir membawa kembali Xin Chen ke tempat persembunyian, tidak seperti sebelumnya mereka bisa dengan mudah kembali ke tempat itu. Karena jumlah terinfeksi di kota ini menurun drastis, masih tersisa beberapa di antara mereka yang baru saja berdatangan dari kota seberang. Fu Hua dan Lian telah bergabung dengannya, di ambang kekhawatiran dan keputusasaan mengharapkan keadaan Xin Chen membaik.


Yu membuka pintu lebar-lebar, menanyakan pada Lian tentang apa yang terjadi tapi pemuda itu urung bicara. Wajahnya lesu, baru saja selamat dari maut tapi dia kehilangan dua temannya. Remaja laki-laki itu menangis dalam diam di pojok rumah, membekuk dirinya rapat-rapat. Enggan bicara pada siapa pun.


Xin Chen dibaringkan di salah satu ruangan, dikelilingi oleh puluhan orang yang penasaran dengan apa yang terjadi padanya. Rubah Petir berada di sisinya bersama Fu Hua.


Fu Hua sendiri membuat beberapa obat yang diketahuinya dapat mengembalikan kesadaran Xin Chen. Dengan persediaan terbatas, tak ada hasil yang didapatkannya. beberapa orang berkumpul, melemparkan tatapan tragis. Sama-sama melihat tidak adanya harapan, pemuda itu babak belur luar dalam.


Rubah Petir membantunya memulihkan diri tapi itu sama sekali tak bekerja, dia menelan kenyataan bahwa memang keadaan Xin Chen nyaris tak tertolong. Matanya terpejam lama, berpikir dan tak menemukan jawaban meski muridnya sering memuji ketajaman pikirannya. Rubah membuka mata, sayup-sayup terdengar suaranya yang begitu pelan.


"Apa yang bisa kulakukan, kau tidak boleh pergi sekarang murid bodoh."

__ADS_1


Yu memecah kerumunan, mengecek keadaan Xin Chen serta detak jantungnya.


"Dia sudah memasuki tahap terakhir."


"Tahap terakhir?" Rubah Petir menyahut cepat.


"Benar, tahap terakhir." Yu berusaha menjelaskan meski dia sendiri tak begitu pasti dengan informasi yang dimilikinya. "Untuk kasus spesial seperti ini, orang yang terkena gigitan masih bisa bertahan hidup sampai tiga bulan lamanya. Ada tiga tahap sampai penyakit ini semakin mengganas. Semakin lama penyakit ini berada di tubuhnya maka keadaannya makin parah dan keselamatan hidupnya semakin menipis. Keadaan Chen saat ini ... Dia berada di ambang kehidupan dan kematian."


"Dia memiliki tubuh keabadian." Rubah Petir berusaha menyangkal, makin terasa nyata ketakutannya saat itu. Yu menggeleng, "hanya tubuhnya yang abadi. Tapi jika dia sudah kehilangan kesadarannya, maka dia akan hidup seperti terinfeksi di luar sana. Tubuhnya masih bergerak, tapi ruhnya mati."


"Tidak mungkin ..." Fu Hua menutup mulutnya, ikut sedih mengetahui semua itu. Tak ada yang bisa dilakukannya lagi, keadaan Xin Chen memang sudah separah itu.


"Tidak adakah dari kalian yang tahu cara untuk menyembuhkannya?" Rubah Petir berdiri, tudung jubahnya turun. Menampakkan wajah aslinya. Para manusia di depannya mundur perlahan. Merasakan aura mencekam yang tiba-tiba datang. Rubah Petir tak bisa kehilangan Xin Chen, pemuda itu telah menyelamatkan hidupnya.


Tapi di Kekaisaran ini, dia nyaris tak bisa memikirkan satu cara pun untuk menyelamatkan muridnya. Hanya berpikir orang-orang Kekaisaran Wei mengetahui setidaknya satu penawar untuk memperlambat tahap terakhir penyakit Xin Chen.


Tak ada yang menjawabnya, Rubah Petir menghempaskan lengan jubahnya dengan kasar. Pikirannya seketika kacau. Dalam keadaan sulit itu, dia memilih pergi. Menyendiri untuk menemukan satu cara saja, agar bisa menyembuhkan muridnya.


Malam menjelang, sisa awan kemerahan telah lama memudar ketika petang berakhir. Langit di kota tersebut begitu murung, tetesan air hujan masih terus jatuh bersama angin sejuk yang berasal dari selatan. Berusaha mendinginkan kepala sang rubah yang saat itu hanya duduk dalam diam di depan api unggun. Tak menghiraukan keributan di dalam markas persembunyian.


