
"Beri aku kekuatan mu."
"Mengapa kau menginginkannya?"
Suara itu bergema di alam bawah sadarnya. Xin Chen tahu itu adalah suara sang Dewa Petir, nada bicaranya terdengar murka tak main-main. Namun dibandingkan marah pada dirinya, sosok itu tampaknya lebih murka pada apa yang terjadi di bumi sekarang.
"Manusia akan hancur akan sesuatu yang jauh di luar kendali mereka. Untuk menghadapi kekuatan itu, dibutuhkan kekuatan yang setara atau bahkan lebih-" dia menahan kalimatnya. "Atau hal itu akan kembali terjadi. Apa yang menimpa Rubah Petir akan terus terjadi Siluman Penguasa Bumi lain. Hingga tak ada yang tersisa selain kehancuran yang disebabkan oleh Naga Kegelapan."
Geraman terdengar samar-samar, sebelumnya Xin Chen tak pernah berbicara seperti ini langsung. Namun, kekuatan petir di atasnya seolah-olah menjadi pertanda bahwa Dewa Petir berada di sana. Memantau dirinya dalam pertarungan ini. Bukan dirinya tak menyadari mengapa cuaca selama beberapa pekan terakhir sangat berbeda. Sosok tanpa wujud nyata itu, Dewa Petir betul-betul memperhatikan setiap langkahnya.
Sama seperti yang Rubah Petir katakan dulu. Xin Chen tak bisa menyangkal bahwa sosok itu tak begitu suka kepadanya. Karena pada dasarnya kekuatan murni milik Rubah Petir hanya diperuntukkan bagi siluman hebat seperti rubah tersebut sementara dirinya hanyalah manusia dengan tubuh yang rapuh.
"Keabadian mu membuat dirimu tak pantas lagi disebut manusia."
Xin Chen terdiam tanpa membalas. Suara itu masih terus terdengar di kepalanya, Hela napas kasar terdengar risau. "Kalian akan hancur berkeping-keping karena keserakahan akan kekuatan. Kau sudah lihat sendiri, bukan? Bagaimana dua buah pedang mengakibatkan pertumpahan darah hingga ratusan ribu nyawa?"
Dewa Petir selalu mempertanyakan hal itu. Mengapa manusia gelap mata akan sesuatu yang tak dimilikinya. Berani mempertaruhkan apa pun dan tak ingin mengalah satu sama lainnya. Mendung dan badai yang akhir-akhir ini muncul adalah akibat dari kemurkaannya. Sebenarnya dia bisa saja menjatuhkan petir dalam sekali waktu yang dapat membunuh hampir seluruh manusia di bawahnya. Tapi dia tidak bisa melakukan itu.
Karena itu bukanlah urusannya. Tapi tetap saja dia selalu merasa tidak tenang.
"Andai saja Rubah Petir masih ada di sini. Aku bisa mengandalkannya ..." Napasnya tertahan lagi, gelisah menghantui dirinya setiap waktu.
"Lalu mengapa kau tidak mempercayai ku? Rubah Petir adalah guruku-"
"Kau hanyalah manusia dengan tubuh abadi. Kau memiliki perasaan yang lebih intens dibandingkan siluman. Pikiranmu bisa berubah sejalan dengan keadaan. Bagaimana jika setelah aku memberikan pertolongan kau justru memanfaatkannya untuk kepentingan mu sendiri. Misalnya, untuk membalaskan dendam untuk membunuh manusia lain?"
__ADS_1
"Aku memang egois. Aku melakukan segala cara, untuk membawa pulang ayahku. Dan demi melakukannya diperlukan banyak nyawa untuk dikorbankan. Termasuk ribuan mayat manusia yang sedang kau lihat ini."
"Mengapa kau begitu jujur. Kau tidak berniat menyembunyikannya meskipun tahu jawaban itu justru akan membuatku semakin murka?"
"Aku kehabisan cara untuk menghadapi manusia di depanku ini. Jika cara meminta bantuan padamu tak mungkin maka aku akan menciptakan caraku sendiri."
"Bagaimana?"
Xin Chen membuka matanya menatap ke atas, gulungan awan dan petir di sana semakin membesar. Aliran kekuatan petir kian bertambah setiap detiknya.
"Aku akan menarik kekuatan dari atas dan memaksa menggunakannya."
"Kau gila? Kekuatan sebesar ini bukan lah kekuatan yang bisa ditampung oleh tubuh sekecil itu."
"Hanya merencanakannya tak akan membuatku mati."
"Baiklah. Kali ini aku akan menolongmu."
