
Aliran hujan yang turun deras menggenangi tanah berbatu, di kelilingi oleh pepohonan tinggi yang berbunyi ketika angin menghembus, seolah-olah berbisik. Seseorang mengendap-endap di balik pepohonan, menyadari nyawanya tak akan aman di dalam hutan rimba yang bukan hanya ditinggali oleh binatang buas. Tetapi juga mayat hidup yang klasifikasinya lebih tinggi lagi
Fu Hua tahu sedikit tentang tingkat setiap terinfeksi. Semakin tinggi tingkatnya semakin tinggi pula kepekaan dan bahaya mereka. Dan sekarang, terinfeksi yang mengerumuni hutan rimba itu adalah yang Tipe A. Mereka dapat mendengar dari jarak yang terbilang jauh, Fu Hua tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika dia harus berhadapan dengan mereka.
Berusaha untuk fokus, Fu Hua mengedarkan pandangan ke sisi kiri. Bahunya bergidik ngeri ketika melihat satu jenis terinfeksi dengan leher panjang, kepalanya bergerak-gerak nyaris menyentuh daun pepohonan. Terinfeksi itu membelakanginya, seharusnya dia aman.
Tapi karena terlalu fokus dengan mahkluk itu, Fu Hua tak melihat ke depan lagi. Dia menginjak tulang belulang yang telah rapuh, menciptakan suara berisik beberapa detik. Gadis itu diam membeku, tiga detik berlangsung, beruntung tak ada yang menghampirinya.
Tapi Fu Hua salah sangka.
Salah satu dari mereka berdiri di belakangnya dan melihatnya, dia langsung menyerang tanpa mengeluarkan suara.
Mata Fu Hua bergulir ke belakang menyadari bau amis menusuk hidungnya, tak menyangka marabahaya tengah menanti di belakang. Gadis itu panik, menepis serangan dengan memotong tangan terinfeksi itu.
Lalu kabur, seperti sebelumnya.
Pilihan Fu Hua yang terbilang nekad itu mengakibatkan kegaduhan yang terus menjalar di dalam hutan. Suara raungan mulai mendominasi bersama langkah yang mendekat, bersusulan mengejarnya. Fu Hua mencebik, dia melakukan kesalahan fatal. Sekarang tak terhitung lagi berapa terinfeksi di belakangnya. Yang dia tahu hanya berlari dan fokus ke depan.
Beberapa terinfeksi berada di depannya, Fu Hua mengambil panah dan berusaha membidik. Tapi sayangnya dari samping tangan lain membuat panah itu terlepas dan tinggal di belakangnya, diinjak-injak oleh kawanan terinfeksi.
Tak ada jalan untuk kembali.
__ADS_1
Di tangannya hanya tersisa satu senjata, yaitu pedang. Dia tak akan sanggup menghadapi seluruh terinfeksi itu dengan benda tersebut. Sudah hancurkan kepalanya saja mereka masih mungkin untuk berdiri. Rintangan semakin menjepit gadis itu, dia tak menemukan jalan keluar dari rimba tersebut. Sama sekali buntu.
Mata safir itu membulat besar, lari kencangnya dihentikannya dengan tiba-tiba. Tubuh itu nyaris terjatuh dari jurang yang begitu tinggi. Fu Hua sampai jatuh di atas tanah, sikutnya berdarah banyak. Namun itu belum lagi, ketika Fu Hua mengangkat wajahnya dia dapat melihat ratusan pasang kaki berduyun-duyun mengejarnya. Seperti mangsa yang sedang diburu, Fu Hua tak sempat berpikir lagi.
Dia memilih terjun dari jurang daripada terbunuh oleh para terinfeksi itu.
Angin kencang menerpa tubuhnya dari bawah, Fu Hua jatuh ke atas sungai dalam yang arusnya begitu deras. Sebelum benar-benar jatuh ke air, kepalanya sempat tersayat ranting yang tumbuh di tebing jurang sampai berdarah. Fu Hua tenggelam, berusaha naik ke permukaan sebelum napasnya habis. Namun kaki dan tangannya kram seketika.
Sekelebat bayangan muncul, menghantui pikirannya.
"Kau hanyalah anak miskin, tak tahu diri! Lakukan tugasmu dengan baik dan jangan mengacaukan apa pun!"
"Dia tak akan datang untuk menyelamatkanmu, dia hanya datang untuk melayaniku. Karena aku adalah tuannya."
Mata Fu Hua menutup sayu, samar-samar bayangan masa lalu terlihat. Bayangan seorang laki-laki yang tengah menenggelamkannya di sumur, memaksa kepalanya masuk ke dalam air dan berulang kali membenturkannya sampai berdarah.
Fu Hua takut dengan air yang dalam. Dan tangan besar itu seolah memaksanya jatuh ke dasar sungai. Fu Hua kehabisan napas, dia mengais-ngais ke atas sebelum kesadarannya habis.
"Aku tidak akan memaafkanmu."
Tubuh itu tak lagi berusaha berenang ke atas, arus sungai yang makin deras akibat hujan membawanya jauh ke muara.
__ADS_1
**
Author Note yg sedikit panjang, silakan diskip klo mau hwhw
Ehe maap agak pendek chapternya, author harus ngerjain sesuatu soalnya
Btw
Apa kabar reader yg budiman, yang tercinta, yang terjomblo(moga aja dapat jodoh) gimana, sehat2 semua?
Fyi, author dah bilang blom PPI 3 bakal tamat Desember tahun ini? Perkiraan aja sih hehe, semoga aja tercapai!! Aamiin ...
Akhirnya utangku bakal lunas, tapi makin ke sini kok makin sedih ya, bakal kangen Xin Chen, Rubah, Ye Long dkk🥺
Gimana prens, tanggapan kalian?
Oiya dipastikan gk akan ada lanjutan lagi dari PPI setelah buku ketiga. Dlm artian lain 100% TAMAT
🗣️: Thor nulis cerita baru lagi gak?
Itu author kurang tahu-tepatnya belum yakin sih, soalnya klo ada waktu luang cuma bengong dan gak nulis kek ada yang kurang:'D info selanjutnya nnti author kabarin yaw
__ADS_1