Yu dan sisa laki-laki yang masih bisa bertarung pergi ke luar untuk mencari makanan. Mereka belum kembali sejak tujuh jam yang lalu. Sontak membuat kekhawatiran yang kian menjadi.jika kehilangan pemimpin mereka semua akan kehilangan arah.


Rubah Petir berpikir untuk mencari sesuatu di luar sana. Dia pergi tanpa berpamitan kepada siapa pun. Menuju tempat di mana marabahaya tengah menunggunya.


Fu Hua masih merawat Xin Chen, di ruangan yang sama tempat di mana Lian mengurung diri. Dia tidak makan. Tidak berbicara apalagi bergerak. Menatap Xin Chen penuh rasa bersalah.


Tiga hari berlalu dalam keadaan yang tak pernah membaik. Fu Hua semakin khawatir ketika melihat urat di lengan Xin Chen berdenyut, penyakit itu hidup di dalam tubuhnya yang mungkin saja sudah mati. Dia mengambil beberapa cawan berisi obat, mengoleskannya pelan sambil mendoakan kesembuhan Xin Chen. Tak banyak yang bisa mereka lakukan. Keadaan orang Perkemahan Tenggara pun sama kritisnya sekarang. Salah satu lansia mati beberapa jam yang lalu karena kelaparan.


Yu mengedarkan pandangannya, membawa tiga puluh tujuh Pembelot yang tersisa ke tempat Xin Chen.


"Dia sedang sekarat," ucapnya prihatin. Menopang dagunya dengan sebelah tangan, meminta kawannya yang lain mengeluarkan beberapa obat yang mereka rampas dari toko.


Fu Hua yang ditugaskan untuk memberikan obat pada Xin Chen menggeleng setelah melihat satu per satu obat itu.


"Tak ada satu pun yang berguna."


Qiu, pemimpin kelompok Pembelot itu merasa kesal, membanting asal beberapa botol obat ke dinding.


"Ini semua hasil perbuatan Kaisar Shi-alan dan Qin Yujin itu!" Dia yang sudah mengetahui seluk beluk yang terjadi di Kekaisaran Wei mengumpa nama-nama binatang. Kesal sampai gondok dibuat lelaki yang pernah mendatangi kelompok mereka untuk memberikan makanan. Tak dinyana, orang yang dipercayai akan mendatangkan perubahan kepada rakyat Kekaisaran Wei ternyata membawa perubahan buruk. Bukan perubahan ke arah yang lebih baik.


"Jika tahu begini sudah ku potong lehernya!" Dia mengacungkan celurit ke sembarang arah, menancapkan ujungnya ke dinding kayu.


"Tenanglah. Aku tak membawamu ke sini untuk mengamuk. Kita berada dalam keadaan terjepit dan harus bekerja sama untuk bertahan. Memang tidak ada yang bisa kita ubah, tapi setidaknya ... Aku ingin bertarung memerangi Pemerintahan yang telah menghancurkan hidup kita." Yu bertutur, matanya menyorot penuh emosi di tengah kata-katanya yang terdengar tenang.


Qiu berlutut, menyentuh tangan dan wajah Xin Chen. Menurunkan alisnya, "Mereka membuat teman kita sampai sehancur ini. Aku akan datang ke sana langsung dan memenggal kepala Kaisar Shi! Siapa yang ikut denganku?!"


Semua orang Pembelot mengangkat tangan berapi-api.

__ADS_1


"Keputusan sudah bulat! Dalam tiga hari kita akan menyerang langsung ke istana! Cari senjata dan perlengkapan kalian masing-masing, mungkin ini akan menjadi pertarungan kita!"


Qiu membuang tatapan ke arah orang Perkemahan Tenggara yang ketakutan.


"Setelah ini, mungkin kalian tak akan menemukan satu pun manusia untuk meminta pertolongan. Kalau ingin ikut bertarung inilah kesempatannya. Mati dalam perjuangan lebih baik daripada mati menjadi mayat hidup."


Kata-kata terakhir Qiu sebelum meninggalkan tempat itu mengiang di kepala Yu dan orang-orangnya. Mereka keluar satu per satu dari sana. Qiu sempat menoleh ke arah Lian yang kurus dan tak terawat. Hanya diam di tepi ruangan dengan tatapan kosong. Trauma yang begitu besar membuat kedua jarinya gemetar.


Hingga tak ada yang tersisa selain Fu Hua dan Lian, keadaan kembali hening seperti sebelumnya. Fu Hua menatap Lian kasihan, untuk ke sekian kalinya dia berusaha membujuk remaja itu.