Dalam hitungan waktu yang cepat, semua berubah tanpa bisa dihentikan. Awan-awan hitam membentuk sebuah telapak tangan yang mengarah ke bawah, mengeluarkan mantra-mantra kuno bercahaya. Tak ada yang menyangka akan menyaksikan kekuatan yang jauh melampaui kemampuan manusia tersebut. Di sana, mereka melihat Xin Chen memilikinya.
Dentuman di atas langit menderu-deru, gemuruh tersebut terdengar seperti genderang perang yang ditabuh. Lalu di bawahnya Li Baixuan hanya menengadah, tak percaya akan apa yang dilihatnya. Dia tertawa, tawa yang pahit. Dia tak akan mampu lari lagi, melawan juga rasanya mustahil.
"Kematian ini adalah hadiah terbaik setelah ratusan tahun hidupku."
Laki-laki itu mengangkat senjata merah di tangannya, lalu bola matanya berangsur ke arah Xin Chen yang berdiri tak jauh memandangnya tajam. Mata itu, tak akan pernah bisa Li Baixuan lupakan. Anehnya hatinya tak merasakan dendam ataupun kemarahan lagi di wajah putih pemuda itu.
__ADS_1
Sekian lama, Li Baixuan tanpa sadar tersenyum. Senyuman tanpa keserakahan ataupun kesombongan yang selama ini diperlihatkannya. Hatinya lebih lega.
'Akhirnya aku bisa beristirahat, tanpa perlu ketakutan karena dibuang. Seseorang memberikan kesempatan pergi ini dengan begitu indah.'
Matanya yang merah menatap nanar ke atas langit, awan-awan menggulung itu tampak begitu menawan di matanya. Indah tak berperi.
"Namamu ... Xin Chen, kan?"
Samar, Xin Chen dapat mendengarnya berbicara. Tak ada jawaban, tapi tatapannya cukup menjawab pertanyaan Li Baixuan barusan.
"Aku tak menyalahkan mu jika kau berpikir aku adalah orang jahat." Li Baixuan mengangkat tangannya, mencoba menggenggam debu-debu pasir yang berterbangan walaupun tangannya pada akhirnya tetap hampa. Sama seperti hatinya.
"Aku merasa kita sama. Kehilangan adalah luka yang tak memiliki ujung. Itu menyakitkan, bahkan untuk orang yang ditakuti ribuan manusia seperti ku." Helaan napasnya kasar terdengar, namun teduh matanya mulai melembut. Mengingat masa lalunya bersama saudara-saudaranya yang telah mati dibunuh Pengguna Roh dari Kekaisaran Qing.
"Jujur saja, benar aku ingin menguasai seluruh daratan ini. Menjatuhkan para Kaisar dan mengambil alih seluruh kekaisaran. Kau tahu mengapa?" Bola matanya tampak sedih saat berucap demikian, terlalu banyak luka yang dikuburnya dalam-dalam dan hari ini semua itu terasa sakit kembali.
Xin Chen perlahan-lahan melebarkan matanya, Dewa Petir akan membunuh laki-laki itu beberapa saat lagi. Kekuatan yang berkumpul di atas Li Baixuan telah mencapai batasnya dan sebentar lagi akan jatuh. Menghancurkan sekitarnya dalam jarak yang luas. Li Baixuan tak memperlihatkan tanda-tanda akan lari lagi seperti sebelum-sebelumnya. Situasi yang seharusnya sangat Xin Chen tunggu-tunggu perlahan berubah.
"Aku menginginkan sebuah dunia yang damai. Tanpa perang. Tanpa Pengguna Roh. Aku ingin menjadi yang terkuat, jadi aku bisa melindungi semua orang. Tanpa perlu bantuan siapapun, aku sendiri sudah cukup."
Bola mata Xin Chen terbuka sempurna. Lalu detik selanjutnya dia melihat lompatan cahaya petir yang amat sangat dahsyat menghantam tempat Li Baixuan berdiri. Kontan tanah retak bergetar, getaran itu terasa agak lama dari yang seharusnya. Kekuatan kutukan petir itu, jauh lebih besar dari yang seharusnya.
Di sisi lain Xin Chen terngiang-ngiang akan ucapan Li Baixuan.
"Melindungi semua orang dengan menjadi manusia terkuat?"
__ADS_1
Guncangan masih terus berlangsung di sekitar, beberapa yang tak mampu menahan angin yang datang terpental jauh. Retakan raksasa akhirnya terlihat saat debu-debu menyingkir dari tempat Li Baixuan. Lalu langit kembali seperti semula, meninggalkan sisa-sisa angin yang membawa hembusan napas terakhir Li Baixuan. Laki-laki yang mati dalam kehampaannya. Seorang yang terlihat ambisius, kuat dan sangat ganas itu terlihat rapuh di detik-detik terakhir sebelum kematiannya.