"Jangan menyakiti dirimu sendiri atas sesuatu yang berjalan di luar kendalimu. Jika kau ingin bertarung dengan mereka, kau membutuhkan tenaga. Makanlah dulu."


Tiga hari diam tanpa bicara membuat bibir Lian terkatup begitu rapat hingga sulit membukanya. Dia melepaskan tangannya, tetesan air mata telah mengering di kedua pipinya. Penampilan remaja itu sudah terlalu kacau. Fu Hua berdiri, mengambil beberapa potong daging kering yang telah dibakar dan memberinya pada Lian.


"Aku tahu .. " Bibir Lian bergetar hebat, menolak daging yang ditawarkan Fu Hua dengan menepisnya pelan.


"Satu tempat yang mungkin memiliki penawar untuk penyakit Chen." Dia menatap Xin Chen sayu, bola matanya berubah haluan menatap Fu Hua.


"Laboratorium Baru. Tempat Qin Yujin menciptakan terinfeksi baru. Kau tidak boleh membawa pasukan, kalau ketahuan maka tak akan ada kesempatan untuk mendapatkan obatnya. Mereka menciptakan penyakit, pasti menyediakan penawarnya! Kumohon, selamatkan Chen. Aku tak akan memaafkan diriku jika dia juga tiada," pinta Lian serak.


Dia mengeluarkan beberapa lembar berisi tulisan dan gambar denah dengan tinta merah.


"Jangan katakan pada Yu atau siapa pun kalau aku mencuri benda ini. Ini adalah kertas rahasia yang kudapatkan ketika kami melewati Laboratorium C-1, jika ketahuan maka prajurit akan membantai kami."


Fu Hua menatap lembar itu, bagian atasnya terlihat tulisan 'Laboratorium Baru'. "Dan ini ..." Lian kembali mengeluarkan sesuatu dari balik baju tebal kumalnya. Satu suntik obat berwarna kuning, terlihat sangat mencurigakan. Fu Hua menggelengkan kepala.


"Simpan ini, jika kau menghadapi musuh yang tak bisa kau atasi. Aku tidak tahu ini untuk apa, tapi Shuo mengatakan ini adalah sejenis racun, berhati-hatilah."


"Bagaimana mungkin-" Fu Hua terkejut, melihat Lian semakin melemah. Dia langsung mengambil ke dapur bubur dan minuman. Memaksa makanan dan minuman masuk ke mulut Lian sebelum dia mati. Lian memejamkan mata, Fu Hua membaringkannya di sebelah Xin Chen.


Kertas dan jarum suntik itu diamankannya baik-baik. Kekhawatirannya semakin menjadi ketika mendapati Rubah telah kembali. Dia bertanya kikuk.


"Kau mendapatkan obatnya?"


Rubah Petir tak menjawab. Tampaknya dia juga sudah buntu. Seluruh jubahnya penuh dengan darah manusia hingga mengenai bulunya.


"Aku membunuh ribuan prajurit untuk hal yang sia-sia."


Rubah Petir duduk di sebelah Xin Chen dengan rasa bersalah. Dia tak mengeluarkan sepatah kata pun lagi.


Di sisi lain, Fu Hua juga tak tega melihat Rubah Petir. Dia harus menyelamatkan Xin Chen, pemuda itu telah menyelamatkan nyawanya beberapa kali. Dalam satu tarikan napas dalam, Fu Hua mulai memutuskan untuk bertarung sendiri. Apa pun yang akan dihadapinya nanti, Fu Hua harus kembali untuk Rubah Petir dan Xin Chen.


"Aku berjanji, Xin Chen akan baik-baik saja," ucap gadis itu sembari melepaskan lilitan kain berdarah di tangan Xin Chen untuk menahan luka. Dia mengikat kain putih bernoda darah itu di kepala, mengambil panah dan menggantungkannya di punggung. Lalu pedang diselipkan di pinggang. Berusaha untuk yakin bahwa dirinya cukup berani menghadapi ratusan ribu terinfeksi dan prajurit di luar sana.


Rubah Petir tak percaya, dia tak bisa membiarkan Fu Hua pergi sendirian.


"Kau tidak akan mampu menghadapi bahaya di luar sana. Duduk di sini dan jaga Xin Chen-"

__ADS_1


"Aku sudah menjaganya tiga hari tanpamu. Sekarang kita bergantian." Dia berjalan ke daun pintu, melirik ke belakang sebelum pergi dari tempat persembunyian.


"Kita sama-sama pernah diselamatkan oleh Xin Chen. Aku juga ingin menyelamatkannya. Kau pasti mengerti."


__ADS_2